<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7890961627097092465</id><updated>2011-11-29T03:29:16.892-08:00</updated><category term='About This Blog'/><category term='My Makalah'/><category term='lentera....'/><category term='PENDIDIKAN'/><title type='text'>My Blog</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Muh. Rifqi Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16755920782633062813</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/TOfawZe8c2I/AAAAAAAAAIo/dDxA3VkKIpY/S220/riefqie.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>22</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7890961627097092465.post-8082447444329654151</id><published>2010-04-25T01:32:00.001-07:00</published><updated>2010-04-25T01:33:15.605-07:00</updated><title type='text'>HADIST TENTANG MEMBAYAR FIDYAH</title><content type='html'>HADIST TENTANG MEMBAYAR FIDYAH&lt;br /&gt;SEBAB MENINGGALKAN KEWAJIBAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosen Pembimbing :&lt;br /&gt;Imam Syafi’i, S.Ag, M.Pd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By :&lt;br /&gt;Muh. Rifqi Fauzi&lt;br /&gt;KATA PENGANTAR&lt;br /&gt;Assalamualaikum Wr.Wb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah segala puji syukur senantiasa kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kerahmatan bagi kami semua berupa pendidikan yang bisa membentuk kepribadian kami sehingga bisa menjadi muslim yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad saw yang senantiasa menjadi rahmatan lil alamin, yang mengangkis kita dari alam kedoliman menuju alam yang penuh nur ilahi.&lt;br /&gt;Setelah kami mengumpulkan data-data yang terdapat dibeberapa literatur, alhamdulillah kami dapat menyelesaikan tugas akhir ini yang telah diberikan oleh dosen kami ini yakni bapak Imam Syafi’i, S Ag., M.Pd. walaupun sangat sulit bagi kami untuk mencernanya. Kami harap kepada dosen pembimbing untuk memaklumi segala kekurangan yang ada dalam makalah ini, karena kesalahan memang milik manusia, sedangkan kesempurnaan hanyalah milik Allah. Dikarenakan nomer absen kami lebih dari 40, jadi saya memilih materi ini berdasarkan hati kami, dan ketepatan sekali kami memilih materi hukum fidyah bagi orang yang telah lalai akan kewajibannya.&lt;br /&gt;Saran dan kritik selalu kami harapkan dari para pembaca sekalian untuk lebih memperbaiki kekurangan yang ada dalam makalah ini&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;Seperti apa yang telah kita ketahui, bahwasanya sekarang kita telah hidup di zaman modern atau Di zaman era globalisasi, hal ini telah banyak merubah pola fikir manusia, sehingga banyak dari mereka saling bersaing dalam bidang IPTEK atau pengetahuan umum. Hal ini menyebabkan akan kelalaian bagi kewajiban mereka masing-masing, dunia agamapun sudah dianggap hal yang tidak terlalu penting bagi mereka. Pada akhirnya mereka lupa bahwa ilmu agam khususnya ilmu hadis juga penting untuk bekal kehidupannya agar tidak sesat. Sejak terlahirnya kita kedunia ini, sebenarnya kita semua telah menyepakati sebuah perjanjian dan sejak memulai sebuah kehidupan kita, maka kita pun telah dikenai sebuah kewajiban-kewajiban, oleh karena itu selain bersaing dalam ilmu umum, masyarakat hendaknya juga bersaing dalam ilmu agama sehingga tujuan kehidupan dapat berjalan dan terlaksana dengan baik (seimbang). Apalagi ilmu agama itu menyangkut tentang fidyah, sebagai hukuman ( denda ) bagi orang yang telah lalai akan kewajibannya.&lt;br /&gt;Dalam hal ini, maka diuraikan tentang fidyah. Sehingga kita semua kususnya masyarakat pada umumnya dapat mengetahui dan memahami dari betapa pentingnya belajar ilmu hadis khususnya materi fidyah ini. Didalam makalah ini kami akan mencoba untuk menguraikan bagaimana sebenarnya apa fidyah itu, bagimana hukumnya, bagaimana takaran fidyah tersebut, dan apa penyebab terkenainya fidyah serta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Rumusan Masalah&lt;br /&gt;1. Apakah pengertian dari fidyah ?&lt;br /&gt;2. Bagaimana hukum dan ketentuan jumlah pembayaran fidyah ?&lt;br /&gt;3. Apa penyebab – penyebab dikenainya membayar fidyah ?&lt;br /&gt;4. Bagaimana jika ada pelipatgandaan dari fidyah ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;C. Mamfaat dan Tujuan Penulisan&lt;br /&gt;a. Mamfaat&lt;br /&gt;Mamfaat dari penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan :&lt;br /&gt;1. Pemahaman tentang fidyah.&lt;br /&gt;2. Pemahaman tentang bagaimana hukum dan takaran untuk fidyah.&lt;br /&gt;3. Gambaran tentang penyebab tentang terjadinya fidyah.&lt;br /&gt;4. Sedikit penjelasan tentang pelipatgandaan fidyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Tujuan&lt;br /&gt;Dari hasil pembahasan makalah ini diharapkan dapat membantu dan berguna sebagai bahan pertimbangan dan sebagai bahan evaluasi bagi masyarakat untuk lebih memperhatikan semua kewajiban-kewajiban kita terhadap Allah SWT…khusunya pada kewajiban kita untuk membayar fidyah apabila kita telah lalai akan kewajiban kita. hal ini sebagai bahan evaluasi untuk kehidupan kita pada masa yang akan dating.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;A. Pengertian Fidyah&lt;br /&gt;Fidyah berasal dari bahasa Arab yaitu فد يه yang artinya “barang penebus”. Jadi arti keseluruhan dala bahasa Indonesia adalah hukuman yang berupa denda yang diberikan bagi seseorang sebab ia meninggalkan kewajiban dengan cara memberi makan orang miskin.&lt;br /&gt;Di dalam definisi yang lain adalah pemberian bahan makanan pokok atau makanan siap saji kepada orang miskin (fakir atau miskin) karena meninggalkan puasa Ramadhan dengan alasan yang dibenarkan oleh syariat. Adapun fidyah yang berhubungan dengan ibadah haji adalah denda/ganti atas tidak ditunaikannya tahallul karena sakit atau ada luka di kepala. Atupun banyak lage kewajiban yang jika kita lalai maka dikenakan membayar fidyah. Kewajiban ini berkisar pada masalah puasa orang yang meninggalkan kewajiban adalah orang yang berat menjalankan puasa seperti orang tua renta, yang tidak mampu untuk berpuasa, orang sakit, yang kesembuhannya mungkin tidak dapat diharapkan lagi, orang yang hamil / menyusui, orang yang meremehkan penggadaan puasa ramadhan.&lt;br /&gt;Adapun hadistnya yang menjelaskan tentang hal ini sebagai berikut :&lt;br /&gt;وعن عطا ء سمع ابن عبا س يقراء (وعللى الدين يطيقونه فدية طعام مسكين ) قال ان عباس : ليست بمنسوخة وهو للشيخ الكبير والمر اة الكبرة ولا يستطعان ان يصو ما فيطعمان مكان كل يو مسكينا (رواه البخارى&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;“Dan dari ‘atha’, ia mendengar ibnu abbas membaca ayat “dan wajib atas orang-orang yang kuat berpuasa itu membayar fidyah, memberi makan seorang miskin “ maka ibnu ‘abbas berkata : ayat ini tidak dimansukh, tetapi terpakai untuk orang yang sudah tdak kuat puasa, maka mereka ini harus memberikan makan seorang miskin setiap hari sebagai gantinya .(HR. Bukhari)”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Hukum Fidyah&lt;br /&gt;Dalam ketetapan syari’ah islam sudah dijelaskan bagaiman hukum dari membayar fidyah jika kita telah lalai akan kewajiban kita, adapun dari hukum fidyah adalah wajib. Hal ini berdasarkan ayat al-Qur’an berikut :&lt;br /&gt;        ) البرة : 183(&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;“….Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin……(Q.S.Al – Baqarah : 184 )”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hadistnya yang menerangkan tentang fidyah telah diriwayatkan oleh salamah bin akwa’ ra, yaitu :&lt;br /&gt;حديث سلمة بن الا كوع رضي الله عنه قال:لما نزلت هذه الاية (وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين ) كان اراد ان يفطر ويفتدى حتى نزلت الاية التى بحدها فنسختها (راوه الجماعن الا حمد (&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;“Diriwayatkan dari salamah bin akwa’ radhiyalluhu ‘anhu, dia telah berkata : ketika turun ayat : wa’alal ladzina yuthiqunahu fidyatun tha’amu miskin = dan di wajibkan bagi orang yang tidak berdaya melakukanya ( berpuasa) agar membayar fidyah ( memberi ) makan kepada orang miskin” menyebabkan ada seseorang yang ingin berbuka (tidak berpuasa) dan membayar fidyah, sehingga kemudian turunlah ayat berikutnya yang menasakhkannya (HR. Jama’ah kecuali ahmad )”&lt;br /&gt;Hadits diatas menerangkan tentang diwajibkannya berpuasa atas orang yang mampu melakukanya. Ketika ayat di atas turun, kata “yuthi qunahu = mampu melakukanya,” mengacaukan pemahaman, sehingga ada orang yang mampu berpuasa, tetapi ingin membayar fidyah sebagai ganti puasa. Namun kemudian turun ayat berikutnya :&lt;br /&gt;فمن ثهد من كم الثهر فليصمه&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;“Maka barang siapa diantara kamu bertemu dengan bulan ramadhan, maka harus berpuasa pada bulan itu”.&lt;br /&gt;Dengan adanya hadis dan ayat-ayat sebagai penjelas ini maka semakin jelas dan tegas, bahwa yang diperbolehkan membayar fidyah adalah orang yang sudah tidak mampu melakukan puasa. Sedang bagi yang mampu, maka harus berpuasa. Hal ini dipertegas dengan hadis berikut :&lt;br /&gt;وعن عبد الرحمن بن ابى ليلى عن معا دبن جبل بنو حديث سلمة وفيه :شم انزل الله (فمن شهد منكم الشهر فليصمه )فاشبت الله صيامه على المقيم الصحيح ورخص فيه للمر يض والمسافر وشبت الا طعام للكبير الدى لا يستطيح الصيام (رواه الا حمد وابي داود )&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;“Dan dari abdul rahman bin abi laila, dari mu’adz bin jabal ( meriwayatkan ) seperti hadis salamah, tetapi disitu terdapat kalimat sebagai berikut : kemudian allah menurunkan ayat “ maka barang siapa diantara kamu yang menyaksikan bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa”, maka allah menetapkan berpuasa bagi orang muqim yang sehat dan memberikan keringanan (rukhshah) kepada orang yang sakit dan musafir serta membayar fidyah bagi orang yang sudah lanjut usia tidak kuat berpuasa (HR. Ahmad dan Abu Daud )”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.1 Ukuran Fidyah&lt;br /&gt;Ukuran fidyah adalah satu ukuran sekali makan untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan tersebut. Ukurannya adalah ½ sha’ atau satu mud.&lt;br /&gt;Satu Sha' jika dikonversikan dengan kilogram adalah antara 2,2 kg atau 2,5 kg, atau 3 kg (perbedaan ini menurut perbedaan tarjih para ulama). Sedangkan satu mud sama dengan 1/4 sha' nabawy atau 1/5 sha' penduduk Qashim (satu wilayah di Saudi Arabia) sekarang.&lt;br /&gt;Khusus untuk fidyah untuk haji adalah ada tiga alternatif:&lt;br /&gt;1. Berpuasa 3 hari;&lt;br /&gt;2. Memberi makan 6 orang miskin;&lt;br /&gt;3. Menyembelih hewan ternak.&lt;br /&gt;Adapun dalilnya adalah:&lt;br /&gt;Firman Allah:&lt;br /&gt;أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;“ (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan turunnya ayat tersebut maka Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;“Siapa yang meninggal dunia sedangkan ia memiliki hutang puasa, maka hendaklah diberikan makanan kepada seorang miskin per hari untuk orang tersebut.” HR. Ibn Majah dari Ibn Umar, Tirmidzi mengatakan: “Yang shahih/benar tentang hadits Ibn Umar adalah mauquf.”&lt;br /&gt;Dari Aisyah, ia berkata:&lt;br /&gt;“Memberikan makan atas nama orang yang meninggal tersebut sebagai qadha atas puasa Ramadhannya, dan tidak dipuasakan.”&lt;br /&gt;Dan Ibn Abbas ketika ditanya tentang seorang laki-laki yang meninggal, sementara ia memiliki hutang nadzar puasa satu bulan dan hutang puasa Ramadhan 1 bulan, maka ia menjawab: “Adapun puasa ramadhan yang terhutang, maka lunasilah dengan membayarkannya dalam bentuk makanan, adapun nadzarnya, maka puasakanlah untuknya.” HR. Al-Atsram dalan Al-Sunan.&lt;br /&gt;Apabila seseorang tidak bisa mengqadha puasanya karena udzur yang dibenarkan syariat, hingga ia meninggal dunia, maka tidak ada beban apapun atasnya. Hal ini karena puasa adalah hak Allah, ia diwajibkan berdasarkan syariat, akan tetapi ia meninggal sebelum tertunaikan kewajibannya. Maka, siapapun yang&lt;br /&gt;diwajibkan dari sesuatu sebelum ada kemampuan maka gugurlah kewajiban itu tanpa harus menggantinya, seperti misalnya juga haji. (Jika seseorang tidak mampu menunaikan haji, walaupun ia rukun Islam kelima, namun seseorang tidak ada kewajiban apapun atas rukun Islam ini kecuali kalau memiliki kemampuan.&lt;br /&gt;Namun, jika ia meninggal dan belum menunaikan qadha puasa tanpa udzuar, maka hendaklah ditunaikan qadhanya berupa pemberian makan kepada seorang miskin per hari sesuai jumlah hari yang ditinggalkannya. Hal ini berdasarkan hadis Ibn Umar, Aisyah, dan Ibn Abbas.&lt;br /&gt;Siapa yang tidak berpuasa ramadhan karena sudah tua-renta, ataupun sakit yang sulit diharapkan kesembuhannya, maka hendaklah ia memberi makan kepada seorang miskin untuk setiap hari puasa yang ditinggalkannya.&lt;br /&gt;Adapun dalil fidyah dalam urusan haji adalah firman Allah:&lt;br /&gt;وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ وَلا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ذَلِكَ لِمَنْ لَمْ يَكُنْ أَهْلُهُ حَاضِرِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan `umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan `umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidilharam&lt;br /&gt;(orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.. Q.S. Al-Baqarah: 196.”&lt;br /&gt;Dalil kedua adalah hadits ibn Ujrah yang terluka di kepalanya, maka Rasulullah bersabda: “Maka fidyahnya adalah puasa 3 hari, atau memberi makan 6 orang miskin, atau menyembelih kambing”. HR. Muttafaq Alaih&lt;br /&gt;Apa yang diberikan dan berapa?&lt;br /&gt;Tidak ada ketentuan atau batasan yang jelas, maka hal ini kita kembalikan kepada kebiasaan. Anas ibn Malik ketika sudah tua pernah mengumpulkan 30 orang fakir dan memberi mereka makan dengan roti beserta lauknya HR. Bukhari dalam tafsirnya 3/197.&lt;br /&gt;Maka jika seseorang memberi makan siang atau makan malam kepada seorang miskin, maka itu sudah cukup untuk disebut sebagai fidyahnya atas puasa yang ia tinggalkan itu.&lt;br /&gt;Sebagian ulama mengatakan: “Cara demikian tidak sah, yang benar adalah memberi bahan makanan pokok. Oleh karena itu, mereka mengatakan: tidak boleh tidak, harus memberi dalam bentuk 1 mud gandum atau ½ sha’ bahan makanan pokok. (1 sha’ adalah 3 kg; 1 mud adalah ¼ sha’. Lihar detailnya dalam kamus zakat di www.siwakz.net). Sebagian ulama lainnya mengatakan ½ sha’ dari bahan makanan pokok apapun.&lt;br /&gt;Apa yang dimaksud dengan ½ sha’?&lt;br /&gt;Apakah ½ sha’ ini ukuran yang dikenal menurut masyarakat setempat ataukah menurut ukuran di zaman Nabi SAW? Jawaban kami adalah: “tidak ada seorang pun sepengetahuan kami dari seluruh ulama, yang mengatakan ukuran sha’ adalah menurut masyarakat setempat”. Jadi yang benar adalah menurut ukuran sha’ di zaman Nabi SAW. Dari sini sudah jelas bagaimana ukuran sha’ yang sebenarnya.&lt;br /&gt;Sebagian ulama ada yang membolehkan ukuran dengan ukuran sha’ daerah qashim, namun tatkala kami lihat ukurannya, ternyata 1 sha’ daerah qashim lebih banyak dari 1 sha’ zaman Nabi sebanyak 0,25-nya, sebab sha’ kita (Qashim) ternyata 5 mud, sedangkan sha’ nabawy hanya 4 mud.&lt;br /&gt;Ketentuan tentang jumlah pembayaran fidyah yaitu, sebanyak setengah sha’ biji gandung atau uang senilai itu. Fidyah, baru boleh dilakukan jika orang yang bersangkutan tidak mampu berpuasa sepanjang hidupnya. Adapun fidyah boleh berupa satu mud makanan yang mengenyangkan untuk setiap hari. Dan banyaknya fidyah disesuaikan dengan jumlah puasa yang tidak dilakukan oleh orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Penyebab dikenai denda (Fidyah)&lt;br /&gt;Dari semua penjelasan diatas maka terdapat beberapa penjelasa tentang penyebab – penyebab terjadinya fidyah, antara lain :&lt;br /&gt;a) Tidak mampu berpuasa, orang yang tidak mampu berpuasa wajib mengeluarkan fidyah seperti orang tua renta yang merasa berat berpuasa atau puasa akan membuatnya menderita kesulitan yang sangat berat orang tua renta yang tidak mampu berpuasa ini boleh berbuka, dan sebagai tebusan, dia harus memberi makan seorang miskin untuk tiap hari. Adapun tercantum dalam hadist yang diriwayatkan oleh Dar al-Quthni dan al-hakim yang mengatakan :&lt;br /&gt;رخص للشيخ الكبر ان يفطم ويطحم عن كل يوم مسكعنا ولا قضاء عليه&lt;br /&gt;(درو قط ني والهكيم )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;“Diberi keringanan orang tua renta untuk berbuka dan memberi makan seorang miskin untuk setiap harinya dan tidak ada kewajiban qadha atasnya . (HR. Daraquthni dan hakim ) ”&lt;br /&gt;Orang tua renta (hamm) menanggung bebanya sendiri. Jika dia tidak mampu memberi makan orang miskin. Dia tidak berkewajiban apapun, hal ini berdasarkan ayat berikut :&lt;br /&gt;      …...) البرة : (286&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ( QS. 2 : 286”)&lt;br /&gt;Orang tua yang tidak mampu berpuasa dan tidak mampu memberi makan itu hendaknya meminta ampun kepada allah dan memohon agar allah menerima dirinya. Maksudnya, agar orang tadi meminta ampunan kepada allah atas ketidakmampuannya memenuhi hak allah. Adapun orang sakit yang mati tidak berkewajiban memberi makan. Karena jika pemberian makan itu di wajibkan kepadanya, berarti membebani orang mati dengan kewajiban. Lain halnya, jika orang tersebut sebelum kematiannya memiliki kemampuan untuk berpuasa tetapi tidak melakukan sampai akhir hayatnya. Kewajiban memberi makan ini disandarkan kepadanya ketika dia masih hidup&lt;br /&gt;b) fidyah diwajibkan atas orang sakit yang kesembuhannya tidak bisa diharapkan. Sebab, sebagaimana telah dijelaskan diatas, orang sakit seperti ini sudah tidak berkewajiban berpuasa lagi. Yakni berdasarkan ayat berikut :&lt;br /&gt;.....وما جعل عليكم فى الدين من حرج ........&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;“dia sekali – kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesulitan ( Q.S.22 : 78 )”&lt;br /&gt;serta berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh imam ahmad ibn hambal yang artinya :&lt;br /&gt;“ orang sakit yang tiada diharapkan sembuh, dan orang yang telah sangat tua, tidak dikenankan puasa atasnya, hanya diwajibkan fidyah saban hari satu mud” (HR.Imam ahmad )&lt;br /&gt;c) Orang yang mengandung atau orang yang sedang hamil&lt;br /&gt;Fidyah juga diwajibkan bersamaan dengan qadha kepada perempuan hamil atau perempuan menyusui yang menghawatirkan dirinya ( tanpa anaknya). Telah diriwayatkan dari imam ahmad dan asy&lt;br /&gt;syafi’I, bahwa apabila wanita hamil dan wanita yang menyusui anaknya itu khawatir atas anaknya saja, dan mereka meninggalkan puasa ( berbuka), maka wajiblah mereka mengqadha dan membayar fidyah. Namun apabila hanya khawatir atas dirinya saja, atau khawatir atas dirinya dan sekaligus anaknya, maka mereka hanya wajib mengqadha’, tidak lainnya .adapun wanita hamil dan wanita yang menyusui maka mereka tergolong orang – orang yang mempunyai udzur ( halangan) mendadak yang sewaktu-waktu sirna. Maka mereka di wajibkan mengqadha’ .&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari anas bin malik al- ka’bi berikut :&lt;br /&gt;ان الله وضح عن المسا فى شطر الصلاة وعن المسافر والمرضح الصوم&lt;br /&gt;والله لقدقا لهم رسولالله صلى الله عليه وسلم اد رهما او كليهما (رواه الناس&lt;br /&gt;ابن مالك الكعبى)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;“Sesungguhnya allah meletakkan setengah shalat dari musafir serta puasa dari perempuan hamil dan perempuan menyusui. Demi allah, kedua pernyataan ini telah disabdakan oleh rasulluh SAW, baik salah satunya maupun keduanya. (HR. Anas bin malik Al-Ka’bi )”&lt;br /&gt;وعن عكر مة ان ابن عباس قال :اشبتت للحبلى والمر ضع (رواه ابو داود&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;“Dari ikrimah sesungguhnya ibnu ‘abbas berkata : bahwa ayat tersebut ditetapkan untuk perempuan hamil dan yang sedang menyusui ( HR. Abu Daud )”&lt;br /&gt;Adapun wanita hamil dan wanita menyusui, yang keduanya mengkhawatirkan anaknya, boleh berbuka tetapi mereka harus memberi makan fakir miskin.&lt;br /&gt;Hal ini dipertegas pada hadist rasulullah SAW yang menyatakan :&lt;br /&gt;ان اللله عز وجل وضع على المسافى الصوم وشطرالصلاة&lt;br /&gt;وعن الحبلى والمرضع الصوم (رواه اللخمسة عن انسبى مالك الكجى )&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;“Sungguh allah ‘azza wa jalla telah membebaskan puasa dan separoh sholat bagi orang yang berpergian, serta membebaskan puasa dari orang yang hamil dan menyusui. (HR.Lima ahli hadist dari anas bin malik ka’bi)”&lt;br /&gt;عن ابن عباس انه قال :اشبت للحبلى والمضح ان يفطرا ويطعما كل&lt;br /&gt;يوم مسكينا (رواه ابوداود عن ابن عباس )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;“Dari ibnu abbas, bahwa ia berkata, “ditetapkan bagi orang yang mengandung dan menyusui untuk berbuka (tidak puasa) dan sebagai gantinya memberi makan kepada orang miskin setiap harinya “ (HR. Abu dawud dari ibnu abbas, r.a )”&lt;br /&gt;Alasan lainnya, karena mereka membatalkan puasanya demi seseorang yang lemah yang masih berada dalam proses pembentukan oleh karena itu, keduanya wajib membayar fidyah, seperti halnya orang tua yang sudah renta.&lt;br /&gt;d) Orang yang meremehkan pengqadhaan puasa ramadhan.&lt;br /&gt;Fidyah bersama qadha juga diwajibkan kepada orang yang meremehkan pengqadhaan puasa ramadhan. Misalnya, orang yang menangguhkan pengqadhaan puasanya sampai ramadhan berikutnya tiba. Jumlah fidyah ini disesuaikan dengan jumlah puasa yang ditinggalkan. Pewajiban fidyah kepada orang seperti ini, berdasarkan pengiasan kepada orang yang membatalkan puasa secara sengaja. Keduanya meremehkan kesucian puasa. Kafarat tidak diwajibkan kepada orang yang uzurnya terus berlangsung, baik uzur berupa sakit,&lt;br /&gt;melakukan perjalanan, gila, mengeluarkan darah haid maupun mengeluarkan darah nifas. Adapun hadisnya antara lain yang artinya “ Anak kecil yang belum sanggup berpuasa dan orang gila yang terus –menerus, tidak diberatkan puasa atasnya (H.R. Imam Mujtahidin) dan hadis yang artinya “ tidak wajib atas orang gila mengqadhai puasa yang ketinggalan selama gilanya itu” (H.R Abu Hanifah )&lt;br /&gt;D. Pelipat Gandaan Fidyah&lt;br /&gt;Fidayah yang ditangguhkan sampai bulan ramadhan berikutnya tiba tidak melahirkan pelipat gandaan sesuai dengan jumlah penundaan tahunnya. Fidyah itu seperti halnya budud yang bias dilakukan kapan saja. Sedangkan, menurut pendapat madzab syafi’I, fidyah yang dipertangguhkan sampai bulan ramadhan berikutnya tiba akan melahirkan kewajiban baru. Karena, hak-hak material tidak bias dilakukan pada sembarang waktu.&lt;br /&gt;Adapun ayat Al-Qur’an menerangkan bahwa :&lt;br /&gt;فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;“Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui..”(Q.S.Al-baqarah : 184 )&lt;br /&gt;Dengan demikian, pengqadhaan puasa boleh dilakukan secara lambat bahkan seseorang boleh melakukan puasa tathawwu’. Sebelum puasa wajibnya selesai di qadha. Dengan kata lain, orang yang menangguhkan pengqadhaan puasanya tidak berkewajiban apa-apa. Lagi pula, pengiasan dalam kafarat tidak bias dilakukan meskipun demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;A. Kesimpulan&lt;br /&gt;Fidyah adalah denda yang diberikan bagi seseorang sebab ia meninggalakn kewajiban dengan cara memberi makan orang miskin. Fidyah Adalah pemberian bahan makanan pokok atau makanan siap saji kepada orang miskin (fakir atau miskin) karena meninggalkan puasa Ramadhan dengan alasan yang dibenarkan oleh syariat Ukuran fidyah adalah satu ukuran sekali makan untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan tersebut. Ukurannya adalah ½ sha’ atau satu mud.&lt;br /&gt;Satu Sha' jika dikonversikan dengan kilogram adalah antara 2,2 kg atau 2,5 kg, atau 3 kg (perbedaan ini menurut perbedaan tarjih para ulama). Sedangkan satu mud sama dengan 1/4 sha' nabawy atau 1/5 sha' penduduk Qashim (satu wilayah di Saudi Arabia) sekarang.&lt;br /&gt;Khusus untuk fidyah untuk haji adalah ada tiga alternatif:&lt;br /&gt;1. Berpuasa 3 hari;&lt;br /&gt;2. Memberi makan 6 orang miskin;&lt;br /&gt;3. Menyembelih hewan ternak.an .&lt;br /&gt;Penyebab fidyah diantaranya :&lt;br /&gt;- Orang tua renta yang tidak mampu untuk berpuasa&lt;br /&gt;- Orang sakit yang kesembuhannya tidak dapat diharapkan&lt;br /&gt;- Orang yang mengandung / orang yang sedang hamil&lt;br /&gt;- Orang yang merehkan pengqadhaan puasa ramadhan&lt;br /&gt;Dari ini semua sudah jelaslah bahwasanya kita sejak lahir sudah dikenai kewajiban-kewajiban, dan jika lalai ada hukumnya tersendiri, salah satunya ialah membayar denda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdul Aziz, Bin, Faisal, 1993, Muhtasar Nailul Authar 3 Himpunan Hadits –Hadits Hukum. Bina Ilmu, Surabaya&lt;br /&gt;Effendi, Agus, 1995, Puasa dan Itikaf Kajian Berbagai Madzab, Remaja Rosda Karya, Bandung&lt;br /&gt;MZ, Labib, Ust. 1997, Bukhari dan Muslim. Amanah. Jawa Timur&lt;br /&gt;Syarifuddin, Amir, Prof.Dr, 2003, Garis – Garis Besar Fiqih. Prenada Media, Jakarta&lt;br /&gt;Kamal, Dr, Mustafa, Dkk, 2000, Fikih Islam, Citra Karya Mandiri. Jakarta&lt;br /&gt;hasbi, prof. Dr. 1991 Hukum – Hukum Fikih Islam. Bulan Bintang, Jakarta&lt;br /&gt;ali ash – shabuni. Muhammad, Syaikh, 1993. Rawai’ul Bayan, CV. Asy –Syifa’. Semarang&lt;br /&gt;Mansyur, kahar, kh, 1992. Bulughul maram. Rineka Cipta, Jakarta&lt;br /&gt;s. Praja, Juhaya. Prof .dr, 2000. Tafsir Hikmah. Remaja Rosda Karya. Bandung&lt;br /&gt;Mahalli, Mudjab, Ahmad, KH. 2003, Hadis-Hadis Mutafaq’ Alaih, Prenada Media, Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7890961627097092465-8082447444329654151?l=riefqie-yupss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/feeds/8082447444329654151/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2010/04/hadist-tentang-membayar-fidyah.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/8082447444329654151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/8082447444329654151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2010/04/hadist-tentang-membayar-fidyah.html' title='HADIST TENTANG MEMBAYAR FIDYAH'/><author><name>Muh. Rifqi Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16755920782633062813</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/TOfawZe8c2I/AAAAAAAAAIo/dDxA3VkKIpY/S220/riefqie.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7890961627097092465.post-8181929401171680204</id><published>2009-08-05T12:45:00.000-07:00</published><updated>2010-04-25T01:36:33.978-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN'/><title type='text'>AKULTURASI BUDAYA HINDU-BUDHA-ISLAM di INDONESIA</title><content type='html'>AKULTURASI BUDAYA HINDU-BUDHA-ISLAM di INDONESIA&lt;br /&gt;PERKEMBANGAN TRADISI HINDU-BUDHA DI INDONESIA&lt;br /&gt;Fakta tentang Proses Interaksi Masyarakat&lt;br /&gt;Indonesia sebagai daerah yang dilalui jalur perdagangan memungkinkan bagi para pedagang India untuk sungguh tinggal di kota pelabuhan-pelabuhan di Indonesia guna menunggu musim yang baik. Mereka pun melakukan interaksi dengan penduduk setempat di luar hubungan dagang. Masuknya pengaruh budaya dan agama Hindu-Budha di Indonesia dapat dibedakan atas 3 periode sebagai berikut.&lt;br /&gt;1.     Periode Awal (Abad V-XI M)&lt;br /&gt;Pada periode ini, unsur Hindu-Budha lebih kuat dan lebih terasa serta menonjol sedang unsur/ ciri-ciri kebudayaan Indonesia terdesak. Terlihat dengan banyak ditemukannya patung-patung dewa Brahma, Wisnu, Siwa, dan Budha di kerajaan-kerajaan seperti Kutai, Tarumanegara dan Mataram Kuno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.     Periode Tengah (Abad XI-XVI M)&lt;br /&gt;Pada periode ini unsur Hindu-Budha dan Indonesia berimbang. Hal tersebut disebabkan karena unsur Hindu-Budha melemah sedangkan unsur Indonesia kembali menonjol sehingga keberadaan ini menyebabkan munculnya sinkretisme (perpaduan dua atau lebih aliran). Hal ini terlihat pada peninggalan zaman kerajaaan Jawa Timur seperti Singasari, Kediri, dan Majapahit. Di Jawa Timur lahir aliran Tantrayana yaitu suatu aliran religi yang merupakan sinkretisme antara kepercayaan Indonesia asli dengan agama Hindu-Budha.&lt;br /&gt;Raja bukan sekedar pemimpin tetapi merupakan keturunan para dewa. Candi bukan hanya rumah dewa tetapi juga makam leluhur.&lt;br /&gt;3.     Periode Akhir (Abad XVI-sekarang)&lt;br /&gt;Pada periode ini, unsur Indonesia lebih kuat dibandingkan dengan periode sebelumnya, sedangkan unsur Hindu-Budha semakin surut karena perkembangan politik ekonomi di India. Di Bali kita dapat melihat bahwa Candi yang menjadi pura tidak hanya untuk memuja dewa. Roh nenek moyang dalam bentuk Meru Sang Hyang Widhi Wasa dalam agama Hindu sebagai manifestasi Ketuhanan Yang Maha Esa. Upacara Ngaben sebagai objek pariwisata dan sastra lebih banyak yang berasal dari Bali bukan lagi dari India.&lt;br /&gt;AKULTURASI&lt;br /&gt;Masuknya budaya Hindu-Budha di Indonesia menyebabkan munculnya Akulturasi. Akulturasi merupakan perpaduan 2 budaya dimana kedua unsur kebudayaan bertemu dapat hidup berdampingan dan saling mengisi serta tidak menghilangkan unsur-unsur asli dari kedua kebudayaan tersebut. Kebudayaan Hindu-Budha yang masuk di Indonesia tidak diterima begitu saja melainkan melalui proses pengolahan dan penyesuaian dengan kondisi kehidupan masyarakat Indonesia tanpa menghilangkan unsur-unsur asli. Hal ini disebabkan karena:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Masyarakat Indonesia telah memiliki dasar-dasar kebudayaan yang cukup tinggi sehingga masuknya kebudayaan asing ke Indonesia menambah perbendaharaan kebudayaan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Kecakapan istimewa yang dimiliki bangsa Indonesia atau local genius merupakan kecakapan suatu bangsa untuk menerima unsur-unsur kebudayaan asing dan mengolah unsur-unsur tersebut sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh kebudayaan Hindu hanya bersifat melengkapi kebudayaan yang telah ada di Indonesia. Perpaduan budaya Hindu-Budha melahirkan akulturasi yang masih terpelihara sampai sekarang. Akulturasi tersebut merupakan hasil dari proses pengolahan kebudayaan asing sesuai dengan kebudayaan Indonesia. Hasil akulturasi tersebut tampak pada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.     Bidang Sosial&lt;br /&gt;Setelah masuknya agama Hindu terjadi perubahan dalam tatanan sosial masyarakat Indonesia. Hal ini tampak dengan dikenalnya pembagian masyarakat atas kasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.     Ekonomi&lt;br /&gt;Dalam ekonomi tidak begitu besar pengaruhnya pada masyarakat Indonesia. Hal ini disebabkan karena masyarakat telah mengenal pelayaran dan perdagangan jauh sebelum masuknya pengaruh Hindu-Budha di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.     Sistem Pemerintahan&lt;br /&gt;Sebelum masuknya Hindu-Budha di Indonesia dikenal sistem pemerintahan oleh kepala suku yang dipilih karena memiliki kelebihan tertentu jika dibandingkan anggota kelompok lainnya. Ketika pengaruh Hindu-Budha masuk maka berdiri Kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang berkuasa secara turun-temurun. Raja dianggap sebagai keturuanan dari dewa yang memiliki kekuatan, dihormati, dan dipuja. Sehingga memperkuat kedudukannya untuk memerintah wilayah kerajaan secara turun temurun. Serta meninggalkan sistem pemerintahan kepala suku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.     Bidang Pendidikan&lt;br /&gt;Masuknya Hindu-Budha juga mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia dalam bidang pendidikan. Sebab sebelumnya masyarakat Indonesia belum mengenal tulisan. Namun dengan masuknya Hindu-Budha, sebagian masyarakat Indonesia mulai mengenal budaya baca dan tulis.&lt;br /&gt;Bukti pengaruh dalam pendidikan di Indonesia yaitu :&lt;br /&gt;ü      Dengan digunakannya bahasa Sansekerta dan Huruf Pallawa dalam kehidupan sebagian masyarakat Indonesia. Bahasa tersebut terutama digunakan di kalangan pendeta dan bangsawan kerajaan. Telah mulai digunakan bahasa Kawi, bahasa Jawa Kuno, dan bahasa Bali Kuno yang merupakan turunan dari bahasa Sansekerta.&lt;br /&gt;ü      Telah dikenal juga sistem pendidikan berasrama (ashram) dan didirikan sekolah-sekolah khusus untuk mempelajari agama Hindu-Budha. Sistem pendidikan tersebut kemudian diadaptasi dan dikembangkan sebagai sistem pendidikan yang banyak diterapkan di berbagai kerajaan di Indonesia.&lt;br /&gt;ü      Bukti lain tampak dengan lahirnya banyak karya sastra bermutu tinggi yang merupakan interpretasi kisah-kisah dalam budaya Hindu-Budha. Contoh :&lt;br /&gt;·  Empu Sedah dan Panuluh dengan karyanya Bharatayudha&lt;br /&gt;·  Empu Kanwa dengan karyanya Arjuna Wiwaha&lt;br /&gt;·  Empu Dharmaja dengan karyanya Smaradhana&lt;br /&gt;·  Empu Prapanca dengan karyanya Negarakertagama&lt;br /&gt;·  Empu Tantular dengan karyanya Sutasoma.&lt;br /&gt;ü      Pengaruh Hindu Budha nampak pula pada berkembangnya ajaran budi pekerti berlandaskan ajaran agama Hindu-Budha. Pendidikan tersebut menekankan kasih sayang, kedamaian dan sikap saling menghargai sesama manusia mulai dikenal dan diamalkan oleh sebagian masyarakat Indonesia saat ini.&lt;br /&gt;Para pendeta awalnya datang ke Indonesia untuk memberikan pendidikan dan pengajaran mengenai agama Hindu kepada rakyat Indonesia. Mereka datang karena berawal dari hubungan dagang. Para pendeta tersebut kemudian mendirikan tempat-tempat pendidikan yang dikenal dengan pasraman. Di tempat inilah rakyat mendapat pengajaran. Karena pendidikan tersebut maka muncul tokoh-tokoh masyarakat Hindu yang memiliki pengetahuan lebih dan menghasilkan berbagai karya sastra.&lt;br /&gt;Rakyat Indonesia yang telah memperoleh pendidikan tersebut kemudian menyebarkan pada yang lainnya. Sebagian dari mereka ada yang pergi ke tempat asal agama tersebut. Untuk menambah ilmu pengetahuan dan melakukan ziarah. Sekembalinya dari sana mereka menyebarkan agama menggunakan bahasa sendiri sehingga dapat dengan mudah diterima oleh masyarakat asal.&lt;br /&gt;Agama Budha tampak bahwa pada masa dulu telah terdapat guru besar agama Budha, seperti di Sriwijaya ada Dharmakirti, Sakyakirti, Dharmapala. Bahkan raja Balaputra dewa mendirikan asrama khusus untuk pendidikan para pelajar sebelum menuntut ilmu di Benggala (India)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.     Kepercayaan&lt;br /&gt;Sebelum masuk pengaruh Hindu-Budha ke Indonesia, bangsa Indonesia mengenal dan memiliki kepercayaan yaitu pemujaan terhadap roh nenek moyang (animisme dan dinamisme). Masuknya agama Hindu-Budha mendorong masyarakat Indonesia mulai menganut agama Hindu-Budha walaupun tidak meninggalkan kepercayaan asli seperti pemujaan terhadap arwah nenek moyang dan dewa-dewa alam. Telah terjadi semacam sinkritisme yaitu penyatuaan paham-paham lama seperti animisme, dinamisme, totemisme dalam keagamaan Hindu-Budha.&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;Di Jawa Timur berkembang aliran Tantrayana seperti yang dilakukan Kertanegara dari Singasari yang merupakan penjelmaaan Siwa. Kepercayaan terhadap roh leluhur masih terwujud dalam upacara kematian dengan mengandakan kenduri 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1 tahun, 2 tahun dan 1000 hari, serta masih banyak hal-hal yang dilakukan oleh masyarakat Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.     Seni dan Budaya&lt;br /&gt;Pengaruh kesenian India terhadap kesenian Indonesia terlihat jelas pada bidang-bidang dibawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seni Bangunan&lt;br /&gt;Seni bangunan tampak pada bangunan candi sebagai wujud percampuran antara seni asli bangsa Indonesia dengan seni Hindu-Budha. Candi merupakan bentuk perwujudan akulturasi budaya bangsa Indonesia dengan India. Candi merupakan hasil bangunan zaman megalitikum yaitu bangunan punden berundak-undak yang mendapat pengaruh Hindu Budha. Contohnya candi Borobudur. Pada candi disertai pula berbagai macam benda yang ikut dikubur yang disebut bekal kubur sehingga candi juga berfungsi sebagai makam bukan semata-mata sebagai rumah dewa. Sedangkan candi Budha, hanya jadi tempat pemujaan dewa tidak terdapat peti pripih dan abu jenazah ditanam di sekitar candi dalam bangunan stupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seni Rupa&lt;br /&gt;Seni rupa tampak berupa patung dan relief.&lt;br /&gt;Patung dapat kita lihat pada penemuan patung Budha berlanggam Gandara di Bangun Kutai. Serta patung Budha berlanggam Amarawati di Sikending (Sulawesi Selatan). Selain patung terdapat pula relief-relief pada dinding candi seperti pada Candi Borobudur ditemukan relief cerita sang Budha serta suasana alam Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seni Sastra dan Aksara&lt;br /&gt;Periode awal di Jawa Tengah pengaruh sastra Hindu cukup kuat.&lt;br /&gt;Periode tengah bangsa Indonesia mulai melakukan penyaduran atas karya India.&lt;br /&gt;Contohnya: Kitab Bharatayudha merupakan gubahan Mahabarata oleh Mpu Sedah dan Panuluh. Isi ceritanya tentang peperangan selama 18 hari antara Pandawa melawan Kurawa. Para ahli berpendapat bahwa isi sebenarnya merupakan perebutan kekuasaan dalam keluarga raja-raja Kediri.&lt;br /&gt;Prasasti-prasasti yang ada ditulis dalam bahasa Sansekerta dan Huruf Pallawa. Bahasa Sansekerta banyak digunakan pada kitab-kitab kuno/Sastra India. Mengalami akulturasi dengan bahasa Jawa melahirkan bahasa Jawa Kuno dengan aksara Pallawa yang dimodifikasi sesuai dengan pengertian dan selera Jawa sehingga menjadi aksara Jawa Kuno dan Bali Kuno. Perkembangannya menjadi aksara Jawa sekarang serta aksara Bali. Di kerajaan Sriwijaya huruf Pallawa berkembang menjadi huruf Nagari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.     Bidang Teknologi&lt;br /&gt;Masyarakat Indonesia dari sebelum masuknya agama Hindu-Budha sebenarnya sudah memiliki budaya yang cukup tinggi. Dengan masuknya pengaruh budaya Hindu-Budha di Indonesia semakin mempertinggi teknologi yang sudah dimiliki bangsa Indonesia sebelumnya. Pengaruh Hindu-Budha terhadap perkembangan teknologi masyarakat Indonesia terlihat dalam bidang kemaritiman, bangunan dan pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan kemaritiman terlihat dengan semakin banyaknya kota-kota pelabuhan, ekspedisi pelayaran dan perdagangan antar negara. Selain itu, bangsa Indonesia yang awalnya baru dapat membuat sampan sebagai alat transportasi kemudian mulai dapat membuat perahu bercadik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpaduan antara pengetahuan dan teknologi dari India dengan Indonesia terlihat pula pada pembuatan dan pendirian bangunan candi baik candi dari agama Hindu maupun Budha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan candi merupakan hasil karya ahli-ahli bangunan agama Hindu-Budha yang memiliki nilai budaya yang sangat tinggi. Selain itu terlihat dalam penulisan prasasti-prasastri pada batu-batu besar yang membutuhkan keahlian, pengetahuan, dan teknik penulisan yang tinggi. Pengetahuan dan perkenalan teknologi yang tinggi dilakukan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bidang pertanian, tampak dengan adanya pengelolaan sistem irigasi yang baik mulai diperkenalkan dan berkembang pada zaman masuknya Hindu-Budha di Indonesia. Tampak pada relief candi yang menggambarkan teknologi irigasi pada zaman Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.     Sistem Kalender&lt;br /&gt;Diadopsi dari sistem kalender/penanggalan India. Hal ini terlihat dengan adanya :&lt;br /&gt;·        Penggunaan tahun Saka di Indonesia. Tercipta kalender dengan sebutan tahun Saka yang dimulai tahun 78 M (merupakan tahun Matahari, tahun Samsiah) pada waktu raja Kanishka I dinobatkan jumlah hari dalam 1 tahun ada 365 hari. Oleh orang Bali, tahun Saka tidak didasarkan pada sistem Surya Pramana tetapi sistem Chandra Pramana (tahun Bulan, tahun Kamariah) dalam 1 tahun ada 354 hari. Musim panas jatuh pada hari yang sama dalam bulan Maret dimana matahari, bumi, bulan ada pada garis lurus. Hari tersebut dirayakan sebagai Hari Raya Nyepi.&lt;br /&gt;·        Ditemukan Candrasangkala/ Kronogram ada dalam rangka memperingati peristiwa dengan tahun/ kalender saka. Candrasangkala adalah angka huruf berupa susunan kalimat/ gambaran kata. Bila berupa gambar harus diartikan dalam bentuk kalimat.&lt;br /&gt;Seni Ukir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seni Ukir Islam disebut Kaligrafi, yang dapat dipahatkan pada kayu.&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;☻Kaligrafi/ukiran yang dipahatkan pada dinding depan Masjid Mantingan, Jepara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;☻Di Masjid Cirebon terdapat pahatan berbentuk harimau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pahatan berupa gambar tersebut disebut Arabesk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SENI SASTRA&lt;br /&gt;Tampak pada karya sastra di Selat Malaka dan Pulau Jawa.&lt;br /&gt;Karya sastra yang berkembang:&lt;br /&gt;1.      Suluk,yaitu karya sastra yang berisi ajaran-ajaran tasawuf. Contoh : Suluk Sukrasa, Suluk Wujil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Hikayat, yaitu dongeng atau cerita rakyat yang sudah ada sebeluym masuknya Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Contoh: Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Panji Semirang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.   Babad, yaitu kisah sejarah yang terkadang memuat silsilah para raja suatu kerajaan Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Contoh: Babad tanah Jawi, Babd Cirebon, Babad Ranggalawe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SISTEM PEMERINTAHAN&lt;br /&gt;Digunakan aturan-aturan Islam dalam pemerintahan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Terbukti dengan adanya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ü      Raja Mataram Islam awalnya bergelar Sunan/Susuhunan, artinya dijunjung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ü      Raja akan diberi Gelar Sultan jika telah diangkat atas persetujuan khalifah yang  memerintah di Timur Tengah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ü      Terdapat gelar lain yaitu Panembahan, Maulana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOSIAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;v     Mulai dikenal sistem demokrasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;v     Tidak mengenal adanya sistem kasta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;v     Tidak mengenal perbedaan gologan dalam masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FILSAFAT&lt;br /&gt;Setelah Islam lahir berkembanglah Ilmu filsafat yang berfungsi untuk mendukung pendalaman agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Abad 8 M, lahir dasar-dasar Ilmu Fikih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Fikih, merupakan ilmu yang mempelajari hukum dan peraturan yang mengatur hak dan kewajiban umat Islam terhadap Tuhan dan sesama manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Dengan Fikih diharapkan umat Islam dapat hidup sesuai dengan kaidah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Abad ke-10 M, lahir dasar-dasar Ilmu   Qalam dan Tasawuf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Qalam, merupakan ajaran pokok Islam tentang  keesaan Tuhan, Ilmu teologi/Ilmu ketuhanan/ Ilmu Tauhid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Asal mula lahirnya tasawuf karena pencarian Allah karena kecintaan dan kerinduan pada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Tasawuf kemudian berkembang menjadi aliran kepercayaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7890961627097092465-8181929401171680204?l=riefqie-yupss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/feeds/8181929401171680204/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/08/akulturasi-budaya-hindu-budha-islam-di.html#comment-form' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/8181929401171680204'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/8181929401171680204'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/08/akulturasi-budaya-hindu-budha-islam-di.html' title='AKULTURASI BUDAYA HINDU-BUDHA-ISLAM di INDONESIA'/><author><name>Muh. Rifqi Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16755920782633062813</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/TOfawZe8c2I/AAAAAAAAAIo/dDxA3VkKIpY/S220/riefqie.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7890961627097092465.post-5647139184008465012</id><published>2009-06-17T21:27:00.000-07:00</published><updated>2010-04-25T01:29:08.422-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lentera....'/><title type='text'>WAKTU</title><content type='html'>Waktu&lt;br /&gt;Waktu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu merupakan interval antara dua buah keadaan/kejadian, atau bisa merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian. Sedang menurut ilmu fisika waktu adalah selang waktu yang diperlukan oleh atom sesium-133 untuk melakukan getaran sebanyak 9192631770 dalam transisi antara dua tingkat energi di tingkat energi dasarnya.. Skala waktu diukur dengan satuan detik, menit, jam, hari (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu), bulan (Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, Desember), tahun, windu, dekade (dasawarsa), abad, milenium (alaf) dan seterusnya.&lt;br /&gt;Untuk mengukur skala waktu yang berlangsung sangat cepat (di dalam dunia elektronika dan semikonduktor), kebanyakan orang menggunakan satuan mili detik (seperseribu detik), mikro detik (seper satu juta detik), nano detik (nanoseconds), piko detik (picoseconds), dst.&lt;br /&gt;Dalam dunia fisika, dimensi waktu dan dimensi ruang (panjang, luas, dan volume) merupakan besaran pengukuran yang mendasar, selain juga berat masa dari suatu benda (time, length and mass). Gabungan dari waktu, ruang dan berat masa ini dapat dipakai untuk menceritakan dan menjelaskan misteri alam semesta secara kuantitatif (berdasarkan hasil pengukuran). Misalnya tenaga (energi) dinyatakan dalam satuan ukuran kg*(meter/detik)kwadrat atau yang sering kita kenal sebagai satuan watt*detik atau joule.&lt;br /&gt;Penentuan Standar Waktu&lt;br /&gt;Sebelum diperkenalkannya standar waktu, setiap kota menyetel waktunya sesuai dengan posisi matahari di tempat masing-masing. Sistem ini bekerja dengan baik sampai diperkenalkannya kereta api, yang memungkinkan untuk berpergian dengan cepat namun memerlukan seseorang untuk terus-menerus mencocokan jamnya dengan waktu lokal yang berbeda-beda dari satu kota ke kota lain. Standard waktu, dimana semua jam di dalam satu daerah menggunakan waktu yang sama, dibuat untuk memecahkan masalah perbedaan waktu seperti dalam perjalanan kereta api di atas.&lt;br /&gt;Standar waktu membagi-bagi bumi kedalam sejumlah "zona waktu", masing-masing melingkupi (dalam teorinya) paling sedikit 15 derajat. Semua jam di dalam zona waktu ini disetel sama dengan jam lainnya, tapi berbeda sebanyak satu jam dari jam-jam di zona waktu yang bertetanggaan. Waktu lokal di Royal Greenwich Observatory di Greenwich, Inggris, dipilih sebagai standard di Konferensi Meridian Internasional tahun 1884, yang memicu penyebaran pemakaian Greenwich Mean Time untuk menyetel jam di dalam suatu daerah. Lokasi ini dipilih karena sampai tahun 1884, dua pertiga dari semua peta dan bagan menggunakannya sebagai meridian utama (prime meridian).&lt;br /&gt;Di Amerika Serikat dan Kanada, zona waktu standard diperkenalkan tanggal 18 November 1883, oleh perusahaan-perusahaan rel kereta api. Koran-koran menyebutkan hari itu sebagai hari yang memiliki "dua tengah hari" (two noons). Saat itu tidak ada peraturan dari pemerintah, perusahaan-perusahaan tersebut hanya memilih penggunaan sistem lima zona waktu, dan menganggap masyarakat akan mengikutinya. Asosiasi Rel Kereta Api Amerika (ARA), sebuah organisasi beranggotakan penyelenggara rel-rel kereta api, telah melihat munculnya minat dari dunia sains ke arah penyeragaman waktu. ARA membuat sistem zona waktu sendiri, yang memiliki bentuk batas-batas yang tidak regular, mungkin karena ingin menghindarkan tindakan pemerintah yang mungkin mempersulit kegiatan mereka. Sebagian besar masyarakat menerima pemakaian waktu yang baru tersebut, namun sejumlah kota dan kabupaten menolak "waktu rel kereta api", yang pada dasarnya belum dijadikan peraturan. Sebagai contohnya, dalam dokumen-dokumen kontrak legal, apa artinya "tengah malam"? Di dalam satu kasus pengadilan tinggi di negara bagian Iowa, seorang pemilik bar memberikan argumentasi bahwa ia telah menggunakan waktu (matahari) lokal, dalam menentukan jam buka bar miliknya, sehingga ia bersumpah tidak melanggar peraturan daerah tentang jam tutup kegiatan bar. Standard waktu tetap menjadi kebijaksanaan daerah masing-masing, sampai tahun 1918, disaat dijadikannya peraturan bersamaan dengan pengenalan daylight saving time.&lt;br /&gt;Tanggal 2 November 1868, Selandia Baru memutuskan sebuah standard waktu untuk digunakan secara nasional, dan mungkin Selandia Baru menjadi negara pertama yang melakukannya. Standard waktunya adalah berdasarkan 172° 30' longitude sebelah Timur Greenwich, yaitu 11 jam dan 30 menit di depan Greenwich Mean Time. Standard ini dikenal sebagai New Zealand Mean Time.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7890961627097092465-5647139184008465012?l=riefqie-yupss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/feeds/5647139184008465012/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/06/waktu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/5647139184008465012'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/5647139184008465012'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/06/waktu.html' title='WAKTU'/><author><name>Muh. Rifqi Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16755920782633062813</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/TOfawZe8c2I/AAAAAAAAAIo/dDxA3VkKIpY/S220/riefqie.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7890961627097092465.post-8557126618582930030</id><published>2009-06-17T21:22:00.000-07:00</published><updated>2010-04-25T01:29:08.422-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lentera....'/><title type='text'>MOTIVASI</title><content type='html'>PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;Guru adalah seorang panutan yang sangat dikagumi oleh murid-murid atau anak didiknya. Selain itu juga guru adalah sosok penyemangat yang memberikan gambaran, tujuan akan masa depan yang akan dicapai oleh para anak didik di masa yang akan datang. Sehingga guru dituntut mampu untuk memberikan hal yang positif untuk membangkitkan semangat belajar anak didiknya. &lt;br /&gt;Pada masa sekarang, banyak sekali hal-hal yang dapat mempengaruhi semangat belajar siswa-siswi, sehingga apa yang mereka inginkan dapat kandas di tengah jalan. Untuk itu ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh seorang guru agar tetap eksis dan dapat memberikan yang terbaik untuk siswa serta dapat menjadi motivator bagi para siswa untuk belajar lebih giat lagi.&lt;br /&gt;Dalam konteks studi psikologi, Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan bahwa untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari beberapa indikator, diantaranya: &lt;br /&gt;1. Durasi kegiatan; &lt;br /&gt;2. Frekuensi kegiatan; &lt;br /&gt;3. Persistensi pada kegiatan; &lt;br /&gt;4. Ketabahan, keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan; &lt;br /&gt;5. Devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan; &lt;br /&gt;6. Tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan; &lt;br /&gt;7. Tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan; &lt;br /&gt;8. Arah sikap terhadap sasaran kegiatan.&lt;br /&gt;Penting guru untuk memahami psikologis anak didik sangat mempengaruhi motivasi yang akan disampaikan oleh seorang guru terhadap murid, karena pemberian motivasi pada anak didik yang satu dengan yang lain sangatlah berbeda tergantung dari kepribadian murid itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Rumusan Masalah&lt;br /&gt;Dari latar belakang masalah di atas dapat di ambil suatu rumusan masalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Apakah dengan memberikan motivasi kepada anak didik akan mampu meningkatkan semangat belajar ?&lt;br /&gt;2. Bagaimana cara memberikan motivasi yang baik kepada anak didik ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Manfaat dan Tujuan&lt;br /&gt;a. Manfaat &lt;br /&gt;Manfaat dari penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan :&lt;br /&gt;1. Teoritis, memperoleh gambaran pemberian motivasi yang baik pada peserta didik.&lt;br /&gt;2. Praktis, para pendidik dapat meningkatkan kemampuan dalam memberikan yang terbaik untuk anak didik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Tujuan &lt;br /&gt;Dari hasil pembahasan makalah ini diharapkan dapat membantu dan berguna  sebagai bahan pertimbangan bagi guru untuk menentukan kebijaksanaan dalam memberikan motivasi kepada para anak didik, khususnya berkenaan dengan upaya untuk meningkatkan semangat belajar para peserta didik di masa yang akan datang&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pengertian Motivasi&lt;br /&gt;Kata “Motiv”, diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan aktivitas-aktifitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Berawal dari kata “motif” itu, maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif pada saat-saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan/mendesak.&lt;br /&gt;Menurut Mc. Donald, motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya “feeling” (perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan. &lt;br /&gt;Dalam proses belajar matematika, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak memiliki motivasi dalam belajar,  tak akan mungkin melakukan aktivitas belajar, apalagi dia tidak tertarik pada pelajaran matematika tersebut. Dan minat itu muncul jika sesuatu itu bersentuhan dengan kebutuhannya. Maslow (1943.1970) sangat percaya bahwa tingkah laku manusia dibangkitkan dan diarahkan oleh kebutuhan-kebutuhan tertentu, seperti kebutuhan fisiologis, rasa aman, rasa cinta, penghargaan aktualisasi diri, mengetahui dan mengerti, dan kebutuhan estetik. Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H. Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hirarki kebutuhan,  yaitu :&lt;br /&gt;a. Kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa lapar, haus, istirahat dan sex; &lt;br /&gt;b. Kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual; &lt;br /&gt;c. Kebutuhan akan kasih sayang (love needs); &lt;br /&gt;d. Kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status; dan &lt;br /&gt;e. Aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.&lt;br /&gt;B. Macam-Macam Motivasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya.&lt;br /&gt;a. Motif-motif bawaan&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan motif bawaan adalah motif yang dibawa sejak lahir, jadi motif itu ada tanpa dipelajari. Sebagai contoh misalnya: dorongan untuk makan, minum, bekerja, istirahat, dorongan seksual. Motif-motif ini sering kali disebut motif-motif yang disyaratlkan secara biologis. Relevan dengan ini maka Arden N. Fransen memberi istilah jenis motif Physiological drives. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Motif-motif yang dipelajari&lt;br /&gt;Maksudnya motif-motif yang timbul karena dipelajari. Sebagai contoh: dorongan untuk belajar suatu ilmu pengetahuan, dorongan untuk mengajar sesuatu di dalam masyarakat. Motif ini sering kali disebut motif yang diisyaratkan secara sosial, karena manusia hidup dalam lingkungan sosial. Frandsen mengistilahkan dengan Affiliative needs. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Cognitive motives&lt;br /&gt;Motif ini menunjuk pada gejala intrinsik, yakni menyangkut kepuasan individual. Kepuasan individual yang berada di dalam diri manusia biasanya berwujud proses dan produk mental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Self- Expression&lt;br /&gt;Penampilan diri adalah sebagian dari perilaku manusia. Yang penting kebutuhan individu itu tidak sekedar tahu mengapa dan bagaimana sesuatu itu terjadi, tetapi juga mampu membuat suatu kejadian. Untuk itu diperlukan kreativitas, penuh imajinasi. Jadi dalam hal ini seseorang memiliki keinginan untuk aktualisasi diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Self- Enhancement&lt;br /&gt;Melalui aktualisasi diri dan pengemgangan kompetensi akan meningkatkan kemajuan diri seseorang. Ketinggian dan kemajuan diri menjadi salah satu keinginan bagi setiap individu. Dalm belajar dapat diciptakan suasana kompetensi yang sehat bagi anak didik untuk mencapai suatu prestasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Motivasi Jasmaniah dan Rohaniah&lt;br /&gt;Ada beberapa ahli yang menggolongkan jenis motivasi itu menjadi dua jenis yaitu motivasi jasmaniah dan motivasi jasmaniah. Yang termasuk mativasi jasmani misalnya: reflek, insting otomatis, nafsu. Sedangkan yang termasuk motivasu rohaniah adalah kemauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Motivasi intrinsik dan ekstrinsik&lt;br /&gt;a. Motivasi intrinsik&lt;br /&gt;Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.&lt;br /&gt;Motif itu intrinsik bila tujuannya inheren dengan situasi belajar dan bertemu dengan kebutuhan dan tujuan anak didik untuk menguasai nilai-nilai yang terkandung di dalam pelajaran itu. &lt;br /&gt;Seseorang yang memiliki motivasi intrinsik selalu ingin maju dalam belajar. Keinginan itu dilatarbelakangi oleh pemikiran yang positif, bahwa semua mata pelajaran yang dipelajari sekarang akan dibutuhkan dan sangat berguna kini dan di masa mendatang. Motivasi itu muncul karena ia membutuhkan sesuatu dari apa yang dipelajarinya. Motivasi memang berhubungan dengan kebutuhan seseorang yang memunculkan kesadaran untuk melakukan aktivitas belajar. Oleh karena itu, minat adalah kesadaran seseorang bahwa suatu obje, seseorang, suatu soal atau situasi ada sangkut paut dengan dirinya.&lt;br /&gt;Dorongan untuk belajar bersumber pada kebutuhan yang berisikan keharusan untuk menjadi orang yang terdidik dan berpengetahuan. Jadi, motivasi intrinsik muncul berdasarkan kesadaran dengan tujuan esensial, bukan sekedar atribut dan seremonial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Motivasi Ekstrinsik&lt;br /&gt;Motivasi Ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar. Motivasi dikatakan ekstrinsik bila anak didik menempatkan tujuan belajarnya di luar faktor-faktor situasi belajar. Anak didik belajar karena hendak mencapai tujuan yang terletak di luar hal yang dipelajarinya. Misalnya untuk mencapai angka tinggi, diploma, gelar, kehormatan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Motivasi ekstrinsik bukan berarti motivasi yang tidak diperlukan dan tidak baik dalam pendidikan. Motivasi ekstrinsik diperlukan agar anak didik mau belajar. Berbagai macam cara bisa dilakukan agar anak didik termotivasi untuk belajar. Guru yang berhasil mengajar adalah guru yang pandai membangkitkan minat anak didik dalam belajar dengan memanfaatkan motivasi ekstrinsik dalm berbagai bentuknya. Menurut Hamachek Guru yang baik adalah harus memberikan motivasi kepada anak untuk membangkitkan dan menumbuhkan cita-cita mereka agar belajar dengan sungguh-sungguh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Prinsip-Prinsip Motivasi Belajar&lt;br /&gt;Ada beberapa prinsip motivasi dalam belajar, seperti dalam uraian berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Motivasi sebagai Dasar Penggerak yang Mendorong Aktivitas Belajar&lt;br /&gt;Seseorang melakukan aktivitas belajar karena ada yang mendorongnya. Minat merupakan alat motivasi dalam belajar. Minat merupakan potensi psikologis yang dapat dimanfaatkan untuk menggali motivasi. Bila seseorang sudah termotivasi untuk belajar, maka dia akan melakukan aktivitas belajar dalm rentang waktu tertentu. Oleh karena itulah, motivasi diakui sebagai dasar penggerak yang mendorong aktivitas belajar seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Motivasi Intrinsik Lebih Utama daripada Motivasi Ekstrinsik dalam Belajar&lt;br /&gt;Efek yang tidak diharapkan dalam motivasi ekstrinsik adalah kecenderungan ketergantungan anak didik terhadap segala sesuatu di luar dirinya. Selain kurang percaya diri, anak didik juga bermental pengharapan dan mudah terpengaruh. Oleh karena itu, motivasi intrinsik lebih utama dalam belajar. Anak didik yang belajar berdasarkan motivasi intrinsik sangat sedikit terpengaruh dari luar. Semangat belajarnya sangat kuat. Dia belajar bukan karena ingin mendapatkan nilai yang tinggi, mengharapkan pujian orang lain atau mengharapkan hadiah berupa benda, tetapi karena ingin memperoleh ilmu sebanyak-banyaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Motivasi Berupa Pujian Lebih Baik daripada Hukuman&lt;br /&gt;Meski hukuman tetap diberlakukan dalam memicu semangat belajar anak didik, tetapi masi lebih baik penghargaan berupa pujian. Setiap orang senang dihargai dan tidak suka di hukum dalm bentuk apapun juga. Memuji orang lain berarti memberikan penghargaan atas prestasi kerja orang lain. Hal ini akan memberikan semangat kepada seseorang untuk lebih meningkatkan prestasi kerjanya. Tetapi pujian yang diucapkan itu tidak asal ucap, harus pada tempat dan kondisi yang tepat. Kesalahan pujian bisa bermakna mengejek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Motivasi Berhubungan Erat dengan Kebutuhan dalam Belajar&lt;br /&gt;Kebutuhan yang tak bisa dihindari oleh anak didik adalah keinginannya untuk mengetahui sejumlah ilmu pengetahuan. Oleh karena itulah anak didik belajar. Karena bila tidak belajar anak didik tidak akan mendapat ilmu pengetahuan. Bagaimana untuk mengembangkan diri dengan memanfaatkan potensi-potensi yang dimiliki bila potensi-potensi itu tidak ditumbuhkembangkan melalui penguasaan ilmu pengetahuan. Jadi, belajar adalah santapan utama anak didik.&lt;br /&gt;Guru yang berpengalaman cukup bijak memanfaatkan kebutuhan anak didik, sehingga dapat memancing semangat belajar anak didik agar menjadi anak yang gemar belajar. Anak didik pun giat belajar untuk memenuhi kebutuhannya demi memuaskan rasa ingin tahunya terhadap sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Motivasi dapat Memupuk Optimisme dalam Belajar&lt;br /&gt;Anak didik yang memiliki motivasi dalam belajar selalu yakin dapat menyelesaikan setiap pekerjaan yang dilakukan. Dia yakin bahwa belajar bukanlah kegiatan yang sia-sia. Hasilnya pasti akan berguna tidak hanya kini, tetapi juga dihari-hari mendatang. Setiap ulangan yang diberikan guru bukan dihadapi dengan pesimisme, hati yang resah gelisah. Tetapi dia hadapi dengan tenang dan percaya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Motivasi Melahirkan Prestasi dalam Belajar&lt;br /&gt;Dari berbagai hasil penelitian selalu menyimpulkan bahwa motivasi mempengaruhi prestasi belajar. Tinggi rendahnya motivasi selalu dijadikan indikator baik buruknya prestasi belajar seorang anak didik. Anak didik menyenangi pelajaran tertentu dengan senang hati mempelajari mata pelajaran itu. Wajarlah bila isi pelajaran itu dikuasai dalam waktu yang relatif singkat.ulanganpun dilewati dengan mulus, dengan prestasi yang gemilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Fungsi Motivasi dalam Belajar&lt;br /&gt;Fungsi motivasi dalam belajar akan diuraikan dalam pembahasan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Motivasi sebagai Pendorong Perbuatan&lt;br /&gt;Pada mulanya anak didik tidak ada hasrat untuk belajar, tetapi karena ada sesuatu yang dicari muncullah minatnya untuk belajar. Sesuatu yang akan dicari itu dalam rangka untuk memuaskan rasa ingin tahunya dari sesuatu yang akan dipelajari. Sesuatu yang belum diketahui itu akhirnya mendorong anak didik untuk belajar dalam rangka mencari tahu. Anak didikpun mengambil sikap seiring dengan minat terhadap suatu objek. Di sini anak didik mempunyai keyakinan dan pendirian tentangapa yang seharusnya dilakukan untuk mencari tahu tentang sesuatu. Sikap itulah yang mendasari dan mendorong ke arah sejumlah perbuatan dalam belajar. Jadi, motivasi yang berfungsi sebagai pendorong ini mempengaruhi sikap apa yang seharusnya anak didik ambil dalam rangka belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Motivasi sebagai Penggerak dalam Perbuatan&lt;br /&gt;Dorongan psikologis yang melahirkan sikap terhadap anak didik itu merupakan suatu kekuatan yang tak terbendung, yang kemudian terjelma dalam bentuk gerakan psikofisik. Di sini anak didik sudah melakukan aktivitas belejar dengan segenap jiwa dan raga. Akal pikiran berproses dengan sikap raga yang cenderung tunduk dengan kehendak perbuatan belajar. Sikap berada dalam kepastian perbuatan dan akal pikiran mencoba membedah nilai yang terpatri dalam wacana, prinsip, dalil, dan hukum, sehingga mengerti betul isi yang dikandungnya. Jadi motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Motivasi sebagai Pengarah Perbuatan&lt;br /&gt;Sesuatu yang akan dicari anak didik merupakan tujuan belajar yang akan dicapainya. Tujuan belajar itulah sebagai pengarah yang memberikan mitivasi kepada anak didik dalam belajar. Dengan penuh konsentrasi anak didik belajar agar tujuannya mencari sesuatu yang ingin diketahui itu cepat tercapai. Itulah peranan motivasi yang dapat mengarahkan perbuatan anak didik dalam belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Bentuk-Bentuk Motivasi dalam Belajar&lt;br /&gt;Ada beberapa bentuk motivasi yang dapat dimanfaatkan dalam rangka mengarahkan belajar anak didik di kelas, antara lain sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Memberi Angka&lt;br /&gt;Angka yang dimaksud adalah sebagai smbol atau nilai dari aktivitas belajar anak didik. Angka yang diberikan kepada setiap anak didik biasanya bervariasi, sesuai dengan hasil ulangan yang telah mereka peroleh dari hasil penilaian guru. Namun, guru harus menyadari bahwa angka/ nilai bukanlah merupakan hasil belajar yang sejati, hasil belajar yang bermakna, karena hasil belajar seperti itu lebih menyentuh aspek kognitif. Pemberian nilai yang baik juga penting diberikan kepada anak didik yang kurang bergairah belajar bila hal itu dianggap dapat memotivasi anak didik untuk belajar dengan bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hadiah&lt;br /&gt;Dalam dunia pendidikan, hadiah bisa dijadikan sebagai alat motivasi. Hadiah dapat diberikan kepada anak didik yang berprestasi tinggi, rangking satu, dua atau tiga dari anak didik lainnya. Hadiah diberikan gunanya adalah untuk memotivasi anak didik agar senantiasa mempertahankan prestasi belajar selama berstudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kompetisi&lt;br /&gt;Kompetisi adalah persaingan, dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk medorong anak didik agar anak bergairah belajar. Persaingan baik dalam bentuk individu maupun kelompok diperlukan dalam pendidikan. Kondisi ini bisa dimanfaatkan untuk menjadikan proses interaksi belajar mengajar yang kondusif. Untuk menciptakan suasana yang demikian, metode mengajar memegang peranan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ego-Involvement &lt;br /&gt;Menumbuhkan kesadaran kepada anak didik agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai suatu tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri, adalah sebagai salah satu bentuk inovasi yang cukup penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Memberi Ulangan&lt;br /&gt;Ulangan bisa dijadikan  sebagai alat motivasi. Anak didik biasanya mempersiapkan diri dengan belajar jauh-jauh hari untuk menhadapi ulangan. Berbagai usaha dan teknik bagaimana agar dapat menguasai semua bajan pelajaran anak didik lakukan sedini mungkin sehingga memudahkan mereka untuk menjawab setiap item soal yang diajukan ketika pelaksanaan ulangan berlangsung, sesuai dengan interval waktu yang diberikan.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, ulangan akan menjadi alat motivasi bila dilakukan secara akurat dengan teknik dan strategi yang sistematis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Mengetahui Hasil&lt;br /&gt;Dengan mengetahui hasil pekerjaan, apalagi kalau terjadi kemajuan akan mendorong siswa untuk lebih giat belajar. Semakin mengetahui bahwa grafik hasil belajar meningkat maka ada motivasi pada diri siswa untuk terus belajar, dengan suatu harapan hasilnya terus meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Pujian&lt;br /&gt;Apabila ada siswa yang sukses yang berhasil menyelesaikan tugas dengan baik, perlu diberikan pujian. Pujian ini adalah betuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik. Oleh karena itu, supaya pujian ini merupakan motivasi, pemberiannya harus tepat. Dengan pujian yang tepat akan memupuk suasana yang menyenangkan dan mempertinggi gairah belajar serta sekaligus akan membangkitkan harga diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Hukuman &lt;br /&gt;Meski hukuman sebagai reinforcement yang negatif, tetapi bila dilakukan dengan tepat dan bijak akan merupakan alat motivasi yang baik dan efektif. Hukuman merupakan alat motivasi bila dilakukan dengan pendekatan edukatif, bukan karena dendam. Pendekatan edukatif di maksud di sini sebagai hukuman yang mendidik dan bertujuan memperbaiki sikap dan perbuatan anak didik yang dianggap salah. Sehingga dengan hukuman yang diberikan itu anak didik tidak mengulangi kesalahan atau pelanggaran. Minimal mengurangi frekuensi pelanggaran. Akan lebih baik bila anak didik berhenti melakukannya di hari mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Hasrat untuk Belajar&lt;br /&gt;Hasrat untuk belajar berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hal ini akan lebih baik bila dibandingkan dengan segala kegiatan tanpa maksud. Hasrat untuk belajar berarti pada diri anak didik itu memang ada motivasi untuk belajar, sehingga sudah tentu hasilnya akan lebih baik daripada anak didik yang tak berhasrat untuk belajar.&lt;br /&gt;Hasrat untuk belajar merupakan potensi yang tersedia di dalam diri anak didik. Potensi itu harus ditumbuhsuburkan dengan menyediakan lingkungan belajar yang kreatif sebagai pendukung utamanya. Motivasi ekstrinsik sangat diperlukan di sini, agar hasrat untuk belajar itu menjelma menjadi perilaku belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Minat &lt;br /&gt;Di depan sudah diuraikan bahwa soal motivasi sangat erat hubungannya dengan unsur minat. Motivasi muncul karena ada kubutuhan, begitu juga minat sehingga tepatlah kalau minat merupakan alat motivasi yang pokok. Proses belajar itu akan berjalan lancar kalau disertai dengan minat. Sedangkan untuk membangkitkan motivasi belajar siswa, menurut E. Mulyasa (2003) perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut  :&lt;br /&gt;1. Bahwa siswa akan belajar lebih giat apabila topik yang dipelajarinya menarik dan berguna bagi dirinya;&lt;br /&gt;2. Tujuan pembelajaran harus disusun dengan jelas dan diinformasikan kepada siswa sehingga mereka mengetahui tujuan belajar yang hendak dicapai. Siswa juga dilibatkan dalam penyusunan tersebut;&lt;br /&gt;3. Siswa harus selalu diberitahu tentang hasil belajarnya;&lt;br /&gt;4. Pemberian pujian dan hadiah lebih baik daripada hukuman, namun sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan;&lt;br /&gt;5. Manfaatkan sikap-sikap, cita-cita dan rasa ingin tahu siswa;&lt;br /&gt;6. Usahakan untuk memperhatikan perbedaan individual siswa, seperti : perbedaan kemampuan, latar belakang dan sikap terhadap sekolah atau subyek tertentu;&lt;br /&gt;7. Usahakan untuk memenuhi kebutuhan siswa dengan jalan memperhatikan kondisi fisiknya, rasa aman, menunjukkan bahwa guru peduli terhadap mereka, mengatur pengalaman belajar sedemikian rupa sehingga siswa memperoleh kepuasan dan penghargaan, serta  mengarahkan pengalaman belajar kearah keberhasilan, sehingga mencapai prestasi dan mempunyai kepercayaan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Tujuan yang Diakui&lt;br /&gt;Rumusan tujuan yang diakui dan diterima baik oleh anak didik merupakan alat motivasi yang sangat penting. Sebab dengan memahami tujuan yang harus dicapai, dirasakan anak sangat berguana dan menguntungkan, sehingga menimbulkan gairah untuk terus belajar.&lt;br /&gt;Tujuan pengajaran yang akan dicapai sebaiknya guru beritahukan kepada anak didik, sehingga anak didik dapat memberikan alternatif tentang pilihan tingkah laku yang mana yang harus diambil guna menunjang tercapainya rumusan tujuan pengajaran. Anak didik berusaha mendengarkan penjelasan guru atau tugas yang akan diselesaikan oleh anak didik untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Perilaku anak didik jelas dan terarah tanpa ada penyimpangan yang berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar&lt;br /&gt;Menurut De Decce dan Grawford (1974), ada empat fungsi guru sebagai pengajar yang berhubungan dengan cara pemeliharaan dan peningkatan motivasi belajar anak didik, yaitu guru harus dapat menggairahkan anak didik, memberikan harapan yang realistis, memberikan insentif dan menggairahkan perilaku anak didik ke arah yang menunjang tercapainya tujuan pengajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menggairahkan Anak Didik&lt;br /&gt;Dalam kegiatan rutin di kelas sehari-hari guru harus berusaha menghindari hal-hal yang monoton dan membosankan. Ia harus selalu memberikan kepada anak didik cukup banyak hal-hal yang perlu dipikirkan dan dilakukan. Guru harus memelihara minat anak didik dalam belajar yaitu dengan memberikan kebebasan tertentu untuk berpindah dari satu aspek ke lain aspek pelajaran dalam situasi belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Memberikan Harapan Realistis&lt;br /&gt;Guru harus memelihara harapan-harapan anak didik yang realistis dan memodifikasi harapan-harapan yang kurang atau tidak realistis. Untuk itu guru perlu memiliki pengetahuan yang cukup mengenai keberhasilan atau kegagalan akademis setiap anak didik di masa lalu. Dengan demikian, guru dapat membedakan antara harapan-harapan yang realistis, pesimistis atau terlalu optimis. Bila anak didik telah banyak mengalami kegagalan, maka guru harus memberikan sebanyak mungkin keberhasilan kepada anak didik. Harapan yang diberikan tentu saja terjangkau dan dengan pertimbangan yang matang. Harapan yang tidak realistis adlah kebohongan dan itu yang tak disenangi oleh anak didik. Jadi, jangan coba-coba menjual harapan munafik bila tidak ingin dirugikan oleh anak didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Memberikan insentif&lt;br /&gt;Bila anak didik mengalami keberhasilan, guru diharapkan memberikan hadian kepada anak didik (dapat berupa pujian, angka yang baik, dan sebagainya) atas keberhasilannya, sehingga anak didik terdorong untuk melakukan usaha lebih lanjut guna mencapai tujuan-tujuan pengajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mengarahkan perilaku anak didik&lt;br /&gt;Mengarahkan perilaku anak didik adalah tugas guru. Di sini kepada guru dituntut  untuk memberikan respons terhadap anak didik yang tak terlibat secara langsung dalam kegiatan belajar di kelas. Anak didik yang diam, yang membuat keributan, yang berbicara semaunya, dan sebagainya harus diberikan teguran secara arif dan bijaksana. Cara mengarahkan perilaku anak didik adalah dengan memberikan penugasan, bergerak mendekati, memberikan hukuman yang mendidik, menegur dengan sikap lemah lembut dan dengan perkataan yang ramah dan baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. KESIMPULAN&lt;br /&gt;Sebagai akhir dari penyusunan makalah ini, dan berdasarkan uraian serta pembahasan pada bab sebelumnya, maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Pentingnya motivasi sebagai dasar penggerak dan  pendorong peningkatan belajar.&lt;br /&gt;2. Guru harus dapat menggairahkan belajar anak didik, memberikan harapan yang realistis, memberikan insentif dan menggairahkan perilaku anak didik ke arah yang menunjang tercapainya tujuan pengajaran.&lt;br /&gt;3. Pentingnya seorang guru untuk mengetahui beberapa bentuk motivasi yang dapat dimanfaatkan dalam rangka mengarahkan belajar anak didik di kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimyadji. 2006. Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: PT. Rineka Cipta.&lt;br /&gt;Djamarah, Saiful Bahri. 2008. Psikologi Belajar Edisi 2, Jakarta: PT. Rineka Cipta.&lt;br /&gt;http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/06/teori-teori-motivasi/&lt;br /&gt;http://akhmadsudrajat.wordpress.com/category/psikologi-pendidikan/&lt;br /&gt;Imron, Ali. 1996. Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.&lt;br /&gt;Sadiman. 2006. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.&lt;br /&gt;Sardiman. 2006. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: PT. Rajawali.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7890961627097092465-8557126618582930030?l=riefqie-yupss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/feeds/8557126618582930030/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/06/motivasi.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/8557126618582930030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/8557126618582930030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/06/motivasi.html' title='MOTIVASI'/><author><name>Muh. Rifqi Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16755920782633062813</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/TOfawZe8c2I/AAAAAAAAAIo/dDxA3VkKIpY/S220/riefqie.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7890961627097092465.post-4537994916860032904</id><published>2009-06-17T21:14:00.000-07:00</published><updated>2010-04-25T01:29:08.422-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lentera....'/><title type='text'>TEORI MOTIVASI</title><content type='html'>BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;A. Pengertian Motivasi&lt;br /&gt;Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik). Dalam proses pembelajaran pendidik/guru merupakan suatu jembatan untuk memberikan motivasi atau sebagai motivator bagi siswa. Jika didalam suatu proses pembelajaran matematika ini tidak diimbangi dengan sebuah motivasi-motivasi yang akan membawa siswa kembali semangat, maka proses pembelajaran tersebut tidak akan bisa berjalan dengan baik. &lt;br /&gt;Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu akan banyak menentukan terhadap kualitas perilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja maupun dalam kehidupan lainnya.. Kajian tentang motivasi telah sejak lama memiliki daya tarik tersendiri bagi kalangan pendidik, manajer, dan peneliti, terutama dikaitkan dengan kepentingan upaya pencapaian kinerja (prestasi) seseorang.&lt;br /&gt;B.  Beberapa Teori Tentang Motivasi&lt;br /&gt;Untuk memahami tentang motivasi, kita akan bertemu dengan beberapa teori tentang motivasi, antara lain : &lt;br /&gt;1) Teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan) &lt;br /&gt;2) Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi) &lt;br /&gt;3) Teori Clyton Alderfer (Teori ERG) &lt;br /&gt;4) Teori Herzberg (Teori Dua Faktor) &lt;br /&gt;5) Teori Keadilan&lt;br /&gt;6) Teori penetapan tujuan &lt;br /&gt;7) Teori Victor H. Vroom (teori Harapan) &lt;br /&gt;8) Teori Penguatan dan Modifikasi Perilaku &lt;br /&gt;9) Teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi. (disarikan dari berbagai sumber : Winardi, 2001:69-93; Sondang P. Siagian, 286-294; Indriyo Gitosudarmo dan Agus Mulyono,183-190, Fred Luthan,140-167)&lt;br /&gt;1. Teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan)&lt;br /&gt;Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H. Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu : &lt;br /&gt;a. kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa lapar, haus, istirahat dan sex; &lt;br /&gt;b. kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual; &lt;br /&gt;c. kebutuhan akan kasih sayang (love needs); &lt;br /&gt;d. kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status; dan &lt;br /&gt;e. aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.&lt;br /&gt;Kebutuhan-kebutuhan yang disebut pertama (fisiologis) dan kedua (keamanan) kadang-kadang diklasifikasikan dengan cara lain, misalnya dengan menggolongkannya sebagai kebutuhan primer, sedangkan yang lainnya dikenal pula dengan klasifikasi kebutuhan sekunder. Terlepas dari cara membuat klasifikasi kebutuhan manusia itu, yang jelas adalah bahwa sifat, jenis dan intensitas kebutuhan manusia berbeda satu orang dengan yang lainnya karena manusia merupakan individu yang unik. Juga jelas bahwa kebutuhan manusia itu tidak hanya bersifat materi, akan tetapi bersifat pskologikal, mental, intelektual dan bahkan juga spiritual.&lt;br /&gt;Menarik pula untuk dicatat bahwa dengan makin banyaknya organisasi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat dan makin mendalamnya pemahaman tentang unsur manusia dalam kehidupan organisasional, teori “klasik” Maslow semakin dipergunakan, bahkan dikatakan mengalami “koreksi”. Penyempurnaan atau “koreksi” tersebut terutama diarahkan pada konsep “hierarki kebutuhan “ yang dikemukakan oleh Maslow. Istilah “hierarki” dapat diartikan sebagai tingkatan. Atau secara analogi berarti anak tangga. Logikanya ialah bahwa menaiki suatu tangga berarti dimulai dengan anak tangga yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. &lt;br /&gt;Jika konsep tersebut diaplikasikan pada pemuasan kebutuhan manusia, berarti seseorang tidak akan berusaha memuaskan kebutuhan tingkat kedua, dalam hal ini keamanan sebelum kebutuhan tingkat pertama yaitu sandang, pangan, dan papan terpenuhi; yang ketiga tidak akan diusahakan pemuasan sebelum seseorang merasa aman, demikian pula seterusnya.&lt;br /&gt;Berangkat dari kenyataan bahwa pemahaman tentang berbagai kebutuhan manusia makin mendalam penyempurnaan dan “koreksi” dirasakan bukan hanya tepat, akan tetapi juga memang diperlukan karena pengalaman menunjukkan bahwa usaha pemuasan berbagai kebutuhan manusia berlangsung secara simultan. Artinya, sambil memuaskan kebutuhan fisik, seseorang pada waktu yang bersamaan ingin menikmati rasa aman, merasa dihargai, memerlukan teman serta ingin berkembang.&lt;br /&gt;Dengan demikian dapat dikatakan bahwa lebih tepat apabila berbagai kebutuhan manusia digolongkan sebagai rangkaian dan bukan sebagai hierarki. Dalam hubungan ini, perlu ditekankan bahwa : &lt;br /&gt;• Kebutuhan yang satu saat sudah terpenuhi sangat mungkin akan timbul lagi di waktu yang akan datang;&lt;br /&gt;• Pemuasaan berbagai kebutuhan tertentu, terutama kebutuhan fisik, bisa bergeser dari pendekatan kuantitatif menjadi pendekatan kualitatif dalam pemuasannya.&lt;br /&gt;• Berbagai kebutuhan tersebut tidak akan mencapai “titik jenuh” dalam arti tibanya suatu kondisi dalam mana seseorang tidak lagi dapat berbuat sesuatu dalam pemenuhan kebutuhan itu.&lt;br /&gt;Kendati pemikiran Maslow tentang teori kebutuhan ini tampak lebih bersifat teoritis, namun telah memberikan fundasi dan mengilhami bagi pengembangan teori-teori motivasi yang berorientasi pada kebutuhan berikutnya yang lebih bersifat aplikatif.&lt;br /&gt;2.  Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi)&lt;br /&gt;Dari McClelland dikenal tentang teori kebutuhan untuk mencapai prestasi atau Need for Acievement (N.Ach) yang menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda, sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan prestasi. Murray sebagaimana dikutip oleh Winardi merumuskan kebutuhan akan prestasi tersebut sebagai keinginan :“ Melaksanakan sesuatu tugas atau pekerjaan yang sulit. &lt;br /&gt;Menguasai, memanipulasi, atau mengorganisasi obyek-obyek fisik, manusia, atau ide-ide melaksanakan hal-hal tersebut secepat mungkin dan seindependen mungkin, sesuai kondisi yang berlaku. Mengatasi kendala-kendala, mencapai standar tinggi. Mencapai performa puncak untuk diri sendiri. Mampu menang dalam persaingan dengan pihak lain. Meningkatkan kemampuan diri melalui penerapan bakat secara berhasil.”&lt;br /&gt;Menurut McClelland karakteristik orang yang berprestasi tinggi (high achievers) memiliki tiga ciri umum yaitu : &lt;br /&gt;1. Sebuah preferensi untuk mengerjakan tugas-tugas dengan derajat kesulitan moderat; &lt;br /&gt;2. Menyukai situasi-situasi di mana kinerja mereka timbul karena upaya-upaya mereka sendiri, dan bukan karena faktor-faktor lain, seperti kemujuran misalnya; dan &lt;br /&gt;3. Menginginkan umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan mereka, dibandingkan dengan mereka yang berprestasi rendah.&lt;br /&gt;3. Teori Clyton Alderfer (Teori “ERG”)&lt;br /&gt; Teori Alderfer dikenal dengan akronim “ERG” . Akronim “ERG” dalam teori Alderfer merupakan huruf-huruf pertama dari tiga istilah yaitu : E = Existence (kebutuhan akan eksistensi), R = Relatedness (kebutuhanuntuk berhubungan dengan pihak lain, dan G = Growth (kebutuhan akan pertumbuhan).&lt;br /&gt;Jika makna tiga istilah tersebut didalami akan tampak dua hal penting. Pertama, secara konseptual terdapat persamaan antara teori atau model yang dikembangkan oleh Maslow dan Alderfer. Karena “Existence” dapat dikatakan identik dengan hierarki pertama dan kedua dalam teori Maslow; “ Relatedness” senada dengan hierarki kebutuhan ketiga dan keempat menurut konsep Maslow dan “Growth” mengandung makna sama dengan “self actualization” menurut Maslow. Kedua, teori Alderfer menekankan bahwa berbagai jenis kebutuhan manusia itu diusahakan pemuasannya secara serentak. Apabila teori Alderfer disimak lebih lanjut akan tampak bahwa :&lt;br /&gt;• Makin tidak terpenuhinya suatu kebutuhan tertentu, makin besar pula keinginan untuk memuaskannya;&lt;br /&gt;• Kuatnya keinginan memuaskan kebutuhan yang “lebih tinggi” semakin besar apabila kebutuhan yang lebih rendah telah dipuaskan;&lt;br /&gt;• Sebaliknya, semakin sulit memuaskan kebutuhan yang tingkatnya lebih tinggi, semakin besar keinginan untuk memuasakan kebutuhan yang lebih mendasar.&lt;br /&gt;Tampaknya pandangan ini didasarkan kepada sifat pragmatisme oleh manusia. Artinya, karena menyadari keterbatasannya, seseorang dapat menyesuaikan diri pada kondisi obyektif yang dihadapinya dengan antara lain memusatkan perhatiannya kepada hal-hal yang mungkin dicapainya.&lt;br /&gt;4. Teori Herzberg (Teori Dua Faktor)&lt;br /&gt;Ilmuwan ketiga yang diakui telah memberikan kontribusi penting dalam pemahaman motivasi Herzberg. Teori yang dikembangkannya dikenal dengan “ Model Dua Faktor” dari motivasi, yaitu faktor motivasional dan faktor hygiene atau “pemeliharaan”.&lt;br /&gt;Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dalam diri seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan seseorang.&lt;br /&gt;Menurut Herzberg, yang tergolong sebagai faktor motivasional antara lain ialah pekerjaan seseorang, keberhasilan yang diraih, kesempatan bertumbuh, kemajuan dalam karier dan pengakuan orang lain. Sedangkan faktor-faktor hygiene atau pemeliharaan mencakup antara lain status seseorang dalam organisasi, hubungan seorang individu dengan atasannya, hubungan seseorang dengan rekan-rekan sekerjanya, teknik penyeliaan yang diterapkan oleh para penyelia, kebijakan organisasi, sistem administrasi dalam organisasi, kondisi kerja dan sistem imbalan yang berlaku.&lt;br /&gt;Salah satu tantangan dalam memahami dan menerapkan teori Herzberg ialah memperhitungkan dengan tepat faktor mana yang lebih berpengaruh kuat dalam kehidupan seseorang, apakah yang bersifat intrinsik ataukah yang bersifat ekstrinsik.&lt;br /&gt;5. Teori Keadilan&lt;br /&gt;Inti teori ini terletak pada pandangan bahwa manusia terdorong untuk menghilangkan kesenjangan antara usaha yang dibuat bagi kepentingan organisasi dengan imbalan yang diterima. Artinya, apabila seorang pegawai mempunyai persepsi bahwa imbalan yang diterimanya tidak memadai, dua kemungkinan dapat terjadi, yaitu : &lt;br /&gt;• Seorang akan berusaha memperoleh imbalan yang lebih besar, atau&lt;br /&gt;• Mengurangi intensitas usaha yang dibuat dalam melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.&lt;br /&gt;Dalam menumbuhkan persepsi tertentu, seorang pegawai biasanya menggunakan empat hal sebagai pembanding, yaitu :&lt;br /&gt;• Harapannya tentang jumlah imbalan yang dianggapnya layak diterima berdasarkan kualifikasi pribadi, seperti pendidikan, keterampilan, sifat pekerjaan dan pengalamannya;&lt;br /&gt;• Imbalan yang diterima oleh orang lain dalam organisasi yang kualifikasi dan sifat pekerjaannnya relatif sama dengan yang bersangkutan sendiri;&lt;br /&gt;• Imbalan yang diterima oleh pegawai lain di organisasi lain di kawasan yang sama serta melakukan kegiatan sejenis;&lt;br /&gt;• Peraturan perundang-undangan yang berlaku mengenai jumlah dan jenis imbalan yang merupakan hak para pegawai&lt;br /&gt;Pemeliharaan hubungan dengan pegawai dalam kaitan ini berarti bahwa para pejabat dan petugas di bagian kepegawaian harus selalu waspada jangan sampai persepsi ketidakadilan timbul, apalagi meluas di kalangan para pegawai. Apabila sampai terjadi maka akan timbul berbagai dampak negatif bagi organisasi, seperti ketidakpuasan, tingkat kemangkiran yang tinggi, sering terjadinya kecelakaan dalam penyelesaian tugas, seringnya para pegawai berbuat kesalahan dalam melaksanakan pekerjaan masing-masing, pemogokan atau bahkan perpindahan pegawai ke organisasi lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Teori penetapan tujuan (goal setting theory)&lt;br /&gt;Edwin Locke mengemukakan bahwa dalam penetapan tujuan memiliki empat macam mekanisme motivasional yakni : &lt;br /&gt;a) Tujuan-tujuan mengarahkan perhatian; &lt;br /&gt;b) Tujuan-tujuan mengatur upaya; &lt;br /&gt;c) Tujuan-tujuan meningkatkan persistensi; dan &lt;br /&gt;d) Tujuan-tujuan menunjang strategi-strategi dan rencana-rencana kegiatan. Bagan berikut ini menyajikan tentang model instruktif tentang penetapan tujuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Teori Victor H. Vroom (Teori Harapan )&lt;br /&gt;Victor H. Vroom, dalam bukunya yang berjudul “Work And Motivation” mengetengahkan suatu teori yang disebutnya sebagai “ Teori Harapan”. Menurut teori ini, motivasi merupakan akibat suatu hasil dari yang ingin dicapai oleh seorang dan perkiraan yang bersangkutan bahwa tindakannya akan mengarah kepada hasil yang diinginkannya itu. Artinya, apabila seseorang sangat menginginkan sesuatu, dan jalan tampaknya terbuka untuk memperolehnya, yang bersangkutan akan berupaya mendapatkannya.&lt;br /&gt;Dinyatakan dengan cara yang sangat sederhana, teori harapan berkata bahwa jika seseorang menginginkan sesuatu dan harapan untuk memperoleh sesuatu itu cukup besar, yang bersangkutan akan sangat terdorong untuk memperoleh hal yang diinginkannya itu. Sebaliknya, jika harapan memperoleh hal yang diinginkannya itu tipis, motivasinya untuk berupaya akan menjadi rendah.&lt;br /&gt;Di kalangan ilmuwan dan para praktisi manajemen sumber daya manusia teori harapan ini mempunyai daya tarik tersendiri karena penekanan tentang pentingnya bagian kepegawaian membantu para pegawai dalam menentukan hal-hal yang diinginkannya serta menunjukkan cara-cara yang paling tepat untuk mewujudkan keinginannnya itu. Penekanan ini dianggap penting karena pengalaman menunjukkan bahwa para pegawai tidak selalu mengetahui secara pasti apa yang diinginkannya, apalagi cara untuk memperolehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Teori Penguatan dan Modifikasi Perilaku&lt;br /&gt;Berbagai teori atau model motivasi yang telah dibahas di muka dapat digolongkan sebagai model kognitif motivasi karena didasarkan pada kebutuhan seseorang berdasarkan persepsi orang yang bersangkutan berarti sifatnya sangat subyektif. Perilakunya pun ditentukan oleh persepsi tersebut.&lt;br /&gt;Padahal dalam kehidupan organisasional disadari dan diakui bahwa kehendak seseorang ditentukan pula oleh berbagai konsekwensi ekstrernal dari perilaku dan tindakannya. Artinya, dari berbagai faktor di luar diri seseorang turut berperan sebagai penentu dan pengubah perilaku.&lt;br /&gt;Dalam hal ini berlakulah apaya yang dikenal dengan “hukum pengaruh” yang menyatakan bahwa manusia cenderung untuk mengulangi perilaku yang mempunyai konsekwensi yang menguntungkan dirinya dan mengelakkan perilaku yang mengibatkan perilaku yang mengakibatkan timbulnya konsekwensi yang merugikan.&lt;br /&gt;Contoh yang sangat sederhana ialah seorang juru tik yang mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik dalam waktu singkat. Juru tik tersebut mendapat pujian dari atasannya. Pujian tersebut berakibat pada kenaikan gaji yang dipercepat. Karena juru tik tersebut menyenangi konsekwensi perilakunya itu, ia lalu terdorong bukan hanya bekerja lebih tekun dan lebih teliti, akan tetapi bahkan berusaha meningkatkan keterampilannya, misalnya dengan belajar menggunakan komputer sehingga kemampuannya semakin bertambah, yang pada gilirannya diharapkan mempunyai konsekwensi positif lagi di kemudian hari.&lt;br /&gt;Contoh sebaliknya ialah seorang pegawai yang datang terlambat berulangkali mendapat teguran dari atasannya, mungkin disertai ancaman akan dikenakan sanksi indisipliner. Teguran dan kemungkinan dikenakan sanksi sebagi konsekwensi negatif perilaku pegawai tersebut berakibat pada modifikasi perilakunya, yaitu datang tepat pada waktunya di tempat tugas.&lt;br /&gt;Penting untuk diperhatikan bahwa agar cara-cara yang digunakan untuk modifikasi perilaku tetap memperhitungkan harkat dan martabat manusia yang harus selalu diakui dan dihormati, cara-cara tersebut ditempuh dengan “gaya” yang manusiawi pula.&lt;br /&gt;9. Teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi.&lt;br /&gt;Bertitik tolak dari pandangan bahwa tidak ada satu model motivasi yang sempurna, dalam arti masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, para ilmuwan terus menerus berusaha mencari dan menemukan sistem motivasi yang terbaik, dalam arti menggabung berbagai kelebihan model-model tersebut menjadi satu model. Tampaknya terdapat kesepakan di kalangan para pakar bahwa model tersebut ialah apa yang tercakup dalam teori yang mengaitkan imbalan dengan prestasi seseorang individu.&lt;br /&gt;Menurut model ini, motivasi seorang individu sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Termasuk pada faktor internal adalah : &lt;br /&gt;a. persepsi seseorang mengenai diri sendiri&lt;br /&gt;b. harga diri&lt;br /&gt;c. harapan pribadi&lt;br /&gt;d. kebutuhaan&lt;br /&gt;e. keinginan&lt;br /&gt;f. kepuasan kerja&lt;br /&gt;g. prestasi kerja yang dihasilkan.&lt;br /&gt;Sedangkan faktor eksternal mempengaruhi motivasi seseorang, antara lain ialah : &lt;br /&gt;a. jenis dan sifat pekerjaan&lt;br /&gt;b. kelompok kerja dimana seseorang bergabung&lt;br /&gt;c. organisasi tempat bekerja&lt;br /&gt;d. situasi lingkungan pada umumnya&lt;br /&gt;e. sistem imbalan yang berlaku dan cara penerapannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7890961627097092465-4537994916860032904?l=riefqie-yupss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/feeds/4537994916860032904/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/06/teori-motivasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/4537994916860032904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/4537994916860032904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/06/teori-motivasi.html' title='TEORI MOTIVASI'/><author><name>Muh. Rifqi Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16755920782633062813</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/TOfawZe8c2I/AAAAAAAAAIo/dDxA3VkKIpY/S220/riefqie.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7890961627097092465.post-4092056083142989937</id><published>2009-06-17T21:05:00.000-07:00</published><updated>2010-04-25T01:29:08.425-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lentera....'/><title type='text'>PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK</title><content type='html'>PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pembelajaran matematika selama ini, dunia nyata hanya dijadikan tempat mengaplikasikan konsep.  Siswa mengalami kesulitan matematika di kelas.  Akibatnya, siswa kurang menghayati atau memahami konsep-konsep matematika, dan siswa mengalami kesulitan untuk mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;Salah satu pembelajaran matematika yang berorientasi pada matematisasi pengalaman sehari-hari (mathematize of everyday experience) dan menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah pembelajaran Matematika Realistik (MR).  &lt;br /&gt;Karakteristik RME adalah menggunakan konteks “dunia nyata”, model-model, produksi dan konstruksi siswa, interaktif, dan keterkaitan (intertwinment). Berkaitan dengan hal itu, tulisan ini bertujuan untuk memaparkan secara teoretis pembelajaran matematika realistik, pengimplementasian pembelajaran MR, serta kaitan antara pembelajaran MR dengan pengertian.  Pembelajaran Matematika Realistik memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan kembali dan merekonstruksi konsep-konsep matematika, sehingga siswa mempunyai pengertian kuat tentang konsep-konsep matematika.  Dengan demikian, pembelajaran Matematika Realistik akan mempunyai kontribusi yang sangat tinggi dengan pengertian siswa. &lt;br /&gt;Kata kunci: matematika realistik, dunia nyata, rekonstruksi konsep matematika, model-model, interaktif.  &lt;br /&gt;1.  Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu karakteristik matematika adalah mempunyai objek yang bersifat abstrak.  Sifat abstrak ini menyebabkan banyak siswa mengalami kesulitan dalam matematika.  Prestasi matematika siswa baik secara nasional maupun internasional belum menggembirakan.  Third International Mathematics and Science Study (TIMSS) melaporkan bahwa rata-rata skor matematika siswa tingkat 8 (tingkat II SLTP) Indonesia jauh di bawah rata-rata skor matematika siswa internasional dan berada pada ranking 34 dari 38 negara (TIMSS,1999).  Rendahnya prestasi matematika siswa disebabkan oleh faktor siswa yaitu mengalami masalah secara komprehensif atau secara parsial dalam matematika.  &lt;br /&gt;Selain itu, belajar matematika siswa belum bermakna, sehingga pengertian siswa tentang konsep sangat lemah.Jenning dan Dunne (1999) mengatakan bahwa, kebanyakan siswa mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan matematika ke dalam situasi kehidupan real.  Hal lain yang menyebabkan sulitnya matematika bagi siswa adalah karena pembelajaran matematika kurang bermakna.  Guru dalam pembelajarannya di kelas tidak mengaitkan dengan skema yang telah dimiliki oleh siswa dan siswa kurang diberikan kesempatan untuk menemukan kembali dan mengkonstruksi sendiri ide-ide matematika.  Mengaitkan pengalaman kehidupan nyata anak dengan ide-ide matematika dalam pembelajaran di kelas penting dilakukan agar pembelajaran bermakna (Soedjadi, 2000; Price,1996; Zamroni, 2000).  &lt;br /&gt;Menurut Van de Henvel-Panhuizen (2000), bila anak belajar matematika terpisah dari pengalaman mereka sehari-hari maka anak akan cepat lupa dan tidak dapat mengaplikasikan matematika  Berdasarkan pendapat di atas, pembelajaran matematika di kelas ditekankan pada keterkaitan antara konsep-konsep matematika dengan pengalaman anak sehari-hari.  Selain itu, perlu menerapkan kembali konsep matematika yang telah dimiliki anak pada kehidupan sehari-hari atau pada bidang lain sangat penting dilakukan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pembelajaran matematika yang berorientasi pada matematisasi pengalaman sehari-hari (mathematize of everyday experience) dan menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah  pembelajaran Matematika Realistik (MR).  &lt;br /&gt;Pembelajaran MR pertama kali dikembangkan dan dilaksanakan di Belanda dan dipandang sangat berhasil untuk mengembangkan pengertian siswa.  &lt;br /&gt;Tulisan ini bertujuan untuk memaparkan secara teoretis pembelajaran matematika realistik, pengimplementasian pembelajaran MR, serta kaitan antara pembelajaran MR dengan pengertian. &lt;br /&gt;2.  Kajian Teori  &lt;br /&gt;2.1 Realistic Mathematics Education (RME) &lt;br /&gt;Realistic Mathematics Education (RME) merupakan teori belajar mengajar dalam pendidikan matematika.  Teori RME pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan di Belanda pada tahun 1970 oleh Institut Freudenthal.  Teori ini mengacu pada pendapat Freudenthal yang mengatakan bahwa matematika harus dikaitkan dengan realita dan matematika merupakan aktivitas manusia.  Ini berarti matematika harus dekat dengan anak dan relevan dengan kehidupan nyata sehari-hari.  Matematika sebagai aktivitas manusia berarti manusia harus diberikan kesempatan untuk menemukan kembali ide dan konsep matematika dengan bimbingan orang dewasa (Gravemeijer, 1994).  Upaya ini dilakukan melalui penjelajahan berbagai situasi dan persoalan-persoalan “realistik”.  Realistik dalam hal ini dimaksudkan tidak mengacu pada realitas tetapi pada sesuatu yang dapat dibayangkan oleh siswa (Slettenhaar, 2000).  Prinsip penemuan kembali dapat diinspirasi oleh prosedur-prosedur pemecahan informal, sedangkan proses penemuan kembali menggunakan konsep matematisasi. &lt;br /&gt;Dua jenis matematisasi diformulasikan oleh Treffers (1991), yaitu matematisasi horisontal dan vertikal.  &lt;br /&gt;Contoh matematisasi horisontal adalah pengidentifikasian, perumusan, dan penvisualisasi masalah dalam cara-cara yang berbeda, dan pentransformasian masalah dunia real ke masalah matematik.  &lt;br /&gt;Contoh matematisasi vertikal adalah representasi hubungan-hubungan dalam rumus, perbaikan dan penyesuaian model matematik, penggunaan model-model yang berbeda, dan penggeneralisasian.  Kedua jenis matematisasi ini mendapat perhatian seimbang,  karena kedua matematisasi ini mempunyai nilai sama (Van den Heuvel-Panhuizen, 2000) . &lt;br /&gt;Berdasarkan matematisasi horisontal dan vertikal, pendekatan dalam pendidikan matematika dapat dibedakan menjadi empat jenis yaitu mekanistik, emperistik, strukturalistik, dan realistik.&lt;br /&gt;Pendekatan mekanistik merupakan pendekatan tradisional dan didasarkan pada apa yang diketahui dari pengalaman sendiri (diawali dari yang sederhana ke yang lebih kompleks).  Dalam pendekatan ini manusia dianggap sebagai mesin.  Kedua jenis matematisasi tidak digunakan.  &lt;br /&gt;Pendekatan emperistik adalah suatu pendekatan dimana konsep-konsep matematika tidak diajarkan, dan diharapkan siswa dapat menemukan melalui matematisasi horisontal.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan strukturalistik merupakan pendekatan yang menggunakan sistem formal, misalnya pengajaran penjumlahan cara panjang perlu didahului dengan nilai tempat, sehingga suatu konsep dicapai melalui matematisasi vertikal.  &lt;br /&gt;Pendekatan realistik adalah suatu pendekatan yang menggunakan masalah realistik sebagai pangkal tolak pembelajaran.  Melalui aktivitas matematisasi horisontal dan vertikal diharapkan siswa dapat menemukan dan mengkonstruksi konsep-konsep matematika.   &lt;br /&gt;2.2  Karakteristik RME &lt;br /&gt;Karakteristik RME adalah menggunakan: konteks “dunia nyata”, model-model, produksi dan konstruksi siswa, interaktif, dan keterkaitan (intertwinment) (Treffers,1991; Van den Heuvel-Panhuizen,1998). &lt;br /&gt;2.2.1 Menggunakan Konteks “Dunia Nyata”  &lt;br /&gt;Gambar berikut menunjukkan dua proses matematisasi yang berupa siklus di mana “dunia nyata” tidak hanya sebagai sumber matematisasi, tetapi juga sebagai tempat untuk mengaplikasikan kembali matematika. Gambar 1   Konsep Matematisasi (De Lange,1987) Dalam RME, pembelajaran diawali dengan masalah kontekstual (“dunia nyata”), sehingga memungkinkan mereka menggunakan pengalaman sebelumnya secara langsung.  Proses penyarian (inti) dari konsep yang sesuai dari situasi nyata dinyatakan oleh De Lange (1987) sebagai matematisasi konseptual.  Melalui abstraksi dan formalisasi siswa akan mengembangkan konsep yang lebih komplit.  Kemudian, siswa dapat mengaplikasikan konsep-konsep matematika ke bidang baru dari dunia nyata (applied mathematization).  Oleh karena itu, untuk menjembatani konsep-konsep matematika dengan pengalaman anak sehari-hari perlu diperhatikan matematisi pengalaman sehari-hari (mathematization of everyday experience) dan penerapan matematikan dalam sehari-hari (Cinzia Bonotto, 2000) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2.2 Menggunakan Model-model (Matematisasi) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah model berkaitan dengan model situasi dan model matematik yang dikembangkan oleh siswa sendiri (self developed models).  Peran self developed models merupakan jembatan bagi siswa dari situasi real ke situasi abstrak atau dari matematika informal ke matematika formal.  Artinya siswa membuat model sendiri dalam menyelesaikan masalah.  Pertama adalah model  situasi yang dekat dengan dunia nyata siswa.  Generalisasi dan formalisasi model tersebut akan  berubah menjadi model-of masalah tersebut.  Melalui penalaran matematik model-of akan bergeser menjadi model-for masalah yang sejenis.  Pada akhirnya, akan menjadi model  matematika formal.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2.3 Menggunakan Produksi dan Konstruksi  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Streefland (1991) menekankan bahwa dengan pembuatan “produksi bebas” siswa terdorong untuk melakukan refleksi pada bagian yang mereka anggap penting dalam proses belajar.  Strategi-strategi informal siswa yang berupa prosedur pemecahan masalah kontekstual merupakan sumber inspirasi dalam pengembangan pembelajaran lebih lanjut yaitu untuk mengkonstruksi pengetahuan matematika formal.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2.4 Menggunakan Interaktif  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interaksi antarsiswa dengan guru merupakan hal yang mendasar dalam RME.  Secara eksplisit bentuk-bentuk interaksi yang berupa negosiasi, penjelasan, pembenaran, setuju, tidak setuju, pertanyaan atau refleksi digunakan untuk mencapai bentuk formal dari bentuk-bentuk informal siswa.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2.5 Menggunakan Keterkaitan (Intertwinment) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam RME pengintegrasian unit-unit matematika adalah esensial.  Jika dalam pembelajaran kita mengabaikan keterkaitan dengan bidang yang lain, maka akan berpengaruh pada pemecahan masalah.  Dalam mengaplikasikan matematika, biasanya diperlukan pengetahuan yang lebih kompleks, dan tidak hanya aritmetika, aljabar, atau geometri tetapi juga bidang lain.                 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Pembahasan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1 Matematika Realistik (MR) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matematika Realistik (MR) yang dimaksudkan dalam hal ini adalah matematika sekolah yang dilaksanakan dengan menempatkan realitas dan pengalaman siswa sebagai titik awal pembelajaran.  Masalah-masalah realistik digunakan sebagai sumber munculnya konsep-konsep matematika atau pengetahuan matematika formal.  Pembelajaran MR di kelas berorientasi pada karakteristik-karakteristik RME, sehingga siswa mempunyai kesempatan untuk menemukan kembali konsep-konsep matematika atau pengetahuan matematika formal.  Selanjutnya, siswa diberi kesempatan mengaplikasikan konsep-konsep matematika untuk memecahkan masalah sehari-hari atau masalah dalam bidang lain.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran ini sangat berbeda dengan pembelajaran matematika selama ini yang cenderung berorientasi kepada memberi informasi dan memakai matematika yang siap pakai untuk memecahkan masalah-masalah.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena matematika realistik menggunakan masalah realistik sebagai pangkal tolak pembelajaran maka situasi masalah perlu diusahakan benar-benar kontektual atau sesuai dengan pengalaman siswa, sehingga siswa dapat memecahkan masalah dengan cara-cara informal melalui matematisasi horisontal.  Cara-cara informal yang ditunjukkan oleh siswa digunakan sebagai inspirasi pembentukan konsep atau aspek matematiknya ditingkatkan melalui matematisasi vertikal.  Melalui proses matematisasi horisontal-vertikal diharapkan siswa dapat memahami atau menemukan konsep-konsep matematika (pengetahuan matematika formal).   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2 Pembelajaran Matematika Realistik (MR)  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Pandangan Konstruktivis   Pembelajaran matematika menurut pandangan konstruktivis adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengkonstruksi konsep-konsep/prinsip-prinsip matematika dengan kemampuan sendiri melalui proses internalisasi.  Guru dalam hal ini berperan sebagai fasilitator.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Davis (1996), pandangan konstruktivis dalam pembelajaran matematika berorientasi pada: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) pengetahuan dibangun dalam pikiran melalui proses asimilasi atau akomodasi, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) dalam pengerjaan matematika, setiap langkah siswa dihadapkan kepada apa, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) informasi baru harus dikaitkan dengan pengalamannya tentang dunia melalui suatu kerangka logis yang mentransformasikan, mengorganisasikan, dan menginterpretasikan pengalamannya, dan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) pusat pembelajaran adalah bagaimana siswa berpikir, bukan apa yang mereka katakan atau tulis.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konstruktivis ini dikritik oleh Vygotsky, yang menyatakan bahwa siswa dalam mengkonstruksi suatu konsep perlu memperhatikan lingkungan sosial.  Konstruktivisme ini oleh Vygotsky disebut konstruktivisme sosial (Taylor, 1993; Wilson, Teslow dan Taylor,1993; Atwel, Bleicher &amp; Cooper, 1998).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua konsep penting dalam teori Vygotsky (Slavin, 1997), yaitu Zone of Proximal Development (ZPD) dan scaffolding.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zone of Proximal Development (ZPD) merupakan jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau melalui kerjasama dengan teman sejawat yang lebih mampu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Scaffolding merupakan pemberian sejumlah bantuan kepada siswa selama tahap-tahap awal pembelajaran, kemudian mengurangi bantuan dan memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah ia dapat melakukannya (Slavin, 1997).  Scaffolding merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa untuk belajar dan memecahkan masalah.  Bantuan tersebut dapat berupa petunjuk, dorongan, peringatan, menguraikan masalah ke dalam langkah-langkah pemecahan, memberikan contoh, dan tindakan-tindakan lain yang memungkinkan siswa itu belajar mandiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan yang mengacu pada konstruktivisme sosial (filsafat konstruktivis sosial) disebut pendekatan konstruktivis sosial.  Filsafat konstruktivis sosial memandang kebenaran matematika tidak bersifat absolut dan mengidentifikasi matematika sebagai hasil dari pemecahan masalah dan pengajuan masalah (problem posing) oleh manusia (Ernest, 1991).  Dalam pembelajaran matematika, Cobb, Yackel dan Wood (1992) menyebutnya dengan   konstruktivisme sosio (socio-constructivism).  Siswa berinteraksi dengan guru, dengan siswa lainnya dan berdasarkan pada pengalaman informal siswa mengembangkan strategi-strategi  untuk merespon masalah yang diberikan.  Karakteristik pendekatan konstruktivis sosio ini sangat sesuai dengan karakteristik RME.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep ZPD dan Scaffolding dalam pendekatan konstruktivis sosio, di dalam pembelajaran MR disebut dengan penemuan kembali terbimbing (guided reinvention).  Menurut Graevenmeijer (1994) walaupun kedua pendekatan ini mempunyai kesamaan tetapi kedua pendekatan ini dikembangkan secara terpisah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan keduanya adalah pendekatan konstruktivis sosio merupakan pendekatan pembelajaran yang bersifat umum, sedangkan pembelajaran MR merupakan pendekatan khusus yaitu hanya dalam pembelajaran matematika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3 Bagaimana Implementasi Pembelajaran MR? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memberikan gambaran tentang implementasi pembelajaran MR, berikut ini diberikan contoh pembelajaran pecahan di sekolah dasar (SD).  Pecahan di SD diinterpretasi sebagai bagian dari keseluruhan.  Interpretasi ini mengacu pada pembagian unit ke dalam bagian yang berukuran sama.  Dalam hal ini sebagai kerangka kerja siswa adalah daerah, panjang, dan model volume.  Bagian dari keseluruhan juga dapat diinterpretasi pada ide pempartisian suatu himpunan dari objek diskret.               &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pembelajaran, sebelum siswa masuk pada sistem formal, terlebih dahulu siswa dibawa ke “situasi” informal.  Misalnya, pembelajaran pecahan dapat diawali dengan pembagian menjadi bagian yang sama (misalnya pembagian kue) sehingga tidak terjadi loncatan pengetahuan informal anak dengan konsep-konsep matematika (pengetahuan matematika formal).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah siswa memahami pembagian menjadi bagian yang sama, baru diperkenalkan istilah pecahan.  Ini sangat berbeda dengan pembelajaran konvensional (bukan MR) di mana siswa sejak awal dicekoki dengan istilah pecahan dan beberapa jenis pecahan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, pembelajaran MR diawali dengan fenomena, kemudian siswa dengan bantuan guru diberikan kesempatan menemukan kembali dan mengkonstruksi konsep sendiri.  Setelah itu, diaplikasikan dalam masalah  sehari-hari atau dalam bidang lain (lihat gambar 02).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 2  Penemuan dan Pengkonstruksian konsep&lt;br /&gt;(Diadopsi dari Van Reeuwijk,1995)    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4 Kaitan antara Pembelajaran  MR dengan Pengertian    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita perhatikan para guru dalam mengajar matematika senantiasa terlontar kata “bagaimana, apa mengerti ?”  Siswa pun biasanya buru-buru menjawab mengerti atau sudah.  Siswa sering mengeluh seperti berikut, “Pak … pada saat di kelas saya mengerti penjelasan Bapak, tetapi begitu sampai di rumah saya lupa”, atau “Pak … pada saat di kelas saya mengerti contoh yang Bapak berikan , tetapi saya tidak bisa menyelesaikan soal-soal latihan”  Apa yang dialami oleh siswa pada ilustrasi di atas menunjukkan bahwa siswa belum mengerti atau belum mempunyai pengetahuan konseptual.  Siswa yang mengerti konsep atau mempunyai pengetahuan konseptual dapat menemukan kembali konsep yang mereka lupakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mitzel (1982) mengatakan bahwa, hasil belajar siswa secara langsung dipengaruhi oleh pengalaman siswa dan faktor internal.  Pengalaman belajar siswa dipengaruhi oleh unjuk kerja guru.  Bila siswa dalam belajarnya bermakna atau terjadi kaitan antara informasi baru dengan jaringan representasi maka siswa akan mendapatkan suatu pengertian.  Mengembangkan pengertian merupakan tujuan pengajaran matematika.  Karena tanpa pengertian orang tidak dapat mengaplikasikan prosedur, konsep, ataupun proses.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, matematika dimengerti bila representasi mental adalah bagian dari jaringan representasi (Hiebert dan Carpenter , 1992).   Umumnya, sejak anak-anak orang telah mengenal ide matematika.  Melalui pengalamannya dalam kehidupan sehari-hari mereka mengembangkan ide-ide yang lebih kompleks, misalnya tentang bilangan, pola, bentuk, data, ukuran dsb.  Anak sebelum sekolah belajar ide matematika secara alamiah.  Hal ini menunjukkan bahwa siswa datang ke sekolah bukanlah dengan kepala “kosong” yang siap diisi dengan apa saja.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran di sekolah akan menjadi lebih bermakna bila guru mengaitkan dengan apa yang telah diketahui anak.  Pengertian siswa tentang ide matematik dapat dibangun melalui sekolah, jika mereka secara aktif mengaitkan dengan pengetahuan mereka.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanna dan Yackel (NCTM, 2000) mengatakan bahwa belajar dengan pengertian dapat ditingkatkan melalui interaksi kelas.  Percakapan kelas dan interaksi sosial dapat digunakan untuk memperkenalkan keterkaitan di antara ide-ide dan mengorganisasikan pengetahuan kembali.               &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran MR memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan kembali dan mengkonstruksi konsep-konsep matematika berdasarkan pada masalah realistik yang diberikan oleh guru.  Situasi realistik dalam masalah memungkinkan siswa menggunakan cara-cara informal  untuk menyelesaikan masalah.  Cara-cara informal siswa yang merupakan produksi siswa memegang peranan penting dalam penemuan kembali dan pengkonstruksian konsep.  Hal ini berarti informasi yang diberikan kepada siswa telah dikaitkan dengan skema (jaringan representasi) anak.  Melalui interaksi kelas keterkaitan skema anak akan menjadi lebih kuat sehingga pengertian siswa tentang konsep yang mereka konstruksi sendiri menjadi kuat. Dengan demikian, pembelajaran MR akan mempunyai kontribusi yang sangat tinggi dengan pengertian siswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.  Simpulan dan Saran  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas, maka sebagai simpulan dapat disampaikan beberapa hal sebagai berikut. Matematika Realistik (MR) merupakan matematika sekolah yang dilaksanakan dengan menempatkan realitas dan pengalaman siswa sebagai titik awal pembelajaran.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran MR menggunakan masalah realistik sebagai pangkal tolak pembelajaran, dan melalui matematisasi horisontal-vertikal siswa diharapkan dapat menemukan dan merekonstruksi konsep-konsep matematika atau pengetahuan matematika formal.  Selanjutnya, siswa diberi kesempatan  menerapkan konsep-konsep matematika untuk memecahkan masalah sehari-hari atau masalah dalam bidang lain.  Dengan kata lain, pembelajaran MR berorientasi pada matematisasi pengalaman sehari-hari (mathematize of everyday experience) dan menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari (everydaying mathematics), sehingga siswa belajar dengan bermakna (pengertian).               &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran MR berpusat pada siswa, sedangkan guru hanya sebagai fasilitator dan motivator, sehingga memerlukan paradigma yang berbeda tentang bagaimana siswa belajar, bagaimana guru mengajar, dan apa yang dipelajari oleh siswa dengan paradigma pembelajaran matematika selama ini.  Karena itu, perubahan persepsi guru tentang mengajar perlu dilakukan bila ingin mengimplementasikan pembelajaran matematika realistik.  Sesuai dengan simpulan di atas, maka disarankan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) kepada pakar atau pencinta pendidikan matematika untuk melakukan penelitian-penelitian yang berorientasi pada pembelajaran MR sehingga diperoleh global theory  pembelajaran MR yang sesuai dengan sosial budaya  Indonesia, dan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) kepada guru-guru matematika untuk mencoba mengimplementasikan pembelajaran MR secara bertahap, misalnya mulai dengan memberikan masalah-masalah realistik untuk memotivasi siswa menyampaikan pendapat.&lt;br /&gt;222&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK PADA PEMBELAJARAN SMP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana telah kita ketahui, Matematika Realistik menekankan kepada konstruksi dari konteks benda-benda konkrit sebagai titik awal bagi siswa guna memperoleh konsep matematika. Benda-benda konkret dan obyek-obyek lingkungan sekitar dapat digunakan sebagai konteks pembelajaran matematika dalam membangun keterkaitan matematika melalui interaksi sosial. Benda-benda konkrit dimanipulasi oleh siswa dalam kerangka menunjang usaha siswa dalam proses matematisasi konkret ke abstrak. Siswa perlu diberi kesempatan agar dapat mengkontruksi dan menghasilkan matematika dengan cara dan bahasa mereka sendiri. Diperlukan kegiatan refleksi terhadap aktivitas sosial sehingga dapat terjadi pemaduan dan penguatan hubungan antar pokok bahasan dalam struktur pemahaman matematika.&lt;br /&gt;Menurut Hans Freudental matematika merupakan aktivitas insani (human activities) dan harus dikaitkan dengan realitas. Dengan demikian ketika siswa melakukan kegiatan belajar matematika maka dalam dirinya terjadi proses matematisasi. Terdapat dua macam matematisasi, yaitu: (1) matematisasi horisontal dan (2) matematisasi vertikal. Matematisasi horisontal berproses dari dunia nyata ke dalam simbol-simbol matematika. Proses terjadi pada siswa ketika ia dihadapkan pada problematika yang kehidupan / situasi nyata. Sedangkan matematisasi vertikal merupakan proses yang terjadi di dalam sistem matematika itu sendiri; misalnya: penemuan strategi menyelesaiakn soal, mengkaitkan hubungan antar konsep-konsep matematis atau menerapkan rumus/temuan rumus.&lt;br /&gt;Kita dapat menelaah Bilangan Pecah dalam pembelajaran matematika SMP melalui 2 (dua) sisi yaitu kedudukan formal Bilangan Pecah dalam konteks kurikulum dan silabus, dan kajian substantif bilangan pecah itu sendiri. Di dalam Pedoman Pengembangan KTSP disebutkan bahwa dalam pembelajaran matematika dapat dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Tujuan pembelajaran bilangan pecahan di SMP dapat disebutkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Memecahkan masalah kontekstual dan menemukan konsep bilangan pecah dari masalah kontekstual yang dipecahkan.&lt;br /&gt;2. Memahami konsep bilangan pecah, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep bilangan pecah, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah&lt;br /&gt;3. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi dan membuat generalisasi tentang bilangan pecah.&lt;br /&gt;4. Mengomunikasikan konsep dan penggunaan bilangan pecah&lt;br /&gt;5. Memiliki sikap menghargai kegunaan bilangan pecah dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;Standar Kompetensi yang berkaitan dengan pembelajaran pecahan adalah agar siswa memahami sifat-sifat operasi hitung bilangan dan penggunaannya dalam pemecahan masalah. Dengan Materi Pokok berupa Bilangan Bulat dan Bilangan Pecah maka diharapkan dapat dicapai menggunakan 2 (dua) Kompetensi Dasar yaitu: Melakukan operasi hitung bilangan pecahan, dan menggunakan sifat-sifat operasi hitung bilangan pecahan dalam pemecahan masalah.&lt;br /&gt;Tipe realistik mempunyai ciri pendekatan buttom-up dimana siswa mengembangkan model sendiri dan kemudian model tersebut dijadikan dasar untuk mengembangkan matematika formalnya. Ada dua macam model yang terjadi dalam proses tersebut yakni model dari situasi (model of situation) dan model untuk matematis (model for formal mathematics). Di dalam realistik model muncul dari strategi informal siswa sebagai respon terhadap masalah real untuk kemudian dirumuskan dalam matematika formal, proses seperti ini sesuai dengan sejarah perkembangan matematika itu sendiri.&lt;br /&gt;Berikut merupakan contoh pengembangan Masalah Realistik berkaitan dengan Bilangan Pecahan: Suatu Bahan Diskusi Untuk Para Guru &lt;br /&gt;1. Pecahan dan bentuknya&lt;br /&gt;Diskusikan seberapa jauh anda dapat menggunakan ilustrasi atau gambar sebagai sarana agar siswa dapat menggali atau menemukan konsep dan bentuk pecahan?&lt;br /&gt;2. Pecahan Sederhana&lt;br /&gt;Buatlah masalah kontekstual yang dapat menunjang pembelajaran Pecahan Sederhana !&lt;br /&gt;3. Membandingkan Pecahan&lt;br /&gt;Diskusikan bagaimana mengembangkan alat peragayang cukup memadai agar siswa mampu membandingkan pecahan? Jelaskan bagaimana menggunakannya 5. Mengurutkan Pecahan-pecahan &lt;br /&gt;4. Pecahan Desimal&lt;br /&gt;Diskusikan adakah suatu proses yang cukup memadai agar siswa mampu memahami pecahan desimal? &lt;br /&gt;Penulis dapat menyimpulkan bahwa di dalam pembelajaran Bilangan Pecahan melalui pendekatan Realistik kiranya dapat disimpulkan bahwa:&lt;br /&gt;1. Siswa perlu diberi kesempatan untuk menggali dan merefleksikan konsep alternatif tentang ide-ide bilangan pecahan yang mempengaruhi belajar selanjutnya.&lt;br /&gt;2. Siswa perlu diberi kesempatan untuk menggali dan memperoleh pengetahauan baru tentang bilangan pecahan dengan membentuk pengetahuan itu untuk dirinya sendiri.&lt;br /&gt;3. Siswa perlu diberi kesempatan untuk memperoleh pengetahuan sebagai proses perubahan yang meliputi penambahan, kreasi, modifikasi, penghalusan, penyusunan kembali dan penolakan.&lt;br /&gt;4. Siswa perlu diberi kesempatan untuk memperoleh pengetahuan baru tentang bilangan pecahan yang dibangun oleh siswa untuk dirinya sendiri berasal dari seperangkat ragam pengalaman&lt;br /&gt;5. Siswa perlu diberi kesempatan untuk memahami, mengerjakan dan mengimplementasikan bilangan pecahan.&lt;br /&gt;Guru perlu merevitalisasi diri sehingga:&lt;br /&gt;1. Mendudukan dirinya sebagai fasilitator&lt;br /&gt;2. Mampu mengembangkan pembelajaran secara interaktif&lt;br /&gt;3. Mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif.&lt;br /&gt;4. Mampu mengembangkan kurikulum dan silabus dan secara aktif mengaitkan kurikulum dengan dunia riil, baik fisik maupun sosial.&lt;br /&gt;5. Mampu mengembangkan skenario pembelajaran:&lt;br /&gt;a. Skema Interaksi: Klasikal, Diskusi Kelompok, Kegiatan Individu&lt;br /&gt;b. Skema Pencapaian Kompetensi: Motivasi, Sikap, Pengetahuan, Skill, dan PengalamanSebagaimana telah kita ketahui, Matematika Realistik menekankan kepada konstruksi dari konteks benda-benda konkrit sebagai titik awal bagi siswa guna memperoleh konsep matematika. Benda-benda konkret dan obyek-obyek lingkungan sekitar dapat digunakan sebagai konteks pembelajaran matematika dalam membangun keterkaitan matematika melalui interaksi sosial. Benda-benda konkrit dimanipulasi oleh siswa dalam kerangka menunjang usaha siswa dalam proses matematisasi konkret ke abstrak. Siswa perlu diberi kesempatan agar dapat mengkontruksi dan menghasilkan matematika dengan cara dan bahasa mereka sendiri. Diperlukan kegiatan refleksi terhadap aktivitas sosial sehingga dapat terjadi pemaduan dan penguatan hubungan antar pokok bahasan dalam struktur pemahaman matematika.&lt;br /&gt;Menurut Hans Freudental matematika merupakan aktivitas insani (human activities) dan harus dikaitkan dengan realitas. Dengan demikian ketika siswa melakukan kegiatan belajar matematika maka dalam dirinya terjadi proses matematisasi. Terdapat dua macam matematisasi, yaitu: (1) matematisasi horisontal dan (2) matematisasi vertikal. Matematisasi horisontal berproses dari dunia nyata ke dalam simbol-simbol matematika. Proses terjadi pada siswa ketika ia dihadapkan pada problematika yang kehidupan / situasi nyata. Sedangkan matematisasi vertikal merupakan proses yang terjadi di dalam sistem matematika itu sendiri; misalnya: penemuan strategi menyelesaiakn soal, mengkaitkan hubungan antar konsep-konsep matematis atau menerapkan rumus/temuan rumus.&lt;br /&gt;Kita dapat menelaah Bilangan Pecah dalam pembelajaran matematika SMP melalui 2 (dua) sisi yaitu kedudukan formal Bilangan Pecah dalam konteks kurikulum dan silabus, dan kajian substantif bilangan pecah itu sendiri. Di dalam Pedoman Pengembangan KTSP disebutkan bahwa dalam pembelajaran matematika dapat dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Tujuan pembelajaran bilangan pecahan di SMP dapat disebutkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Memecahkan masalah kontekstual dan menemukan konsep bilangan pecah dari masalah kontekstual yang dipecahkan.&lt;br /&gt;2. Memahami konsep bilangan pecah, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep bilangan pecah, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah&lt;br /&gt;3. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi dan membuat generalisasi tentang bilangan pecah.&lt;br /&gt;4. Mengomunikasikan konsep dan penggunaan bilangan pecah&lt;br /&gt;5. Memiliki sikap menghargai kegunaan bilangan pecah dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;Standar Kompetensi yang berkaitan dengan pembelajaran pecahan adalah agar siswa memahami sifat-sifat operasi hitung bilangan dan penggunaannya dalam pemecahan masalah. Dengan Materi Pokok berupa Bilangan Bulat dan Bilangan Pecah maka diharapkan dapat dicapai menggunakan 2 (dua) Kompetensi Dasar yaitu: Melakukan operasi hitung bilangan pecahan, dan menggunakan sifat-sifat operasi hitung bilangan pecahan dalam pemecahan masalah.&lt;br /&gt;Tipe realistik mempunyai ciri pendekatan buttom-up dimana siswa mengembangkan model sendiri dan kemudian model tersebut dijadikan dasar untuk mengembangkan matematika formalnya. Ada dua macam model yang terjadi dalam proses tersebut yakni model dari situasi (model of situation) dan model untuk matematis (model for formal mathematics). Di dalam realistik model muncul dari strategi informal siswa sebagai respon terhadap masalah real untuk kemudian dirumuskan dalam matematika formal, proses seperti ini sesuai dengan sejarah perkembangan matematika itu sendiri.&lt;br /&gt;Berikut merupakan contoh pengembangan Masalah Realistik berkaitan dengan Bilangan Pecahan: Suatu Bahan Diskusi Untuk Para Guru &lt;br /&gt;1. Pecahan dan bentuknya&lt;br /&gt;Diskusikan seberapa jauh anda dapat menggunakan ilustrasi atau gambar sebagai sarana agar siswa dapat menggali atau menemukan konsep dan bentuk pecahan?&lt;br /&gt;2. Pecahan Sederhana&lt;br /&gt;Buatlah masalah kontekstual yang dapat menunjang pembelajaran Pecahan Sederhana !&lt;br /&gt;3. Membandingkan Pecahan&lt;br /&gt;Diskusikan bagaimana mengembangkan alat peragayang cukup memadai agar siswa mampu membandingkan pecahan? Jelaskan bagaimana menggunakannya 5. Mengurutkan Pecahan-pecahan &lt;br /&gt;4. Pecahan Desimal&lt;br /&gt;Diskusikan adakah suatu proses yang cukup memadai agar siswa mampu memahami pecahan desimal? &lt;br /&gt;Penulis dapat menyimpulkan bahwa di dalam pembelajaran Bilangan Pecahan melalui pendekatan Realistik kiranya dapat disimpulkan bahwa:&lt;br /&gt;1. Siswa perlu diberi kesempatan untuk menggali dan merefleksikan konsep alternatif tentang ide-ide bilangan pecahan yang mempengaruhi belajar selanjutnya.&lt;br /&gt;2. Siswa perlu diberi kesempatan untuk menggali dan memperoleh pengetahauan baru tentang bilangan pecahan dengan membentuk pengetahuan itu untuk dirinya sendiri.&lt;br /&gt;3. Siswa perlu diberi kesempatan untuk memperoleh pengetahuan sebagai proses perubahan yang meliputi penambahan, kreasi, modifikasi, penghalusan, penyusunan kembali dan penolakan.&lt;br /&gt;4. Siswa perlu diberi kesempatan untuk memperoleh pengetahuan baru tentang bilangan pecahan yang dibangun oleh siswa untuk dirinya sendiri berasal dari seperangkat ragam pengalaman&lt;br /&gt;5. Siswa perlu diberi kesempatan untuk memahami, mengerjakan dan mengimplementasikan bilangan pecahan.&lt;br /&gt;Guru perlu merevitalisasi diri sehingga:&lt;br /&gt;1. Mendudukan dirinya sebagai fasilitator&lt;br /&gt;2. Mampu mengembangkan pembelajaran secara interaktif&lt;br /&gt;3. Mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif.&lt;br /&gt;4. Mampu mengembangkan kurikulum dan silabus dan secara aktif mengaitkan kurikulum dengan dunia riil, baik fisik maupun sosial.&lt;br /&gt;5. Mampu mengembangkan skenario pembelajaran:&lt;br /&gt;a. Skema Interaksi: Klasikal, Diskusi Kelompok, Kegiatan Individu&lt;br /&gt;b. Skema Pencapaian Kompetensi: Motivasi, Sikap, Pengetahuan, Skill, dan Pengalaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; PROPOSAL PENDEKATAN MTK REALISTIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ii. Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) &lt;br /&gt;Marpaung dalam Fahinu (2005:1) mengemukakan bahwa faktor yang menyebabkan nilai matematika rendah adalah paradigma proses pembelajaran matematika di kelas memiliki ciri-ciri: a) guru aktif menyampaikan sejumlah informasi; b) siswa “dipaksa” belajar, tidak menumbuhkan kesadaran makna belajar; c) pembelajaran berfokus kepada guru; d) ketergantungan siswa pada guru; e) kompetensi siswa kurang diperhatikan dan dikembangkan; f) pemahaman materi yang dipelajari diukur melalui tes objektif; g) kesempatan siswa melakukan refleksi dan negosiasi melalui interaksi kurang dikembangkan, dan h) pemahaman siswa cenderung pada pemahaman instrumental bukan pada pemahaman relasional. Akibatnya: siswa tidak mempunyai kesempatan untuk mengembangkan ide-ide kreatif, kurang berkembangannya daya nalar, dan kurang kreatifitas dalam memecahkan masalah. &lt;br /&gt;Salah satu karakteristik matematika adalah mempunyai obyek yang bersifat abstrak. Sifat abstrak ini menyebabkan banyak siswa mengalami kesulitan dalam mempelajari matematika, kurang menghayati dan memahami matematika dan siswa mengalami kesulitan mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari .Salah satu pembelajaran yang berorientasi pada matematisasi pengalaman sehari-hari dan menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah Pembelajaran Matematika Realistik (PMR). &lt;br /&gt;Pendekatan Matematika Realistik (PMR) adalah suatu pendekatan pem- belajaran matematika yang memiliki karakteristik: menggunakan masalah kontekstual, menggunakan model, menggunakan kontribusi siswa, terjadinya interaksi dalam proses pembelajaran, menggunakan berbagai teori belajar yang relevan, saling terkait, dan terintegrasi dengan topik pembelajaran lainnya (Saragih, 2007: 25). &lt;br /&gt;Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) pada dasarnya adalah pemanfaatan realitas dan lingkungan yang dipahami peserta didik untuk memperlancar proses pembelajaran matematika sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan matematika secara lebih baik daripada masa yang lalu Dalam pandangan PMR, pengembangan suatu konsep matematika dimulai oleh siswa secara mandiri berupa kegiatan eksplorasi sehingga memberikan peluang pada siswa untuk berkreasi mengembangkan pemikirannya. &lt;br /&gt;Pendekatan Matematika Realistik pertama kali dikembangkan oleh Institut Freudenthal di Negeri Belanda, berdasarkan pandangan Freudenthal. Ide utama dari pendekatan matematika realistik adalah siswa harus diberi kesempatan untuk menemukan kembali (reinvent) ide dan konsep matematika dengan bimbingan orang dewasa melalui penjelajahan berbagai situasi dan persoalan dunia nyata atau real world. Proses pengembangan konsep dan ide-ide matematika yang dimulai dari dunia nyata oleh De Lange dalam Saragih (2007:44) disebut matematisasi konsep dan memiliki model skematis proses belajar seperti pada Gambar di bawah ini: &lt;br /&gt;Untuk Lebih Jelasnya Silahkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) merupakan operasionalisasi dari suatu pendekatan pendidikan matematika yang telah dikembangkan di Belanda dengan nama Realistic Mathematics Education (RME) yang artinya pendidikan matematika realistik.&lt;br /&gt;Pembelajaran matematika realistik pada dasarnya adalah pemanfaatan realitas dan lingkungan yang dipahami peserta didik untuk memperlancar proses pembelajaran matematika, sehingga mencapai tujuan pendidikan matematika secara lebih baik dari pada yang lalu. Yang dimaksud dengan realita yaitu hal-hal yang nyata atau kongret yang dapat diamati atau dipahami peserta didik lewat membayangkan, sedangkan yang dimaksud dengan lingkungan adalah lingkungan tempat peserta didik berada baik lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat yang dapat dipahami peserta didik. Lingkungan dalam hal ini disebut juga kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;Pembelajaran matematika realistik menggunakan masalah kontekstual (contextual problems) sebagai titik tolak dalam belajar matematika. Perlu dicermati bahwa suatu hal yang bersifat kontekstual dalam lingkungan siswa di suatu daerah, belum tentu bersifat konteks bagi siswa di daerah lain. Contoh berbicara tentang kereta api, merupakan hal yang konteks bagi siswa yang ada di pulau Jawa, namun belum tentu bersifat konteks bagi siswa di luar Jawa. Oleh karena itu pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik harus disesuaikan dengan keadaan daerah tempat siswa berada.&lt;br /&gt;Msalah dalam pembelajaran matematika merupakan suatu “keharusan” dalam menghadapi dunia yang tidak menentu. Siswa perlu dipersiapkan bagaimana mendapatkan dan menyelesaikan masalah. Masalah yang disajikan ke siswa adalah masalah kontekstual yakni masalah yang memang semestinya dapat diselesaikan siswa sesuai dengan pengalaman siswa dalam kehidupannya.&lt;br /&gt;A. Prinsip Pembelajaran Matematika Realistik&lt;br /&gt;Ada tiga prinsip utama dalam PMR, yaitu: a) guided reinvention and progressive mathematizing, b) didactical phenomenology, dan c) self-developed models. Ketiga prinsip tersebut dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut.&lt;br /&gt;1.Guided reinvention/progressive mathematizing (penemuan kembali terbimbing/pematematikaan progresif)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip ini menghendaki bahwa dalam PMR, dari masalah kontekstual yang diberikan oleh guru di awal pembelajaran, kemudian dalam menyelesaikan masalah siswa diarahkan dan diberi bimbingan terbatas, sehingga siswa mengalami proses menemukan kembali konsep, prinsip, sifat-sifat dan rumus-rumus matematika sebagaimana ketika konsep, prinsip, sifat-sifat dan rumus-rumus matematika itu ditemukan. Sebagai sumber inspirasi untuk merancang pembelajaran dengan pendekatan PMR yang menekankan prinsip penemuan kembali (re-invention), dapat digunakan sejarah penemuan konsep/prinsip/rumus matematika.&lt;br /&gt;Menurut penulis, prinsip penemuan ini mengacu pada pandangan kontruktivisme, yang menyatakan bahwa pengetahuan tidak dapat ditransfer atau diajarkan melalui pemberitahuan dari guru kepada siswa, melainkan siswa sendirilah yang harus mengkontruksi (membangun) sendiri pengetahuan itu melalui kegiatan aktif dalam belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Didactical phenomenology (fenomena pembelajaran)&lt;br /&gt;Prinsip ini terkait dengan suatu gagasan fenomena pembelajaran, yang menghendaki bahwa di dalam menentukan suatu masalah kontekstual untuk digunakan dalam pembelajaran dengan pendekatan PMR, didasarkan atas dua alasan, yaitu: (1) untuk mengungkapkan berbagai macam aplikasi suatu topik yang harus diantisipasi dalam pembelajaran dan (2) untuk dipertimbangkan pantas tidaknya masalah kontekstual itu digunakan sebagai poin-poin untuk suatu proses pematematikaan progresif.&lt;br /&gt;Dari uraian di atas menunjukkan bahwa prinsip ke-2 PMR ini menekankan pada pentingnya masalah kontekstual untuk memperkenalkan topik-topik matematika kepada siswa. Hal itu dilakukan dengan mempertimbangkan aspek kecocokan masalah kontekstual yang disajikan dengan: (1) topik-topik matematika yang diajarkan dan (2) konsep, prinsip, rumus dan prosedur matematika yang akan ditemukan kembali oleh siswa dalam pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Self - developed models (model-model dibangun sendiri).&lt;br /&gt;Menurut prinsip ini, model-model yang dibangun berfungsi sebagai jembatan antara pengetahuan informal dan matematika formal. Dalam menyelesaikan masalah kontekstual, siswa diberi kebebasan untuk membangun sendiri model matematika terkait dengan masalah kontekstual yang dipecahkan. Sebagai konsekuensi dari kebebasan itu, sangat dimungkinkan muncul berbagai model yang dibangun siswa.&lt;br /&gt;Berbagai model tersebut pada mulanya mungkin masih mirip dengan masalah kontekstualnya. Ini merupakan langkah lanjutan dari re-invention dan sekaligus menunjukkan bahwa sifat bottom up mulai terjadi. Model-model tersebut diharapkan akan berubah dan mengarah kepada bentuk matematika formal. Dalam PMR diharapkan terjadi urutan pengembangan model belajar yang bottom up.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Karakteristik Pembelajaran Metematika Realistik&lt;br /&gt;Sebagai operasionalisasi ketiga prinsip utama PMR di atas, PMR memiliki lima karakteristik, yaitu: a) the use of context (menggunakan masalah kontekstual), b) the use models (menggunakan berbagai model), c) student contributions (kontribusi siswa), d) interactivity (interaktivitas) dan e) intertwining (terintegrasi). Penjelasan secara singkat dari kelima karakteristik tersebut, secara singkat adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a)Menggunakan masalah kontekstual.&lt;br /&gt;Pembelajaran matematika diawali dengan masalah kontekstual, sehingga memungkinkan siswa menggunakan pengalaman atau pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya secara langsung. Masalah kontekstual tidak hanya berfungsi sebagai sumber pematematikaan, tetapi juga sebagai sumber untuk mengaplikasikan kembali matematika. Masalah kontekstual yang diangkat sebagai topik awal pembelajaran, hendaknya masalah sederhana yang dikenali oleh siswa. Masalah kontekstual dalam PMR memiliki empat fungsi, yaitu: (1) untuk membantu siswa menggunakan konsep matematika, (2) untuk membentuk model dasar matematika dalam mendukung pola pikir siswa bermatematika, (3) untuk memanfaatkan realitas sebagai sumber aplikasi matematika dan (4) untuk melatih kemampuan siswa, khususnya dalam menerapkan matematika pada situasi nyata (realitas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b)Menggunakan berbagai model.&lt;br /&gt;Istilah model berkaitan dengan model matematika yang dibangun sendiri oleh siswa dalam mengaktualisasikan masalah kontekstual ke dalam bahasa matematika, yang merupakan jembatan bagi siswa untuk membuat sendiri model-model dari situasi nyata ke abstrak atau dari situasi informal ke formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c)Kontribusi siswa.&lt;br /&gt;Siswa diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan berbagai strategi informal yang dapat mengarahkan pada pengkonstruksian berbagai prosedur untuk memecahkan masalah. Dengan kata lain, kontribusi yang besar dalam proses pembelajaran diharapkan datang dari siswa, bukan dari guru. Artinya semua pikiran atau pendapat siswa sangat diperhatikan dan dihargai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d)Interaktif.&lt;br /&gt;Interaksi antara siswa dengan guru, siswa dengan siswa, serta siswa dengan perangkat pembelajaran merupakan hal yang sangat penting dalam PMR. Bentuk-bentuk interaksi seperti: negosiasi, penjelasan, pembenaran, persetujuan, pertanyaan atau refleksi digunakan untuk mencapai bentuk pengetahuan matematika formal dari bentuk-bentuk pengetahuan matematika informal yang ditemukan sendiri oleh siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e)Keterkaitan.&lt;br /&gt;Struktur dan konsep matematika saling berkaitan, biasanya pembahasan suatu topik (unit pelajaran) harus dieksplorasi untuk mendukung terjadinya proses pembelajaran yang lebih bermakna. Dalam tesis ini karakteristik ini tidak muncul.&lt;br /&gt;Dari prinsip dan karakteristik pembelajaran matematika realistik di atas maka dapat dikatakan bahwa permulaan pembelajaran harus dialami secara nyata oleh siswa, pengenalan konsep dan abstraksi melalui hal-hal yang konkret sesuai realitas atau lingkungan yang dihadapi siswa dalam kesehariannya yang sudah dipahami atau mudah dibayangkan siswa. Sehingga mereka dengan segera tertarik secara pribadi terhadap aktivitas matematika yang bermakna. Pembelajaran dirancang berawal dari pemecahan masalah yang ada di sekitar siswa dan berdasarkan pada pengalaman yang telah dimiliki oleh siswa.&lt;br /&gt;C. Langkah-langkah Pembelajaran Matematika Realistik&lt;br /&gt;Langkah-langkah di dalam proses pembelajaran matematika dengan pendekatan PMR, sebagai berikut.&lt;br /&gt;1.Langkah pertama: memahami masalah kontekstual, yaitu guru memberikan masalah kontekstual dalam kehidupan sehari-hari dan meminta siswa untuk memahami masalah tersebut.&lt;br /&gt;2.Langkah kedua: menjelaskan masalah kontekstual, yaitu jika dalam memahami masalah siswa mengalami kesulitan, maka guru menjelaskan situasi dan kondisi dari soal dengan cara memberikan petunjuk-petunjuk atau berupa saran seperlunya, terbatas pada bagian-bagian tertentu dari permasalahan yang belum dipahami.&lt;br /&gt;3.Langkah ketiga: menyelesaikan masalah kontekstual, yaitu siswa secara individual menyelesaikan masalah kontekstual dengan cara mereka sendiri. Cara pemecahan dan jawaban masalah berbeda lebih diutamakan. Dengan menggunakan lembar kerja, siswa mengerjakan soal. Guru memotivasi siswa untuk menyelesaikan masalah dengan cara mereka sendiri.&lt;br /&gt;4.Langkah keempat: membandingkan dan mendiskusikan jawaban, yaitu guru menyediakan waktu dan kesempatan kepada siswa untuk membandingkan dan mendiskusikan jawaban masalah secara berkelompok. Siswa dilatih untuk mengeluarkan ide-ide yang mereka miliki dalam kaitannya dengan interaksi siswa dalam proses belajar untuk mengoptimalkan pembelajaran.&lt;br /&gt;5.Langkah kelima: menyimpulkan, yaitu guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menarik kesimpulan tentang suatu konsep atau prosedur.&lt;br /&gt;Berdasarkan prinsip dan karakteristik PMR serta dengan memperhatikan pendapat yang telah dikemukakan di atas, maka dapatlah disusun suatu langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan PMR yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut.&lt;br /&gt;Langkah 1 : Memahami masalah kontekstual&lt;br /&gt;Siswa diberi masalah/soal kontekstual, guru meminta siswa memahami masalah tersebut secara individual. Guru memberi kesempatan kepada siswa menanyakan masalah/soal yang belum dipahami, dan guru hanya memberikan petunjuk seperlunya terhadap bagian-bagian situasi dan kondisi masalah/soal yang belum dipahami siswa. Karakteristik PMR yang muncul pada langkah ini adalah karakteristik pertama yaitu menggunakan masalah kontekstual sebagai titik tolak dalam pembelajaran, dan karakteristik keempat yaitu interaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 2 : Menyelesaikan masalah&lt;br /&gt;Siswa mendeskripsikan masalah kontekstual, melakukan interpretasi aspek matematika yang ada pada masalah yang dimaksud, dan memikirkan strategi pemecahan masalah. Selanjutnya siswa bekerja menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri berdasarkan pengetahuan awal yang dimilikinya, sehingga dimungkinkan adanya perbedaan penyelesaian siswa yang satu dengan yang lainnya. Guru mengamati, memotivasi, dan memberi bimbingan terbatas, sehingga siswa dapat memperoleh penyelesaian masalah-masalah tersebut. Karakteristik PMR yang muncul pada langkah ini yaitu karakteristik kedua menggunakan model.&lt;br /&gt;Langkah 3 : Membandingkan jawaban&lt;br /&gt;Guru meminta siswa membentuk kelompok secara berpasangan dengan teman sebangkunya, bekerja sama mendiskusikan penyelesaian masalah-masalah yang telah diselesaikan secara individu (negosiasi, membandingkan, dan berdiskusi). Guru mengamati kegiatan yang dilakukan siswa, dan memberi bantuan jika dibutuhkan.&lt;br /&gt;Dipilih kelompok berpasangan, dengan pertimbangan efisiensi waktu. Karena di sekolah tempat pelaksanaan ujicoba, menggunakan bangku panjang. Sehingga kelompok dengan jumlah anggota yang lebih banyak, membutuhkan waktu yang lebih lama dalam pembentukannya. Sedangkan kelompok berpasangan tidak membutuhkan waktu, karena siswa telah duduk dalam tatanan kelompok berpasangan.&lt;br /&gt;Setelah diskusi berpasangan dilakukan, guru menunjuk wakil-wakil kelompok untuk menuliskan masing-masing ide penyelesaian dan alasan dari jawabannya, kemudian guru sebagai fasilitator dan modarator mengarahkan siswa berdiskusi, membimbing siswa mengambil kesimpulan sampai pada rumusan konsep/prinsip berdasarkan matematika formal (idealisasi, abstraksi). Karakteristik PMR yang muncul yaitu interaksi.&lt;br /&gt;Langkah 4 : Menyimpulkan&lt;br /&gt;Dari hasil diskusi kelas, guru mengarahkan siswa untuk menarik kesimpulan suatu rumusan konsep/prinsip dari topik yang dipelajari. Karakteristik PMR yang muncul pada langkah ini adalah adanya interaksi antar siswa dengan guru.&lt;br /&gt;1.Kelebihan dan Kerumitan Penerapan Pendekatan PMR&lt;br /&gt;Beberapa kelebihan dari Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) antara lain sebagai berikut.&lt;br /&gt;1. PMR memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa tentang keterkaitan antara matematika dengan kehidupan sehari‑hari (kehidupan dunia nyata) dan kegunaan matematika pada umumnya bagi manusia.&lt;br /&gt;2. PMR memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa bahwa matematika adalah suatu bidang kajian yang dikonstruksi dan dikembangkan sendiri oleh siswa tidak hanya oleh mereka yang disebut pakar dalam bidang tersebut.&lt;br /&gt;3. PMR memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa bahwa cara penyelesaian suatu soal atau masalah tidak harus tunggal dan tidak harus sama antara orang yang satu dengan yang lain. Setiap orang bisa menemukan atau menggunakan cara sendiri, asalkan orang itu bersungguh‑sungguh dalam mengerjakan soal atau masalah tersebut. Selanjutnya dengan membandingkan cara penyelesaian yang satu dengan cara penyelesaian yang lain, akan bisa diperoleh cara penyelesaian yang paling tepat, sesuai dengan proses penyelesaian soal atau masalah tersebut.&lt;br /&gt;4. PMR memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa bahwa dalam mempelajari matematika, proses pembelajaran merupakan sesuatu yang utama dan untuk mempelajari matematika orang harus menjalani proses itu dan berusaha untuk menemukan sendiri konsep‑konsep matematika, dengan bantuan pihak lain yang sudah lebih tahu (misalnya guru). Tanpa kemauan untuk menjalani sendiri proses tersebut, pembelajaran yang bermakna tidak akan terjadi.&lt;br /&gt;Sedangkan beberapa kerumitan dalam penerapan pendekatan PMR antara lain sebagai berikut.&lt;br /&gt;1. Upaya mengimplementasikan PMR membutuhkan perubahan pandangan yang sangat mendasar mengenai berbagai hal yang tidak mudah untuk dipraktekkan, misalnya mengenai siswa, guru dan peranan soal kontekstual. Di dalam PMR siswa tidak lagi dipandang sebagai pihak yang mempelajari segala sesuatu yang sudah “jadi”, tetapi sebagai pihak yang aktif mengkonstruksi konsep‑konsep matematika. Guru dipandang lebih sebagai pendamping bagi siswa.&lt;br /&gt;2. Pencarian soal‑soal kontekstual yang memenuhi syarat‑syarat yang dituntut PMR tidak selalu mudah untuk setiap topik matematika yang perlu dipelajari siswa, terlebih lagi karena soal‑soal tersebut harus bisa diselesaikan dengan bermacam‑macam cara.&lt;br /&gt;3. Upaya mendorong siswa agar bisa menemukan berbagai cara untuk menyelesaikan soal, juga bukanlah hal yang mudah bagi seorang guru.&lt;br /&gt;4. Proses pengembangan kemampuan berpikir siswa melalui soal‑soal kontekstual, proses pematematikaan horisontal dan proses pematematikaan vertikal juga bukan merupakan sesuatu yang sederhana, karena proses dan mekanisme, berpikir siswa harus diikuti dengan cermat, agar guru bisa membantu siswa dalam melakukan penemuan kembali terhadap konsep‑konsep matematika tertentu.&lt;br /&gt;Walaupun pada pendekatan PMR terdapat kendala-kendala dalam upaya penerapannya, menurut peneliti kendala-kendala yang dimaksud hanya bersifat sementara (temporer). Kendala-kendala itu akan dapat teratasi jika pendekatan PMR sering diterapkan. Hal ini sangat tergantung pada upaya dan kemauan guru, siswa dan personal pendidikan lainnya untuk mengatasinya. Menerapkan suatu pendekatan pembelajaran yang baru, tentu akan terdapat kendala- kendala yang dihadapi di awal penerapannya. Kemudian sedikit demi sedikit, kendala itu akan terasi jika sudah terbiasa menggunakannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7890961627097092465-4092056083142989937?l=riefqie-yupss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/feeds/4092056083142989937/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/06/pembelajaran-matematika-realistik.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/4092056083142989937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/4092056083142989937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/06/pembelajaran-matematika-realistik.html' title='PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK'/><author><name>Muh. Rifqi Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16755920782633062813</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/TOfawZe8c2I/AAAAAAAAAIo/dDxA3VkKIpY/S220/riefqie.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7890961627097092465.post-8125098945304521864</id><published>2009-06-17T20:57:00.000-07:00</published><updated>2010-04-25T01:29:08.426-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lentera....'/><title type='text'>Contextual Teaching Learning (CTL)</title><content type='html'>By : M. Rifqi Fauzi&lt;br /&gt;Di  My Blog&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL) merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang banyak dibicarakan orang. Ada orang yang menganggap bahwa CTL adalah “mukanya” kurikulum berbasis kompetensi (KBK), artinya CTL merupakan salah satu pendekatan yang dapat diandalkan dalam mengembangkan dan mengimplementasikan KBK.&lt;br /&gt;Contextual Teaching Learning (CTL) dalah salah satu pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.&lt;br /&gt;Contextual Teaching Learning (CTL) adalah system yang menyeluruh. CTL terdiri dari bagian-bagian yang saling terhubung. Jika bagian-bagian ini terjalin satu sama lain, maka akin dihasilkan pengaruh yang melebihi hasil yang diberikan bagian-bagiannya secara terpisah. Seperti halnya biola, cello, clarinet, dan alat music lain di dalam sebuah orchestra yang menghasilkan bunyi yang berbeda-beda secara bersama-sama menghasilkan music, demikian juga bagian-bagian CTL yang terpisah melibatkan proses-proses yang berbeda, yang ketika digunakan secara bersama-sama, memampukan para siswa membuat hubungan yang menghasilkan makna. Setiap bagian CTL yang berbeda-beda ini memberikan sumbangan dalam menolong siswa memahami tugas sekolah. Secara bersama-sama, mereka membentuk suatu system yang memungkinkan para siswa melihat makna didalamnya, dan mengingat materi akademik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Rumusan Masalah&lt;br /&gt;1. Apakah definisi dari Contextual Teaching Learning?&lt;br /&gt;2. Apakah lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan Contextual Teaching Learning?&lt;br /&gt;3. Apakah perbedaan pokok antara pembelajaran Contextual Teaching Learning dengan pembelajaran konvensional jika dilihat dari konteks tertentu?&lt;br /&gt;4. Apakah yang harus dilakukan oleh guru dalam menggunakan pendekatan Contextual Teaching Learning?&lt;br /&gt;5. Bagaimanakah penjabaran dari asa-asas dalam pembelajaran Contextual Teaching Learning?&lt;br /&gt;6. Apa sajakah yang harus ada dalam langkah penerapan Contextual Teaching Learning dalam kelas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Tujuan&lt;br /&gt;1. Guru dapat menerangkan materi-materi yang dianggap sulit dengan menggunakan pendekatan-pendekatan dalam pembelajaran Contextual Teaching Learning yang akin dijelaskan dalam dalam makalah ini.&lt;br /&gt;2. Guru dapat menemukan solusi yang tepat dalam pemecahan masalah seputar proses pengajaran di kelas?&lt;br /&gt;3. Setelah membaca makalah ini, siswa diharapkan dapat mengutarakan apa yang menjadi kendala dalam proses belajar mengajar di kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Konsep Dasar Dan Karakteristik Contekstual Teaching Learning (CTL)&lt;br /&gt;Contektual Teaching And Learning (CTL) adalah suatu pendidikan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkan dalam kehidupan mereka.dari konsep tersebut ada 3 hal yang harus kita pahami,pertama,CTL menekankan pada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi,artinya proses belajar diorentasikan pada proses pengalaman secara langsung,proses belajar dalam konteks CTL tidak mengharapkan agar siswa tidak hanya menerima pelajaran,akan tetapi proses mengari dan menemukan sendiri materi pelajaran, kedua,CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang akan dipelajari dengan situasi kehidupan nyata,artinya siswa dituntut untuk dapat menerapkan  hubungan antara pengalaman belajar disekolah dengan kehidupan nyata.hal ini sangat penting,sebab dengan dapat mengerelasikan materi yang ditemukan,materi itu akan bermakana secara fungsional akan tetapi materi yang dipelajari akan tertanam erat dalam memori siswa swehingga tidak akan mudah dilupakan.ketiga, CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkan dalam kehidupan,artinya CTL bukan nhanya mengharapkan siswa dapat memahi materi yang dipelajari,akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilaku dalam kehidupan sehari-hari,materi pelajaran dalam kontek CTL bukan untuk di tumpuk di otak dan kemudian dilupakan akan tetapi sebagai bekal mereka dalam mengarungi kehidupan nyata. &lt;br /&gt;Sehubungan dengan hal itu,terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang meggunakan pendekatan CTL. &lt;br /&gt;1. Dalam CTL pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activity knowledge ),artinya apa yang akan di pelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah di pelajari ,dengan demikian pengetahuan yang akan di peroleh adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.&lt;br /&gt;2. Pembelajaran yang konstektual adalah belajar dalam rangka  memperoleh dan menambah pengetahuan yang baru (acquiring knowledge) pengetahuan baru di peroleh sengan cara deduktif,artinya pembelajaran itu dimulai dengan mempelajari keseluruhan ,kemudian memerhatikan detailnya.&lt;br /&gt;3. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge) ,artinya pengetahuan yng di peroleh bukan untuk di hafal tapi untuk  dipahami dan di yakani ,misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang di perolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu di kembangkan.&lt;br /&gt;4. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman yang di perolehnya harus diaplikasikan dalam kehidupan siswa,sehingga tampak perubahan perilaku siswa.&lt;br /&gt;5. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan.Hal ini di lakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan dan penyempurnaaa strategi.          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Latar Belakang Filosofis Dan Psikologis Contextual teaching learning (CTL)&lt;br /&gt;1. Latar Belakang Filosofis&lt;br /&gt;CTL banyak dipengaruhi oleh filsafat konstruktivisme yang mulai digagas oleh Mark Baldwin. Dan selanjutnya dikembangkan oleh Jean Piaget. Aliran filsafat konstruktivisme berangkat dari pemikiran epistemology Glambatista Vico (suparno, 1997), Vico mengatakan:&lt;br /&gt;“Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaannya ”&lt;br /&gt;Mengetahui menurut Vico berarti mengetahui bagaimana membuat sesuatu. Artinya, seseorang dikatakan mengetahui manakala ia dapat menjelaskn unsur-unsur apa yang membangun sesuatu itu. Oleh karena itu menurut Vico, pengetahuan itu tidak lepas dari orang (subjek) yang tahu. Pengetahuan merupakan struktur konsep dari subjek yang mengamati. Selanjutnya, pandangan  filsafat konstruktivisme tentang hakikat pengetahuan mengetahui konsep tentang proses belajar, bahwa belajar bukanlah bukanlah sekedar menghafal akan tetapi  proses mengkonstruksi pengetahuan melalui pengalaman. &lt;br /&gt;Piaget berpendapat bahwa sejak kecil setiap anak sudah memiliki struktur kognitif yang kemudian dinamakan skema. Skema terbentuk karena pengalaman. Misalnya anak senang bermain dengan kucing atau kelinciyang sama-sama berbulu putih berkat keseringannya, ia dapat menangkap perbedaan keduanya, yaitubahwa kucing berkaki dua. Pada akhirnya, berkat pengalaman itulah dalam struktur kognitif anak terbentuk skema tentang binatang berkaki 2 dan binatang berkaki 4. Senakan dewasa anak, maka semakan sempurnahlah skema yang dimilikinya. Proses penyempurnaan skema dilakukan melalui proses asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah proses penyempurnaan skema, sedangkan akomodasi adalah proses mengubah skema yang sudah ada hingga terbentuk skema baru.&lt;br /&gt;Pada suatu hari, ada anak yang merasa sakit karena terpercik api, maka berdasarkan pengalamannya terbentuk skema pada struktur kognitif anak tentang “api”, bahwa api adalah sesuatu yang membahayakan. Oleh karena itu harus dihindari. Dengan demikian ketika ia melihat api, secara reflex ia akan menghindar. Semakan anak dewasa, pengalaman anak tentang api akan bertambah pula. Ketika ia melihat ibunya memasak pakai api, bapaknya merokok dengan menggunakan api, maka skema yang terbentuk itu disempurnakan, bahwa api bukan harus dihindari tetapi harus dimanfaatkan. Proses penyempurnaan skema tentang apiyang dilakukan oleh anak itu dinamakan asimilasi. Semakan anak dewasa, pengalaman itus emakan bertambah pula. Ketika anak itu melihat pabrik-pabrik dan kendaraan memerlukan apim maka terbentuklah skema baru tentang api, bahwa api bukan harus dihindari dan juga bukan hanya dimanfaatkan, akan tetapi sangat dibutuhkan pada kehidupan manusia. Proses penyempurnaan skema itu dinamakan akomodasi.&lt;br /&gt;Sebelum anak mampu menyusun skema baru, ia akan dihadapkan pada posisi ketidakseimbangan (disequilibrium), yang akin mengganggu psikologis anak. Manakala skema telah disempurnakan  atau anak telah berhasil membentuk skema baru, anak akan kembali pada posisi seimbang (equilibrium), untuk kemudian ia akan dihadapkan pada perolehan pengalaman baru.&lt;br /&gt;2. Latar Belakang Psikologis&lt;br /&gt;Sesuai dengan filsafat yang mendasarinya bahwa pengetahuan terbentuk karena peran akif subjek, maka dipandang dari sudut pandang psikologis, CTL brpijak pada psikologi kognitif. Menurut aliran ini, proses belajar terjadi karena pemahaman individu akan lingkungan. Belajar bukanlah peristiwa mekanis seperti keterkaitan stimulus dan respon, akan tetapi belajar melibatkan proses mental yang tidak tampak seperti emosi, minat, dan motivasi. &lt;br /&gt;Dari asumsi dan latar belakang yang mendasarinya, maka ada beberapa hal yang harus dipahami tentang belajar dalam konteks CTL, yaitu :&lt;br /&gt; Belajar bukanlah menghafal, akan tetapi proses mengkonstruksi pengetahuan sesuai dengan pengalaman yang dimiliki.&lt;br /&gt; Belajar bukanlah sekedar mengumpulkan fakta yang lepas-lepas.&lt;br /&gt; Belajar adalah proses pemecahan masalah.&lt;br /&gt; Belajar adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang secara bertahap dari sederhana menuju yang kompleks.&lt;br /&gt; Belajar pada hakikatnya adalah menangkap pengetahuan dari kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Perbedaan CTL Dengan Pembelajaran Konvensional&lt;br /&gt;Perbedaan pokok antara pembelajaran CTL dan pembelajaran konvensional jika dilihat dari konteks tertentu dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut: &lt;br /&gt;1. Dalam pembelajaran CTL menempatkan siswa sebagai subjek belajar, sedangkan dalam pembelajaran konvensional,siswa ditempatkan sebagai objek belajar yang berperan sebagai penerima informasi secara pasif.&lt;br /&gt;2. Dalam pembelajaran CTL, siswa belajar melalui kegiatan kelompok seperti kerja kelompok dan berdiskusi . sedangkan dalam pembelajaran konvensional, siswa lebih banyak belajar secara individual dengan menerima, mencatat, dan menghafal materi.&lt;br /&gt;3. Dalam CTL, pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata, secara riil. Sedangkan dalam pembelajaran konvensional, bersifat teoritis dan abstrak.&lt;br /&gt;4. Dalam pembelajaran CTL,  kemampuan didasarkan pada pengalaman. Sedangkan dalam pembelajaran konvensional, kemampuan diperoleh dari latihan-latihan.&lt;br /&gt;5. Dalam pembelajaran CTL,  pembelajaran bisa terjadi dimana saja dalam konteks dan setting yang berbeda sesuai dengan kebutuhan. Sedangkan dalam pembelajaran konvensional, pembelajaran hanya terjadi di dalam kelas.&lt;br /&gt;6. Tujuan akhir dari proses pembelajaan CTL adalah kepuasan diri. Sedangkan dalam pembelajaran konvensional, tujuan akhirnya adalah angka atau nilai siswa.&lt;br /&gt;7. Oleh karena tujuan yang ingin dicapai adalah seluruh aspek perkembangan siswa,maka dalam CTL keberhasilan pembelajaran diukur dengan berbagai cara misalnya dengan evaluasi proses,observasi,hasil karya siswa,wawacara,dan lain sebagainya; sedangkan dalam pembelajaran konvensional keberhasilan pembelajaran biasanya hanya diukur dari test.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Peran Guru Dan Siswa Dalam Proses Pembelajaran&lt;br /&gt;Setiap siswa memiliki gaya yang berbeda dalam belajar. Bobi Deporter (1992) menamakan perbedaan yang dimiliki siswa tersebut sebagai unsure modalitas belajar. Menurutnya ada tiga tipe gaya belajar siswa, yaitu tipe visual, auditorial, dan kinestetik. Tipe visual, adalah gaya belajar dengan cara melihat, artinya siswa akan lebih cepat belajar dengan cara menggunakan indra penglihatannya. Tipe auditorial, adalah tipe belajar dengan cara menggunakan alat pendengarannya, sedangkan tipe kinestetik,  adalah tipe belajar dengan cara bergerak, bekerja, dan menyentuh.&lt;br /&gt;Dalam proses pembelajaran kontekstual, setiap guru perlu memahami tipe belajar dalam dunia siswa, artinya guru perlu menyesuaikan gaya mengajar terhadap gay belajar siswa. Dalam proses pembelajaran konvensional hal ini sering terlupakan, sehingga proses pembelajaran tidak ubahnya sebagai proses pemaksaan kehendak, yang menurut Paulo Freire sebagai system penindasan.&lt;br /&gt;Sehubungan dengan hal itu,terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan bagi setiap guru manakala menggunakan pendekatan CTL. &lt;br /&gt;1. Siswa dalam pembelajaran kontekstual dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar akin sangat ditentukan oleh tingkat perkembangan dan pengalaman mereka. Dengan demikian peran guru bukanlah sebagai instruktur yang memaksakan kehendak, melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangan.&lt;br /&gt;2. Setiap anak memiliki kecenderungan untuk belajar hal-hal yang baru dan penuh tantangan. Kegemaran anak adalah mencoba hal-hal yang dianggap aneh dan baru. Dengan demikian guru berperan dalam memilih bahan-bahan belajar yang dianggap penting untuk dipelajari oleh siswa.&lt;br /&gt;3. Belajar bagi siswa adalah proses mencari keterkaitan hubungan antara hal-hal yang baru dengan hal-hal yang sudah diketahui. Dengan demikian peran guru adalah membantu agar setiap siswa mampu menemukan keterkaitan antara pengalaman baru dengan pengalaman sebelumnya.&lt;br /&gt;4. Belajar bagi anak adalah proses menyempurnakan skema yang telah ada (asimilasi) atau proses pembentukan skema baru (akomodasi),dengan demikian tugas guru adalah memfasilitasi (mempermudah) agar anak mampu melakukan proses asimilasi dan proses akomodasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Asas-Asas Dalam Pembelajaran Contextual teaching learning (CTL)&lt;br /&gt;Contextual teaching learning (CTL) sebagai suatu pendekatan pembelajaran memiliki 7 asas. Asas-asas ini yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan  CTL.&lt;br /&gt;1. Konstruktivisme&lt;br /&gt;Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif  siswa berdasarkan pengalaman. Menurut konstruktivisme, pengetahuan berasal dari luar, akan tetapi dikonstruksi oleh dan dari dalam diri seseorang.  Oleh sebab itu, pengetahuan terbentuk dari dua faktor penting, yaitu objek yang menjadi bahan pengamatan dan kemampuan subjek  untuk menginterpretasi objek tersebut.&lt;br /&gt;Pembelajaran melalui CTL pada dasarnya mendorong agar siswa dapat mengkonstruksi pengetahuannya melalui proses pengamatan dan pengalaman. Sebab pengetahuan hanya akan fungsional manakala dibangun oleh individu. Pengetahuan yang hanya diberikan tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna. Atas dasar asumsi inilah, maka penerapan asas konstruktivisme dalam pembelajaran melalui CTL, siswa didorong untuk mampu mengkonstruksi pengetahuan sendiri melalui pengalaman nyata. &lt;br /&gt;2. Inkuiri&lt;br /&gt;Asas kedua dalam pembelajaran CTL adalah inkuiri. Artinya, proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara  sistematis. Dalam proses perencanaan, guru bukanlah mempersiapkan sejumlah materi yang harus dihafal, akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya.&lt;br /&gt;Secara umum proses inkuiri dapat dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu:&lt;br /&gt; Merumuskan masalah.&lt;br /&gt; Mengajukan hipotesis.&lt;br /&gt; Mengumpulkan data.&lt;br /&gt; Menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan.&lt;br /&gt; Membuat kesimpulan.&lt;br /&gt;Penerapan asas ini dalam proses pembelajaran CTL, dimulai dari adanya kesadaran siswa akan masalah yang jelas yang ingin dipecahkan. Dengan demikian siswa harus didorong untuk menemukan masalah. Apabila masalah telah dipahami dengan batasan-batasan yang jelas, selanjutnya siswa dapat mengajukan hipotesis atau jawaban sementara sesuai dengan rumusan masalah yang diajukan. Hipotesis itulah yang akan menuntun siswa untuk melakukan observasi dalam rangka mengumpulkan data. Manakal data telah terkumpul selanjutnya siswa dituntun untuk menguji hipotesis sebagai dasar dalam merumuskan kesimpulan. Asas menemukan seperti yang digambarkan diatas, merupakan asas yang penting dalam pembelajaran CTL.&lt;br /&gt;3. Bertanya (Questioning)&lt;br /&gt;Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu; sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir.  Dalam proses pembelajaran melalui kontekstual teaching and learning, guru tidak menyampaikan informasi begitu saja, akan tetapi memancing agar siswa dapat menemukan sendiri.&lt;br /&gt;Dalam suatu pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya akan sangat berguna untuk: &lt;br /&gt; Menggali informasi tentang kemampuan siswa dalam penguasaan materi pelajaran.&lt;br /&gt; Membangkitkan motivasi siswa untuk belajar.&lt;br /&gt; Merangsang keingintahuan siswa terhadap sesuatu.&lt;br /&gt; Memfokuskan siswa pada sesuatu yang diinginkan.&lt;br /&gt; Membimbing siswa untuk menemukan atau menyimpulkan sesuatu.&lt;br /&gt;4. Masyarakat Belajar (Learning Community)&lt;br /&gt;Leo Semenovich Vygotsky, seorang psikolog rusia menyatakan bahwa pengetahuan dan pemahaman anak ditopang banyak oleh komunikasi dengan orang lain. Suatu permasalahan tidak mungkin  dapat dipecahkan sendiri, akan tetapi membutuhkan bantuan orang lain. Kerja sama saling member dan menerima sangat dibutuhkan untuk memecahkan suatu persoalan. Konsep masyarakat belajar (Learning Community) dalam pembelajaran CTL menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerja sama dengan orang lain. &lt;br /&gt;Dalam kelas CTL, penerapan asas masyarakat belajar dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya bersifat heterogen, baik dilihat dari kemampuan dan kecepatan belajarnya, maupun dilihat dari bakat dan minatnya.&lt;br /&gt;Dalam hal tertentu, guru dapat mengundang orang-orang yang diangap memiliki keahlian khusus untuk membelajarkan siswa. Misalnya, dokter untuk memberikan atau membahas masalah kesehatan. Demikianlah masyarakat belajar, setiap orang bisa saling terlibat, bisa saling membelajarkan, bertukar informasi, dan bertukar pengalaman.&lt;br /&gt;5. Pemodelan (Modeling)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan asas modeling adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Misalnya guru memberikan contoh bagaimana cara mengoperasikan sebuah alat untuk percobaab di labolatorium. Proses modeling, tidak terbatas dari guru saja, akan tetapi dapat juga guru memanfaatkan siswa yang untuk memperagakan. Misalkan siswa yang pernah menjadi juara dalam membaca puisi dapat disuruh  untuk menampilkan kebolehannya di depan kelas, dengan demikian siswa dapat dianggap sebagai model. Modeling merupakan asas yang cukup penting dalam pembelajaran kontekstual teaching leraning, sebab melalui modeling siswa dapat terhindar dari pembelajaran yang teoritis-abstrak yang dapat memungkinkan terjadinya verbalisme. &lt;br /&gt;6. Refleksi (Reflection)&lt;br /&gt;Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Melalui proses refleksi, pengalaman belajar itu akan dimasukkan dalam struktur kognitif siswa yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari pengetahuan yang dimilikinya. Bila terjadi melalui proses refleksi, siswa akan memperbarui pengetahuan yang etlah dibentuknya atau menambah pengetahuannya.&lt;br /&gt;Dalam proses pembelajaran dengan menggunakan CTL, setiap berakhir proses pembelajaran, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk “merenung” atau mengingat kembali apa yang telah dipelajarinya.&lt;br /&gt;7. Penilaian Nyata (Authentic Assessment)&lt;br /&gt;Proses pembelajaran konvensional yang sering dilakukan guru pada saat ini, biasanya ditekankan kepada perkembangan aspek  intelektual, sehingga alat evaluasi yang digunakan terbatas pada penggunaan tes. Dengan tes dapat diketahui seberapa jauh siswa telah menguasai materi pelajaran. Dalam kontekstual teaching leaning, keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh perkembangan kemampuan intelektual saja, akan tetapi perkembangan seluruh aspek. Oleh sebab itu, penilaian keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh aspek hasil belajar seperti hasil tes, akan tetapi juga proses belajar melalui penilaian nyata.&lt;br /&gt;Penilaian nyata (Authentic Assessment) adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian ini diperlukan untuk mengetahui apakah siswa benar-benar belajar atau tidak, apakah pengalaman belajar siswa memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan baik intelektual maupun mental siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Implementasi Pembelajaran Contextual teaching learning (CTL)&lt;br /&gt;Pendekatan contextual teaching learning (CTL) memiliki 7 komponen (asas) utama, yaitu konstruktivisme (Constructivism), menemukan (inquiri), bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian nyata (authentic assessment). Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan konstekstual teaching learning jika menerapkan ketujuh komponen tersebut dalam pembelajarannya.&lt;br /&gt;Secara garis besar, langkah penerapan kontekstual teaching learning dalam kelas adalah sebagai berikut : &lt;br /&gt; Kembangkan pemikiran bahwa anak belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri.&lt;br /&gt; Mengkonstruk sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.&lt;br /&gt; Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.&lt;br /&gt; Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok).&lt;br /&gt; Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri. &lt;br /&gt; Lakukan refleksi di akhir pertemuan.&lt;br /&gt; Lakukan penilaian yag sebenarnya dengan berbagai cara.&lt;br /&gt;G. Beberapa Hal Penting Dalam Pembelajaran Contextual teaching learning (CTL)&lt;br /&gt; Contextual teaching learning (CTL) adalah model pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa secara penuh, baik fisik maupun mental. &lt;br /&gt; Contextual teaching learning (CTL) memandang bahwa belajar bukan menghafal, akan tetapi proses pengalaman dalam kehidupan nyata.&lt;br /&gt; Kelas, dalam pembelajaran Contextual teaching learning (CTL) bukan sebagai tempat untuk memperoleh informasi, akan tetapi sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan mereka di lapangan.&lt;br /&gt; Materi pelajaran ditemukan oleh siswa sendiri, bukan hasil pemberian dari orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;Dari penjelasan di depan, dapat disimpulkan bahwasanya Contextual Teaching Learning (CTL) adalah suatu pendidikan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkan dalam kehidupan mereka. Terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan CTL, antara lain yaitu: &lt;br /&gt;1. Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activity knowledge).&lt;br /&gt;2. Pembelajaran yang konstektual adalah belajar dalam rangka  memperoleh dan menambah pengetahuan yang baru (acquiring knowledge).&lt;br /&gt;3. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge).&lt;br /&gt;4. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan siswa.&lt;br /&gt;5. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan.&lt;br /&gt;Terdapat  beberapa perbedaan antara pembelajaran CTL dan pembelajaran konvensional, antara lain yaitu:&lt;br /&gt;1. Dalam pembelajaran CTL menempatkan siswa sebagai subjek belajar, sedangkan dalam pembelajaran konvensional,siswa ditempatkan sebagai objek belajar.&lt;br /&gt;2. Dalam pembelajaran CTL, siswa belajar melalui kegiatan kelompok. sedangkan dalam pembelajaran konvensional, siswa lebih banyak belajar secara individual.&lt;br /&gt;3.  Dalam CTL, pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata, Sedangkan dalam pembelajaran konvensional, bersifat teoritis dan abstrak.&lt;br /&gt;4. Dalam pembelajaran CTL,  kemampuan didasarkan pada pengalaman. Sedangkan dalam pembelajaran konvensional, kemampuan diperoleh dari latihan-latihan.&lt;br /&gt;Dalam pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL) terdapat 7 asas yaitu konstruktivisme, inquiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian nyata.&lt;br /&gt;Hal-hal yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam menggunakan pendekatan CTL antara lain yaitu guru berperan dalam memilih bahan-bahan belajar yang dianggap penting untuk dipelajari oleh siswa, membantu agar setiap siswa mampu menemukan keterkaitan antara pengalaman baru dengan pengalaman sebelumnya, dan juga memfasilitasi (mempermudah) agar anak mampu melakukan proses asimilasi dan proses akomodasi. &lt;br /&gt;Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan untuk menerapkan  pendekatan kontekstual teaching learning dalam kelas adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt; Kembangkan pemikiran bahwa anak belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri.&lt;br /&gt; Mengkonstruk sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.&lt;br /&gt; Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.&lt;br /&gt; Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok).&lt;br /&gt; Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri. &lt;br /&gt; Lakukan refleksi di akhir pertemuan.&lt;br /&gt; Lakukan penilaian yag sebenarnya dengan berbagai cara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;Johnson,  Elaine B . 2007. Contextual  Teaching Learning.  Jakarta : MLC&lt;br /&gt;Sanjaya, Wina. 2005. Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta. Kencana&lt;br /&gt;http://makalahkumakalahmu.wordpress.com/2008/09/15/pembelajaran-kontekstual/&lt;br /&gt;http://s1pgsd.blogspot.com/2008/12/pendekatan-kontekstual-atau-contextual.html&lt;br /&gt;http://mulin-unisma.blogspot.com/2008/02/ctl-matematika.html&lt;br /&gt;http://72.14.235.132/search?q=cache:pRnhtuCbHqwJ:rbaryans.wordpress.com/2007/07/31/%E2%80%9Cgerakan%E2%80%9D-pendekatan-kontekstual-baca-ctldalam-matematika-sebuah-kemajuan-atau-jalan-di-tempat+contoh+pembelajaran+CTL+dalam+matematika&amp;cd=1&amp;hl=id&amp;ct=clnk&amp;gl=id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7890961627097092465-8125098945304521864?l=riefqie-yupss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/feeds/8125098945304521864/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/06/contextual-teaching-learning-ctl.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/8125098945304521864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/8125098945304521864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/06/contextual-teaching-learning-ctl.html' title='Contextual Teaching Learning (CTL)'/><author><name>Muh. Rifqi Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16755920782633062813</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/TOfawZe8c2I/AAAAAAAAAIo/dDxA3VkKIpY/S220/riefqie.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7890961627097092465.post-7417365054810233461</id><published>2009-06-17T20:31:00.000-07:00</published><updated>2010-04-25T01:29:08.426-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lentera....'/><title type='text'>TEORI BEHAVIORISME</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;By: M. Rifqi Fauzi&lt;br /&gt;My Blog: riefqie-yupSs.blogspot.com&lt;br /&gt;TEORI BEHAVIORISME&lt;br /&gt;PRINSIP PRINSIP TEORI BEHAVIORISME&lt;br /&gt;1. Obyek psikologi adalah tingkah laku&lt;br /&gt;2. semua bentuk tingkah laku di kembalikan pada reflek&lt;br /&gt;3. mementingkan pembentukan kebiasaan&lt;br /&gt;ADA DUA ALIRAN BESAR DALAM TEORI BEHAVIORISME&lt;br /&gt;1. reflek bersarat dari rusia di antaranya  PAVLOV dkk&lt;br /&gt;2. behaviorisme dari amerika di antaranya THORNDIKE dkk&lt;br /&gt;A. Teori Belajar Behaviouristik&lt;br /&gt;• Pengertian &lt;br /&gt;Adalah teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberirespon terhadap lingkungan.Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka.&lt;br /&gt;•Kerangka Berfikir Teori&lt;br /&gt;Ciri dari teori ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan,mementingkan mekanisme hasil belajar,mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan. Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya. Guru yang menganut pandangan ini berpandapat bahwa tingkahlaku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkahllaku adalah hasil belajar.&lt;br /&gt;• Tokoh-tokoh&lt;br /&gt;Edward Edward Lee Thorndike (1874-(((1874-1949)&lt;br /&gt;Menurut Thorndike belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi anatara peristiwa yang disebut stimulus dan respon. Teori belajar ini disebut teori “connectionism”. Eksperimen yang dilakukan adalah dengan kucing yang dimasukkan pada sangkar tertutup yang apabila pintunya dapat dibuka secara otomatis bila knop di dalam sangkar disentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori Trial dan Error. Ciri-ciri belajar dengan Trial dan Error Yaitu : adanya aktivitas, ada berbagai respon terhadap berbagai situasi, adal eliminasai terhadap berbagai respon yang salah, ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan. Thorndike menemukan hukum-hukum.&lt;br /&gt;1. Hukum kesiapan (Law of Readiness)&lt;br /&gt;Jika suatu organisme didukung oleh kesiapan yang kuat untuk memperoleh stimulus maka pelaksanaan tingkah laku akan menimbulkan kepuasan individu  sehingga asosaiasi cenderung diperkuat.&lt;br /&gt;2. Hukum latihan&lt;br /&gt;Semakin sering suatu tingkah laku dilatih atau digunakan maka asosiasi tersebut semakin kuat.&lt;br /&gt;3. Hukum akibat&lt;br /&gt;Hubungan stimulus dan respon cenderung diperkuat bila akibat menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibanya tidak memuaskan.&lt;br /&gt; Ivan Petrovich Pavlo (1849-1936) dan Watson&lt;br /&gt; Pavlo mengadakan percobaan laboratories terhadap anjing. Dalam percobaan ini anjing di beri stimulus bersarat sehingga terjadi reaksi bersarat pada anjing. Contoh situasi percobaan tersebut pada manusia adalah bunyi bel di kelas untuk penanda waktu tanpa disadari menyebabkan proses penandaan sesuatu terhadap bunyi-bunyian yang berbeda dari pedagang makan, bel masuk, dan antri di bank. Dari contoh tersebut diterapkan strategi Pavlo ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan. Sementara individu tidak sadar dikendalikan oleh stimulus dari luar.  Belajar menurut teori ini adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat yang menimbulkan reaksi.Yang terpenting dalam belajar menurut teori ini adalah adanya latihan dan pengulangan. Kelemahan teori ini adalah belajar hanyalah terjadi secara otomatis keaktifan dan penentuan pribadi dihiraukan.&lt;br /&gt; Skinner (1904-1990) &lt;br /&gt; Skinner menganggap reward dan rierforcement merupakan factor penting dalan belajar. Skinner berpendapat bahwa tujuan psikologi adalah meramal mengontrol tingkah laku. Pda teori ini guru memberi penghargaan hadiah atau nilai tinggi sehingga anak akan lebih rajin. Teori ini juga disebut dengan operant conditioning.&lt;br /&gt;Operant conditing menjamin respon terhadap stimuli.Bila tidak menunjukkan stimuli maka guru tidak dapat membimbing siswa untuk mengarahkan tingkah lakunya. Guru memiliki peran dalam mengontrol dan mengarahkan siswa   dalam proses belajar sehingga tercapai tujuan yang diinginkan  Skinner membagi menjadi 2 jenis respon.&lt;br /&gt;1. Responden&lt;br /&gt;Respon yang terjadi karena stimulus khusus misalnya Pavlo.&lt;br /&gt;2. Operans&lt;br /&gt;Respon yang terjadi karena situasi random. Operans conditioning adalah suatu proses penguatan perilaku operans yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat diulang kembali atau menghilang sesuai keinginan. &lt;br /&gt;  Prinsip belajar Skinners adalah :&lt;br /&gt;1. Hasil belajar harus segera diberitahukan pada siswa jika salah dibetulkan jika benar diberi penguat.&lt;br /&gt;2. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar. Materi pelajaran digunakan sebagai sistem modul.&lt;br /&gt;3. Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri, tidak digunakan hukuman. Untuk itu lingkungan perlu diubah untuk menghindari hukuman.&lt;br /&gt;4. Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah dan sebaiknya hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variable ratio reinforcer.&lt;br /&gt;5. dalam pembelajaran digunakan shapping &lt;br /&gt;Robert Gagne (1916-2002) &lt;br /&gt;Teori gagne banyak dipakai untuk mendisain Software instructional (Program berupa Drill Tutorial). Kontribusi terbesar dari teori instructional Gagne adalah 9 kondisi instructional:&lt;br /&gt;1. Gaining attention = mendapatkan perhatian &lt;br /&gt;2. intorm learner of objectives = menginformasikan siswa mengenai tujuan yang akan dicapai&lt;br /&gt;3. stimulate recall of prerequisite learning = stimulasi kemampuan dasar siswa untuk persiapan belajar.&lt;br /&gt;4. Present new material = penyajian materi baru&lt;br /&gt;5. Provide guidance = menyediakan pembimbingan &lt;br /&gt;6. Elicit performance = memunculkan tindakan&lt;br /&gt;7. Provide feedback about correctness = siap memberi umpan balik langsung terhadap hasil yang baik&lt;br /&gt;8. Assess performance = Menilai hasil belajar yang ditunjukkan&lt;br /&gt;9. Enhance retention and recall = meningkatkan proses penyimpanan memori dan mengingat.&lt;br /&gt;Gagne disebut sebagai modern noebehaviouristik mendorong guru untuk merencanakan pembelajaran agar suasana dan gaya belajar dapat dimodifikasi.&lt;br /&gt;Albert Bandura (1925-sekarang)&lt;br /&gt;Teori belajar Bandura adalah teori belajar social atau kognitif social serta efikasi diri yang menunjukkan pentingnya proses mengamati dan meniru perilaku, sikap dan emosi orang lain. Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi tingkah laku timbale balik yang berkesinambungan antara kognitine perilaku dan pengaruh lingkungan. Factor-faktor yang berproses dalam observasi adalah perhatian, mengingat, produksi motorik, motivasi. &lt;br /&gt;• Aplikasi teori behaviouristik terhadap pembelajaran siswa&lt;br /&gt;Guru yang menggunakan paradigma behaviourisme akan menyusun bahan pelajaran yang sudah siap sehingga tujuan npembelajaran yang dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh guru. Guru tidak hanya memberi ceramah tetapi juga contoh-contoh. Bahan pelajaran disusun hierarki dari yang sederhana sampai yang kompleks. Hasil dari pembelajaran dapat diukur dan diamati, kesalahan dapat diperbaiki. Hasil yang diharapkan adalah terbentuknya suatu perilaku yang diinginkan&lt;br /&gt;• Kekurangan dan kelebihan&lt;br /&gt;Metode ini sangat cocok untuk pemerolehan kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsure kecepatan spontanitas kelenturan daya tahan dsb. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan peran orang tua. Kekurangan metode ini adalah pembelajaran siswa yang berpusat pada guru bersifat mekanistis dan hanya berorientasi pada hasil. Murid dipandang pasif, murid hanya mendengarkan, &lt;br /&gt;menghafal penjelasan guru sehingga guru sebagai sentral dan bersifat otoriter.&lt;br /&gt;TEORI  HUMANISTIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip- prinsip belajar humanistic:&lt;br /&gt;A. Manusia mempunyai belajar alami&lt;br /&gt;B. B elajar signifikan terjadi apabila mqateri plajaran dirasakan murid mempuyai relevansi dengan maksud tertentu&lt;br /&gt;C. Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persep[si mengenai dirinya&lt;br /&gt;D. Tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasarkan bila ancaman itu kecil&lt;br /&gt;E. Bila bancaman itu rendah terdapat pangalaman siswa dalam memperoleh caar&lt;br /&gt;F. Belajar yang bermakna  diperolaeh jika siswa melakukannya&lt;br /&gt;G. Belajar lancer jika siswa dilibatkan dalam proses belajar&lt;br /&gt;H. Belajar yang melibatkan siswa seutuhnya dapat memberi hasil yang mendalam&lt;br /&gt;I. Kepercayaan pada diri pada siswa ditumbuhkan dengan membiasakan untuk mawas diri&lt;br /&gt;J. Belajar sosial adalah belajar mengenai proses belajar.&lt;br /&gt;• Pengertian Teori &lt;br /&gt;       Humanistik tertuju pada masalah bagaimana tiap individu dipengaruhi dan dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri.&lt;br /&gt;•  Kerangka Berfikir Teori Belajar  &lt;br /&gt;       Tujuan belajar menurut teori ini adalah memanusiakan manusia artinya  perilaku tiap orang ditentukan oleh orang itu sendiri dan memahami manusia terhadap lingkungan dan dirinya sendiri.Menurut para pendidik aliran ini I penyusunan dan penyajian materi pelajaran harus sesuai dengan perasaan dan perhatian siswa.Tujuan utama pendidik adalah membantu siswa mengembangkan dirinya yaitu membantu individu untuk mengenal dirinya sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu mewujudkan potensi mereka. Para ahli humanistic melihat adanya dua bagian pada proses belajar yaitu : proses pemerolehan informasi baru dan personalissi informasi ini pada individu.&lt;br /&gt;      Tujuan utama pada pendidik adalah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi yang ada pada diri mereka. Dua bagian pada proses belajar:&lt;br /&gt;a. proses memperoleh informasi baru&lt;br /&gt;b. personalisasi informasi ini pada individu&lt;br /&gt;• Tokoh –Tokohnya  &lt;br /&gt;      Arthur Comb (1921-1999)&lt;br /&gt;Meaning adalah konsep dasar yang dipakai  atau digunakan. Belajar terjadi bila siswa mempunyai arti bagi siswa itu sendiri,guru tidak bisa memaksakan materi pada siswa.Guru harus memahami perilaku siswa dengan memahami persepsi siswa apabila ingin mengubah perilaku siswa. Menurut Comb perilaku buruk itu  adalah ketidak mauan siswa untuk melakukan sesuatu yang tidak menimbulkan kepuasan bagi dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Maslow&lt;br /&gt; Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa dalam diri manusia ada dua hal yaitu adalah suatu usaha positif untuk berkembang dan kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu. Pada diri manusia mempunyai berbagai perasaan   takut tetapi manusia  juga mempunyai perasaan  yang mendorong untuk maju kea rah ke unikan diri, kearah fungsinya semua kemampuan yang dimiliki dapat dikembangkan. Maslow membagi  kebutuhan manusia menjadi tujuh hierarki yang tiap hierarki tersebut memiliki tingkat penting dalam pemenuhan yang harus dipanuhi dari yang paling dasar. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;CARL ROGERS &lt;br /&gt;Pengertian&lt;br /&gt;        Belajar akan lebih baik  jika dilengkapi dengan fasilitas yang baik pula.&lt;br /&gt;Kerangka berfikir teori&lt;br /&gt;     Rogers membedakan 2 tipe belajar yaitu:&lt;br /&gt;         a.kognitif (kebermaknaan)&lt;br /&gt;         b.eksperential (pengalaman atau signifikansi)&lt;br /&gt;yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru         memperhatikan prinsip pendidikan dsan pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aplikasi Teori &lt;br /&gt;Aplikasi pada teori ini adalah lebih menunjuk pada ruh atau spirit dalam proses belajar yang mewarnai metode-metode yang diterapkan.Peran guru hanya sebagai fasilitatorbagi siwa dan dengan memberi motivasi,kesadaran bagi siswa ,membimbing dan memfasilitasi siswa. Guru sebagai fasilitator memiliki berbagai cara untuk membri kemudahan bagi siswa dalam belajar dan berbagai kualitas si fasilitator. Siswa berperan sebagai pelaku utama yang memaknai proses pambelajaran nya.Tujuan pembelajaran lebih diutamakan pada prosenya bukan pada hasilnya.Proses pembelajaran pada umumnya yaitu adalah  merumuskan tujuan belajar yang jelas,mengusahaan adanya partisipasi siswa,mendorong inisiatif siswa untuk peka kritis, mengemukakan pendapat ,guru berusaha menerima dan memberi kesempatan pada siswa serta adanya evaluasi pembelajaran Pada teori ini lebih menekankan  pada proses dari pada hasil pembelajaran sehigga siswa harus aktif. Guru berpendapat bahwa pendidikan adalah warisan kebudayaan, prtanggungjawaban sosial, dan bahan pegajaran yang khusus.Sehingga maslah tersebut tidak dapat diserahkan pada siswa tetapi perlu adanya suatu rencana pelajaran yang telah disiapkan oleh guru. Materi tersusun logis dan tujuan instruksional yang tertentu dan mereka memiliki kecenderungan memperoeh jawaban yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekurangan dan Kelebihan&lt;br /&gt;Teori ini cocok untuk di terapkan pada materi- materi yang bersifat pembentukan kepribadian,hati nurani,perubahan sikap dan analisis terhadap fenomena social. Indikator keberhasilan dari teori  ini adalah siswa senang,  bergairah, berinisiatif dalam belajar,dan terjadi perubahan pola pikir siswa,perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Ciri-ciri guru yang baik dan kurang baik menurut Humanistik&lt;br /&gt;Guru yang baik menurut teori ini adalah : Guru yang memiliki rasa humor, adil, menarik, lebih demokratis, mampu berhubungan dengan siswa dengan mudah dan wajar.Ruang kelads lebih terbuka dan mampu menyesuaikan  pada perubahan. Sedangkan guru  yang tidak efektif adalah guru yang memiliki rasa humor yang rendah ,mudah menjadi tidak sabar ,suka melukai perasaan siswaa dengan komentsr ysng menyakitkan,bertindak agak otoriter, dan kurang peka terhadap perubahan yang ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;SUMBER MATERI &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ahmadi,Abu dan Widodo Supriyono.2004.Psikologi Belajar. Rineka Cipta.Jakarta&lt;br /&gt;Dakir.1993. Dasar-dasar Psikologi. Pustaka  Pelajar.Yogyakarta.&lt;br /&gt;Purwanto,Ngalim.1990. Psikologi Pendidikan. Remaja Rosdakarya Bandung&lt;br /&gt;Soemanto,Wasti. 1998  Psikologi pendidikan landasan kerja pemimpin pendidikan. Rineka Cipta.Jakarta. Pendidikan.FIP UNY.&lt;br /&gt;Sukmadinata,Nana Syaodi.2004. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Rosdakarya . Bandung.&lt;br /&gt;Sugiharto dkk .2006  Psikologi Pendidikan. FIP UNY.&lt;br /&gt;Suyantinah. 2000. Psikologi Pendidikan. FIP UNY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ATAS PERHATIANYA SAYA UCAPKAN TERIMA KASIH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7890961627097092465-7417365054810233461?l=riefqie-yupss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/feeds/7417365054810233461/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/06/by-m.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/7417365054810233461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/7417365054810233461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/06/by-m.html' title='TEORI BEHAVIORISME'/><author><name>Muh. Rifqi Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16755920782633062813</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/TOfawZe8c2I/AAAAAAAAAIo/dDxA3VkKIpY/S220/riefqie.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7890961627097092465.post-8513696619773138271</id><published>2009-05-04T09:56:00.000-07:00</published><updated>2010-04-25T01:29:08.426-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lentera....'/><title type='text'>JENDELA HATI</title><content type='html'>“ JENDELA HATI “&lt;br /&gt;RENUNGKANLAH…!!!&lt;br /&gt;Tulisan ini hanyalah sekedar renungan sebagai bekal  dalam mengarungi riak-riak, guruh-guruh, onak dan  belukar kehidupan. Aku menemukannya ketika browsing di dunia maya. Barangkali ada setitik hikmah yang bisa jkita petik. Aku jadi ingat pesan Rasulullah saw pada Abu Dzar, “&lt;br /&gt;يا ابا ذر جدد السفينة فأن البحر عميق وخذ الزاد كاملا فإن السفر كؤودو .....&lt;br /&gt;الحكمة ضالة المؤمن فمن وجدها فهو احق بها..........&lt;br /&gt;Inilah tulisan sederhana itu …&lt;br /&gt;Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur ? &lt;br /&gt;Kenapa kita menutup mata ketika kita menangis ? &lt;br /&gt;Kenapa kita menutup mata ketika kita membayangkan sesuatu ? &lt;br /&gt;Kenapa kita menutup mata ketika kita berciuman ? &lt;br /&gt;Hal hal yang terindah di dunia ini biasanya tidak terlihat&lt;br /&gt;Ada hal hal yang tidak ingin kita lepaskan &lt;br /&gt;dan ada orang orang yang tidak ingin kita tinggalkan &lt;br /&gt;Tapi ingatlah, melepaskan bukan berarti akhir dari dunia &lt;br /&gt;melainkan awal dari kehidupan yang baru&lt;br /&gt;Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis &lt;br /&gt;Kebahagiaan ada untuk mereka yang telah tersakiti &lt;br /&gt;Kebahagiaan ada untuk mereka yang telah mencari dan telah mencoba&lt;br /&gt;Karena merekalah yang bisa menghargai &lt;br /&gt;Betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka&lt;br /&gt;Cinta adalah ketika kamu menitikkan air mata, tetapi masih peduli terhadapnya &lt;br /&gt;Cinta adalah ketika dia tidak mempedulikanmu, kamu masih menunggunya dengan setia &lt;br /&gt;Cinta adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum sambil berkata , " Aku turut berbahagia untukmu "&lt;br /&gt;Apabila cintamu tidak berhasil, bebaskanlah dirimu &lt;br /&gt;Biarkanlah hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas lagi &lt;br /&gt;Ingatlah, kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya.. &lt;br /&gt;Tetapi saat cinta itu dimatikan, kamu tidak perlu mati bersamanya..&lt;br /&gt;Orang yang terkuat bukanlah orang yang selalu menang dalam segala hal &lt;br /&gt;Tetapi mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh &lt;br /&gt;Entah bagaimana, dalam perjalanan kehidupanmu, &lt;br /&gt;Kamu akan belajar tentang dirimu sendiri dan suatu saat kamu akan menyadari &lt;br /&gt;Bahwa penyesalan tidak seharusnya ada di dalam hidupmu &lt;br /&gt;Hanyalah penghargaan abadi atas pilihan pilihan kehidupan yang telah kau buat &lt;br /&gt;Yang seharusnya ada di dalam hidupmu&lt;br /&gt;Sahabat sejati akan mengerti ketika kamu berkata, " Aku lupa " &lt;br /&gt;Sahabat sejati akan tetap setia menunggu ketika kamu berkata, " Tunggu sebentar " &lt;br /&gt;Sahabat sejati hatinya akan tetap tinggal, terikat kepadamu ketika kamu berkata, " Tinggalkan aku sendiri "&lt;br /&gt;Saat kamu berkata untuk meninggalkannya, &lt;br /&gt;Mungkin dia akan pergi meninggalkanmu sesaat, &lt;br /&gt;Memberimu waktu untuk menenangkan dirimu sendiri, &lt;br /&gt;Tetapi pada saat saat itu, hatinya tidak akan pernah meninggalkanmu &lt;br /&gt;Dan sewaktu dia jauh darimu, dia akan selalu mendoakanmu dengan air mata&lt;br /&gt;Lebih berbahaya mencucurkan air mata di dalam hati &lt;br /&gt;daripada air mata yang keluar dari mata kita &lt;br /&gt;Air mata yang keluar dari mata kita dapat dihapus, &lt;br /&gt;Sementara air mata yang tersembunyi, &lt;br /&gt;Akan menggoreskan luka di dalam hatimu &lt;br /&gt;yang bekasnya tidak akan pernah hilang&lt;br /&gt;Walaupun dalam urusan cinta, kita sangat jarang menang, &lt;br /&gt;Tetapi ketika cinta itu tulus... &lt;br /&gt;meskipun mungkin kelihatannya kamu kalah, &lt;br /&gt;Tetapi sebenarnya kamu menang karena kamu dapat berbahagia &lt;br /&gt;sewaktu kamu dapat mencintai seseorang &lt;br /&gt;Lebih dari kamu mencintai diri kamu sendiri...&lt;br /&gt;Akan tiba saatnya dimana kamu harus berhenti mencintai seseorang &lt;br /&gt;Bukan karena orang itu berhenti mencintai kita &lt;br /&gt;Atau karena ia tidak mempedulikan kita &lt;br /&gt;Melainkan saat kita menyadari bahwa orang itu &lt;br /&gt;Akan lebih berbahagia apabila kita melepasnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi apabila kamu benar benar mencintai seseorang, &lt;br /&gt;Jangan dengan mudah kita melepaskannya &lt;br /&gt;Berjuanglah demi cintamu... Fight for your dream ! &lt;br /&gt;Itulah cinta yang sejati.. &lt;br /&gt;Bukannya seperti prinsip " Easy come.. Easy go... "&lt;br /&gt;Lebih baik menunggu orang yang benar benar kamu inginkan &lt;br /&gt;Daripada berjalan bersama orang " yang tersedia " &lt;br /&gt;Lebih baik menunggu orang yang kamu cintai &lt;br /&gt;Daripada orang yang berada di " sekelilingmu "&lt;br /&gt;Lebih baik menunggu orang yang tepat &lt;br /&gt;Karena hidup ini terlalu berharga dan terlalu singkat &lt;br /&gt;Untuk dibuang dengan hanya " seseorang " &lt;br /&gt;Atau untuk dibuang dengan orang yang tidak tepat&lt;br /&gt;Kadang kala, orang yang kamu cintai adalah orang yang paling menyakiti hatimu &lt;br /&gt;Dan kadang kala teman yang membawamu di dalam pelukannya &lt;br /&gt;Dan menangis bersamamu adalah cinta yang tidak kamu sadari&lt;br /&gt;Ucapan yang keluar dari mulut seseorang &lt;br /&gt;Dapat membangun orang lain, tetapi dapat juga menjatuhkannya &lt;br /&gt;Bila bukan diucapkan pada orang, waktu, dan tempat yang benar &lt;br /&gt;Ini jelas bukan sesuatu yang bijaksana&lt;br /&gt;Ucapan yang keluar dari mulut seseorang &lt;br /&gt;Dapat berupa kebenaran ataupun kebohongan untuk menutupi isi hati &lt;br /&gt;Kita dapat mengatakan apa saja dengan mulut kita &lt;br /&gt;Tetapi isi hati kita yang sebenarnya tidak akan dapat dipungkiri&lt;br /&gt;Apabila kamu hendak mengatakan sesuatu.. &lt;br /&gt;Tataplah matamu di cermin dan lihatlah kepada matamu &lt;br /&gt;Dari situ akan terpancar seluruh isi hatimu &lt;br /&gt;Dan kebenaran akan dapat dilihat dari sana&lt;br /&gt;Maka Nikmatilah, Karena Ini Pun Akan Berlalu&lt;br /&gt;Saat di depanmu terhidang nasi sayur tahu tempe, mengapa mesti sibuk berandai-andai dapat makan ikan, daging atau ayam ala restoran…..???&lt;br /&gt; Padahal kalau saja kau nikmati apa yang ada tanpa berkesah, pastilah rasanya tak jauh beda.&lt;br /&gt; Karena enak atau tidaknya makanan lebih tergantung kepada rasa lapar dan mau tidaknya kita menerima apa yang ada. Maka nikmatilah, karena jika engkau terus mengharap makanan yang lebih enak, makanan yang ada di depanmu akan basi, padahal belum tentu besok engkau akan mendapatkan yang lebih baik daripada hari ini.&lt;br /&gt;Saat engkau menemui udara pagi ini cerah, langit hari ini biru indah,&lt;br /&gt; mengapa sibuk mencemaskan hujan yang tak kunjung datang?&lt;br /&gt; Padahal kalau saja kau nikmati adanya tanpa kesah, pastilah kau dapat mengerjakan begitu banyak kegiatan dengan penuh kegembiraan.&lt;br /&gt; Maka nikmatilah, jangan malah resah memikirkan hujan yang tak kunjung tumpah.&lt;br /&gt; Karena jika kau tak menikmatinya,&lt;br /&gt; maka saat tiba masanya hujan menggenangi tanahmu,&lt;br /&gt; kau pun kan kembali resah memikirkan kapan hujan berhenti.&lt;br /&gt;Percayalah, semua ini akan berlalu,&lt;br /&gt; maka mengapa harus memikirkan sesuatu yang tak ada,&lt;br /&gt; namun suatu saat pasti akan hadir jua?&lt;br /&gt; Sedang hal itu hanya akan membuat kita kehilangan keindahan hari ini karena mencemaskan sesuatu yang belum pasti&lt;br /&gt;Saat engkau memiliki sebuah pekerjaan dan mendapatkan penghasilan,&lt;br /&gt; meski tak sesuai dengan yang kau inginkan,&lt;br /&gt; mengapa mesti kesal dan membayangkan pekerjaan ideal yang jauh dari jangkauan?&lt;br /&gt; Padahal kalau saja kau nikmati apa yang kau miliki, tentu akan lebih mudah menjalani.&lt;br /&gt; Maka nikmatilah….!!!&lt;br /&gt; Karena bisa jadi saat kau dapatkan apa yang kau inginkan, ternyata tak seindah yang kau bayangkan. &lt;br /&gt;Maka nikmatilah….!!!&lt;br /&gt; Karena bisa jadi saat sudah kau lepaskan, kau akan menyesal, ternyata begitu banyak kebaikan yang tidak kau lihat sebelumnya. Ternyata begitu banyak keindahan yang terlewat tak kau nikmati.&lt;br /&gt;Maka nikmatilah….!!!&lt;br /&gt; Jangan habiskan waktumu dengan mengeluh dan menginginkan yang tidak ada.&lt;br /&gt; Maka nikmatilah, karena suatu saat, semua ini pun akan berlalu. Maka nikmatilah, jangan sampai kau kehilangan nikmatnya dan hanya mendapatkan getirnya saja. Maka nikmatilah dengan bersyukur dan memanfaatkan apa yang kau miliki dengan lebih baik lagi agar besok menjadi sesuatu yang berguna. Maka nikmatilah karena ia akan menjadi milikmu apa adanya dan hanya saat ini saja. Sedang besok bisa jadi semua telah berganti.&lt;br /&gt;Jika hari ini engkau menderita,&lt;br /&gt;Maka nikmatilah….!!!&lt;br /&gt; Karena ini pun akan berlalu, jangan biarkan dia pergi, kemudian ketika kau harus lebih menderita suatu saat nanti, engkau tidak sanggup menahannya. &lt;br /&gt;Maka nikmatilah rasa sedihmu…..!!!&lt;br /&gt; Dengan mengenang kesedihan yang lebih dalam yang pernah kau alami. Dengan membayangkan kesedihan yang lebih memar pada hari akhir nanti jika kau tak dapat melewati kesedihan kali ini.&lt;br /&gt;Dengan menemukan penghapus dosa pada musibah yang kau alami kini. &lt;br /&gt;Maka nikmatilah rasa galaumu….!!! &lt;br /&gt;Dengan betafakkur lebih banyak atas permasalahan yang kau hadapi. &lt;br /&gt;Dengan memikirkan kedewasaan yang kan kau gapai atas resah dan galau itu. Dengan kematangan yang akan kau miliki setelah berhasil melewati semua ini.&lt;br /&gt; Maka nikmatilah rasa marahmu….!!!&lt;br /&gt; Dengan kemampuan mengendalikan diri. Dengan memikirkan penggugur dosa yang kan kau dapatkan. Dengan mendapatkan kemenangan atas diri pribadi yang tak semua orang dapat lakukan.&lt;br /&gt;Maka nikmatilah….!!!&lt;br /&gt; Dengan berpikir positif atas apa pun yang kau jalani, atas apapun yang kau hadapai, atas apapun yang kau terima, karena dengan begitu engkau akan bahagia.&lt;br /&gt;Maka nikmatilah….!!!&lt;br /&gt; Karena ini pun akan berlalu jua.&lt;br /&gt;Maka nikmatilah….!!!&lt;br /&gt; Karena rasa puas dan syukur atas apa yang telah kita raih akan menghadirkan ketenteraman dan kebahagiaan. Sedang ketidakpuasan hanya akan melahirkan penderitaan.&lt;br /&gt; Maka nikmatilah….!!!&lt;br /&gt; Karena ini pun akan berlalu.&lt;br /&gt; Maka nikmatilah….!!!&lt;br /&gt; Agar engkau tidak kehilangan hikmah dan keindahannya,saatsegalanya telah tiada.&lt;br /&gt; Maka nikmatilah…!!!&lt;br /&gt; Agar tak hanya derita yang tersisa saat semua telah berakhir &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        By:&lt;br /&gt;                  Rif_@N_yupSs&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7890961627097092465-8513696619773138271?l=riefqie-yupss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/feeds/8513696619773138271/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/05/jendela-hati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/8513696619773138271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/8513696619773138271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/05/jendela-hati.html' title='JENDELA HATI'/><author><name>Muh. Rifqi Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16755920782633062813</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/TOfawZe8c2I/AAAAAAAAAIo/dDxA3VkKIpY/S220/riefqie.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7890961627097092465.post-7126760880901585627</id><published>2009-05-04T09:54:00.000-07:00</published><updated>2010-04-25T01:29:08.427-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lentera....'/><title type='text'>SAHABAT</title><content type='html'>“”SAHABAT””&lt;br /&gt;Sahabat sejati akan mengerti ketika kamu berkata, " Aku lupa " &lt;br /&gt;Sahabat sejati akan tetap setia menunggu ketika kamu berkata, " Tunggu sebentar " &lt;br /&gt;Sahabat sejati hatinya akan tetap tinggal, terikat kepadamu ketika kamu berkata, " Tinggalkan aku sendiri "&lt;br /&gt;Saat kamu berkata untuk meninggalkannya, &lt;br /&gt;Mungkin dia akan pergi meninggalkanmu sesaat, &lt;br /&gt;Memberimu waktu untuk menenangkan dirimu sendiri, &lt;br /&gt;Tetapi pada saat saat itu, hatinya tidak akan pernah meninggalkanmu &lt;br /&gt;Dan sewaktu dia jauh darimu, dia akan selalu mendoakanmu dengan air mata&lt;br /&gt;Lebih berbahaya mencucurkan air mata di dalam hati &lt;br /&gt;daripada air mata yang keluar dari mata kita &lt;br /&gt;Air mata yang keluar dari mata kita dapat dihapus, &lt;br /&gt;Sementara air mata yang tersembunyi, &lt;br /&gt;Akan menggoreskan luka di dalam hatimu &lt;br /&gt;yang bekasnya tidak akan pernah hilang&lt;br /&gt;Bye:&lt;br /&gt;Rifqie_yupSs&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7890961627097092465-7126760880901585627?l=riefqie-yupss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/feeds/7126760880901585627/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/05/sahabat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/7126760880901585627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/7126760880901585627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/05/sahabat.html' title='SAHABAT'/><author><name>Muh. Rifqi Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16755920782633062813</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/TOfawZe8c2I/AAAAAAAAAIo/dDxA3VkKIpY/S220/riefqie.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7890961627097092465.post-6056882962287957449</id><published>2009-05-04T09:30:00.000-07:00</published><updated>2010-04-25T01:29:08.427-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lentera....'/><title type='text'>CINTA</title><content type='html'>CINTA&lt;br /&gt;“Cinta” adalah ketika kau menitikkan air mata,&lt;br /&gt;Disaat kau  masih peduli terhadapnya. &lt;br /&gt;”Cinta” adalah ketika dia tidak mempedulikanmu,&lt;br /&gt;Tetapi kau masih menunggunya dengan setia&lt;br /&gt;”Cinta” adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan&lt;br /&gt;Kau masih bisa tersenyum sambil berkata , " Aku turut berbahagia untukmu "&lt;br /&gt;Apabila cintamu tidak berhasil, bebaskanlah dirimu &lt;br /&gt;Biarkanlah hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas lagi &lt;br /&gt;Ingatlah….!!!&lt;br /&gt; kau mungkin menemukan cinta dan kehilangannya... &lt;br /&gt;Tetapi saat cinta itu dimatikan, kamu tidak perlu mati bersamanya.. &lt;br /&gt;Orang yang terkuat bukanlah orang yang selalu menang dalam segala hal &lt;br /&gt;Tetapi mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh&lt;br /&gt;Entah bagaimana, dalam perjalanan kehidupanmu,  &lt;br /&gt;Kau akan belajar tentang dirimu sendiri dan suatu saat kau akan menyadari &lt;br /&gt;Bahwa penyesalan tidak seharusnya ada di dalam hidupmu &lt;br /&gt;Hanyalah penghargaan abadi atas pilihan pilihan kehidupan yang telah kau buat &lt;br /&gt;Yang seharusnya ada di dalam hidupmu&lt;br /&gt;Didalam urusan cinta, kita sangat jarang menang, &lt;br /&gt;Tetapi ketika cinta itu tulus... &lt;br /&gt;meskipun mungkin kelihatannya kau kalah, &lt;br /&gt;Tetapi sebenarnya kau menang karena kau dapat berbahagia &lt;br /&gt;sewaktu kau dapat mencintai seseorang &lt;br /&gt;Lebih dari kau mencintai diri kau sendiri... &lt;br /&gt;Akan tiba saatnya dimana kau harus berhenti mencintai seseorang&lt;br /&gt;Bukan karena orang itu berhenti mencintai kita &lt;br /&gt;Atau karena ia tidak mempedulikan kita &lt;br /&gt;Melainkan saat kita menyadari bahwa orang itu&lt;br /&gt;Akan lebih berbahagia apabila kita melepasnya&lt;br /&gt;Tetapi apabila kamu benar benar mencintai seseorang, &lt;br /&gt;Jangan dengan mudah kita melepaskannya &lt;br /&gt;Berjuanglah demi cintamu... Fight for your dream&lt;br /&gt;”””Itulah cinta yang sejati..””&lt;br /&gt;BY:&lt;br /&gt;RIFQIE_FAUZI&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7890961627097092465-6056882962287957449?l=riefqie-yupss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/feeds/6056882962287957449/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/05/cinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/6056882962287957449'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/6056882962287957449'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/05/cinta.html' title='CINTA'/><author><name>Muh. Rifqi Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16755920782633062813</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/TOfawZe8c2I/AAAAAAAAAIo/dDxA3VkKIpY/S220/riefqie.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7890961627097092465.post-2939691874426390105</id><published>2009-04-20T10:47:00.000-07:00</published><updated>2010-04-25T01:36:14.906-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN'/><title type='text'>Hak-hak Anak</title><content type='html'>Hak-hak Anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam telah mengatur hak-hak anak dalam sekumpulan hukum yang mengatur kewajiban kedua orang tuanya, masyarakat di sekitarnya dan negara. Dengan demikian hak anak bukanlah hasil kesepakatan manusia yang lemah dan serba terbatas, namun hak anak merupakan kewajiban dari Allah kepada orang-orang yang harus memenuhinya. Karenanya pemenuhan hak anak adalah bagian dari ibadah atau bukti ketundukan mereka kepada Allah SWT, bukan sekedar aktivitas berdasarkan logika manusia semata atau sekedar aktivitas yang didorong oleh rasa kemanusiaan. Hak-hak anak yang harus dijamin pemenuhannya dalam Islam diantaranya:&lt;br /&gt;1. Hak untuk hidup&lt;br /&gt;Ketika Islam mengharamkan aborsi dan pembunuhan anak serta mengatur penangguhan pelaksanaan hukuman terhadap wanita hamil, pada saat itulah kita temukan pengaturan adanya hak untuk hidup bagi anak dalam Islam. Sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Isra’ ayat 31:&lt;br /&gt;Artinya: " Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberikan rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar."&lt;br /&gt;Aborsi hanya boleh dilakukan apabila kehamilan itu mengancam keselamatan nyawa ibu, sebab syara’ menetapkan bahwa keselamatan ibu harus diutamakan. Adapun alasan lain untuk aborsi tidak diperbolehkan sama sekali. Apabila ada yang melakukan aborsi, maka negara akan mengenakan sanksi berupa qishos atau diyat atas pembunuhan jiwa yang dilakukan. Sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Baqarah ayat 178:   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:"Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu qishosh berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh, orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapatkan pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang dimaafkan) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik…"&lt;br /&gt;Demikian juga untuk menjaga keselamatan janin, Islam telah mensyari’atkan agar pelaksanaan hukuman (had) terhadap wanita hamil ditangguhkan sampai ia melahirkan. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:&lt;br /&gt;"Apabila ada seorang di antara wanita membunuh secara sengaja, ia tidak boleh dijatuhi hukuman mati sampai ia melahirkan anaknya, jika ia memang sedang hamil. Dan bilamana seorang wanita berzina, ia tidak boleh dirajam sampai ia melahirkan anaknya jika ia sedang hamil dan sampai ia selesai merawatnya." (HR Ibnu Majah).&lt;br /&gt;Demi keselamatan janin Islam juga telah memberi keringanan bagi wanita hamil dalam menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Ia diperkenankan berbuka apabila ia tidak mampu atau apabila puasanya mengganggu pertumbuhan janin. Ia dapat mengganti puasanya di hari lain.&lt;br /&gt;2. Hak mendapatkan nama yang baik&lt;br /&gt;Abul Hasan meriwayatkan bahwa suatu hari seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad saw: "Ya Rasulullah, apakah hak anakkku dariku?" Nabi menjawab:"Engkau baguskan nama dan pendidikannya, kemudian engkau tempatkan ia di tampat yang baik."&lt;br /&gt;Sabda Rasulullah saw yang lain: "Baguskanlah namamu, karena dengan nama itu kamu akan dipanggil pada hari kiamat nanti." (HR Abu Dawud dan Ibnu Hibban)&lt;br /&gt;Nama anak adalah penting, karena nama dapat menunjukkan identitas keluarga, bangsa, bahkan aqidah. Ngatinem sudah pasti orang Jawa, Simorangkir jelas dari keluarga Batak, Cecep tentu dari keluarga Sunda dan Alhabsyi menunjukkan keluarga Arab. Islam menganjurkan agar orangtua memberikan nama anak yang menunjukkan identitas Islam, suatu identitas yang melintasi batas-batas rasial, geografis, etnis, dan kekerabatan. Selain itu nama juga akan berpengaruh pada konsep diri seseorang. Secara tak sadar orang akan didorong untuk memenuhi image (citra/gambaran) yang terkandung dalam namanya. Teori labelling (penamaan) menjelaskan kemungkinan seseorang menjadi jahat karena masyarakat menamainya sebagai penjahat. Memang boleh jadi orang akan berperilaku yang bertentangan dengan namanya. Seorang Fachry, apabila ia mengerti arti namanya, mungkin saja menjadi penjahat. Tetapi nama itu akan meresahkan batinnya, sehingga ia mengubah namanya atau ia mengubah perilakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hak penyusuan dan pengasuhan (hadlonah)&lt;br /&gt;Anak berhak mendapat penyusuan dari ibunya sebagaimana firman Allah SWT:&lt;br /&gt;Artinya:"Para ibu hendaknya menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (QS Al Baqoroh 233)&lt;br /&gt;Dari ayat ini jelaslah bahwa anak berhak untuk mendapatkan penyususan selama dua tahun. Jika ibu tidak mampu memberi ASI maka Islam mensyari’atkan penyusuan oleh wanita lain. Sebagaimana firman Allah SWT:&lt;br /&gt;Artinya:"Dan jika kamu menginginkan anak-anakmu disusukan oleh orang lain maka tidak ada dosa bagimu untuk memberikan pembayaran menurut yang patut."&lt;br /&gt;Penelitian medis dan psikologis menyatakan bahwa masa dua tahun pertama sangat penting bagi pertumbuhan anak agar tumbuh sehat secara fisik dan psikis. Oleh karena itu penetapan kewajiban bagi ibu menyusui bayinya sampai dua tahun merupakan jaminan bagi anak agar tumbuh dan berkembang dengan baik. Selama masa penyusuan anak mendapatkan dua hal yang sangat berarti bagi pertumbuhan fisik dan nalurinya. Yang pertama: anak mendapatkan makanan berkualitas prima yang tiada bandingannya. ASI mengandung semua zat gizi yang diperlukan anak untuk pertumbuhannya, sekaligus mengandung antibodi yang membuat anak tahan terhadap serangan penyakit. Yang kedua : anak mendapatkan dekapan kehangatan, kasih sayang dan ketentraman yang kelak akan mempengaruhi suasana kejiwaannya di masa mendatang. Perasaan mesra, hangat, dan penuh cinta kasih yang dialami anak ketika menyusu pada ibunya akan menumbuhkan rasa kasih sayang yang tinggi kepada ibunya.&lt;br /&gt;Islam juga mengatur masalah pengasuhan anak. Anak berhak mendapatkan pengasuhan yang baik sampai ia mampu mengurus dan menjaga diri sendiri. Pengasuhan merupakan jaminan keselamatan jiwa anak dari kehancuran. Seorang anak kecil tentunya bergantung kepada orang lain ketika ia harus makan, mandi , mengganti pakaiannya, dan lain-lain. Apabila pengasuhnya tidak bisa memberinya makan dengan baik, atau tidak bisa menjaga kebersihan dirinya, atau tidak bisa menjaga keselamatan fisiknya selama masa pengasuhan, tentu jiwanya terancam. Selain itu pengasuhan yang baik juga berpengaruh pada kondisi psikis anak. Pengasuhan yang memberinya rasa tenang dan aman akan menjamin kesehatan perkembangannya jiwanya .&lt;br /&gt;Islam menetapkan bahwa persoalan pengasuhan merupakan kewajiban dan sekaligus hak orang-orang tertentu. Islam pun telah menetapkan bahwa orang yang lebih berhak terhadap pengasuhan ini adalah orang yang paling dekat kekerabatannya dan paling terampil (ahli) dalam pengasuhan.&lt;br /&gt;Hadist yang diriwayatkan dari Amr bin Syu’aib dari kakeknya bahwa Rasulullah saw pernah ditemui seorang wanita, ia berkata:"Wahai Rasulullah, sesungguhnya anakku dulu dikandung dalam perutku, susuku sebagai pemberinya minum dan pangkuanku menjadi buaiannya. Sementara ayahnya telah menceraikanku, tetapi ia hendak mengambilnya dariku."Kemudian Rasulullah bersabda:"Engkau lebih berhak kepadanya selama engkau belum menikah"&lt;br /&gt;Islam menetapkan bahwa pihak wanita (ibu) lebih utama dalam pengasuhan ini. Atas dasar ini fuqoha menetapkan urutan orang-orang yang bertanggung jawab terhadap pengasuhan adalah:&lt;br /&gt;i. Ibu, nenek dari pihak ibu dan seterusnya jalur ke atas (jika masih hidup). Dalam hal ini didahulukan yang paling dekat hubungannya dengan anak.&lt;br /&gt;i. Ayah, nenek dari ayah dan seterusnya jalur ke atas (jika masih hidup), kakek, ibunya kakek dan seterusnya jalur ke atas, kakeknya ayah dan para ibunya.&lt;br /&gt;iii. Saudara perempuan, diutamakan yang seibu seayah, baru seayah, kemudian anak-anak mereka.&lt;br /&gt;iv. Saudara laki-laki, diutamakan yang seibu seayah, baru seayah, kemudian anak-anak mereka.&lt;br /&gt;v. Saudara perempuan ibu (kholah)&lt;br /&gt;vi. Saudara perempuan ayah (‘ammah)&lt;br /&gt;vii. Saudara laki-laki ayah (paman) yang seibu seayah, dan seayah saja.&lt;br /&gt;viii. Saudara perempuan nenek dari ibu&lt;br /&gt;ix. Saudara perempuan nenek dari ayah&lt;br /&gt;x. Saudara perempuan kakek dari ayah&lt;br /&gt;Apabila semua pihak dari kalangan ini tidak mampu, maka negara berkewajiban untuk memberikan pengasuhan anak ini ke pihak lainnya yang mampu dan dapat di percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hak mendapatkan kasih sayang&lt;br /&gt;Rasulullah saw mengajarkan kepada kita untuk menyangi keluarga, termasuk anak di dalamnya. Ini berarti Beliau saw mengajarkan kepada kita untuk memenuhi hak anak terhadap kasih sayang. Sabda Rasulullah saw:"Orang yang paling baik di antara kamu adalah yang paling penyayang kepada keluarganya."&lt;br /&gt;Rasulullah mengajarkan untuk mengungkapkan kasih sayang tidak hanya secara verbal, tetapi juga dengan perbuatan. Pada suatu hari Umar menemukan beliau saw merangkak di atas tanah, sementara dua orang anak kecil berada di atas punggungnya. Umar berkata:"Hai anak, alangkah baiknya rupa tungganganmu itu." Yang ditunggangi menjawab:"Alangkah baiknya rupa para penunggangnya". Betapa indah susasana penuh kasih sayang antara Rasul saw dengan cucu-cucu beliau.&lt;br /&gt;Seorang ahli (Dorothy Law Nolte) berujar:"Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan." Bila orang tua gagal mengungkapkan rasa sayang pada anak-anaknya, anak-anak tersebut tak akan mampu menyatakan sayangnya kepada orang lain.&lt;br /&gt;5. Hak mendapatkan perlindungan dan nafkah dalam keluarga&lt;br /&gt;Ketika Islam memberikan kepemimpinan kepada seorang ayah di dalam keluarga, saat itulah anggota keluarga yang lain, termasuk anak di dalamnya, mendapatkan hak perlindungan dan nafkah dalam keluarga. Firman Allah dalam surah An-Nissa’ ayat 34:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:"Laki-laki adalah pemimpin (qowwam) bagi wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) menafkahkan sebagian dari harta mereka".&lt;br /&gt;Firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 233:&lt;br /&gt;Artinya;"… Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dangan cara yang ma’ruf…"&lt;br /&gt;Kemudian firman Allah dalam surah Ath - Thalaq ayat 6:&lt;br /&gt;Artinya:"Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu…"&lt;br /&gt;Sebagai pemimpin dalam keluarga, seorang ayah tentu bertanggungjawab atas keselamatan anggota keluarganya, termasuk anaknya. Ia akan melindungi anaknya dari hal-hal yang membahayakan anaknya baik fisiknya maupun psikisnya. Demikian juga ia berkewajiban memberi nafkah berupa pangan, sandang, dan tempat tinggal kepada anaknya.&lt;br /&gt;Apabila kepala keluarga tidak dapat mencukupi nafkah keluarganya, atau ayah telah meninggal dunia, maka wali dari anak (diantaranya paman dari ayah, saudara laki-laki, dan kakek) diberi kewajiban mencukupi nafkah keluarga tersebut. Apabila jalur kerabat tidak ada yang bisa mencukupi nafkah anak, maka negaralah yang berkewajiban memberi nafkah kepada anak. Negara menyalurkan zakat atau sumber keuangan lain yang hak kepada keluarga yang tidak mampu. Bagaimanapun keadaannya, tidak pernah seorang anak harus menafkahi dirinya sendiri.&lt;br /&gt;6. Hak pendidikan dalam keluarga&lt;br /&gt;Orang tua diberi kewajiban memenuhi hak anak akan pendidikan sehingga ia menjadi seorang muslim yang berkualitas. Sebagaimana firman Allah dalam QS At-Tahrim ayat 6:&lt;br /&gt;Artinya:"Wahai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…"&lt;br /&gt;Rasulullah juga mengajarkan betapa besarnya tanggung jawab orang tua dalam pendidikan anak. Sabdanya saw:"Tidaklah seorang anak yang lahir itu kecuali dalam keadaan fitrah. Kedua orangtuanya yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi."(HR Muslim).&lt;br /&gt;Anak pertama kali mendapatkan hak pendidikannya di keluarga, sebelum ia mendapatkan pendidikan di sekolah. Mendidik anak adalah tanggung jawab bersama antara ibu dan ayah, sehingga diperlukan pasangan yang seaqidah, dan sepemahaman dalam pendidikan anak. Jika tidak demikian tentunya sulit mencapai tujuan pendidikan anak dalam keluarga.&lt;br /&gt;Anak pertama kali mendapatkan pengajaran nilai-nilai tauhid dari kedua orang tuanya, demikian juga mengenai ajaran-ajaran Islam yang lain. Anak mendapatkan pendidikan yang lebih banyak berupa contoh (teladan) dari kedua orang tuanya, di samping pendidikan dalam bentuk lisan, pembiasaan dan pemberian sanksi.&lt;br /&gt;7. Hak mendapatkan kebutuhan pokok sebagai warga negara&lt;br /&gt;Sebagai warga negara, anak juga mendapatkan haknya akan kebutuhan pokok yang disediakan secara massal oleh negara kepada semua warga negara. Kebutuhan pokok yang disediakan secara massal oleh negara meliputi: pendidikan di sekolah, pelayanan kesehatan, dan keamanan.&lt;br /&gt;Pelayanan massal ini merupakan pelaksanaan kewajiban negara terhadap penguasa kepada rakyatnya, seperti sabda Rasulullah saw:&lt;br /&gt;"Seorang imam (pemimpin) adalah bagaikan penggembala, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya."(HR Ahmad, Syaikhan, Tirmidzi, Abu Dawud, dari Ibnu Umar)&lt;br /&gt;Apabila hak-hak anak seperti yang disebutkan di atas dipenuhi maka anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang berkualitas: menjadi orang bertaqwa yang mampu mengendalikan hawa nafsunya sesuai perintah dan larangan Allah serta mampu mengelola kehidupan dunia dengan ilmu dan ketrampilannya. Kebutuhan fisiknya terpenuhi: kebutuhan gizinya terpenuhi, kebutuhan sandang dan perumahan yang memenuhi syarat kesehatan terpenuhi, dan apabila ia sakit tidak ada hambatan baginya untuk mendapatkan pengobatan. Demikian pula ia tumbuh dalam suasana penuh kasih sayang, tentram dan aman. Dalam kondisi fisik dan psikis yang baik ia bisa melewati proses pendidikan sesuai fase perkembangannya di dalam keluarga, juga pendidikannya di sekolah secara optimal. Dengan demikian ia bisa menguasai dengan baik tsaqofah Islam, ilmu pengetahuan dan teknologi serta ketrampilan yang diajarkan di sekolah untuk bekal kehidupannya kemudian hari.&lt;br /&gt;Pandangan Terhadap Anak&lt;br /&gt;Cara pandang yang benar terhadap anak merupakan langkah awal menuju optimalnya usaha pemenuhan hak-hak anak. Islam mengajarkan untuk memandang anak sebagai: perhiasan di dunia, aset&lt;br /&gt;pahala bagi orang tua di hari akhirat, dan aset generasi di masa depan.&lt;br /&gt;Anak sebagai perhiasan dunia&lt;br /&gt;Anak-anak merupakan perhiasan kehidupan dunia yang akan menyenangkan hati orang tua. Sebagaimana firmanNya:&lt;br /&gt;Artinya:"Harta benda dan anak-anak itu sebagai perhiasan hidup di dunia" (QS Al Kahfi ayat 46) Dan firmanNya:&lt;br /&gt;Artinya:"Wahai Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami (agar) istri kami dan anak cucu kami sebagai penyejuk pandangan mata"(QS Al-Furqon ayat 74)&lt;br /&gt;Orangtua dapat merasakan kepuasan dan kesenangan atas kehadiran anak, bila pada dirinya masih eksis fitrah insaninya. Setiap manusia mempunyai fitrah untuk mempertahankan keturunannya. Manifestasi fitrah tersebut antara lain berupa rasa cinta kepada anak dan rasa sayang kepada orang tua. Fitrah ini memang tidak akan pernah hilang, tetapi bisa tertutupi oleh hal-hal lain yang bertentangan dengan fitrah tersebut. Misalnya tertutupi oleh pemikiran-pemikiran sesat yang bertolak belakang dengan fitrah kemanusiaan. Oleh karena itu keberadaan fitrah ini harus dijaga agar senantiasa eksis.&lt;br /&gt;Keberadaan fitrah inisani merupakan ‘modal dasar’ terjaminnya perlindungan hak anak oleh keluarga. Eksisnya rasa sayang orangtua kepada anak dan keberadaan anak yang membawa kesenangan bagi orang tua akan membuat orang tua rela berkorban apa saja untuk memenuhi semua hak anak.&lt;br /&gt;Anak sebagai jaminan bagi orangtua di hari kiamat&lt;br /&gt;Orangtua yang telah bersusah payah membesarkan, memelihara dan mendidik anak-anaknya dengan sabar akan mendapat ganjaran yang sangat besar dari Allah SWT, yakni surga. Sebagaimana riwayat dari Auf bin Malik ra bahwa Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa memiliki tiga orang anak perempuan yang dinafkahinya dengan baik sampai mereka menikah atau meninggal dunia, maka anak-anak itu menjadi tabir baginya dari neraka." (HR Al-Baihaqi)&lt;br /&gt;Juga riwayat dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda:"Ada seorang hamba yang ditinggikan derajatnya. Lalu ia bertanya: Wahai Rabbku, mengapa derajat ini diberikan kepadaku? Allah berfirman: Sebab permohonan ampun anakmu untukmu sesudah meninggalmu"(HR Ahmad, Ibnu majah, dan Al-Baihaqi)&lt;br /&gt;Orangtua mana yang tidak termotivasi dengan janji Allah akan surga dan derajat yang tinggi di hadapan Allah ? Pastilah orang tua yang tidak mengharapkan keridloan Allah, atau yang lebih mengejar kenikmatan dunia dibanding kekekalan kebahagiaan di akhirat.&lt;br /&gt;Anak sebagai aset masa depan umat&lt;br /&gt;Islam mensyariatkan pernikahan bagi umatnya. Bahkan mencela orang-orang yang tidak mau menikah (tabattul). Islam juga menganjurkan agar laki-laki memilih calon istri dari kalangan yang wanita yang penyayang, subur, dan beragama. Sebab salah satu tujuan pernikahan adalah lahirnya anak-anak sebagai pewaris orangtuanya, baik pewaris harta maupun pewaris tanggung jawab dalam mengemban risalah Islam. Sebagaimana riwayat dari Anas ra, ia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Rasulullah saw menganjurkan para pemuda untuk kawin dan melarang keras untuk tabattul. Dan beliau bersabda:’Kawinlah kalian dengan wanita-wanita yang penyayang dan subur. Sesungguhnya dengan kalian saya ingin memperbanyak ummat di antara para nabi pada hari kiamat nanti." (HR Imam Ahmad dan Abu Hakim)&lt;br /&gt;"Perempuan itu dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah perempuan yang beragama, niscaya kamu akan beruntung"(HR Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam juga mensyariatkan untuk memperhatikan kualitas generasi penerusnya. Sebagaimana QS An-Nissa’ ayat 9:&lt;br /&gt;Artinya:"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka…"&lt;br /&gt;Dari hadist dan ayat di atas dapat dipahami bahwa ada tuntutan bagi kaum muslimin untuk menjamin kelestarian generasi masa depan dan mewujudkan generasi yang berkualitas baik. Generasi tersebut adalah generasi yang diridhoi oleh Allah SWT dan mampu memimpin manusia dengan risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw.&lt;br /&gt;Pihak-pihak Yang Bertanggung Jawab atas Pemenuhan Hak Anak&lt;br /&gt;Kesadaran bahwa anak adalah aset masa depan umat mengharuskan semua pihak memberikan perhatian penuh kepada anak agar mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi generasi yang berkualitas prima. Keluarga, masyarakat dan negara bahu-membahu untuk memenuhi hak-hak anak.&lt;br /&gt;Orangtua dan anggota keluarga yang lain berupaya bersungguh-sungguh memenuhi hak anak. Apabila ada keluarga yang mengabaikan kewajibannya memenuhi hak anak, masyarakat di sekitarnya menasehatinya. Dengan kekuasannya negara dapat memaksa seseorang untuk menjalankan kewajibannya. Apabila tetap menolak dapat dijatuhkan sanksi pidana. Negara membuat kebijakan-kebijakan dan peraturan-peraturan yang membuat keluarga mampu memenuhi hak-hak anak dalam keluarga. Misalnya agar seorang kepala keluarga mampu menafkahi anaknya, maka negara menyediakan lapangan pekerjaan yang layak baginya. Dalam kondisi sementara, bisa saja negara mengambil alih tanggung jawab keluarga memnuhi hak anak apabila keluarga itu tidak mampu melakukannya.&lt;br /&gt;Masyarakat ikut menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pemenuhan hak-hak anak, bukan malah menjadi pihak yang merampas hak-hak anak. Dalam suasana amar ma’ruf nahi mungkar masyarakat ikut mengawasi pemenuhan hak anak oleh keluarga dan negara. Apabila ada yang tidak berjalan baik akan ada "tekanan dari masyarakat" agar keluarga atau negara memperbaiki hal yang tidak beres itu. Apabila ada bagian dari masyarakat yang membahayakan anak, misalnya adanya televisi swasta yang menyiarkan acara-acara yang merusak nilai-nilai yang didapatkan dari pendidikan dalam keluarga atu di sekolah, maka negara berwenang menghentikan acara tersebut, dan memberi sanksi pidana kepada pemimpin televisi tersebut.&lt;br /&gt;Negara, selain menjadi pelaksana pemenuhan hak-hak juga sebagai pengontrol pemenuhan hak-hak anak oleh keluarga dan masyarakat. Bagaimana jika negara yang lemah ? Jika negara lemah maka keluarga atau masyarakatlah yang menasehati penguasa negara. Selama penguasa dan rakyat berpegang pada ajaran Islam dalam memecahkan masalah kehidupan maka pastilah masalah itu dapat terselesaikan. Sebagaimana firman Allah dalam surah An-Nahl ayat 89:&lt;br /&gt;Artinya:"…Dan Kami turunkan kepadaMu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri."&lt;br /&gt;Dengan catatan penguasa dan rakyat mau mengambil Islam secara menyeluruh, bukan mengambil sebagian dan membuang sebagian yang lain.&lt;br /&gt;"Apa saja (semua) yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah ia. Dan apa saja (semua) yang dilarangnya bagimua maka tinggalkanlah." (QS Al Hasyr ayat 7)&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Islam memiliki rincian mengenai hak-hak anak dan bagaimana hak-hak tersebut dapat dipenuhi. Menghadapi kondisi buruk anak pada saat ini, seharusnyalah kita sebagai orang yang beraqidah Islam, sebagai bagian dari keluarga dan masyarakat, menyelesaikan masalah anak yang ada berdasarkan ajaran Islam. Pada saat kita menyadari begitu banyak hak anak yang tidak terpenuhi karena negara tidak memenuhinya, pada saat itulah seharusnya kita mulai berjuang untuk menegakkan kekuasaan Islam yang mengaplikasikan ajaran Islam dalam bentuk perundang-undangan negara secara menyeluruh. Wallahu a’lam bish-showab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7890961627097092465-2939691874426390105?l=riefqie-yupss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/feeds/2939691874426390105/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/04/hak-hak-anak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/2939691874426390105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/2939691874426390105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/04/hak-hak-anak.html' title='Hak-hak Anak'/><author><name>Muh. Rifqi Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16755920782633062813</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/TOfawZe8c2I/AAAAAAAAAIo/dDxA3VkKIpY/S220/riefqie.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7890961627097092465.post-8444343084270870824</id><published>2009-03-27T11:32:00.000-07:00</published><updated>2010-04-25T01:36:14.906-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN'/><title type='text'>GEJALA LOMPATAN PERKEMBANGAN  PADA ANAK GIFTED</title><content type='html'>PSIKOLOGI ANAK-ANAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GEJALA LOMPATAN PERKEMBANGAN&lt;br /&gt;PADA ANAK GIFTED&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: gejala-gejala di bawah ini dapat dilihat oleh dokter anak tumbuh kembang melalui pemeriksaan tumbuh kembang secara berkala, mengikuti patokan normal populasi setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERIODE BAYI&lt;br /&gt;Pada perkembangan nol hingga 2,5 tahun, masih terlalu dini untuk memberi label sebagai anak gifted, namun kepadanya diberi label lain yaitu anak dengan lompatan perkembangan&lt;br /&gt;(kinderen met ontwikkeling voorsprong). Pada anak tersebut terdapat beberapa gejala yang dapat menunjukkan bahwa kelak anak tersebut akan berkembang menjadi anak gifted. Gejalagejala ini umumnya akan dikenal kembali oleh orang tuanya jika melihat kembali masa-masa lalunya.&lt;br /&gt;Gejala&lt;br /&gt;• Lebih besar dan lebih berat dari rata-rata anak yang lahir&lt;br /&gt;• Tak sabaran&lt;br /&gt;• Cepat dalam perkembangan membalas senyuman dan melihat ke sekililing&lt;br /&gt;• Waktu tidur yang sedikit&lt;br /&gt;• Sangat alert&lt;br /&gt;• Sangat sensitive&lt;br /&gt;• Perkembangannya cepat&lt;br /&gt;• Mempunyai pola yang tetap dan teratur&lt;br /&gt;• Seringkali sangat tergantung, seringkali menuntut perhatian lebih&lt;br /&gt;• Mempunyai daya ingat yang kuat&lt;br /&gt;Untuk perilaku tertentu, menunjukkan lebih cepat berkembang dibanding rata-rata (tergantung pada minggu atau bulan tertentu diusia bayi):&lt;br /&gt;Motorik halus:&lt;br /&gt;• Melihat ke tangannya&lt;br /&gt;• Memainkan kedua tangannya di depannya&lt;br /&gt;• Mengambil blokje&lt;br /&gt;• Mengambil blokje kedua dengan tangan yang lain&lt;br /&gt;• Mengambil dan memasukkan blokje dari kotak&lt;br /&gt;• Bermain memberi dan menerima&lt;br /&gt;Motorik kasar:&lt;br /&gt;• Akan stabil jika dilepas&lt;br /&gt;• Merangkak dengan perut di lantai&lt;br /&gt;• Menegakkan badan&lt;br /&gt;• Merambat&lt;br /&gt;• Jalan&lt;br /&gt;Komunikasi dan perkembangan personalitas&lt;br /&gt;• Membalas senyuman&lt;br /&gt;• Bereaksi terhadap namanya&lt;br /&gt;• Mengatakan dada, baba, gaga&lt;br /&gt;• Bereaksi jika dipanggil namanya&lt;br /&gt;• Melambaikan tangan dag dag&lt;br /&gt;• Berbicara dengan dua kata yang mempunyai makna&lt;br /&gt;• Memahami beberapa kalimat yang digunakan sehari-hari&lt;br /&gt;• Dapat menolong diri sendiri&lt;br /&gt;• Bermain dengan anak lain&lt;br /&gt;• Mempunyai pendapat sendiri&lt;br /&gt;• Dapat diberitahu/perintah&lt;br /&gt;• Mempunyai inisiatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Tidak semua anak gifted mempunyai gejala yang lengkap sebagaimana di atas, namun secara umum mempunyai gejala-gejala yang banyak dari daftar di atas. Anak-anak yang lahir premature dapat saja berkemungkinan kelaknya ternyata adalah anak-anak gifted. Dari laporan para orang tua, umumnya anak-anak ini di minggu pertama sudah dapat membalas senyuman. Mata mengikuti gerakan juga sangat cepat berkembang. Banyak dari bayi-bayi ini yang mempunyai jam tidur sedikit. Pada dasarnya banyak yang menggambarkan anaknya merupakan anak yang hiperaktif, yang menuntut ekstra enerji&lt;br /&gt;dari orang tuanya.&lt;br /&gt;Bayi-bayi ini mempunyai perkembangan merangkak dan berjalan yang lebih cepat dari jadwal rata-rata. Umumnya berjalan sebelum usia satu tahun. Yang jelas bila dibandingkan dengan perkembangan rata-rata akan sangat nampak bahwa bayi-bayi ini mempunyai lompatan perkembangan. Perilaku overaktif nampak sebagai akibat dari perkembangan sistem neuromuskularnya, yang telah diketahui bahwa perkembangan sistem persyarafan anak-anak gifted akan memakan waktu lebih lama daripada rata-rata anak. Karenanya juga anak-anak ini mempunyai sistem pancaindera yang sangat sensitif, misalnya terhadap ransang raba, cahaya, dan suara. Disamping itu ketahanan tubuhnya juga sangat sensitif dan menjadi&lt;br /&gt;rentan. Yang perlu dijelaskan juga adalah bahwa sangat banyak anak-anak gifted yang mengalami alergi misalnya terhadap bahan pewarna dan penambah rasa.&lt;br /&gt;Kebanyakan bayi akan membawa pengalaman dan kesan-kesannya turut dalam tidurnya.&lt;br /&gt;Bayi-bayi ini akan lebih tenang jika dikembalikan pada pola-pola yang teratur dan&lt;br /&gt;tertentu. Bila hal ini dilanggar maka anak-anak ini akan bereaksi terhadap situasi, marah dan selalu menangis. Dalam kurva berat badan dan tinggi badan, perlu diamati seberapa jauh pertumbuhannya bila dibandingkan dengan rata-rata anak seusianya. Dalam pemeriksaan berkala dapat dilihat juga kapan anak-anak ini merangkak, berjalan dan seterusnya. Bila ia melebihi di atas rata-rata anak seusianya terutama perkembanga motorik dan kognitif, maka dapat diartikan bahwa bayi-bayi ini mempunyai lompatan perkembangan.&lt;br /&gt;SARAN yang dapat diberikan oleh dokter tumbuh kembang pada orang tua:&lt;br /&gt;• Sedapat mungkin tidur siang dipercepat sepagi mungkin, setidaknya di akhir jam-jam pagi hari.&lt;br /&gt;• Istirahatlah saat anak tengah tidur&lt;br /&gt;• Orang tua juga perlu menyediakan waktu luang untuk diri sendiri&lt;br /&gt;• Bila di boks bayinya ia masih bangun, cobalah putar musik lembut untuknya&lt;br /&gt;• Perhatikan yang dapat merangsang inderanya, terutama bunyian, sentuhan, dan&lt;br /&gt;cahaya (anak-anak ini sangat sensitive terhadap berbagai rangsangan itu)&lt;br /&gt;• Buatlah kestrukturan dan keteraturan kegiatan&lt;br /&gt;• Terimalah keadaan ini&lt;br /&gt;TIPS bagi dokter tumbuh kembang&lt;br /&gt;• Waspadalah jika ada laporan orang tua tentang perkembangan, gangguan tidur, banyak&lt;br /&gt;gerak yang meminta enerji ekstra dari orang tua&lt;br /&gt;• Bila anak itu tidak melalui fase merangkak, selanjutnya perkembangan motoriknya&lt;br /&gt;harus mendapatkan perhatian, jika perlu minta bantuan pada fisioterapi&lt;br /&gt;• Beri berbagai tip misalnya dalam masalah tidur&lt;br /&gt;• Gunakan juga berbagai tes yang sebetulnya untuk tes-tes yang akan datang&lt;br /&gt;• Anjurkan orang tua untuk mencari bantuan keluarga. Dalam kaitannya dengan&lt;br /&gt;mengatasi masalah sensoris, meletakkan bayi di day care tidak selalu sebagai&lt;br /&gt;pemecahan masalah.&lt;br /&gt;• Beri orang tua hasil laporan pemeriksaan anda untuk diberikan juga ke pihak sekolah&lt;br /&gt;(taman bermain atau taman kanak-kanak). Hal ini akan menjadi upaya menolong&lt;br /&gt;orang tua dan merupakan awal yang baik dalam menanganinya.&lt;br /&gt;USIA 1-4 TAHUN&lt;br /&gt;Balita usia 2,5 – 4 tahun dengan lompatan perkembangan biasanya tidak terlalu banyak masalah bila dibandingkan dengan masa-masa bayinya. Anak-anak ini belajar segala sesuatu sangat cepat. Mereka menuntut jawab bagi banyak pertanyaannya untuk mendapatkan informasi, dan mereka juga mengerjakan sesuatu yang berbeda-beda. Dalam upaya eksplorasinya yang antusias itu umumnya ia melihat peralatan atau alat-alat mainnya secara cepat sekali, sehingga sebagai orang tua harus terus menerus berupaya mencari sesuatu yang baru dan menantang. Seringkali juga menyulitkan. &lt;br /&gt;Gejala&lt;br /&gt;• Mempunyai keterikatan pada pola yang sama&lt;br /&gt;• Mandiri&lt;br /&gt;• Mempunyai loncatan perkembangan kognitif&lt;br /&gt;• Motorik halus&lt;br /&gt;• Tidak bisa bermain dengan teman sebaya, namun lebih menyukai dengan yang lebih tua&lt;br /&gt;• Konsentrasi terhadap tugas&lt;br /&gt;• Perfeksionisme&lt;br /&gt;• Seringkali belajar membaca dan berhitung sendiri&lt;br /&gt;• Berkemampuan logik dan analisa yang baik&lt;br /&gt;• Mempunyai perhatian yang luas dengan apa yang terjadi di sekitarnya&lt;br /&gt;Dalam melihat gejala-gejala tidak selalu semua gejala akan dipenuhi, namun seringkali terjadi yang terbanyak adalah mempunyai gejala-gejala di atas.&lt;br /&gt;Untuk melihat adanya lompatan perkembangan umumnya kita dapat mengamati pemahaman apa saja yang sudah dimiliki anak:&lt;br /&gt;• Penjumlahan (banyak/sedikit, lebih/kurang)&lt;br /&gt;• Pemahaman waktu (hari ini, besok)&lt;br /&gt;• Pemahaman hitungan&lt;br /&gt;• Jumlah dafatr kata-kata yang dimiliki dan penggunaan bahasa dibandingkan dengan anak seusianya&lt;br /&gt;• Mempunyai kemampuan observasi yang baik&lt;br /&gt;• Berpikir logik (sebab akibat)&lt;br /&gt;Tentang perkembangan kognitif ini kita tak perlu menekankan akan menyebabkan masalah. Biarkan si anak mengembangkan dirinya melalui apa saja yang ia inginkan. Jangan menghambat perkembangan kognitif misalnya dengan cara melarangnya.&lt;br /&gt;Observasi motorik halusnya melalui:&lt;br /&gt;• Koordinasi mata-tangan saat bekerja&lt;br /&gt;• Menggambar boneka sebagai ganti menggambar “koppoter” (boneka jabrik atau&lt;br /&gt;orang-orangan sawah)&lt;br /&gt;• Menempel dan menyobek&lt;br /&gt;• Menyusun manik-manik&lt;br /&gt;• Mewarnai dengan potlod&lt;br /&gt;• Menggambar pinggiran&lt;br /&gt;• Meletakkan puzzel kecil-kecil&lt;br /&gt;Masalah-masalah yang dapat terjadi dalam perkembangan yang buruk&lt;br /&gt;Bila seorang anak balita tidak terdeteksi sebagai anak yang mempunyai lompatan&lt;br /&gt;perkembangan, maka akan menyebabkan masalah dalam perkembangan sosial emosionalnya.&lt;br /&gt;Semakin lambat anak ini terdeteksi, masalah yang ditimbulkan akan semakin besar. Pada anak-anak balita kita dapat mengamatinya dari beberapa perilaku di bawah ini.&lt;br /&gt;Perkembangan Sosial&lt;br /&gt;• Si anak mengalami kesulitan bila harus melakukan kontak dengan anak-anak lainnya&lt;br /&gt;• Diajuhi oleh teman-temannya&lt;br /&gt;• Mengganggu permainan atau pekerjaan teman lain&lt;br /&gt;• Banyak terlibat dalam perkelahian dan konflik&lt;br /&gt;• Sulit diajak bekerjasama&lt;br /&gt;• Sulit berbagi dengan teman lain&lt;br /&gt;• Sulit menerima pendapat orang lain&lt;br /&gt;• Suka mengolok&lt;br /&gt;• Sulit menerima kekalahan&lt;br /&gt;• Kurang mengambil inisiatif untuk kontak sosial&lt;br /&gt;Perkembangan emosional&lt;br /&gt;• Anak menjadi pendiam dan menarik diri&lt;br /&gt;• Takut menunjukkan dirinya&lt;br /&gt;• Takut bertanya dan takut menjelaskan sesuatu&lt;br /&gt;• Kurang percaya diri dan merasa tidak yakin&lt;br /&gt;• Menuntut banyak perhatian dari guru dan teman-temannya&lt;br /&gt;• Seringkali menjadi agresif terhadap anak-anak lain&lt;br /&gt;• Sulit turut dalam aturan permainan/peraturan dalam kelompok&lt;br /&gt;• Sedikit mengeluarkan perasaannya&lt;br /&gt;• Bereaksi secara ekstrim dalam kontak fisik&lt;br /&gt;• Tidak menikmati sekolah&lt;br /&gt;• Selalu bermasalah jika harus berangkat tidur&lt;br /&gt;• Kebiasaan yang khas yang selalu muncul (menggigit kuku, keras kepala tidak mau diberitahu)&lt;br /&gt;• Menjadi brutal dan agresif&lt;br /&gt;• Hiperaktif dan banyak gerak&lt;br /&gt;• Pelamun&lt;br /&gt;• Tegang&lt;br /&gt;GEJALA-GEJALA YANG SERING DILAPORKAN ORANG TUA&lt;br /&gt;Gejala yang sering disampaikan orang tua pada dokter tumbuh kembang dan dokter sekolah, bukan dimaksudkan untuk menegakkan diagnosa bahwa ia seorang anak gifted. Namun bias berupa indikasi kemungkinan si anak adalah anak yang mengalami lompatan perkembangan.&lt;br /&gt;1. Selalu sibuk yang sangat intens. Kebutuhannya untuk menyibukkan diri pada anak ini lebih intensif bila dibandingkan ratarata anak seusianya. Ia lebih aktif, dan selalu ingin melakukan segala sesuatu terus menerus.&lt;br /&gt;2. Banyak enerji&lt;br /&gt;Sekalipun ia mempunyai aktifitas yang banyak beberapa diantaranya justru kebutuhan tidurnya lebih sedikit daripada anak-anak balita lainnya. Pekerjaan orang tua juga menjadi lebih banyak. Orang tua menjadi terlalu lelah.&lt;br /&gt;3. Perkembangan bahasa&lt;br /&gt;Perkembangan ini umumnya berkembang cepat sejak awal. Kadang diikuti dengan bahasa aktif berkembang belakangan (ketertinggalan perkembangan bicara), namun ia akan menyusul ketertinggalan perkembangan itu dengan cepat. Ia mempunyai daftar kata-kata yang banyak, penggunaan kata-kata yang lebih intensif dan menggunakan kata-kata abstrak.&lt;br /&gt;4. Kebutuhan akan pengetahuan&lt;br /&gt;Anak-anak ini selalu ingin tahu, mengingatnya dengan baik, dan menggunakannya secara langsung dan baik. Kebutuhan akan pengetahuan adalah kebutuhan internalnya dan tidak tergantung pada imbalan. Si anak mengambil inisiatif sendiri, bertanya terus menerus dan tidak puas dengan jawaban yang tidak jelas. Kita sudah mengetahui bahwa diusia tiga tahun adalah usia dimana anak selalu bertanya “mengapa”, namun pada anak-anak yang mengalami lompatan perkembangan ini ia akan bertanya tanpa putus-putusnya. Seringkali anak-anak ini membuat pertanyaan baru dari jawaban atas pertanyaan yang lalu.&lt;br /&gt;5. Kosentrasi dan tugas Anak balita ini dapat secara mandiri intens dan dalam waktu yang lama mengerjakan apa yang dipilihnya.&lt;br /&gt;6. Kearah perfeksionisme Ia akan selalu mencoba hingga ketrampilan itu dicapainya. Tetapi dapat juga ingin mencapai sesuatu secara perfek tanpa harus melakukan latihan. Dengan cara mengkritik diri sendiri biasanya ketrampilan ini dapat dikuasinya.&lt;br /&gt;7. Kemandirian&lt;br /&gt;Sejak dari usia sangat muda sudah selalu menginginkan mengerjakan sesuatu sendiri. Lebih memilih mencoba tanpa henti-hentinya dan tidak mau menerima bantuan. Dengan cara dimana ia melakukannya sendiri itu, maka pada anak-anak ini akan berkembanglah identitas diri yang kuat.&lt;br /&gt;8. Perhatian terhadap kehidupan&lt;br /&gt;Sejak usia tiga atau empat tahun ia sudah mulai memikirkan tentang kehidupan dan untuk itu ia selalu mengajukan pertanyaan yang dalam. Ia tidak hanya ingin tahu dari mana manusia berasal, tetapi juga kemana mereka kelak perginya. Pemikiran-pemikiran ini sudah muncul sejak anak tersebut masih sangat muda yang sering membawanya pada pemikiran bahwa hidup ini sesungguhnya percuma. Balita yang lebih besar kelak umumnya mempunyai kebiasaan tidur yang semakin buruk. Banyak yang menjelaskan bahwa mereka memang lelah, tetapi masih banyak yang harus dipikirkan. Pertanyaan terbanyak yang paling kompleks adalah sekitar seberapa banyak jam tidur yang dapat diharapkan. Mereka juga mencoba, sebagaimana diri mereka yang kreatif, segala sesuatu harus ada alasannya untuk berpikir agar tidak pergi tidur: lupa mengerjakan  sesuatu, ada yang masih harus diselesaikan, dan seterusnya. Namun harus selalu diupayakan agar ia mempunyai jam tidur yang tetap. Upayakan hindari diskusi atau konflik. Letakkan peraturan yang tegas.&lt;br /&gt;Tips untuk orang tua&lt;br /&gt;• Buatlah pola yang tetap dan keteraturan&lt;br /&gt;• Upayakan setiap malam menjelang tidur agar si anak ke kamarnya pada jam yang tetap, dan biarkan ia berada di sana (Bila tak bisa tidur, biarlah jangan dipaksa tetapi upayakan agar ia tetap di dalam kamarnya mengerjakan sesuatu yang masih harus dikerjakannya) sampai waktu tertentu.&lt;br /&gt;• Stimulasi agar responsive&lt;br /&gt;• Jangan mencoba untuk menghambat perkembangan&lt;br /&gt;• Jangan menuntut terlalu tinggi&lt;br /&gt;• Belilah mainan dimana ia memang sudah dapat menggunakannya&lt;br /&gt;• Carilah mainan yang aman bagi anak-anak&lt;br /&gt;• Bicaralah dengan anak pada tingkatan dirinya&lt;br /&gt;• Bacalah sebanyak mungkin tentang anak gifted&lt;br /&gt;• Perhatikan apakah perkembangannya sejak bayi memang berjalan dengan cepat&lt;br /&gt;• Laporkan hal ini pada guru TK/SD&lt;br /&gt;Deteksi sedini mungkin anak-anak ini setidaknya dua bulan sebelum anak-anak ini pergi ke sekolah. Seorang anak gifted memerlukan layanan dan perencanaan pendidikan individual.&lt;br /&gt;GEJALA YANG TERSERING DITEMUI OLEH ORANG TUA&lt;br /&gt;• Gambarannya berbeda antara di sekolah dan di rumah&lt;br /&gt;• Di sekolah ia mengerjakan sesuatu yang seringkali justru di rumah sudah lama tidak dikerjakannya lagi&lt;br /&gt;• Anak sering mengalami keluhan psikosomatis (sakit perut, sakit kepala) saat harus berangkat ke sekolah&lt;br /&gt;• Si anak semakin hari semakin tidak mau berangkat ke sekolah, menurutnya tidak&lt;br /&gt;menyenangkan. Di taman bermain seringkali terjadi:&lt;br /&gt;• Anak tidak dapat bermain dengan anak lain, atau hanya dengan anak yang lebih tua&lt;br /&gt;• Anak menunjukkan perilaku yang mengganggu, nakal&lt;br /&gt;• Menuntut banyak perhatian&lt;br /&gt;• Mempunyai motorik yang baik: lompat, engklek, menangkap bola&lt;br /&gt;Anak-anak dengan lompatan perkembangan mempunyai perkembangan kemampuan observasi yang cepat. Sebelum usia satu tahun ia sudah melakukan hal itu. Didukung dengan daya ingatnya yang kuat dan kemampuan pemecahan masalah ia menjadi pelajar yang sangat cepat. Di usianya yang ke 2 ½ - 3 tahun kita sudah dapat melihat bahwa ia mulai kehilangan hubungan dengan anak-anak teman sepermainannya. Ia lebih menyukai anak yang lebih besar.&lt;br /&gt;Saat anak itu masuk sekolah dasar banyak orang tua berpikir: “akhirnya masalahnya terpecahkan”, namun bila terjadi salah bimbingan maka justru akan lebih bermasalah. Adalah hal yang penting pada anak yang mempunyai lompatan perkembangan harus kita observasi secara baik. &lt;br /&gt;Tips hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian saat observasi:&lt;br /&gt;• Mereka umumnya sangat sensitive&lt;br /&gt;• Mereka selalu mencoba untuk menghindari kondisi jatuh/merosot&lt;br /&gt;• Mereka meminta selalu lebih daripada anak-anak lain&lt;br /&gt;• Mereka sering sudah mengetahui sejak muda sekali bahwa dirinya berbeda&lt;br /&gt;• Dalam kelompoknya seringkali ia bekerja berada di bawah tingkatan kemampuannya&lt;br /&gt;• Baginya dirasa tidak menyenangkan (keterlaluan) bila mereka hanya dibicarakan&lt;br /&gt;tentang ketertinggalannya&lt;br /&gt;• Kontak sosial dengan anak-anak gifted lainnya dapat memberikan hasil positif dalam perkembangan sosial emosionalnya. Akan sangat bermanfaat jika dokter tumbuh kembang dan dokter sekolah meminta orang tua membuat laporan tertulis tentang perkembangan anaknya. Begitu juga pihak sekolah dapat melaporkan gejala-gejala yang ditemuinya. Pihak sekolah dapat juga menggunakan formulir&lt;br /&gt;laporan perkembangan 0-4 tahun yang sudah dibuat. Laporan tertulis dari dokter tumbuh kembang dan dokter keluarga dapat digunakan sebagai lampiran. Pihak sekolah dapat dimintakan untuk menanganinya secara kreatif. Jangan menghambat kebutuhannya. Biarkan anak berkembang dalam tingkatan perkembangannya. Bila anak sudah saatnya masuk sekolah, hendaknya pihak sekolah perlu mendapatkan laporan tersebut agar kepadanya dapat&lt;br /&gt;segera dilakukan observasi.&lt;br /&gt;Dokter keluarga&lt;br /&gt;Banyak yang berpikir bahwa pada seorang anak gifted segalanya beres, baik-baik. Namun sebetulnya, seorang anak gifted jika tidak mendapatkan bimbingan dan pengasuhan yang baik, seringkali muncullah berbagai keluhan psikosomatik. Biasanya penyebabnya terletak bagaimana pengetahuan si orang tua, pembimbing, dan guru. Sejak lahir, seorang anak gifted sudah mempunyai perkembangan yang cepat. Saat di taman kanak-kanak dan sekolah dasar akan terlihat bahwa ia mempunyai perkembangan lebih kedepan jika dibandingkan temantemannya.&lt;br /&gt;Bila di sekolah ia harus mengerjakan segala sesuatu di bawah tingkat&lt;br /&gt;kemampuannya, maka dalam waktu singkat ia akan mengalami kebosanan, yang&lt;br /&gt;menyebabkan tidak mau berkontak dengan teman-temannya, keluhan sakit kepala, kesulitan tidur, dan sakit perut. Keluhan ini dapat lebih parah bila si anak dalam waktu yang lama tidak mendapatkan bimbingan. Dalam keadaan ini biasanya orang tua justru menghubungi dokter keluarga. Bila seorang dokter keluarga mendapatkan kondisi seperti ini, perlu segera melihat bagaimana karakteristik lompatan perkembangan si anak. Dapat dilihat bahwa ia dari seorang&lt;br /&gt;anak yang gembira dalam beberapa bulan berubah menjadi anak yang agresif, atau pasif. Bila di rumah dibiarkan dengan kefrustrasiannya, maka gambaran yang diperoleh oleh orang tua dan guru akan sama. Karena itu akan kesulitan untuk melihat apakah ia seorang anak gifted yang mengalami gangguan psikosomatik hanya dengan melakukan pemeriksaan fisik. Padahal sementara itu si anak sebetulnya hanya mengalami lompatan perkembangan saja. Bila seorang&lt;br /&gt;anak mendapatkan bimbingan yang tepat, umumnya keluhan-keluhan psikosomatik itu akan hilang dengan sendirinya.&lt;br /&gt;USIA 4 – 5 TAHUN&lt;br /&gt;Di usia ini anak akan masuk ke sekolah TK, umumnya belum muncul masalah. Gejala yang dapat diamati akan adanya lompatan perkembangan dapat dilihat sebagai berikut:&lt;br /&gt;• Belajar membaca dan berhitung sendiri&lt;br /&gt;• Mempunyai motorik halus yang sangat baik&lt;br /&gt;• Lebih menyukai bermain dengan anak-anak lain&lt;br /&gt;• Mempunyai konsentrasi dan ketahanan kerja yang tingi, dan dapat melakukan banyak hal dalam waktu bersamaan&lt;br /&gt;• Senang belajar&lt;br /&gt;• Sangat enerjik dan tidur hanya sedikit&lt;br /&gt;• Mempunyai daya ingat kuat&lt;br /&gt;• Perilakunya menunjukkan bahwa ia perfeksionis&lt;br /&gt;• Mudah belajar (sering kali justru hanya ingin menuruti kemauannya sendiri, dan&lt;br /&gt;menyimpang dari metoda yang umum)&lt;br /&gt;• Penggunaan bahasa yang sangat baik&lt;br /&gt;• Mandiri dalam melakukan pekerjaan (membutuhkan sedikit petunjuk saja)&lt;br /&gt;• Mampu mengerjakan tugas yang kompleks&lt;br /&gt;Bila giftednessnya tidak dapat dikenali secara langsung, biasanya dapat digali melalui pengalaman orang tua:&lt;br /&gt;• Dalam waktu singkat si anak tidak menyukai sekolah&lt;br /&gt;• Di rumah si anak sangat pasif&lt;br /&gt;• Di rumah si anak akan menjadi anak yang agresif&lt;br /&gt;• Dalam keadaan tidur gigi gemerutuk (bruxism), berkeringat, dan tidur tak tenang&lt;br /&gt;• Menggigit pakaian&lt;br /&gt;• Keluhan psikosomatik, seperti sakit kepala, sakit perut. Biasanya keluhan ini hanya berlangsung saat hari-hari sekolah bukan di akhir pekan atau liburan&lt;br /&gt;• Si anak sama sekali tidak akan mau membicarakan tentang sekolah&lt;br /&gt;• Bila mengamati pekerjaannya di sekolah nampak ia melakukan pekerjaan di bawah tingkat kemampuan, atau melakukan imitasi pekerjaan teman-temannya&lt;br /&gt;• Si anak diharapkan oleh pihak sekolah agar bisa belajar&lt;br /&gt;Sangatlah penting untuk mencari bantuan memecahkan permasalahan, jangan sampai pandangan/gambaran terhadap si anak menjadi rusak. Dan juga akan berlanjut menjadi underachiever (prestasi rendah) atau terkembangnya faalangst (merasa tidak bisa padahal bisa). Bila si anak mendapatkan bimbingan yang baik, maka keluhan-keluhan itu dapat berkurang dan bahkan menghilang.&lt;br /&gt;Mula-mula lakukan kontak dengan pihak sekolah, sementara itu jelaskan pada dokter sekolah atau dokter keluarga untuk mencari jalan keluar bagi keluhan fisik dan atau psikis yang dialami oleh si anak sebagai akibat dari buruknya kinerja di sekolah. Jangan mengharapkan semuanya dari pihak sekolah, tapi upayakan semaksimal mungkin untuk melakukan bimbingan yang baik bagi anak. Bisa juga untuk memperkuat upaya itu menggunakan brosur ini sebagai bahan acuan.&lt;br /&gt;TIPS untuk dokter sekolah&lt;br /&gt;• Perhatikan bagaimana tumbuh kembang si anak sejak usia bayi&lt;br /&gt;• Bacalah lebih banyak tentang anak-anak gifted dan anak-anak dengan lompatan&lt;br /&gt;perkembangan&lt;br /&gt;• Perhatikan perilaku/laporan si anak&lt;br /&gt;Beberapa Hal Yang Perlu Menjadi Perhatian Orang Tua&lt;br /&gt;• Apakah si anak menyukai berangkat ke sekolah?&lt;br /&gt;• Apakah segalanya terlalu mudah?&lt;br /&gt;• Adakah si anak mempunyai kontak sosial?&lt;br /&gt;• Adakah si anak mempunyai keluhan psikosomatik?&lt;br /&gt;• Apakah si anak mempunyai prestasi yang berubah-ubah?&lt;br /&gt;• Apakah menurut si anak bahwa sekolah tidak menyenangkan?&lt;br /&gt;• Apakah perilaku anak berbeda antara di sekolah dan di rumah?&lt;br /&gt;• Apakah si anak lebih menyukai bermain dengan anak yang lebih tua?&lt;br /&gt;HAL-HAL PENTING YANG PERLU DIPERHATIKAN SEKOLAH&lt;br /&gt;Berbagai tes&lt;br /&gt;Pertama-tama guru perlu melakukan observasi dalam kelompok, untuk kemudian lakukan diskusi dengan orang tua, dan cari upaya agar dilakukan tes pada lembaga bantuan pedagogi. Hasilnya dengan orang tua didiskusikan, dan buatlah segera rencana pembelajaran untuk tahun berikutnya.&lt;br /&gt;Akselerasi/percepatan&lt;br /&gt;Seorang anak gifted dapat dengan cepat menyelesaikan bahan ajar umum. Percepatan dapat dilakukan satu kali per hari atau dengan periode jangka panjang. Materi untuk percepatan diberikan sedemikian rupa sehingga si anak juga mendapatkan pengkayaan dan pendalaman.&lt;br /&gt;Cara memberikan percepatan dapat dengan beberapa cara:&lt;br /&gt;• Dilompatkan kelas&lt;br /&gt;• Tetap duduk di dalam kelas tetapi anak mendapatkan materi khusus&lt;br /&gt;Lompat kelas&lt;br /&gt;Percepatan di usia dini misalnya usia lima tahun masuk ke sekolah dasar, hal ini justru akan memberikan banyak keuntungan.&lt;br /&gt;• Si anak akan dengan mudah menyesuaikan diri&lt;br /&gt;• Tidak mempunyai periode menjadi underachiever&lt;br /&gt;• Kemungkinan berkembangnya faalangst (takut berbuat salah, merasa tidak bisa&lt;br /&gt;padahal sebenarnya ia bisa) lebih kecil&lt;br /&gt;• Penerimaan teman lain lebih mudah&lt;br /&gt;• Kebutuhan belajar membaca dan berhitung pada anak di usia ini sangat besar&lt;br /&gt;• Perpindahan dari periode bermain ke periode belajar agar mudah dilaluinya, maka ada baiknya sehari sekali tetap berada di taman kanak-kanak, sampai di suatu saat ia tidak mempunyai kebutuhan bermain lagi.&lt;br /&gt;Pendapat kontroversial tentang lompat kelas sering mengatakan bahwa perkembangan social emosional anak-anak itu belum mencukupi. Mereka menakutkan bahwa kelak si anak akan kesulitan bersosialisasi dengan teman-teman sekelasnya. Karena anak-anak ini juga merasa lebih menyenangi bermain dengan anak sebayanya, namun sebaliknya ia juga membutuhkan untuk belajar lebih jauh dari teman-teman sebayanya. Sehingga jika anak-anak ini dalam&lt;br /&gt;periode lama berada di sekolah taman kanak-kanak dan selalu saja bekerja di bawah kapasitas kemampuannya, bisa jadi justru akan menimbulkan masalah sosial emosional padanya. Dengan cara melompat-kelaskan, ia akan belajar sesuai kapasitasnya.&lt;br /&gt;Dicuplik dari: Help een hoogbegafde kind – de consultatiebureau en school arts, Landelijk informatiecentrum hoogbegaafdheid, stichting Plato, Wateringan.2002.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7890961627097092465-8444343084270870824?l=riefqie-yupss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/feeds/8444343084270870824/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/03/gejala-lompatan-perkembangan-pada-anak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/8444343084270870824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/8444343084270870824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/03/gejala-lompatan-perkembangan-pada-anak.html' title='GEJALA LOMPATAN PERKEMBANGAN  PADA ANAK GIFTED'/><author><name>Muh. Rifqi Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16755920782633062813</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/TOfawZe8c2I/AAAAAAAAAIo/dDxA3VkKIpY/S220/riefqie.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7890961627097092465.post-5960247400615210176</id><published>2009-03-27T11:27:00.001-07:00</published><updated>2010-04-25T01:36:14.906-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN'/><title type='text'>REPRODUKSI MANUSIA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/Seyy7clcv4I/AAAAAAAAAHw/7p-TQr_wHAc/s1600-h/cxd.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 124px; height: 99px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/Seyy7clcv4I/AAAAAAAAAHw/7p-TQr_wHAc/s400/cxd.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326829193627746178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/Seyyxx2DmqI/AAAAAAAAAHo/elzE2ZgERNo/s1600-h/sh000-reproduction.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 125px; height: 159px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/Seyyxx2DmqI/AAAAAAAAAHo/elzE2ZgERNo/s400/sh000-reproduction.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326829027535854242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeyyodgKB4I/AAAAAAAAAHg/jT5up_CCVhU/s1600-h/CAYCR50U.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 121px; height: 81px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeyyodgKB4I/AAAAAAAAAHg/jT5up_CCVhU/s400/CAYCR50U.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326828867456468866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeyyhDC5rZI/AAAAAAAAAHY/LBG9_ypS2MM/s1600-h/CAVPTFDZ.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 125px; height: 94px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeyyhDC5rZI/AAAAAAAAAHY/LBG9_ypS2MM/s400/CAVPTFDZ.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326828740095356306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeyybIwF_kI/AAAAAAAAAHQ/jhsUV4Sqhl0/s1600-h/CAU7CRW7.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 113px; height: 101px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeyybIwF_kI/AAAAAAAAAHQ/jhsUV4Sqhl0/s400/CAU7CRW7.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326828638547869250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/Seyx9naI15I/AAAAAAAAAHA/Rxr54hW1QmI/s1600-h/CAODMV0D.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 90px; height: 135px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/Seyx9naI15I/AAAAAAAAAHA/Rxr54hW1QmI/s400/CAODMV0D.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326828131381204882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/Seyxm7Zl6cI/AAAAAAAAAG4/EycpqRDr5CI/s1600-h/CANN3XGS.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 330px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/Seyxm7Zl6cI/AAAAAAAAAG4/EycpqRDr5CI/s400/CANN3XGS.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326827741610633666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeyxWj5oJuI/AAAAAAAAAGw/m_9rpcGK9Bk/s1600-h/CAMTUVYX.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 124px; height: 78px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeyxWj5oJuI/AAAAAAAAAGw/m_9rpcGK9Bk/s400/CAMTUVYX.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326827460424640226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeyxQYOVhuI/AAAAAAAAAGo/7FGXmmaBRLI/s1600-h/CAMJSXQN.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 122px; height: 92px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeyxQYOVhuI/AAAAAAAAAGo/7FGXmmaBRLI/s400/CAMJSXQN.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326827354211059426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeyxKirvhUI/AAAAAAAAAGg/KmlcVqbGKEw/s1600-h/CAKCCD0B.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 127px; height: 95px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeyxKirvhUI/AAAAAAAAAGg/KmlcVqbGKEw/s400/CAKCCD0B.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326827253939537218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeyxFFWCpyI/AAAAAAAAAGY/M6fxsS1FlyY/s1600-h/CAJXLSGT.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 84px; height: 90px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeyxFFWCpyI/AAAAAAAAAGY/M6fxsS1FlyY/s400/CAJXLSGT.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326827160164542242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/Seyw9sGzOfI/AAAAAAAAAGQ/xxy5amEo2ts/s1600-h/CAIH65SD.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 102px; height: 120px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/Seyw9sGzOfI/AAAAAAAAAGQ/xxy5amEo2ts/s400/CAIH65SD.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326827033130646002" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/Seyw3umJyBI/AAAAAAAAAGI/UZYfwiy5fmM/s1600-h/CAGPM98D.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 108px; height: 116px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/Seyw3umJyBI/AAAAAAAAAGI/UZYfwiy5fmM/s400/CAGPM98D.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326826930719803410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeywuarbZrI/AAAAAAAAAGA/hgESss4e10g/s1600-h/CACTUBOD.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 70px; height: 91px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeywuarbZrI/AAAAAAAAAGA/hgESss4e10g/s400/CACTUBOD.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326826770754397874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/Seyuqbo0bwI/AAAAAAAAAFo/Jrv7roDjLtI/s1600-h/CA9HQA90.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 98px; height: 58px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/Seyuqbo0bwI/AAAAAAAAAFo/Jrv7roDjLtI/s400/CA9HQA90.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326824503269158658" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeyuidxW68I/AAAAAAAAAFg/FAG0PiBAups/s1600-h/CA8TQ7K9.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 62px; height: 113px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeyuidxW68I/AAAAAAAAAFg/FAG0PiBAups/s400/CA8TQ7K9.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326824366402890690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeyuV1J9JtI/AAAAAAAAAFY/zbVtvwb0EpI/s1600-h/CA6RWDUV.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 83px; height: 92px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeyuV1J9JtI/AAAAAAAAAFY/zbVtvwb0EpI/s400/CA6RWDUV.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326824149341775570" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeyuE0_S0gI/AAAAAAAAAFQ/1P2AKy78SNs/s1600-h/CA2N0XIZ.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 82px; height: 84px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeyuE0_S0gI/AAAAAAAAAFQ/1P2AKy78SNs/s400/CA2N0XIZ.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326823857239282178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeytonqR0II/AAAAAAAAAFA/sQQSFR_gVUQ/s1600-h/4+D.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 125px; height: 160px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeytonqR0II/AAAAAAAAAFA/sQQSFR_gVUQ/s400/4+D.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326823372625137794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/Sc0ar_QTX6I/AAAAAAAAACg/NrxJhVI7IBo/s1600-h/sh000-reproduction.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 125px; height: 159px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/Sc0ar_QTX6I/AAAAAAAAACg/NrxJhVI7IBo/s400/sh000-reproduction.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5317936078010933154" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7890961627097092465-5960247400615210176?l=riefqie-yupss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/feeds/5960247400615210176/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/03/reproduksi-manusia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/5960247400615210176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/5960247400615210176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/03/reproduksi-manusia.html' title='REPRODUKSI MANUSIA'/><author><name>Muh. Rifqi Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16755920782633062813</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/TOfawZe8c2I/AAAAAAAAAIo/dDxA3VkKIpY/S220/riefqie.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/Seyy7clcv4I/AAAAAAAAAHw/7p-TQr_wHAc/s72-c/cxd.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7890961627097092465.post-4378309346476176350</id><published>2009-03-27T11:25:00.001-07:00</published><updated>2010-04-25T01:36:14.907-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN'/><title type='text'>SKELETON</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/Sc0aTcyN83I/AAAAAAAAACY/ujJVsGAqzqY/s1600-h/skeleton.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 324px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/Sc0aTcyN83I/AAAAAAAAACY/ujJVsGAqzqY/s400/skeleton.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5317935656441082738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7890961627097092465-4378309346476176350?l=riefqie-yupss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/feeds/4378309346476176350/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/03/skeleton.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/4378309346476176350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/4378309346476176350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/03/skeleton.html' title='SKELETON'/><author><name>Muh. Rifqi Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16755920782633062813</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/TOfawZe8c2I/AAAAAAAAAIo/dDxA3VkKIpY/S220/riefqie.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/Sc0aTcyN83I/AAAAAAAAACY/ujJVsGAqzqY/s72-c/skeleton.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7890961627097092465.post-5433817295731653618</id><published>2009-03-27T10:57:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T10:12:59.337-07:00</updated><title type='text'>ANATOMI MANUSIA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeytFFgx2pI/AAAAAAAAAEw/orjX1nOm6Vw/s1600-h/trey3e.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 98px; height: 127px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeytFFgx2pI/AAAAAAAAAEw/orjX1nOm6Vw/s400/trey3e.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326822762163067538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/Seys1L3cniI/AAAAAAAAAEg/uTCm8vTRQhc/s1600-h/tertdfs.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 125px; height: 92px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/Seys1L3cniI/AAAAAAAAAEg/uTCm8vTRQhc/s400/tertdfs.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326822488990850594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeyscBa5CYI/AAAAAAAAAEQ/RtbbzfAtXtI/s1600-h/sfdsfgfg.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 114px; height: 122px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeyscBa5CYI/AAAAAAAAAEQ/RtbbzfAtXtI/s400/sfdsfgfg.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326822056689994114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeysL2wET5I/AAAAAAAAAEA/ywgxYHE-vLI/s1600-h/h.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 94px; height: 136px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeysL2wET5I/AAAAAAAAAEA/ywgxYHE-vLI/s400/h.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326821778948116370" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/Seyr5HgKyNI/AAAAAAAAADw/TTkaK8N_uPs/s1600-h/gdfdfg.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 70px; height: 135px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/Seyr5HgKyNI/AAAAAAAAADw/TTkaK8N_uPs/s400/gdfdfg.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326821457027320018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeyrwGhysKI/AAAAAAAAADo/PuBkalZm5H4/s1600-h/vchtu.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 126px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeyrwGhysKI/AAAAAAAAADo/PuBkalZm5H4/s400/vchtu.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326821302146871458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/Seyrozi0ijI/AAAAAAAAADg/HEJcZUOSft4/s1600-h/wqrefde6.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 90px; height: 96px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/Seyrozi0ijI/AAAAAAAAADg/HEJcZUOSft4/s400/wqrefde6.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326821176791829042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeyriXWCzII/AAAAAAAAADY/w1HFxKg0q7g/s1600-h/wrwr.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 118px; height: 89px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeyriXWCzII/AAAAAAAAADY/w1HFxKg0q7g/s400/wrwr.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326821066142829698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeyrY5TqSfI/AAAAAAAAADQ/2OZ97HY5f1A/s1600-h/fgdfgdf.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 120px; height: 103px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeyrY5TqSfI/AAAAAAAAADQ/2OZ97HY5f1A/s400/fgdfgdf.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326820903460948466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeyqJYU87RI/AAAAAAAAAC4/6WiRQ6XzWHc/s1600-h/ertrfhu.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 104px; height: 144px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeyqJYU87RI/AAAAAAAAAC4/6WiRQ6XzWHc/s400/ertrfhu.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326819537398328594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeyptJpDqgI/AAAAAAAAACo/dsFqLjlqQXI/s1600-h/3y45j.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 126px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeyptJpDqgI/AAAAAAAAACo/dsFqLjlqQXI/s400/3y45j.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326819052419787266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/Sc0Z7RWthcI/AAAAAAAAACQ/Rq-yaHuA15c/s1600-h/I10-13-anatomy.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 196px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/Sc0Z7RWthcI/AAAAAAAAACQ/Rq-yaHuA15c/s320/I10-13-anatomy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5317935241056060866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/Sc0WYYIuSAI/AAAAAAAAACA/KrFpuITVuUc/s1600-h/anatomy-malefront-ems.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 247px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/Sc0WYYIuSAI/AAAAAAAAACA/KrFpuITVuUc/s320/anatomy-malefront-ems.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5317931343046133762" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7890961627097092465-5433817295731653618?l=riefqie-yupss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/feeds/5433817295731653618/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/03/susunan-syaraf.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/5433817295731653618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/5433817295731653618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/03/susunan-syaraf.html' title='ANATOMI MANUSIA'/><author><name>Muh. Rifqi Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16755920782633062813</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/TOfawZe8c2I/AAAAAAAAAIo/dDxA3VkKIpY/S220/riefqie.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/SeytFFgx2pI/AAAAAAAAAEw/orjX1nOm6Vw/s72-c/trey3e.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7890961627097092465.post-1472791908769754663</id><published>2009-03-27T10:42:00.001-07:00</published><updated>2009-03-27T10:47:29.617-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN'/><title type='text'>KEBUTUHAN ANAK UNTUK MASUK SEKOLAH</title><content type='html'>KEBUTUHAN-KEBUTUHAN ANAK UNTUK MASUK SEKOLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda telah mempelajari berbagai perbedaan yang terjadi pada anak usia SD sesuai. dcngan berbagai aspek perkembangannya yang bersifat individual. Selanjutnya pada kesempatan ini akan kita pelajari materi tentang perbedaan kebutuhan pada anak usia SD. Sebenarnya, sebagai makhluk psiko-fisik, anak-anak sejak bayi sudah memiliki kebutuhan-kebutuhan dasar yaitu seperti kebutuhan fisik dan psikis. Dalam proses pertumbuhan dan perkembangan seorang anak menuju kedewasaan, terjadi perubahan-perubahan kebutuhan seperti di atas menjadi lebih besar. Kebutuhan sosial psikologis seorang akan semakin lebih banyak dibandingkan kebutuhan fisiknya sejalan dengan usianya.&lt;br /&gt;Pertama-tama, perlu dijelaskan penggunaan beberapa istilah yang pemakaian sehari-harinya- sering bergantian. Istilah lersebut adalah “kebutuhan”, “dorongan”, dan “motif. Secara definisi istflah “dorongan” atau “motif adalah keadaan di dalam diri pribadi seseorang yang merupakan pemicu dalam melakukan suatu perbuatan untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan “kebutulun” lebih sering digunakan untuk mengacu pada keadaan fisiologis seseorang yang tidak mempunyai suatu jaringan tertentu. Dari penjelasan tadi, dapat tergambar bahwa sebenarnya kebutuhan dan dorongan atau motif berjalan seiring namun tidak sama. Dorongan atau motif lebih merupakan sesuntu yang merupakan akibat psikologis dari suatu kebutuhan. (Sumadi,1970:70; I.efloiv 1982:137). Sedangkan Thompson (1987) mendefinisikan istilah need alau kebutuhan sebagai istilah yang sering digunakan untuk menunjuk suatu drive atau dorongan seperti contohnya manusia membutuhkan tidur, dan kelinci butuh mcnggali liang. Sehingga di sini kata kebutuhan tersebut menunjukkan adanya suatu kekuatan yang bersifat memotivasi yang mendorong terbentuknya suatu ketegangan dalam diri makhluk hidup karena adanya kekurangan-kekurangan tertentu. Jadi dari kedua jabaran definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa kata need atau kebutuhan bersifat fisik dan mendasar, sedangkan drive atau dorongan lebih merupakan kebutuhan yang jenjangnya lebih tinggi dan bersifat psikologis; Namun demikian, pada pembahasan materi di Kegiatan Belajar 2 ini, akan digunakan istilah kebutuhan supaya tidak terjadi kebingungan.&lt;br /&gt;Pada dasarnya, kebutuhan individu dapat dibedakp.n menjadi 2 kelompok besar, yaitu kebutuhan fisiologis dan psikologis (Cole dan Bruce, 1959). Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan primer seperti makan, minum, tidur, seksual, atau perlindungan diri. Sedangkan kebutuhan psikologis yang disebut juga kebutuhan sekunder dapat mencakup kebutuhan untuk mengembangkan kcpribadian pada seseorang. Contohnya adalah kebutuhan untuk dicintai, kebutuhan mengaktualisasikan diri, atau kebutuhan untuk memiliki scsuatu di mana kebutuhnn psikologis tersebut bersifat lebih rumit dan sulit diidentifikasi segera.&lt;br /&gt;Sejalan dengan teori kebutuhan Maslow, pada pembahasan ini akan diambil suatu tcori kebutuhan yang sTatnya nicndasar yang dikembangkan olch Lindgren (1980). Arti mendasar di sini adalah pada umumnya. setiap individu memiliki kebutuhan ini. Teori ini bisa dianggap mewakili untuk menjelaskan perbedaan kebutuhan pada tahapan usia anak SD, sehingga pada pembahasan berikut akan dikaitkan dengan perbedaan individu anak usia SD. Lindgren mengklasifikasikan kebutuhan dasar ini menjadi 4 aspek yang sebenarnya ada juga di dalam teori kebutuhan o!eh Maslow. Klasifikasi 4 aspek kebutuhan tersebut adalah seperti berikut.&lt;br /&gt;Aspek Kebutuhan Menurut Lindgren&lt;br /&gt;Jenjang Deskripsi&lt;br /&gt;• Kebutuhan untuk dimiliki, kebutuhan yg terkait dengan pengembangan diri yg lebih rumit dan bersifat sosial&lt;br /&gt;• Kebutuhan untuk memiliki Kebutuhan yg terkait dengan mencari teman, atau pegangan pada orang lain&lt;br /&gt;• Perhatian dan kasih saying, kebutuhan ini berkaitan erat dengan kebutuhan untuk memiliki, bisa berupa kebutuhan untuk diperhatikan, diterima dan diakui teman&lt;br /&gt;• Kebutuahan Jasmaniah, keamanan dan pertahanan. Berkaitan dengan pemeliharaan dan pertahanan diri yg sifatnya individual&lt;br /&gt;Pembagian keempat aspek kebutuhan di atas juga bersifat hierarkis dari kebutuhan yang mendasar yaitu jasmani hingga aktualisasi diri. Selanjutnya di bawah ini, akan dipaparkan keempat aspek kebutuhan di atas jika dikaitkan dengan kebutuhan anak usia SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. KEBUTUHAN JASMANIAII PADA ANAK USIA SD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan perkembangan fisik anak usia SD yang bersifat individual, pada masa tumbuh kembang tersebut, kebutuhan anak akan bervariasi misalnya seperti porsi makanan dan minuman meningkat. Karena perkembangan tubuh dan juga kognitifnya, anak usia SD membutuhkan makna yang bcrgizi sehingga perkembangan fisik dan intelektualnya tidak terhambat.&lt;br /&gt;Berkaitan dcngan kebutuhan pemeliharaan dan pertahanan diri, anak usia SD memasuki tahapan perkembangan moral dan sosial yang mempcrhatikan pemuasan keinginan dan kebutuhannya sendiri tanpa mcmpcrtinibangkan kebutuhan orang. Oleh karena itu guru perlu mcmbcrikan kesadaran kepada siswa, bahwa dia dapat menghindari hukuman dcngan memohon maaf dengan cara yang baik agar tidak terkena sanksi. Pada masa usia SD, anak juga sudah mulai merasakan adanya kebjtuhan untuk melindungi diri dari bahaya baik secara fisik maupun psikis dari orang lain. Contohnya: Anak sudah mulai dapat berkelit dengan mengemukakan berbagai alasan, apabila guru menanyakan suatu hal yang dikerjakan secara salah oleh siswa karena takut dimarahi. Perilaku memberi bantahan atau alasan atas perbuatannya timbul sejalan dengan perkembangan berbahasa anak yang sudah mempunyai banyak perbendaharaan kata dan ungkapan-ungkapan&lt;br /&gt;Kebutuhan rasa aman pada siswa akan terpenuhi apabila guru dapat mcnghadirkan suasana kelas yang tenang dan damai. berpihakan seorang guru kepada siswa-siswa tertentu, juga dapat mengakibatkan timbulnya rasa tidak aman pada siswa. Sehingga guru hendaknya dapat bersikap adil dan netral. Namun demikian seperti dikemukakan sebelumnya, bahwa guru perlu memberikan stimulus-stimulus yang dapat menyadarkan siswa bahwa disiplin dan aturan belajar yang disepakati dan dikompromikan adalah perlu. Sehingga siswa tidak salah mengartikan dengan perilaku yang suka-suka sendiri dalam pemenuhan rasa aman tersebut.&lt;br /&gt;Sehubungan dengan pemenuhan beberapa kebutuhan melalui disiplin, Hurlock (197 mengemukakan bahwa disiplin berguna bagi anak untuk:&lt;br /&gt;Memberikan rasa aman kepada anak, dengan memberitahukan kepada mereka secara tegas apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan;&lt;br /&gt;Dapat membantu anak untuk menghindari rasa bersalah atau malu karena telah berbuat salah. Hal ini dapat terjadi karena disiplin memungkinkan anak untuk hidup sesuai standar yang telah disepakati dan mendapat persetujuan oleh kelompok sosialnya;&lt;br /&gt;Berusaha belajar bersikap sesuai dengan cara yang akan mendatangkan pujian yang akan ditafsirkan sebagai tanda saya dan penerimaan. Hal ini penting bagi anak agar tumbuh dan berkembang sccara positif; Mendorong anak mencapai apa yang diharapkan a’ari dirinya, jika diriplin tersebut sesuai dengan perkembangan dirinya; Membantu anak mengembnngkan hati nuraninya, dar, mengasah intuisi dalam dirinya, sehingga dia dapat mengambil keputusan secara bertanggung jawab dan juga dapat mengendalikan tirgkah laku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. KEBUTUHAN AKAN KASIH SAYANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahap perkembangan sosial nak usia SD tcrutama yang dudnk di kelas tirggi SD, sudah ingin meniiliki teman-teman tetap. Perkembangan tersebut juga sejalan dengan kebutuhan untuk disayangi dan menyayangi teman. Tidak hanya rasa kasih kepada teman saja, tetapi juga sudah ada kebutuhan untuk memberikan rasa omta terhadap suatu benda. Misalnya anak usia SD sudah sadar akan niengoleksi sesuatu yang mcrupakan kesenangannya bisa berupa perangko, komik, kartu, dan sebagainya dan koleksi tersebut dirawat dengan hati-haci serta rasa sayang. Oleh karena itii, guru perlu peka untuk mengarahkan anak-anak agar rasa kasih sayang yang sudah muncul dapat tcrpelihara dan menjadikan anak-anak bersikap penuh kasih terhadap sesuatu seperti mcnunjukkan minat siswa yang sudah dipunyainya, memupuk scrta memelihan minat atau hobi para siswa.&lt;br /&gt;Pada anak-anak yang duduk di kelas tinggi (4, 5 atau 6) di SD yang memasuki masa bersosialisasi dan meninggalkan keakuannya, dapat menerima suatu otoritas orang tlia dan guru sebagai sesuatu yang wajar. Sehingga anak-anak tersebut juga membutuhkan perlakuan yang objcktif dari orang tua atau guru sebagai pemegang otoritas. Pada masa ini, anak-anak sangat sensitif dan mudah mengenali sikap pilih kasih dan ketidakadilan. Sehingga di sini guru harus bertindak bijaksana dan propcrsional dalam memutuskan suatu tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. KEBUTUHAN UNTUK MEMILIKI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa usia di kelas-kelas rendah di SD, anak-anak sudah mulai meninggalkan dirinya sebagai pusat perhatian.. Namun demikian, anak-anak di kelas rendah di SD masih suka memuji diri sendiri, dan membanding bandingkan dirinya dengan teman. Sehingga kebutuban untuk memiliki dan dimiliki masih dominan. Artinya, segala sesuatu baik teman-teman di sekolah maupun guru dipandang sebagai punya dirinya sendiri, sehingga kadang kadang anak usia ini suka meremehkan atau mengacuhkan pendapat teman atau guru. Seperti pada kebutuhan-kebutuhan yang lainnya, kebutuhan untuk memiliki pada setiap anak akan berbeda tergantung dari perkembangannya Sedangkan kebutuhan untuk dimiliki adalah berhubungan dengan mulainya masa membentuk gang atau kelompok bermain. Anak-anak ini akan cenderung mengikuti aturan dari kelompok bermainnya setia, dan juga menggantungkan dirinya kepada kelompok tersebut. Kebutuhan untuk memiliki ini tidak terbatas pada pemilikan teman saja, tetapi juga pada benda-benda miliknya dan milik teman sekelompoknya. Dia akan menjaga dengan sepenuh hati benda-benda yang menjadi kebanggaannya atau teman gangnya.&lt;br /&gt;Namun demikian, pada masa ini, anak masih menggantungkan dirinya kepada orang yang dirasa mempunyai keunggulan atau kekuatan apabila i kelompok bermainnya, atau tergantung pada pemegang otoritas yang discnangi seperti guru di kelas. Oleh karena itu banyak kasus para siswa kelas rendah di SD lebih menuruti kata teman dekatnya atau gurunya dibandingkan dengan orang tua sendiri, karena mungkin bukan merupakan sosok yang dikaguminya. Sehingga jika anak-a.iak dapat menemukan kelompok teman yang positif maka mereka akan positif pula. Dalam pemenuhan kebutuhan untuk memiliki, guru perlu memberikan dorongan kearah yang positif tentang bagaimana membentuk kelompok yang dapat bermanfaat misalnya dalam kegiatan pramuka. Guru juga harus memberikan orientasi kepada anak-anak di usia ini, agar tidak begitu saja melakukan berbagai hal yang kadang-kadang berbahaya dan negatif, hanya karena disuruh oleh teman kelompoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. KEBUTUHAN AKTUALISASI D1RI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan ini relatif lebih abstrak dan kompleks, dan merupakan kebutuhan tingkat tinggi yang pada dasarnya merupakan perkemba’igan dari kebutuhan-kebutuhan sebelumnya. Kebutuhan ini terasa mulai dominan pada anak-anak usia kelas tinggi di SD. Pada usia tersebut, anak-anak mulai ingin merealisasikan potensi-potensi yang dimilikinya sehingga anak berusaha memenuhi kebutuhan tersebut dengan sikap persaingan, atai: berusaha . mewujudkan keinginannya yang biasanya terdengar sangat tinggi dan muluk seperti ingin jadijuara tinju, pembalap formula, astronot dan sebagainya.&lt;br /&gt;Salah satu kebutuhan yang terkait dengan kebutuhan aktualisasi diri ac’.alah kebutuhan berprestc.si atau reefl for achievement. Karena anak-anak SD di kelas tinggi sudah timbul keinginan untuk mcnjadi tcrhcbat, maka mereka berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai prestasi. Semua sikap dan tindakan anak-anak tersebut juga dalam rangka pcmenuhan kebutuhan untuk diakui. Di sinilah guru berfungsi untuk memotivasi sikap kompetisi pada anak-anak menjadi kompetisi yang sehat dan terarah.&lt;br /&gt;Dari uraian keempat aspek kebutuhan tersebut, dapat disimpulkan bahwa semua kebutuhan di atas .bisa saling mengisi dan berbeda satu dengan yang lain terhadap setiap masing-masing anak dan sejalan dengan perbedaan perkembar.gan mereka. Peran guru dalam memenuhi kebutuhan anak adalah dengan memberikan dan meningkatkan motivasi kepada siswanya agar sikap mereka berkembang positif dalam memenuhi kebutuhan seperti di atas.&lt;br /&gt;DeCecco dan Crawford (1974) mengajukan 4 peranan guru untuk memberikan dan meningkatkan motivasi siswa, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mcmbangkitkan semangat siswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kegiatan pembelajaran, guru harus selalu peka terhadap perubahan kebutuhan siswa. Oleh karena itu guru bisa menggunakan bcrbagai pcndckatan pembelajaran agar siswa tidak menjadi bosan. Penting (diperhatikan bila mcngajak dan mcnjaga agar siswa tctap belajar adalah tugas guru dalam rangka mcnjaga semangat belajar. Siswa dapat diajak bcrsama-sama memikirkan dan melakukan proses pembelajaran yang telah direncanakan guru. Oleh karena itu penting pula bagi guru untuk mengetahui keadaan awal para siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Memberikan harapan yang realistis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru tidak hanya harus menjelaskan harapan yang realistis yang dapat dicapai siswa dengan keadaan perbedaan siswa-siswanya, tetapi juga harus dapat memodifikasi atau merubah harapan-harapan yang tidak realistis yang dibebankan kepada siswa. Oleh karena itu sebaiknya guru mempunyai data tentang kemajuan akademis siswanya sejak awal sekolah. Kegagalan kegagalan di bidang apa saja yang sudah dialami siswanya, sehingga guru dapat mengukur harapan yang realistis bagi siswanya. Jika siswa sudah banyak mengalami kegagalan di masa lampaunya, sedapat mungkin guru harus bisa memberikan keberhasilan pada siswa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Memberikan insentif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Siswa banyak membuat keberhasilan-keberhasilan, guru bisa memberikan insentif berupa penghargaan, pujian, hadiah, atau kata-kata yg manis. Hal ini dapat memotivasi siswa untuk berusaha mengulangi perbuatan yang positif tersebut. Sehubungan dengan pemberian insentif, pemberian umpan balik oleh guru terhadap hasil kerja siswa, akan sangat berguna unl meningkatkan upaya siswa bekerja lebih baik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Memberi pengarahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru juga semestinya harus mengatakan secara tegas kepada siswa apabila siswa berbuat kekeliruan. dengan misalnya menunjukkan kekeliruan tersebut dan menunjukkan bagaimana seharusnya siswa bertindak. Guru perlu pula meminta kepada siswanya untuk melakukan tindakan yang diharapkan dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;Demikianlah paparan materi tentang beberapa jenis kebutuhan pada anak usia SD. Seperti telah disebut di atas, kebutuhan-kebutuhan tersebut b muncul pada berbagai tahapan usia dengan dominasi yang berbeda-beda pz setiap anak. Perbedaan kebutuhan dan kadar kebutuhan tersebut seja dengan perbedaan perkembangan yang saat itu dialami oleh masing-masi anak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7890961627097092465-1472791908769754663?l=riefqie-yupss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/feeds/1472791908769754663/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/03/kebutuhan-anak-untuk-masuk-sekolah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/1472791908769754663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/1472791908769754663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/03/kebutuhan-anak-untuk-masuk-sekolah.html' title='KEBUTUHAN ANAK UNTUK MASUK SEKOLAH'/><author><name>Muh. Rifqi Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16755920782633062813</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/TOfawZe8c2I/AAAAAAAAAIo/dDxA3VkKIpY/S220/riefqie.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7890961627097092465.post-813005856010040814</id><published>2009-03-27T10:37:00.000-07:00</published><updated>2009-03-27T10:40:21.047-07:00</updated><title type='text'>PERSIAPAN ANAK MASUK SEKOLAH</title><content type='html'>MEMPERSIAPKAN ANAK MASUK SEKOLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ajaran baru selalu membuat orang tua menjadi sibuk. Selain mencari sekolah yang dianggap baik, juga biaya yang semakin mahal dan anak juga harus disiapkan kemampuannya bahkan sampai ada Taman Kanak-kanak (TK) yang melakukan tes masuk untuk calon murid-murinya. Sebagian orang tua menganggap hal tersebut merupakan aturan yang berlebihan, sebagian menganggap biasa bahkan tidak jarang pada anak play group diberikan tugas di rumah (PR) agar kelak siap masuk taman kanak-kanak.&lt;br /&gt;Sebetulnya apa yang dimaksud anak sudah siap sekolah tersebut? Jika orang tua mengetahui kemampuan apa yang harus dimiliki anak sebelum masuk sekolah tentunya hal tersebut akan mem- bantu setiap orang tua untuk mempersiapkan dan dapat mengamati sendiri anaknya apakah sudah siap untuk sekolah. &lt;br /&gt;Pada saat anak mulai memasuki bangku sekolah dengan keadaan siap untuk belajar, mereka lebih mudah untuk berhasil mengikuti pelajaran di sekolah. Di Amerika, guru-guru TK melaporkan sedikitnya setengah anak didiknya mempunyai masalah pada saat memulai pendidikan, termasuk didalamnya kesulitan mengikuti perintah, rendahnya kemampuan akademik dan atau kesulitan ber aktivitas secara mandiri. &lt;br /&gt;Masa sebelum masuk sekolah merupakan periode sampai usia 5 tahun (Balita). Mereka merupakan generasi penerus bangsa yang perlu perhatian, karena awal kehidupan merupakan masa yang sangat peka terhadap lingkungan. Berbeda dengan otak orang dewasa, otak balita lebih plastis. Plastisitas otak ini mempunyai sisi positif dan negatif. Sisi positifnya, berarti otak balita lebih terbuka untuk belajar dan diperkaya. Sedangkan sisi negatifnya adalah otak balita lebih peka terhadap lingkungan, terutama lingkungan yang tidak mendukung termasuk kemiskinan dan stimulasi yang kurang. Sehingga masa ini disebut juga sebagai "masa keemasan" (golden period), atau "jendela kesempatan" (window of opportunity) atau "masa kritis" (critical period). Berhubung masa ini tidak berlangsung lama, maka anak harus mendapat perhatian yang serius pada awal kehidupannya, yaitu: gizi yang baik, stimulasi yang memadai, mengeliminasi faktor-faktor lingkungan yang dapat mengganggu tumbuh kembang anak, juga deteksi dini terhadap penyimpangan tumbuh kembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BATASAN KESIAPAN BERSEKOLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara konvensional batasan Kesiapan Bersekolah dipandang sempit hanya terbatas pada masalah kesiapan akademik yang terstruktur. Namun demikian berdasarkan penelitian pada perkembangan anak dan edukasi dini, batasan dari kesiapan bersekolah ternyata lebih luas, di dalamnya tercakup kesiapan fisik, sosial dan emosional, termasuk kesiapan secara kognitif.&lt;br /&gt;Terdapat 3 komponen utama untuk kesiapan bersekolah yaitu kesiapan anak, kesiapan sekolah dan kerangka investasi masyarakat.&lt;br /&gt;I. Kesiapan anak&lt;br /&gt;Terdapat 5 aspek utama: dalam kesiapan anak&lt;br /&gt;Kesehatan fisik dan perkembangan motorik:&lt;br /&gt;Aspek ini meliputi status kesehatan, pertumbuhan dan kemampuan fisik. Termasuk juga didalamnya kemampuan fisik seperti kemampuan menggunakan otot-otot kecil/ motorik halus dan kemampuan menggunakan otot-otot besar/&lt;br /&gt;motorik kasar, hal ini juga terkait pada kondisi selama dan setelah kelahiran.&lt;br /&gt;Perkembangan sosial dan emosional:&lt;br /&gt;Perkembangan sosial merujuk pada kemampuan anak untuk berinteraksi secara sosial. Kemampuan adaptasi yang positif terhadap lingkungan sekolah membutuhkan kemampuan sosial untuk saling pengertian dan bekerja sama. Perkembangan emosionat termasuk di dalamnya kemampuan persepsi terhadap dirinya, kemampuan memahami emosi orang lain dan kemampuan untuk mengerti serta mampu mengekspresikan perasaannya.&lt;br /&gt;Pendekatan pembelajaran:&lt;br /&gt;Aspek ini merujuk pada kecenderungan&lt;br /&gt;menggunakan keahlian, pengetahuan dan kemampuan. Komponen kuncinya termasuk antusiasme, keingintahuan dan kemampuan menyelesaikan tugas, seperti pola temperamen dan nilai kultural.&lt;br /&gt;Perkembangan bahasa&lt;br /&gt;Aspek ini meliputi bahasa verbal dan kemampuan membaca. Bahasa verbal meliputi kemampuan mendengar, berbicara dan perbendaharaan kata. Kemampuan membaca termasuk membaca tulisan, pengertian tehadap suatu cerita dan proses menulis.&lt;br /&gt;Kognisi dan pengetahuan umum&lt;br /&gt;Aspek ini meliputi kemampuan untuk mengetahui sifat dan benda tertentu dan kemampuan yang didapat dengan mengamati objek, peristiwa atau orang mengenai kesamaan, perbedaan dan hubungannya. Termasuk juga pengetahuan tentang konsep perhitungan.&lt;br /&gt;2. Kesiapan sekolah&lt;br /&gt;Kriteria sekolah yang slap mendukung pembelajaran dan perkembangan anak merupakan sekolah yang mempunyai ciri-ciri:&lt;br /&gt;terdapatnya masa transisi antara lingkungan rumah ke lingkungan sekolah.&lt;br /&gt;berusaha mempertahankan kontinuitas antara asuhan awal, program pendidikan yang diterapkan dan pendidikan sekolah dasar.&lt;br /&gt;menolong anak untuk belajar dan dapat mengerti kompleksitas dunia yang dihadapinya.&lt;br /&gt;memiliki kepedulian terhadap keberhasilan yang dicapai oleh setiap anak didik.&lt;br /&gt;memperkenalkan dan mengembangkan pendekatan-pendekatan yang telah terbukti berhasil meningkatkan keberhasilan proses belajar.&lt;br /&gt;3. Kerangka investasi masyarakat pada kesiapan bersekolah&lt;br /&gt;Kesiapan bersekolah dari sudut pandang komunitas pada hakekatnya adalah bentuk investasi masyarakat dalam membentuk kualitas masyarakat yang tinggi dikemudian hari. Faktor dukungan keluarga, pola asuh, pendidikan dan faktor lingkungan Iainnya ternyata memberikan pengaruh kuat yang dapat membantu perkembangan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENILAIAN KESIAPAN BERSEKOLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian seperti apa yang perlu kita tahu  tetang kesiapan anak-anak kita untujk sekolah. Yang mana diataranya;&lt;br /&gt;1. Tes Psikologis&lt;br /&gt;Tes psikologis biasanya dilakukan oleh psikolog. Hasil tes ini dapat memberikan informasi bahwa ada sesuatu masalah yang spesifik pada anak, untuk selanjutnya mereka akan mendapatkan intervensi dini dan setelah itu dilakukan evaluasi apakah ada manfaatnya bagi anak tersebut, atau harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.&lt;br /&gt;2. Ceklist Kesiapan Bersekolah&lt;br /&gt;Merupakan alat yang sederhana dan memungkinkan penggunaan secara luas. Orang tua dapat mengetahui secana umum kemampuan anak sebagal prasyarat masuk TK atau sekolah dasar &lt;br /&gt;Taman Kanak-kanak&lt;br /&gt;Mengetahui warna dasar&lt;br /&gt;Mengenal beberapa huruf besar&lt;br /&gt;Mengenal angka 1-10&lt;br /&gt;Menulis nama pertama dengan jelas&lt;br /&gt;Menggambar meniru bentuk&lt;br /&gt;Dapat menghitung benda satu demi satu&lt;br /&gt;Bermain secara kooperatif&lt;br /&gt;Sekolah Dasar&lt;br /&gt;Mengetahui alamat dan tanggal lahir&lt;br /&gt;Mengenal semua huruf (huruf besar dan kecil)&lt;br /&gt;Mengenal suara yang dibentuk oleh suatu kata&lt;br /&gt;Membaca beberapa kata sederhana&lt;br /&gt;Mengerti konsep "lebih banyak" dan "lebih sedikit"&lt;br /&gt;Dapat bekerjasama dalam menyelesaikan tugas dengan anak lain&lt;br /&gt;Mengerti humor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada lima tahun pentama kehidupan, anak mengalami penkembangan yang pesat pada semua bidang perkembangan. Misalnya perkembangan bahasa, kemampuan kognitif, kemampuan mengendalikan emosi, stres dan kemampuan bekerjasama dengan teman sebayanya. Tercapainya kemampuan perkembangan ini sangat erat kamtannya dengan stimulasi/latihan yang didapat, sedangkan sebagian besar waktu anak bensama keluarga khususnya ibu. Maka sudah sewajarnya seluruh anggota keluarga turut terlibat memberikan Iingkungan yang balk khususnya dalam memberikan nutnisi dan stimulasi sehingga anak balita dapat tumbuh kembang secara optimal.&lt;br /&gt;Semua yang sudah dibicarakan di atas tersebut masih harus kita tambahkan bentuk kegiatan untuk mengenal dengan baik nilai-nilai moral yang ada dalam agama Islam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7890961627097092465-813005856010040814?l=riefqie-yupss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/feeds/813005856010040814/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/03/persiapan-anak-masuk-sekolah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/813005856010040814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/813005856010040814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/03/persiapan-anak-masuk-sekolah.html' title='PERSIAPAN ANAK MASUK SEKOLAH'/><author><name>Muh. Rifqi Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16755920782633062813</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/TOfawZe8c2I/AAAAAAAAAIo/dDxA3VkKIpY/S220/riefqie.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7890961627097092465.post-6476509126388354682</id><published>2009-03-27T10:24:00.000-07:00</published><updated>2009-03-27T10:36:40.703-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PENDIDIKAN'/><title type='text'>PSIKOLOGI ANAK</title><content type='html'>PSIKOLOGI ANAK PADA USIA 4 TAHUN LEBIH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan Anak (Perkembangan Fisik, Perkembangan Motorik, Perkembangan Kognitif, Perkembangan Psikososial) - Periode ini merupakan kelanjutan dari masa bayi (lahir – usia 4 th) yang ditandai  dengan terjadinya perkembangan fisik, motorik dan kognitif (perubahan dalam sikap, nilai, dan perilaku), psikosial serta diikuti oleh perubahan – perubahan yang lain. &lt;br /&gt;1. Perkembangan Fisik &lt;br /&gt;            Pertumbuhan fisik pada masa ini lambat dan relatif seimbang. Peningkatan berat badan anak lebih banyak dari pada panjang badannya. Peningkatan berat badan anak terjadi terutama karena bertambahnya ukuran sistem rangka, otot dan ukuran beberapa organ tubuh lainnya. &lt;br /&gt;2. Perkembangan Motorik &lt;br /&gt;            Perkembangan motorik pada usia ini menjadi lebih halus dan lebih terkoordinasi dibandingkan dengan masa bayi. Anak – anak terlihat lebih cepat dalam berlari dan pandai meloncat serta mampu menjaga keseimbangan badannya. Untuk memperhalus ketrampilan – ketrampilan motorik, anak – anak terus melakukan berbagai aktivitas fisik yang terkadang bersifat informal dalam bentuk permainan. Disamping itu, anak – anak juga melibatkan diri dalam aktivitas permainan olahraga yang bersifat formal, seperti senam, berenang, dll. &lt;br /&gt;            Beberapa perkembangan motorik (kasar  maupun halus) selama periode ini, antara lain : &lt;br /&gt;a). Anak Usia 5 Tahun &lt;br /&gt;-        Mampu melompat dan menari &lt;br /&gt;-        Menggambarkan orang yang terdiri dari kepala, lengan dan badan &lt;br /&gt;-        Dapat menghitung jari – jarinya &lt;br /&gt;-        Mendengar dan mengulang hal – hal penting dan mampu bercerita &lt;br /&gt;-        Mempunyai minat terhadap kata-kata baru beserta artinya &lt;br /&gt;-        Memprotes bila dilarang apa yang menjadi keinginannya &lt;br /&gt;-        Mampu membedakan besar dan kecil &lt;br /&gt;b). Anak Usia 6 Tahun &lt;br /&gt;-        Ketangkasan meningkat &lt;br /&gt;-        Melompat tali &lt;br /&gt;-        Bermain sepeda &lt;br /&gt;-        Mengetahui kanan dan kiri &lt;br /&gt;-        Mungkin bertindak menentang dan tidak sopan &lt;br /&gt;-        Mampu menguraikan objek-objek dengan gambar&lt;br /&gt;c). Anak Usia 7 Tahun &lt;br /&gt;-        Mulai membaca dengan lancar &lt;br /&gt;-        Cemas terhadap kegagalan &lt;br /&gt;-        Peningkatan minat pada bidang spiritual &lt;br /&gt;-        Kadang Malu atau sedih&lt;br /&gt;d). Anak Usia 8 – 9 Tahun &lt;br /&gt;-        Kecepatan dan kehalusan aktivitas motorik meningkat &lt;br /&gt;-        Mampu menggunakan peralatan rumah tangga &lt;br /&gt;-        Ketrampilan lebih individual &lt;br /&gt;-        Ingin terlibat dalam sesuatu &lt;br /&gt;-        Menyukai kelompok dan mode &lt;br /&gt;-        Mencari teman secara aktif. &lt;br /&gt;e). Anak Usia 10 – 12 Tahun &lt;br /&gt;-        Perubahan sifat berkaitan dengan berubahnya postur tubuh  yang berhubungan dengan pubertas mulai tampak &lt;br /&gt;-        Mampu melakukan aktivitas rumah tangga, seperti mencuci, menjemur pakaian sendiri , dll. &lt;br /&gt;-        Adanya keinginan anak unuk menyenangkan dan membantu orang lain &lt;br /&gt;-        Mulai tertarik dengan lawan jenis. &lt;br /&gt;3. Perkembangan Kognitif &lt;br /&gt;            Dalam keadaan normal, pada periode ini pikiran anak berkembang secara berangsur – angsur. Jika pada periode sebelumnya, daya pikir anak masih bersifat imajinatif dan egosentris, maka pada periode ini daya pikir anak sudah berkembang ke arah yang lebih konkrit, rasional dan objektif. Daya ingatnya menjadi sangat kuat, sehingga anak benar-benar berada pada stadium belajar. &lt;br /&gt;            Menurut teori Piaget, pemikiran anak – anak  usia sekolah dasar disebut pemikiran Operasional Konkrit (Concret Operational Thought), artinya aktivitas mental yang difokuskan pada objek – objek  peristiwa nyata atau konkrit. Dalam upaya memahami alam sekitarnya, mereka tidak lagi terlalu mengandalkan informasi yang bersumber dari pancaindera, karena ia mulai mempunyai kemampuan untuk membedakan apa yang tampak oleh mata dengan kenyataan sesungguhnya. Dalam masa ini, anak telah mengembangkan 3 macam proses yang disebut dengan operasi – operasi, yaitu : &lt;br /&gt;a). Negasi (Negation), yaitu pada masa konkrit operasional, anak memahami hubungan –          hubungan antara benda atau keadaan yag satu dengan benda atau keadaan yang lain. &lt;br /&gt;b). Hubungan Timbal Balik (Resiprok), yaitu anak telah mengetahui hubungan sebab-akibat       dalam suatu keadaan. &lt;br /&gt;c). Identitas, yaitu anak sudah mampu mengenal satu persatu deretan benda-benda yang ada. &lt;br /&gt;     Operasi yang terjadi dalam diri anak memungkinkan pula untuk mengetahui suatu perbuatan tanpa melihat bahwa perbuatan tersebut ditunjukkan. Jadi, pada tahap ini anak telah memiliki struktur kognitif yang memungkinkanya dapat berfikir untuk melakukan suatu tindakan, tanpa ia sendiri bertindak secara nyata. &lt;br /&gt;a. Perkembangan Memori &lt;br /&gt;            Selama periode ini, memori jangka pendek anak telah berkembang dengan baik. Akan tetapi, memori jangka panjang tidak terjadi banyak peningkatan dengan disertai adanya keterbatasan – keterbatasan. Untuk mengurangi keterbatasan tersebut, anak berusaha menggunakan strategi memori (memory strategy), yaitu merupakan perilaku disengaja yang digunakan untuk meningkatkan memori. Matlin (1994) menyebutkan 4 macam strategi memori yang penting, yaitu : &lt;br /&gt;Rehearsal (Pengulangan) : Suatu strategi meningkatkan memori dengan cara mengulang berkali-kali informasi yang telah disampaikan. &lt;br /&gt;Organization (Organisasi) : Pengelompokan dan pengkategorian sesuatu yang digunakan untuk meningkatkan memori. Seperti, anak SD sering mengingat nama-nama teman sekelasnya menurut susunan dimana mereka duduk dalam satu kelas. &lt;br /&gt;Imagery (Perbandingan) : Membandingkan sesuatu dengan tipe dari karakteristik pembayangan dari seseorang. &lt;br /&gt;Retrieval (Pemunculan Kembali) : Proses mengeluarkan atau mengangkat informasi dari tempat penyimpanan. Ketika suatu isyarat yang mungkin dapat membantu memunculkan kembali sebuah meori, mereka akan menggunakannya secara spontan. &lt;br /&gt;Selain strategi-strategi memori diatas, terdapat hal lain yang mempengaruhi memori anak, seperti tingkat usia, sifat anak (termasuk sikap, kesehatan dan motivasi), serta pengetahuan yang diperoleh anak sebelumnya. &lt;br /&gt;b. Perkembangan Pemikiran Kritis &lt;br /&gt;            Perkembangan Pemikiran Kritis yaitu pemahaman atau refleksi terhadap permasalahan secara mendalam, mempertahankan pikiran agar tetap terbuka, tidak mempercayai begitu saja informasi-informasi yang datang dari berbagai sumber serta mampu befikir secara reflektif dan evaluatif. &lt;br /&gt;c. Perkembangan Kreativitas &lt;br /&gt;            Dalam tahap ini, anak-anak mempunyai kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Perkembangan ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan, terutama lingkungan sekolah. &lt;br /&gt;d.  Perkembangan Bahasa &lt;br /&gt;            Selama masa anak-anak awal, perkembangan bahasa terus berlanjut. Perbendaharaan kosa kata dan cara menggunakan kalimat bertambah kompleks. Perkembangan ini terlihat dalam cara berfikir tentang kata-kata, struktur kalimat dan secara bertahap anak akan mulai menggunakan kalimat yang lebih singkat dan padat, serta dapat menerapkan berbagai aturan tata bahasa secara tepat. &lt;br /&gt;4. Perkembangan Psikosial &lt;br /&gt;            Pada tahap ini, anak dapat menghadapi dan menyelesaikan tugas atau perbuatan  yang dapat membuahkan hasil, sehingga dunia psikosial anak menjadi semakin kompleks. Anak sudah siap untuk meninggalkan rumah dan orang tuanya dalam waktu terbatas, yaitu pada saat anak berada di sekolah. Melalui proses pendidikan ini, anak belajar untuk bersaing (kompetitif), kooperatif dengan orang lain, saling memberi dan menerima, setia kawan dan belajar peraturan – peraturan yang berlaku. Dalam hal ini proses sosialisasi banyak terpengaruh oleh guru dan teman sebaya. Identifikasi bukan lagi terhadap orang tua, melainkan terhadap guru. Selain itu, anak tidak lagi bersifat egosentris, ia telah mempunyai jiwa kompetitif sehingga dapat memilah apa yang baik bagi dirinya, mampu memecahkan masalahnya sendiri dan mulai melakukan identifikasi terhadap tokoh tertentu yang menarik perhatiannya. &lt;br /&gt;a. Perkembangan Pemahaman Diri &lt;br /&gt;            Pada tahap ini, pemahaman diri atau konsep diri anak mengalami perubahan yang sangat pesat. Ia lebih memahami dirinya melalui karakteristik internal daripada melalui karakteristik eksternal. &lt;br /&gt;c. Perkembangan Hubungan dengan Keluarga &lt;br /&gt;            Dalam hal ini, orang tua merasakan pengontrolan dirinya terhadap tingkah laku anak mereka berkurang dari waktu ke waktu dibandingkan dengan periode sebelumnya, karena rata-rata anak menghabiskan waktunya di sekolah. Interaksi guru dan teman sebaya di sekolah memberikan suatu peluang yang besar bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan kognitif dan ketrampilan sosial. &lt;br /&gt;d. Perkembangan Hubungan dengan Teman Sebaya &lt;br /&gt;            Berinteraksi dengan teman sebaya merupakan aktivitas yang banyak menyita waktu. Umumnya mereka meluangkan waktu lebih dari 40% untuk berinteraksi dengan teman sebaya dan terkadang terdapat duatu grup/kelompok. Anak idak lagi puas bermain sendirian dirumah. Hal ini karena anak mempunyai kenginan kuat untuk diterima sebagai anggota kelompok. &lt;br /&gt;Catatan: ingin lebih jelas!! Baca selengkapnya pada :&lt;br /&gt;Links ke artikel: "Perkembangan anak (Perkembangan Fisik, Perkembangan Motorik, Perkembangan Kognitif, Perkembangan Psikososial)" &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7890961627097092465-6476509126388354682?l=riefqie-yupss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/feeds/6476509126388354682/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/03/psikologi-anak.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/6476509126388354682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/6476509126388354682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/03/psikologi-anak.html' title='PSIKOLOGI ANAK'/><author><name>Muh. Rifqi Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16755920782633062813</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/TOfawZe8c2I/AAAAAAAAAIo/dDxA3VkKIpY/S220/riefqie.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7890961627097092465.post-4530478536147967615</id><published>2009-03-25T15:02:00.000-07:00</published><updated>2009-03-25T15:17:14.815-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Makalah'/><title type='text'>EKONOMI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/ScqtWOoNkqI/AAAAAAAAABY/D7CtsLKa4Yo/s1600-h/mio+lapis+kayu.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 298px; height: 225px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/ScqtWOoNkqI/AAAAAAAAABY/D7CtsLKa4Yo/s320/mio+lapis+kayu.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5317252907459777186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;A. Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;Batas ekonomi antar negara semakin menghilang karena globalisasi, oleh karena itu industri Indonesia makin menghadapi tantangan yang tidak mudah. Hal ini tidak lepas dari berkembangnya jaman yang memicu semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat yang kian bertambah kompleks, dari jenis produk yang sifatnya mendasar sampai pada jenis kebutuhan yang bersifat tersier, yang engkau hanya dapat dibeli dengan menukarkannya dengan nilai yang sangat fantastis.&lt;br /&gt;Perusahaan merupakan suatu bentuk organisasi produksi yang berupa melayani kebutuhan masyarakat selaku konsumen dimana untuk keperluan itu pihak produsen berupaya mengkombinasi berbagai faktor produksi sedemikian rupa untuk menghasilkan suatu produk yang dapat dikonsumsi oleh konsumsi. Pada saat sekarang ini gejala mengkonsumsi bermacam-macam produk telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat terutama dari kota-kota besar. Hal ini terlihat dari makin tingginya konsumsi produk mulai produk pakaian, makanan, minuman, kosmetika hingga produk otomotif seperti produk sepeda motor.&lt;br /&gt;Perdagangan semua jenis dan merek sepeda motor dari Indonesia pada akhir tahun 2003 melonjak tajam dibandingkan angka penjualan setahun sebelumnya, yaitu meningkat sekitar 125 (Republika, 8 Januari 2004). Persaingan penjualan produk sepeda motor ini tidak hanya dilakukan oleh produsen sepeda motor buatan Jepang saja yang selama ini merajai pangsa pasar sepeda motor di Indonesia, tetapi yang dilakukan oleh produsen sepeda motor Cina, Taiwan dan Korea yang sepertinya selalu mengekor gerak-gerik produsen motor Jepang, terlihat dari beberapa merk motor produksi negara-negara tersebut sudah banyak berkeliaran dari jalan-jalan perkotaan dan pedesaan. Harus diakui, kebanyakan bentuk fisik dari produk sepeda motor mereka sangat mirip dengan pro totipe sepeda motor merek Astrea Grand atau Supra milik Honda dan beberapa mirip Suzuki Shogun. Pada tahap awal, semuanya masih mencoba memasarkan jenis bebek yang menurut survei para dealer lebih digemari karena praktis (Suara Merdeka, 21 Juli 2000).&lt;br /&gt;Produsen dari sepeda motor dituntut untuk lebih dapat memperhitungkan kebutuhan dan motivasi apa saja yang mendasari perilaku konsumen, yang akan memungkinkan para pemasar untuk memahami dan meramalkan perilaku konsumen. Perilaku konsumen merupakan suatu proses yang muncul saat individu memilih, menggunakan dan membuang produk ataupun jasa untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya (Solomon, 1994). Peranan perilaku konsumen adalah penting, karena produsen akan mempunyai pandangan yang lebih luas dan akan mengetahui peluang baru yang berasal dari belum terpenuhinya kebutuhan konsumen, untuk keperluan tersebut, maka tahap pertama yang harus dipahami oleh para produsen adalah variabel-variabel apa saja yang mempengaruhi perilaku konsumen. Dalam hal ini yang penting untuk dipertahankan adalah faktor-faktor apa saja yang dapat menstimulir konsumen untuk membeli suatu barang (Susana, 2002).&lt;br /&gt;Aspek penting dalam kualitas meliputi pertanyaan mengenai “Apakah suatu produk atau jasa tersebut memenuhi atau bahkan melebihi harapan pelanggan?” Konsep kualitas sering dianggap sebagai ukuran relatif kebaikan suatu produk atau jasa. Para pakar pun berbeda-beda dalam mendefinisikan kualitas, salah satunya adalah menurut Goetsch dan Davis (Diptono dan Diana, 2001) yang mendefinisikan bahwa kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubngan dengan produk jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan. Adanya konsep tentang penilaian suatu kualitas produk lebih didasarkan dari terbentuknya persepsi seseorang terhadap produk tersebut. Sedangkan untuk persepsi terhadap kualitas produk sendiri dapat didefinisikan sebagai persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa layanan berkaitan dengan apa yang diharapkan oleh pelanggan (Durianto, dkk, 2001). Karena persepsi terhadap kualitas merupakan persepsi dari pelanggan, maka tidak dapat ditentukan secara obyektif. Persepsi pelanggan akan melibatkan apa yang penting bagi pelanggan karena setiap pelanggan memiliki kepentingan yang berbeda-beda terhadap suatu produk atau jasa.&lt;br /&gt;Persepsi terhadap kualitas suatu produk perlu dinilai berdasarkan sekumpulan kriteria yang berbeda karena mengingat kepentingan dan keterlibatan konsumen berbeda-beda. Persepsi terhadap kualitas mencerminkan perasaan konsumen yang secara menyeluruh mengenai suatu merk. Dalam konsep perilaku konsumen persepsi terhadap kualitas dari seorang konsumen adalah hal yang sangat penting, produsen berlomba-lomba dengan berbagai cara untuk dapat menghasilkan suatu produk atau jasa yang bagus menurut konsumen (Parji, 1991).&lt;br /&gt;Penulis memilih sepeda motor merk Honda dikarenakan selama ini sebagian masyarakat Indonesia menganggap bahwa kualitas dari motor Honda lebih baik apabila dibandingkan dengan produk sejenis lainnya, walaupun beberapa tahun belakangan ini tingkat penjualan motor Honda mengalami kekurangan. Hal tersebut dpaat terjadi dikarenakan pasaran motor yang semakin ketat dengan mulai banyak bermunculannya produk-produk sepeda motor baru seperti buatan China dan Korea dengan harga jual yang lebih murah, serta dengan model yang variatif. Hal ini juga diikuti oleh produsen-produsen dari Jepang dengan mengeluarkan motor “murah” untuk mengembalikan perhatian masyarakat yang sempat goyah, mereka juga mengeluarkan produk-produk baru dengan model dan corak yang menarik perhatian. Namun paling tidak pada saat ini sepeda motor Honda masih mampu bertahan dan daya tahan motor buatan Jepang ini masih terlihat hingga sepanjang tahun ini, keperkasaan Honda dikancah bisnis sepeda motor roda dua dari negeri ini masih belum tergoyahkan, baik bagi para pesaing sesama merk asal negeri Jepang maupun dengan pesaing dari negara China, Taiwan, Korea. Hal ini terbukti dengan market share yang dikuasai oleh Honda yang mencapai 57,4%. Mengenai masih besarnya arimo masyarakat terhadap produk sepeda motor Honda dikarenakan kualitasnya yang meyakinkan dan sudah lama digandrungi oleh masyarakat di Indonesia (Jawa Pos, Senin 14 Juli 2003).&lt;br /&gt;Konsumen cenderung menilai kualitas suatu produk berdasarkan faktor-faktor yang mereka asosiasikan dengan produk tersebut. Faktor tersebut dapat bersifat instrinsik yaitu karakteristik produk seperti ukuran, warna, rasa atau aroma dan faktor ekstrinsik seperti harga, citra toko, citra merk dan pesan promosi. Apabila atribut-atribut yang terdapat dalam suatu produk itu sesuai dengan apa yang diinginkan konsumen maka ini akan menimbulkan minat membeli (Schiffman and Kanuk dalam Cahyono, 1990).&lt;br /&gt;Minat membeli yang muncul pada seorang konsumen sering kali bukan hanya didasarkan pada pertimbangan kualitas dari produk atau jasa tersebut, tetapi ada dorongan-dorongan lain yang menimbulkan keputusan dalam pembelian suatu barang atau jasa seperti kebudayaan, kelas sosial, keluarga, pengalaman, kepribadian, sikap, kepercayaan diri, konsep diri dan sebagainya. Keputusan konsumen untuk membeli barang atau jasa, sering juga didasarkan atas pertimbangan yang irrasional, dalam artian karena barang tersebut akan dapat meningkatkan harga dirinya, supaya tidak ketinggalan jaman, dikagumi, dianggap sebagai kelas tertentu, dan sebagainya (Susana, 2002).&lt;br /&gt;B. Rumusan Masalah&lt;br /&gt;Berdasarkan dari permasalahan yang telah diuraikan di atas dan untuk memberikan arah yang jelas dari penelitian ini, maka dapat ditarik suatu rumusan masalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;“Apakah ada hubungan antara persepsi terhadap kualitas produk dengan minat membeli sepeda motor merk Honda?”&lt;br /&gt;C. Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;Berdasarkan pada perumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui :&lt;br /&gt;1) Apakah ada hubungan antara persepsi terhadap kualitas produk dengan minat membeli sepeda motor merk Honda.&lt;br /&gt;2) Sumbangan efektif persepsi terhadap kualitas produk dengan minat membeli sepeda motor merk Honda pada konsumen.&lt;br /&gt;3) Beberapa besar tingkat persepsi terhadap kualitas produk Honda pada diri seseorang konsumen.&lt;br /&gt;4) Seberapa besar tingkat minat membeli konsumen.&lt;br /&gt;D. Manfaat Penelitian &lt;br /&gt;1. Bagi ilmu pengetahuan khususnya psikologi konsumen, yaitu untuk dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan berupa data empiris tentang hubungan antara persepsi terhadap kualitas produk dengan minat membeli.&lt;br /&gt;2. Bagi produsen, membantu perusahaan untuk dapat lebih meningkatkan persepsi di masyarakat tentang kualitas produk mereka secara positif, sehingga diharapkan pembelian akan dilanjutkan dengan minat untuk pembelian ulang.&lt;br /&gt;3. Bagi masyarakat atau konsumen, dimana pemahaman akan persepsi kualitas produk ini akan dapat membantu mereka berpikir tentang pembelian sepeda motor merk Honda, sehingga konsumen mengerti akan kualitas sepeda merk Honda yang akan mereka beli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;LANDASAN TEORI&lt;br /&gt;A. Minat Membeli&lt;br /&gt;1. Pengertian Minat&lt;br /&gt;Minat merupakan salah satu aspek psikologis yang mempunyai pengaruh cukup besar terhadap sikap perilaku dan minat juga merupakan sumber motivasi yang akan mengarahkan seseorang dalam melakukan apa yang mereka lakukan (Hurigck, 1978). Gunarso (1985), mengartikan bahwa minat adalah sesuatu yang pribadi dan berhubungan dengan sikap, individu yang berminat terhadap suatu obyek akan mempunyai kekuatan atau dorongan untuk melakukan seorangkaian tingkah laku untuk mendekati atau mendapatkan objek tersebut.&lt;br /&gt;Woodworth dan Marquis (Sab’atun, 2001) berpendapat, minat merupakan suatu motif yang menyebabkan individu berhubungan secara aktif dengan obyek yang menarik baginya. Oleh karena itu minat dikatakan sebagai suatu dorongan untuk berhubungan dengan lingkungannya, kecenderungan untuk memeriksa, menyelidiki atau mengerjakan suatu aktivitas yang menarik baginya. Apabila individu menaruh minat terhadap sesuatu hal ini disebabkan obyek itu berguna untuk menenuhi kebutuhannya.&lt;br /&gt;Kecenderungan seseorang untuk memberikan perhatian apabila disertai dengan perasaan suka atau sering disebut dengan minat (Rustan, 1988). Minat tersebut apabila sudah terbentuk pada diri seseorang maka cenderung menetap sepanjang obyek minat tersebut efektif baginya, sehingga apabila obyek minat tersebut tidak efektif lagi maka minatnya pun cenderung berubah. Pada dasarnya minat merupakan suatu sikap yang dapat membuat seseorang merasa senang terhadap obyek situasi ataupun ide-ide tertentu yang biasanya diikuti oleh perasaan senang dan kecenderungan untuk mencari obyek yang disenangi tersebut. Minat seeorang baik yang bersifat menetap atau yang bersifat sementara, dan berbagai sistem motivasi yang dominan merupakan faktor penentu internal yang benar-benar mendasar dalam mempengaruhi perhatiannya (Marx dalam Suntara, 1998).&lt;br /&gt;The Liang Gie (1995) menyatakan bahwa minat merupakan landasan bagi konsentrasi dalam belajar, sedangkan Crow &amp;amp; Crow (Gie, 1995) menyatakan bahwa minat adalah dasar bagi tugas hidup untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Seseorang yang mempunyai minat terhadap sesuatu maka akan menampilkan suatu perhatian, perasaan dan sikap positif terhadap sesuatu hal tersebut. Eysenck, dkk (Ratnawati, 1992) mengemukakan bahwa minat merupakan suatu kecenderungan untuk bertingkah laku yang berorientasi pada obyek, kegiatan dan pengalaman tertentu, selanjutnya menjelaskan bahwa intensitas kecenderungan yang dimiliki seseorang berbeda dengan yang lainnya, mungkin lebih besar intensitasnya atau lebih kecil tergantung pada masing-masing orangnya.&lt;br /&gt;Menurut Chaplin (1995) minat merupakan suatu sikap yang kekal, mengikutsertakan perhatian individu dalam memilih obyek yang dirasakan menarik bagi dirinya dan minat juga merupakan suatu keadaan dari motivasi yang mengarahkan tingkah laku pada tujuan tertentu. Sedangkan Witheringan (1985) menyataka bahwa minat merupakan kesadaran individu terhadap suatu obyek tertentu (benda, orang, situasi, masalah) yang mempunyai sangkut paut dengan dirinya. Minat dipandang sebagai reaksi yang sadar, karena itu kesadaran atau info tentang suatu obyek harus ada terlebih dahulu daripada datangnya minat terhadap obyek tersebut, cukup kalau individu merasa bahwa obyek tersebut menimbulkan perbeedaan bagi dirinya.&lt;br /&gt;Dari beberapa uraian di atas, secara umum dapat diambil kesimpulan bahwa minat merupakan suatu kecenderungan seseorang untuk bertindak dan bertingkah laku terhadap obyek yang menarik perhatian disertai dengan perasaan senang.&lt;br /&gt;2. Jenis-jenis minat&lt;br /&gt;Sikap seorang konsumen terhadap minat dalam penelitian ini merupakan suatu sikap tindakan yang dilakukan oleh konsumen untuk memenuhi kebutuhan batinnya. Akan tetapi sikap seorang dalam jiwa seorang konsumen, Blum dan Balinsky (Sumarni, 2000) membedakan minat menjadi dua, yaitu :&lt;br /&gt;a. Minat subyektif adalah perasaan senang atau tidak senang pada suatu obyek yang berdasar pada pengalaman.&lt;br /&gt;b. Minat obyektif adalah suatu reaksi menerima atau menolak suatu obyek disekitarnya.&lt;br /&gt;Jones (Handayani, 2000) membagi minat menjadi dua, yaitu :&lt;br /&gt;a. Minat instrinsik yaitu minat yang berhubungan dengan aktivitas itu sendiri dan merupakan minat yang tampak nyata.&lt;br /&gt;b. Minat ekstrinsik yaitu minat yang disertai dengan perasaan senang yang berhubungan dengan tujuan aktivitas.&lt;br /&gt;Antara kedua minat tersebut seringkali sulit dipisahkan pada minat intrinsik kesenangan itu akan terus berlangsung dan dianjurkan meskipun tujuan sudah tercapai, sedangkan pada minat ekstrinsik kemungkinan bila tujuan tercapai, maka minat akan hilang.&lt;br /&gt;Menurut Syamsudin (Lidyawati, 1998) minat terbagi menjadi dua jenis, yaitu :&lt;br /&gt;a. Minat spontan, yaitu minat yang secara spontan timbul dengan sendirinya.&lt;br /&gt;b. Minat dengan sengaja, yaitu minat yang timbul karena sengaja dibangkitkan melalui rangsangan yang sengaja dipergunakan untuk membangkitkannya.&lt;br /&gt;Berdasarkan beberapa teori di atas, maka dapat disimpulkan bahwa minat terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu minat subyektif, minat obyektif, minat instrinsik, minat ekstrinsik, minat spontan dan juga minat dengan sengaja yang pada dasarnya kesemua jenis minat tersebut dapat timbul karena adanya rangsangan.&lt;br /&gt;3. Pengertian minat membeli&lt;br /&gt;Pemahaman terhadap perilaku konsumen tidak lepas dari minat membeli, karena minat membeli merupakan salah satu tahap yang pada subyek sebelum mengambil keputusan untuk membeli. Poerwadarminto (1991) mendefinisikan membeli adalah memperoleh sesuatu dengan membayar uang atau memperoleh sesuatu dengan pengorbanan, sehingga dengan mengacu pada pendapat di atas, minat membeli dapat diartikan sebagai suatu sikap senang terhadap suatu obyek yang membuat individu berusaha untuk mendapatkan obyek tersebut dengan cara membayarnya dengan uang atau dengan pengorbanan.&lt;br /&gt;Engel dkk (1995) berpendapat bahwa minat membeli sebagai suatu kekuatan pendorong atau sebagai motif yang bersifat instrinsik yang mampu mendorong seseorang untuk menaruh perhatian secara spontan, wajar, mudah, tanpa paksaan dan selektif pada suatu produk untuk kemudian mengambil keputusan membeli. Hal ini dimungkinkan oleh adanya kesesuaian dengan kepentingan individu yang bersangkutan serta memberi kesenangan, kepuasan pada dirinya. Jadi sangatlah jelas bahwa minat membeli diartikan sebagai suatusikap menyukai yang ditujukan dengan kecenderungan untuk selalu membeli yang disesuaikan dengan kesenangan dan kepentingannya.&lt;br /&gt;Menurut Markin (Suntara, 1998) minat membeli merupakan aktivitas psikis yang timbul karena adanya perasaan (afektif) dan pikiran (kognitif) terhadap suatu barang atau jasa yang diinginkan.&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas maka pengertian membeli adalah pemusatan perhatian terhadap sesuatu yang disertai dengan perasaan senang terhadap barang tersebut, kemudian minat individu tersebut menimbulkan keinginan sehingga timbul perasaan yang meyakinkan bahwa barang tersebut mempunyai manfaat sehingga individu ingin memiliki barang tersebut dengan cara membayar atau menukar dengan uang.&lt;br /&gt;4. Faktor-faktor yang mempengaruhi minat membeli&lt;br /&gt;Minat membeli adalah suatu tahapan terjadinya keputusan untuk membeli suatu produk. Francesco (Susanto, 1977) menyatakan bahwa individu dalam mengambil keputusan untuk membeli suatu barang atau jasa ditentukan oleh dua faktor, yaitu :&lt;br /&gt;a. Faktor luar atau faktor lingkungan yang mempengaruhi individu seperti lingkungan kantor, keluarga, lingkungan sekolah dan sebagainya.&lt;br /&gt;b. Faktor dalam diri individu, seperti kepribadiannya sebagai calon konsumen.&lt;br /&gt;Swastha dan Irawan (2001) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi minat membeli berhubungan dengan perasaan dan emosi, bila seseorang merasa senang dan puas dalam membeli barang atau jasa maka hal itu akan memperkuat minat membeli, kegagalan biasanya menghilangkan minat. &lt;br /&gt;Super dan Crites (Lidyawatie, 1998) menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi minat, yaitu :&lt;br /&gt;a. Perbedaan pekerjaan, artinya dengan adanya perbedaan pekerjaan seseorang dapat diperkirakan minat terhadap tingkat pendidikan yang ingin dicapainya, aktivitas yang dilakukan, penggunaan waktu senggangnya, dan lain-lain.&lt;br /&gt;b. Perbedaan sosial ekonomi, artinya seseorang yang mempunyai sosial ekonomi tinggi akan lebih mudah mencapai apa yang diinginkannya daripada yang mempunyai sosial ekonomi rendah.&lt;br /&gt;c. Perbedaan hobi atau kegemaran, artinya bagaimana seseorang menggunakan waktu senggangnya&lt;br /&gt;d. Perbedaan jenis kelamin, artinya minat wanita akan berbeda dengan minat pria, misalnya dalam pembelanjaan.&lt;br /&gt;e. Perbedaan usia, artinya usia anak-anak, remaja, dewasa dan orangtua akan berbeda minatnya terhadap suatu barang, aktivitas benda dan seseorang.&lt;br /&gt;Swastha (2000) mengatakan bahwa dalam membeli suatu barang, konsumen dipengaruhi oleh beberapa faktor di samping jenis barang, faktor demografi, dan ekonomi juga dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti motif, sikap, keyakinan, minat, kepribadian, angan-angan dan sebagainya. Kotler (1999) mengemukakan bahwa perilaku membeli dipengaruhi oleh empat faktor utama, yaitu :&lt;br /&gt;a. Budaya (culture, sub culture dan kelas ekonomi)&lt;br /&gt;b. Sosial (kelompok acuan, keluarga serta peran dan status)&lt;br /&gt;c. Pribadi (usia dan tahapan daur hidup, pekerjaan, keadaan ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian dan konsep diri).&lt;br /&gt;d. Psikologis (motivasi, persepsi, belajar, kepercayaan dan sikap) &lt;br /&gt;Schiffman dan Kanuk (Cahyono, 1990) mengatakan bahwa persepsi seesorang tentang kualitas produk akan berpengaruh terhadap minat membeli yang terdapat pada individu. Persepsi yang positif tentang kualitas produk akan merangsang timbulnya minat konsumen untuk membeli yang diikuti oleh perilaku pembelian.&lt;br /&gt;Perilaku membeli timbul karena didahului oleh adanya minat membeli, minat untuk membeli muncul salah satunya disebabkan oleh persepsi yang didapatkan bahwa produk tersebut memiliki kualitas yang baik, dalam hal ini produk sepeda motor merk Honda, menimbulkan suatu perilaku membeli produk sepeda motor tersebut. Jadi, minat membeli dapat diamati sejak sebelum perilaku membeli timbul dari konsumen.&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas maka aspek yang dipilih untuk diukur adalah aspek minat membeli dari Second dan Backman (Sab’atun, 2001) yaitu aspek kognitif, afektif dan konatif pada ketertarikan, keinginan, dan keyakinan dalam pengukuran minat membeli.&lt;br /&gt;B. Persepsi terhadap Kualitas Produk&lt;br /&gt;1. Pengertian Persepsi&lt;br /&gt;Para konsumen tidak asal saja mengambil keputusan pembelian. Pembelian maerka sangat terpengaruh oleh sifat-sifat budaya, sosial, pribadi dan psikologis. Faktor-faktor psikologis di sini diantaranya adalah motivasi, belajar, persepsi, kepercayaan dan sikap (Kotler, 1999) persepsi merupakan salah satu faktor yang penting dalam pengambilan keputusan pembelian. Persepsi merupakan suatu realitas yang ada pada diri seseorang (Simamora, 2001).&lt;br /&gt;Rakhmat (1988) berpendapat bahwa persepsi merupakan pengalaman terhadap obyek, peristiwa atau hubungan yang diperoleh dengan menyimpan, informasi dan menafsirkan pesan. Selanjutnya dikatakan oleh Walgito (1997) bahwa persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh pengindraan, yaitu merupakan proses yang berwujud diterimanya stimulus oleh individu melalui alat reseptor, yang diteruskan ke pusat susunan syaraf yaitu otak dan terjadilah proses psikologis, sehingga individu menyadari apa yang dilihat, didengar dan sebagainya. Hal itu dikuatkan oleh pendapat Davidoff (Walgito, 1994) yang mengataikan bahwa yang disebut persepsi yaitu suatu stimulus yang diindera oleh individu lalu diorganisasikan, kemudian diinterprestasikan, sehingga individu menyadari, mengerti apa yang diindera itu.&lt;br /&gt;Menurut Sanmustari (Ratnawati, 1992) persepsi diartikan sebagai suatu proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh seorang individu. Kesan yang diterima sangat tergantung dari pengalaman-pengalaman yang diperoleh melalui proses berpikir dan belajar, serta faktor-faktor luar maupun dalam yang ada pada diri individu. Persepsi merupakan faktor yang menentukan terbentuknya sikap terhadap sesuatu maupun perilaku tertentu.&lt;br /&gt;Wexley dan Yuki (1992) juga menambahkan bahwa yang dimaksud dengan persepsi adalah sebagian unit suatu rangsangankesadaran yang ada pada suatu peristiwa, dimana bagian ini diinterpretasikan sesuai dengan harapan, nilai-nilai serta keyakinan individu. David (Yamit, 2000) mengemukakan bahwa kualitas merupakan kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan.&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulokan bahwa persepsi adalah proses penginderaan, penafsiran, pengorganisasian dan penginterprestasikan terhadap suatu obyek, kejadian, informasi atau pengalaman yang mungkin dialami atau diterima individu yang kemudian diolah dan menimbulkan suatu reaksi.&lt;br /&gt;2. Pengertian kualitas produk&lt;br /&gt;Ahyari (1990) mengatakan bahwa kualitas produk merupakan jumlah dari atribut atau sifat-sifat sebagaimana didiskripsikan di dalam produk dan jasa yang bersangkutan. Dengan demikian termasuk dalam kualitas ini adalah daya tahan, kenyamanan pemakaian serta daya guna. &lt;br /&gt;Kotler (Simamora, 2002) mengatakan bahwa kualitas merupakan totalitas fitur dan karakteristik yang yang mampu memuaskan kebutuhan, yang dinyatakan maupun tidak dinyatakan, kualitas mencakup pula daya tahan produk, kehandalan, ketepatan, kemudahan operasi dan perbaikan, serta atribut-atribut nilai lainnya. Beberapa atribut itu dapat diukur secara obyektif. Dari sudut pandangan pemasaran, kualitas harus diukur sehubungan dengan persepsi kualitas para pembeli.&lt;br /&gt;Assauri (1998) mengatakan bahwa kualitas produk merupakan faktor-faktor yang terdapat dalam suatu barang atau hasil yang menyebabkan barang atau hasil tersebut sesuai dengan tujuan untuk apa barang atau hasil itu dimaksudkan.&lt;br /&gt;Kata kualitas mempunyai arti bagi masing-masing individu, terutama pada tingkatan pasar. Assauri (1998) mengatakan bahwa kualitas produk merupakan faktor-faktor yang terdapat dalam suatu barang atau hasil yang menyebabkan barang atau hasil tersebut sesuai dengan tujuan untuk apa barang atau hasil itu dimaksudkan atau dibutuhkan. Yang dimaksud faktor-faktor adalah sifat-sifat yang dimiliki oleh barang tersebut, seperti wujudnya, komposisinya dan kekuatan. Kualitas produk yang ditetapkan oleh perusahaan adalah suatu keadaan produk yang terbaik, berguna untuk memuaskan konsumen, karena konsumen lebih mengetahui apakah produk tersebut dapat mencapai tujuan yang diharapkan.&lt;br /&gt;Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kualitas produk adalah bagaimana produk itu memiliki nilai yang dapat memuaskan konsumen baik secara fisik maupun secara psikologis yang menunjuk pada atribut atau sifat-sifat yang terdapat dalam suatu barang atau hasil.&lt;br /&gt;3. Pengertian persepsi terhadap kualitas produk&lt;br /&gt;Pada hakekatnya, setiap orang selalu melakukan persepsi terhadap hal-hal di sekitarnya. Hal-hal telah dipelajari sebeluknya atau pengalaman-pengalaman masa lalunya bersama dengan hal-hal dari luar individu yang baru saja dipelajari, ditambah dengan hal-hal lain, seperti sikap, harapan-harapan, fantasi, ingatan dan nilai-nilai yang dimiliki individu akan mempengaruhi persepsinya terhadap suatu obyek persepsi.&lt;br /&gt;Simamora (2002) mengatakan bahwa yang terpenting dari kualitas produk adalah kualitas obyektif dan kualitas menurut persepsi konsumen (persepsi kualitas) yang terpenting adalah persepsi di mata konsumen.&lt;br /&gt;Persepsi konsumen terhadap sesuatu hal ini kualitas suatu produk berkaitan dengan apa yang diharapkan oleh konsumen, karena persepsi kualitas merupakan persepsi dari konsumen maka persepsi kualitas tidak dapat ditentukan secara obyektif. Persepsi konsumen akan melibatkan apa yang penting bagi konsumen sehingga akan membawa minat membeli yang berbeda pula. Melalui kemampuan mempersepsi obyek stimulus, seseorang memperoleh input berupa pengetahuan tentang kualitas suatu produk. Sehingga konsumen yang dihadapkan pada suatu produk akan merasa yakin dan tertarik terhadap kualitas dari suatu produk dan dapat pula digunakan dalam pengambilan keputusan (Wetley dan Yuki, 1992).&lt;br /&gt;Persepsi terhadap kualitas produk didefinisikan sebagai persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa layanan berkaitan dengan apa yang diharapkan oleh pelanggan (Durlanto, Sugiarto &amp;amp; Sitinjak, 2001). Karena persepsi terhadap kualitas merupakan persepsi dari pelanggan, maka tidak dapat ditentukan secara obyektif. Persepsi pelanggan akan melibatkan apa yang penting agar pelanggan karena setiap pelanggan memiliki kepentingan yang berbeda-beda terhadap suatu produk atau jasa.&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa persepsi terhadap kualitas produk adalah suatu proses yang terjadi dalam diri individu dalam memilih, menafsirkan, mengorganisasikan, menginterprestasikan, dan memberikan penilaian terhadap kualitas suatu produk apakah produk tersebut memuaskan atau tidak yang didasarkan pada pengalaman dan pengetahuannya.&lt;br /&gt;4. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi terhadap kualitas produk&lt;br /&gt;Ada beberapa faktor yang mempengaruhi persepsi individu terhadap suatu obyek. Faktor-faktor itu menyangkut faktor yang ada dalam diri individu dan faktor yang berhubungan dengan lingkungan individu. Faktor-faktor teknis dan timbul dalam diri individu yang mempengaruhi proses persepsi diantaranya faktor pengalaman, proses belajar, cakrawala dan pengetahuan (Mar’at, 1981). Kriteria-kriteria tersebut juga mempengaruhi persepsi konsumen terhadap kualitas produk yang akan mereka beli. Konsumen dapat mempunyai kesan-kesan tentang diri mereka sendiri maupun produk yang akan mereka beli, sehingga konsumen dapat mempersepsi produk yang akan dibeli dan melakukan keputusan pembelian.&lt;br /&gt;Seseorang yang mendapat rangsangan siap untuk melakukan suatu perilaku tertentu. Bagaimana orang tersebut melakukannya dipengaruhi oleh persepsi terhadap situasi. Dua orang yang mendapat rangsangan yang sama dalam situasi yang sama mungkin bertindak lain, karena mereka memandang situasi dengan cara yang berbeda.&lt;br /&gt;Faktor-faktor yang berhubungan dengan lingkungan individu adalah usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, kelas sosial dan lokasi dimana konsumen berada juga mempengaruhi persepsi konsumen (Walters dan Paul dalam Orbandini, 1996). Faktor-faktor ini menyebabkan seseorang individu memiliki pengalaman yang berbeda dengan individu lainnya, sehingga berpengaruh pula pada caranya mempersepsi stimulus yang diterima. Faktor-faktor lain yang juga ikut mempengaruhi persepsi terhadap kualitas produk adalah harga dan merk.&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi terhadap kualitas produk adalah harga, merk, pengalaman, suasana hati, usia, pendidikan dan pengetahuannya, pekerjaan, kelas sosial dan lokasi dimana konsumen itu berada.&lt;br /&gt;5. Aspek untuk mengukur persepsi terhadap kualitas produk&lt;br /&gt;Persepsi terhadap kualitas produk merupakan persepsi konsumen terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk yang berkaitan dengan apa yang diharapkan oleh konsumen. Karena persepsi kualitas tidak dapat ditentukan secara obyektif. Persepsi konsumen akan melibatkan apa yang penting bagi konsumen, karena setiap konsumen memiliki kepentingan yang berbeda-beda terhadap suatu produk (Durianto, dkk, 2001).&lt;br /&gt;Sehubungan dengan penelitian ini aspek-aspek untuk mengukur persepsi terhadap kualitas produk berdasarkan teori dari Rakhmat (1988) yang terdiri dari pengetahuan dan pengalaman. Sedangkan obyek yang dipersepsi adalah kualitas produk yang pengukurannya didasarkan pada dimensi kualitas produk dengan mengacu pada pendapat Garvin (Durianto dkk, 2001) yang mengatakan bahwa terdapat tujuh dimensi karakteristik yang digunakan oleh para konsumen dalam mempersepsi kualitas produk. Ketujuh dimensi karakteristik kualitas produktsb adalah :&lt;br /&gt;1) Kinerja : melibatkan berbagai karakteristik operasional utama, misalnya karakteristik operasional mobil adalah kecepatan, akselerasi, sistem kemudi serta kenyamanan.&lt;br /&gt;2) Pelayanan : mencerminkan kemampuan memberikan pelayanan pada produk tersebut. Misalnya motor merk tertentu menyediakan bengkel pelayanan kerusakan atau service bergaransi&lt;br /&gt;3) Ketahanan : mencerminkan umur ekonomis dari produk tsbn, atau beberapa lama produk dapat digunakan. Misal motor merk tertentu yang memposisikan dirinyta sebagai mobil tahan lama walau telah berumur di atas 5 tahun tetapi masih berfungsi dengan baik.&lt;br /&gt;4) Keandalan : konsistensi dari kinerja yang dihasilkan suatu produk dari satu pembelian ke pembelian berikutnya.&lt;br /&gt;5) Karakteristik produk : bagian-bagian tambahan dari produk. Bagian-bagian tambahan ini memberi penekanan bahwa perusahaan memahami kebutuhan pelanggarannya yang dinamis sesuai perkembangan, yaitu menyangkut corak, rasa, penampilan, bau dan daya tarik produk.&lt;br /&gt;6) Kesesuaian dengan spesifikasi : merupakan pandangan mengenai kualitas proses manufaktur (tidak ada cacat produk) sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan dan teruji.&lt;br /&gt;7) Hasil : mengarah kepada kualitas yang dirasakan yang melibatkan enam dimensi sebelumnya. Jika perusahaan tidak dapat menghasilkan hasil akhir produk yang baik maka kemungkinan produk tersebut tidak akan mempunyai atribut kualitas lain yang penting.&lt;br /&gt;Martinich (Yamit, 2001) mengemukakan bahwa ada enam dimensi karakteristik yang digunakan oleh para konsumen dalam mempersepsi kualitas suatu produk. Keenam dimensi karakteristik kualitas produk tersebut adalah :&lt;br /&gt;1) Performance : karakteristik operasi dasar dari suatu produk.&lt;br /&gt;2) Range and type of features : kemampuan atau keistimewaan yang dimiliki produk.&lt;br /&gt;3) Reliability and durability : kehandalan produk dalam penggunaan secara normal dan berapa lama produk dapat digunakan&lt;br /&gt;4) Maintainability and serviceability : kemudahan untuk pengoperasian produk dan kemudahan pemakaian.&lt;br /&gt;5) Sensory characteristics : penampilan, corak, rasa, daya tarik, bau, selera dan beberapa faktor lainnya yang mungkin terjadi aspek penting dalam kualitas.&lt;br /&gt;6) Ethical profile and image : kualitas adalah bagian terbesar dari kesan pelanggan terhadap produk.&lt;br /&gt;Dari aspek-aspek yang telah diterangkan di atas maka dipilih salah satu aspek yang dipakai, yaitu aspek persepsi terhadap kualitas produk oleh David A. Garvin (Durianto, dkk : 2001) yaitu dimensi persepsi terhadap kualitas produk terdiri dari kinerja, pelayanan, ketahanan, keandalan, karakteristik produk, kesesuaian dengan spesifikasi dan hasil yang didapatkan oleh konsumen.&lt;br /&gt;C. Hubungan antara Persepsi terhadap Kualitas Produk dengan Minat Membeli.&lt;br /&gt;Individu dalam membeli produk selalu menginginkan untuk mendapatkan produk yang baik dan berkualitas. Selama ini persepsi konsumen terhadap kualitas suatu produk masih diwarnai keragu-raguan. Ini disebabkan karena konsumen hanya mendapat sedikit informasi yang obyektif dari produsen atau pemasar. Seseorang yang telah melihat dan mendengar kualitas suatu produk tentu telah mempunyai sikap dan keyakinan terhadap produk. Hal ini tentunya akan mempengaruhi perilaku yang dimilikinya berkaitan dengan stimuli yang diterimanya. Dengan kata lain terdapat rangsangan pada diri individu yang mendorongnya berperilaku sesuai dengan obyek stimuli yang diterimanya.&lt;br /&gt;Persepsi terhadap kualitas suatu produk didefinisikan sebagai persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa layanan berkaitan dengan apa yang diharapkan oleh pelanggan (Durianto, dkk, 2001). Karena persepsi terhadap kualitas merupakan persepsi dari pelanggan, maka tidak dapat ditentukan secara obyektif. Persepsi pelanggan akan melibatkan apa yang penting bagi pelanggan karena setiap pelanggan memiliki kepentingan yang berbeda-beda terhadap suatu produk atau jasa.&lt;br /&gt;Sesuai dengan pendapat Kotler (1999) yang mengatakan bahwa para konsumen tidak asal saja mengambil keputusan pembelian. Pembelian konsumen sangat terpengaruh oleh sifat-sifat budaya, sosial, pribadi dan psikologi. Faktor-faktor psikologi dari sini diantaranya adalah motivasi, belajar, persepsi, kepercayaan dan sikap. Persepsi merupakan salah satu faktor yang penting dalam pengambilan keputusan.&lt;br /&gt;Minat merupakan sesuatu hal yang penting, karena minat merupakan suatu kondisi yang mendahului sebelum individu mempertimbangkan atau membuat keputusan untuk membeli suatu barang, sehingga minat membeli merupakan sesuatu hal yang harus diperhatikan oleh para produsen atau penjual. Susanto (1997) mengatakan bahwa individu yang mempunyai minat membeli, menunjukkan adanya perhatian dan rasa senang terhadap barang tersebut. Adanya minat individu ini menimbulkan keinginan, sehingga timbul perasaan yang menyakinkan dirinya bahra barang tersebut mempunyai manfaat bagi dirinya dan apa yang menjadi minat indibidu ini dapat diikuti oleh suatu keputusan yang akhirnya menimbulkan realisasi berupa perilaku membeli. Seperti diketahui, persepsi terhadap kualitas produk pada tiap-tiap orang berbeda, sehingga akan membawa minat membeli yang berbeda pula. Persepsi seseorang tentang kualitas suatu produk akan berpengaruh terhadap minat membeli yang terdapat pada individu. Persepsi yang positif tentang kualitas produk akan merangsang timbulnya minat konsumen untuk membeli yang diikuti oleh perilaku pembelian. Konsumen cenderung menilai kualitas suatu produk berdasar faktor-faktor yang mereka asosiasikan dengan produk tersebut. Faktor tersebut dapat bersifat intrinsik yaitu karakteristik produk seperti ukuran, warna, rasa atau aroma dan faktor ekstrinsik seperti harga, citra toko, citra merk dan pesan promosi. Apabila atribut-atribut yang terdapat dalam suatu produk itu sesuai dengan apa yang diinginkan konsumen, maka ini akan menimbulkan minat membeli (Schiffman and Kanuk dalam Cahyono, 1990).&lt;br /&gt;Produsen sebagai pembuat suatu produk, pastilah memiliki harapan agar produk yang dihasilkannya dapat laku dipasaran. Tetapi bagaimanakah sikap dari konsumen sendiri terhadap barang tersebut, apakah mereka akan memandang barang tersebut sebagai barang yang bagus, menarik, tahan lama ataukah barang tersebut jelek, tidak menarik, mudah rusak dan sebagainya yang diharapkan dari apa yang telah didengar atau dilihat oleh masyarakat itu dapat menimbulkan minat mereka untuk mengetahui lebih lanjut tentang kualitas barang tersebut secara langsung. Sehingga, berangkat dari minat tersebut mereka dapat sekedar mencoba apa yang ditawarkan, yang nantinya menimbulkan keinginan dari diri konsumen untuk ingin memiliki, terutama bila minat membeli menempatkan persepsi terhadap kualitas suatu produk sebagai faktor yang penting dalam membuat keputusan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;D. Hipotesis&lt;br /&gt;Berdasarkan semua uraian yang telah penulis kemukakan, maka hipotesis yang ingin penulis ajukan adalah : “Ada hubungan positif antara persepsi terhadap kualitas produk dengan minat membeli sepeda motor merk Honda”. Artinya semakin baik/tinggi persepsi seseorang terhadap suatu produk makaakan semakin tinggi pula minat membeli seorang konsumen, sebaliknya semakin buruk/rendah persepsi seseorang terhadap suatu produk maka akan semakin rendah pula minat membeli yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;METODE PENELITIAN&lt;br /&gt;A. Penentuan Metode Penelitian&lt;br /&gt;Dalam suatu penelitian, penentuan metode penelitian adalah hal yang sangat penting karena hal ini sangat menentukan benar atau salahnya pengambilan data dan kesimpulan dari hasil suatu penelitian. Dalam hal ini metode merupakan cara yang utama yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan penelitian dengan menggunakan teknik serta alat analisa tertentu, maka langkah-langkah yang harus ditempuh hendaknya harus sesuai dengan masalah yang dikemukakan. Hadi (2000) mengatakan bahwa kesalahan yang dilakukan dalam menentukan metode akan mengakibatkan kesalahan dalam pengambilan keputusan, sebaliknya semakin tepat metode yang digunakan diharapkan semakin baik pula hasil yang diperoleh.&lt;br /&gt;Dalam bab ini masalah-masalah yang akan dibahas berkenaan dengan penelitian yang akan dilakukan adalah :&lt;br /&gt;a) Identifikasi variabel penelitian&lt;br /&gt;b) Definisi operasional variabel penelitian&lt;br /&gt;c) Subyek penelitian&lt;br /&gt;d) Metode pengumpulan data&lt;br /&gt;e) Validitas dan reliabilitas&lt;br /&gt;f) Metode analisis data&lt;br /&gt;g) Identifikasi Variabel Penelitian&lt;br /&gt;Variabel penelitian merupakan target utama penelitian, sebelum data-data penelitian dikumpulkan, maka terlebih dahulu perlu merinci fungsi-fungsi variabel yang diangkat dalam penelitian. Hal ini akan berguna dalam menentukan rancangan yang akan dipakai (Hadi, 2000). Adapun variabel-variabel yang akan diangkat berkenaan dengan penelitian ini adalah :&lt;br /&gt;1. Variabel bebas : persepsi terhadap kualitas produk&lt;br /&gt;2. Variabel tergantung : minat membeli&lt;br /&gt;B. Definisi Operasional Variabel Penelitian&lt;br /&gt;Definisi variabel penelitian adalah penegasan arti dari konstruksi atau variabel yang dinyatakan dengan cara tertentu (Azwar, 1997). Definisi operasional ini dimaksudkan untuk menghindari kesalahpahaman mengenai data yang akan dikumpulkan dan menghindari kesesatan dalam menentukan alat pengumpulan data serta berfungsi untuk mengetahui bagaimana suatu variabel di ukur. Definisi operasional penelitian ini adalah :&lt;br /&gt;1. Persepsi terhadap kualitas produk&lt;br /&gt;Persepsi terhadap kualitas produk adalah suatu proses yang terjadi dalam diri individu dalam memilih, menafsirkan, mengorganisasikan, menginterprestasikan, dan memberikan penilaian terhadap kualitas suatu produk apakah produk tersebut memuaskan atau tidak yang didasarkan pada pengalaman dan pengetahuannya.&lt;br /&gt;Persepsi terhadap kualitas produk dalam penelitian ini diungkap dengan menggunakan skala persepsi terhadap kualitas produk yang dibuat oleh peneliti dan didasarkan pada aspek-aspek persepsi terhadap kualitas produk dari Durianto dkk (2001) : adapun aspek-aspek yang diungkap dalam skala persepsi terhadap kualitas produk ini antara lain : a) kinerja, b) pelayanan, c) ketahanan, d) keandalan, e) karakteristik produk, f0 kesesuaian dengan spesifikasi, dan g) hasil yang didapatkan oleh konsumen.&lt;br /&gt;2. Minat membeli&lt;br /&gt;Minat membeli adalah pemusatan perhatian terhadap sesuatu yang disertai dengan perasaan senang terhadap barang tersebut, kemudian minat individu tersebut menimbulkan keinginan sehingga timbul perasaan yang meyakinkan bahwa barang tersebut mempunyai manfaat sehingga individu ingin memiliki barang tersebut dengan cara membayar atau menukar dengan uang.&lt;br /&gt;Minat membeli ini diungkap melalui skala minat membeli yang dibuat oleh peneliti, yang disusun berdasaskan aspek-aspek minat membeli yang dikemukakan oleh Second dan Backman (Sab’atun, 2001) yang antara lain terdiri dari aspek-aspek sebagai berikut : a) aspek kognitif, b) aspek afektif, dan c) aspek konatif.&lt;br /&gt;C. Populasi, Sampel dan Teknik Pengumpulan Sampel&lt;br /&gt;1. Populasi&lt;br /&gt;Adalah keseluruhan individu yang ingin diselidiki dan paling sedikit mempunyai satu ciri atau sifat yang sama dan untuk siapa kenyataan yang diperoleh digeneralisasikan (Hadi, 2000). Individu yang ingin diselidiki paling sedikit mempunyai suatu ciri atau sifat yang sama. Tujuan ditetapkannya populasi adalah untuk menghindari kesalahan generalisasi kesimpulan. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang bertempat tinggal di daerah Banaran, Kabupaten Sragen yang berjumlah 250 orang.&lt;br /&gt;2. Sampel&lt;br /&gt;Merupakan bagian dari populasi yang dijadikan subyek penelitian (Hadi, 2000). Wakil atau sampel inilah yang akan diteliti dan dikenai perilaku untuk diambil kesimpulan terhadap populasi. Oleh karena itu sampel yang digunakan haryus representatif, yaitu sampel yang benar-benar mencerminkan populasinya (Suryabrata, 1990). Digunakannya sampel dalam suatu penelitian terutama didasarkan pada berbagai pertimbangan, yaitu :&lt;br /&gt;a. Sering kali tidak mungkin mengamati seluruh populasi&lt;br /&gt;b. Pengamatan terhadap seluruh anggota populasi dapat bersifat merusak&lt;br /&gt;c. Menghemat waktu, biaya dan tenaga&lt;br /&gt;d. Mampu memberikan informasi yang lebih menyeluruh dan mendalam (Durianto, dkk, 2001).&lt;br /&gt;Jenis sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah incidental sampling, yaitu hanya sampel-sampel yang dapat dijumpai oleh peneliti saja yang dijadikan subjek penelitian (Hadi, 2000), yaitu di sebagian masyarakat, daerah Banaran, Kabupaten Sragen dengan ciri-ciri sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Tercatat sebagai anggota masyarakat, daerah Banaran Kabupaten Sragen.&lt;br /&gt;b. Berusia 17 tahun ke atas&lt;br /&gt;3. Teknik pengambilan sampel&lt;br /&gt;Teknik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah incidental sampling yaitu teknik pengambilan sampel dimana kelompok subyek yang diambil secara kebetulan pada saat ditemui (Hadi, 2000).&lt;br /&gt;D. Metode Pengumpulan Data&lt;br /&gt;Metode pengumpulan data pada penelitian ini diperoleh dengan melakukan pengukuran terhadap subyek penelitian. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala psikologi yang terdiri dari skala persepsi terhadap kualitas produk dan skala minat memebli yang dibuat sendiri oleh peneliti.&lt;br /&gt;Penggunaan skala pada penelitian ini didasarkan atas karakteristik skala sebagai alat ukur psikologi yang dikemukakan oleh Azwar (1999), yaitu :&lt;br /&gt;1. Stimulusnya berupa pertanyaan atau pernyataan yang tidak langsung mengungkap atribut yang hendak diukur, melainkan indikator perilaku dari atribut yang bersangkutan.&lt;br /&gt;2. Atribut psikologis yang diungkap secara tidak langsung lewat indikator-indikator perilaku yang diterjemahkan dalam bentuk aitem-aitem.&lt;br /&gt;3. Respon subyek tidak diklasifikasikan sebagai jawaban “benar” atau “salah. Semua jawaban dapat diterima sepanjang diberikan secara jujur dan sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;Ada dua jenis skala yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu :&lt;br /&gt;1. Skala persepsi terhadap kualitas produk&lt;br /&gt;Persepsi terhadap kualitas dalam penelitian ini diungkap dengan menggunakan skala persepsi terhadap kualitas produk yang dibuat oleh peneliti yang didasarkan pada aspek-aspek persepsi terhadap kualitas produk oleh David A. Garvin (Durianto dkk, 2001). Adapun aspek-aspek yang diungkap dalam skala persepsi terhadap kualitas produk ini antara lain : a) kinerja, b) pelayanan, c) ketahanan, d) keandalan, e) karakteristik produk, f) kesesuaian dengan spesifikasi dan g) hasil.&lt;br /&gt;Skala persepsi terhadap kualitas produk ini bentuk pertanyaannmya bersifat tertutup, artinya subjek hanya memilih satu diantara beberapa alternatif jawaban yang disediakan yang sesuai dengan keadaan dirinya, dengan memberikan tanda silang. Pilihan jawaban yang dipergunakan jumlahnya genap dan setiap jawaban mengandung butir favourable dan unvafourable.&lt;br /&gt;Sistem penilaiannya dengan menggunakan skala Hadi (2000), dimana pilihan jawaban yang dipergunakan jumlahnya genap. Penilaian jawaban yang tersedia tiap-tiap aitem terdiri dari empat alternatif jawaban yang penyebaran skor intervalnya berjarak sama yaitu bergerak dari satu sampai empat. Subyek hanya memilih satu diantara empat alternatif jawaban yang disediakan dengan cara memberi tanda silang sesuai dengan keadaan subyek dan setiap jawaban mengandung butir favourable dan butir unfavourable. Syarat pemberian jawaban tersebut adalah :&lt;br /&gt;Skor untuk aitem yang bersifat favourable adalah :&lt;br /&gt;Sangat Sesuai (SS) : skor nilai 4&lt;br /&gt;Sesuai (S) : skor nilai 3&lt;br /&gt;Tidak (T) : skor nilai 2&lt;br /&gt;Sangat Tidak Sesuai (STS) : Skor nilai 1&lt;br /&gt;Selanjutnya untuk pertanyaan yang bersifat unfavourable adalah :&lt;br /&gt;Sangat Sesuai (SS) : skor nilai 1&lt;br /&gt;Sesuai (S) : skor nilai 2&lt;br /&gt;Tidak (T) : skor nilai 3&lt;br /&gt;Sangt Tidak Sesuai (STS) : Skor nilai 4&lt;br /&gt;2. Skala minat membeli&lt;br /&gt;Skala minat membeli ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa besar minat membeli yang ada pada diri seseorang. Skala minat membeli ini dibuat sendiri oleh peneliti, yang disusun berdasarkan aspek-aspek minat membeli yang dikemukakan oleh Second dan Backman (Sab’atun, 2001) yang antara lain terdiri dari aspek-aspek sebagai berikut : a) aspek kognitif, b) aspek konatif, c) aspek afektif.&lt;br /&gt;Dalam penelitian ini subyek diminta untuk memilih salah satu jawaban dari empat alternatif jawaban yang telah disediakan yang sesuai dengan keadaan dirinya.&lt;br /&gt;Penilaian jawaban mempunyai penyebaran skor yang intervalnya berjarak sama yaitu bergerak dari satu sampai empat, dan setiap jawaban mengandung butir favourable dan butir unfavourable. Syarat pemberian jawaban tersebut adalah :&lt;br /&gt;Skor untuk aitem yang bersifat favourable adalah :&lt;br /&gt;Sangat Sesuai (SS) : skor nilai 4&lt;br /&gt;Sesuai (S) : skor nilai 3&lt;br /&gt;Tidak (T) : skor nilai 2&lt;br /&gt;Sangat Tidak Sesuai (STS) : Skor nilai 1&lt;br /&gt;Selanjutnya untuk pertanyaan yang bersifat unfavourable adalah :&lt;br /&gt;Sangat Sesuai (SS) : skor nilai 1&lt;br /&gt;Sesuai (S) : skor nilai 2&lt;br /&gt;Tidak (T) : skor nilai 3&lt;br /&gt;Sangt Tidak Sesuai (STS) : Skor nilai 4&lt;br /&gt;E. Validitas Dan Reliabilitas&lt;br /&gt;1. Validitas&lt;br /&gt;Untuk mengetahui apakah skala psikologi mampu menghasilkan data yang akurat sesuai dengan tujuan ukurnya, diperlukan suatu pengujian validitas, karena aitem-aitem yang telah diseleksi berdasarkan koefisien aitem total akan mendukung reliabilitas skala, namun hal itu berarti bahwa skalanya akan valid dengan sendirinya.&lt;br /&gt;Validitas didefinisikan sebagai sejauh mana ketepatan dan kecermatan skala dalam melakukan fungsi ukurnya (Azwar, 2002). Artinya, sejauh mana skala itu mampu mengukur atribut yang ia rancang untuk mengukurnya. Pengujian validitas dilakukan terhadap alat ukur (skala) dengan menggunakan kriteria pembanding yang berasal dari alat ukur itu sendiri. Suatu test dapat dikatakan memiliki nilai validitas yang tinggi apabila test tersebut dapat menjalankan nilai validitas yang tinggi apabila test tersebut dapat menjalankan fungsi ukurnya atau memberikan hasil ukur yang tepat dan akurat sesuai dengan tujuan dikenakannya test tersebut.&lt;br /&gt;2. Reliabilitas&lt;br /&gt;Reliabilitas pada prinsipnya menunjukkan sejauh mana suatu pengukuran dapat memberikan hasil yang relatif tak berbeda apabila dilakukan pengukuran kembali terhadap subyek yang sama. Pengujian reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan analisis varians dari Hoyt (Azwar, 2002). Adapun keuntungan pemakaian koefisien reliabel dari Hoyt ini adalah dapat dikenakan pada angket yang jumlah aitemnya genap maupun ganjil.&lt;br /&gt;F. Metode Analisis Data&lt;br /&gt;Berdasarkan data yang telah terkumpul, hipotesis dan tujuan penelitian serta data yang telah ada, Suryabrata (1990) menjelaskan bahwa model statistik yang digunakan harus sesuai dengan rancangan peneliannya. Teknik yang dipakai dalam menganalisa data adalah teknik korelasi product moment. Sebagai alasan bahwa penelitian ini bertujuan untuk menguji korelasi antar dua variabel, yaitu persepsi terhadap kualitas produk sebagai variabel bebas dan minat membeli sebagai variabel tergantung. Syarat dari analisis product moment adalah :&lt;br /&gt;- Hubungan antara variabel x dan variabel y merupakan hubungan yang linier atau garis lurus.&lt;br /&gt;- Bentuk distribusi variabel x dan variabel y merupakan atau mendekati distribusi normal.&lt;br /&gt;- Data yang digunakan adalah data interval (mempunyai jarak skala yang sama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAB IV&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;A. Kritik&lt;br /&gt;Persepsi terhadap kualitas dalam penelitian ini diungkap dengan menggunakan skala persepsi terhadap kualitas produk yang dibuat oleh peneliti yang didasarkan pada aspek-aspek persepsi terhadap kualitas produk oleh David A. Garvin (Durianto dkk, 2001), namun penelitian disini kurang adanya pemahaman dikalangan orang-orang tertentu sehingga membuat persepsi penelitian kurang sesuai dengan fakta yang semestinya. Maksud dari semua itu ialah antara lain :&lt;br /&gt;a) Kurangnya pemanfaatan kinerja pemerintah dalam mendampingi berkembangnya pemuasan atau kesejahteraan terhadap konsumen atau pembeli.&lt;br /&gt;b) Berbagai macam permasalahan yang kurang adanya respon dari pemerintah setempat&lt;br /&gt;B. Saran&lt;br /&gt;a) Perlu adanya kaji ulang pihak-pihak yang bersangkutan terhadap beberap elemen yang termasuk dalam bagian organisasi itu sendiri.&lt;br /&gt;b) Berbagai macam kinerja pokok yang terjalan dengan baik dari sebelum-sebelumnya perlu duadakan peningkatan yang lebih riil dan jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;Ahyari, A. 1990. Management Produksi. Yogyakarta : BPFE&lt;br /&gt;As’ad, M. 1991. Psikologi Industri. Yogyarkata : Liberty&lt;br /&gt;Assauri, S. 1998. Manajemen Produksi dan Operasi. Edisi Revisi. Jakarta : LPFEUI&lt;br /&gt;Azwar, S. 2002. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyarkarta : Pustaka Pelajar.&lt;br /&gt;Cahyono. 1990. Studi Eksperimental : Pengaruh Pencantuman Merk terhadap Persepsi tentang Kualitas Susu Coklat pada Siswa-Siswi SMA N I Yogyarkata. Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta : Fakultas Psikologi UGM.&lt;br /&gt;Chaplin. 1995. Kamus Lengkap Psikologi (Terjemahan Kartono K). Jakarta : Rajawali&lt;br /&gt;Clindiff, E.W. Still, R.R. Govoni, N.R.P. 1988. Dasar-Dasar Marketing Modern (Terjemahan M.Manulang). Yogyarkarta : Liberty Offset.&lt;br /&gt;Durianto, D. Sugiarto dan Sitinjak, T. 2001. Strategi Menaklukkan Pasar Riset Ekuistis dan Perilaku Merk. Jakarta : Gramedia.&lt;br /&gt;Engel, James F. Blacwell, Roger D. Miniard, Paul W. 1995. Perilaku Konsumen. Jakarta : Bina Rupa Aksara.&lt;br /&gt;Gunarso, S. 1985. Psikologi Remaja. Jakarta : Andi Offset&lt;br /&gt;Handayani. 2000. Perilaku melayani ditinjau dari Minat Kerja dan Konsep Diri pada Perawatan Rumah Sakit. Skripsi (tidak diterbitkan). Surakarta : Fakultas Psikologi UMS.&lt;br /&gt;Hurlock, E.B. 1978. Child Development. Singapore : Mc. Graw – Hill Internasional Book Company.&lt;br /&gt;Irawan, H. 2002. IQ prinsip Kepuasan Pelanggan. Jakarta : PT. Gramedia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7890961627097092465-4530478536147967615?l=riefqie-yupss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/feeds/4530478536147967615/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/03/ekonomi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/4530478536147967615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/4530478536147967615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/03/ekonomi.html' title='EKONOMI'/><author><name>Muh. Rifqi Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16755920782633062813</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/TOfawZe8c2I/AAAAAAAAAIo/dDxA3VkKIpY/S220/riefqie.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/ScqtWOoNkqI/AAAAAAAAABY/D7CtsLKa4Yo/s72-c/mio+lapis+kayu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7890961627097092465.post-6158978811463683642</id><published>2009-03-25T14:40:00.000-07:00</published><updated>2009-03-25T15:04:12.619-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Makalah'/><title type='text'>KONSEP VYGOTSKY</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;A. Latar Belakang Masalah &lt;br /&gt;Beberapa pertanyaan yang pokok dalam teori perkembangan kognitif adalah: dengan alat dan cara apa orang mempereroleh pengetahuan, menyimpan, dan menggunakannya?. Pada prinsipnya hal ini berhubungan dengan alat-alat pengenalan dan bentuk-bentuk pengenalan. Kognisi adalah pengertian yang luas mengenai berfikir dan mengamati, jadi tingkah laku yang mengakibatkan orang memperoleh pengertian atau yang dibutuhkan untuk menggunakan pengertian.&lt;br /&gt;Psikolog Rusia yaitu Lev Vygotsky telah banyak mempengaruhi psikologi perkembangan dalam hal perkembangan kognisi. Dia telah memberikan banyak pendapat dan dorongan dalam hal perkembangan kognisi.&lt;br /&gt; Lev Vygotsky dapat menjadi demikian terkenal dan penting peranannya dalam dunia psikologi karma teori-teori, metode-metode dan bidang-bidang penelitian yang di kembangkannya sangat orisinil, tidak sekedar melanjutkan hal-hal yang sudah terlebih dulu di temukan orang lain. Ia tertarik khususnya pada penyelidikan-penyelidikan teoritis maupun eksprerimentil terhadap perubahan-perubahan kwalitatif pada struktur kognitif selama proses perkembangan dan berusaha menerangkannya dalam bahasa matematika logis.&lt;br /&gt;Mempelajari teori kognitif Vygotsky akan sangat berguna bagi para pendidik dalam membantu perkembangan anak didiknya. Beberapa prinsip dalam konsep Vygotsky bisa kita gunakan dalam system pembelajaran agar perkembangan anak didik menjadi maksimal. Semoga makalah ini bisa berguna bagi kita semua.Amin &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Rumusan masalah &lt;br /&gt;Di dalam makalah ini kita akan membahas tentang:&lt;br /&gt;1. Bagaimana teori perkembangan kognitif menurut konsep vygoysky?&lt;br /&gt;2. Apa pengertian dari Zona Perkembangan Proximal dan konsep Scafolding?&lt;br /&gt;3. Bagaimana penerapan konsep Vygotsky dalam system pembelajaran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Tujuan penulisan&lt;br /&gt;Berdasarkan rumusan masalah diatas,maka tujuan penulisan makalah ini adalah:&lt;br /&gt;1. Mengetahui teori perkembangan kognitif menurut konsep vygoysky.&lt;br /&gt;2. Mengetahui pengertian dari Zona Perkembangan Proxima dan konsep Scafolding &lt;br /&gt;3. Mengetahui penerapan konsep Vygotsky dalam system pembelajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Teori Perkembangan Kognitif menurut Konsep Vygotsky&lt;br /&gt;Perkembangan kognitif dan bahasa anak-anak tidak berkembang dalam situasi sosial yang hampa. Lev Vygotsky (1896-1934) seorang psikolog berkebangsaan Rusia, mengenal poin penting tentang pikiran anak lebih dari setengah abad yang lalu. Teori Vygotsky mendapat perhatian yang makin besar ketika memasuki akhir abad ke-20.&lt;br /&gt;Sezaman dengan Piaget, Vygotsky menulis di Uni Sofiet selama sepuluh tahun dari tahun 1920-1930. Namun karyanya baru dipublikasikan diduia barat pada tahun 1960an. Sejak saat itulah, tulisan-tulasannya menjadi sangat berpengaruh didunia. Vygotsky juga mengagumi Piaget , Vigotsky  setuju dengan teori Piaget bahwa perkembangan kognitiv terjadi secara bertahap dan dicirikan dengan gaya berpikir yang berbeda-beda, akan tetapi Vygotsky tidak setuju dengan pandangan Piaget bahwa anak menjelajahi dunianya sendirian dan membentuk gambara realitasya sendirian, karena menurut Vygotsky suatu pengetahuan tidak hanya didapat oleh anak itu sendiri melainkan mendapat bantuan dari lingkungannya juga. &lt;br /&gt;Karya vygotsky didasarkan pada pada tiga ide utama: &lt;br /&gt;1. Bahwa intelektual berkembang pada saat individu menghadapi ide-ide baru dan sulit mengaitkan ide-ide tersebut dengan apa yang mereka ketahui.&lt;br /&gt;2. Bahwa interaksi dengan orang lain memperkaya perkembangan intelektual.&lt;br /&gt;3. Peran utama guru adalah bertindak sebagai seorang pembantu dan mediator pembelajaran siswa.&lt;br /&gt;Sumbangan psikologi kognitif berakar dari teori-teori yang menjelaskan bagaimana otak bekerja dan bagaimana individu memperoleh dan memproses informasi. Pandangan yang ditawarkan Vygotsky dan para ahli psikologi kognitif yang lebih mutakhir adalah penting dalam memahami penggunaan-penggunaan strategi belajar karena tiga alasan. Pertama, mereka menggaris bawahi peran penting pengetahuan alam dalam proses belajar. Dua, mereka membantu kita memahami pengetahuan dan perbedaan antara berbagai jenis pengetahuan. Tiga, merka membantu menjelaskan bagaimana pengetahuan diperoleh manusia dan diproses didalam sistem memori otak.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Para ahli psikologi kognitif menyebut informasi dan pengalaman yang disimpan dalam memori jangka panjang dalam pengetahuan awal. Pengetahuan awal (prior knowlege) merupakan kumpulan dari pengetahuan dan pengalaman individu yang diperoleh sepanjang perjalanan hidup mereka, dan apa yang ia bawah kepada suatu pengalaman baru.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menurut teori Peaget Perkembangan kognitif seorang anak terjadi secara bertahap, lingkungan tidak tidak dapat mempengaruhi perkembangan pengetahuan anak. seorang anak tidak dapat menerima pengetahuan secara langsung dan tidak bisa langsung menggunakan pengetahuan tersebut, tetapi pengetahuan akan didapat secara bertahap dengan cara belajar secara aktif dilingkungan sekolah. Tapi Vygotsky tidak sependapat dengan Peaget, Vygotsky menekankan pada pembelajaran sosiokultural. Inti dari teori Vygotsky yaitu penekanan pada interaksi pembelajaran antara aspek internal dan aspek eksternal pada lingkungan social. Menurut teori Vygotsky, fungsi kognitif berasal dari interaksi sosial masing-masing individu dalam konsep budaya. Vygotsky juga yakin suatu pembelajaran tidak hanya terjadi saat disekolah atau dari guru saja, tetapi suatu pembelajaran dapat terjadi saat siswa bekerja menangani tugas-tugas yang belum pernah dipelajari disekolah namun tugas-tugas itu bisa dikerjakannya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Banyak developmentalis yang bekerja dibidang kebudayaan dan pembangunan yang sepaham dengan teori Vygotsky, yang berfokus pada konteks pembangunan social budaya. Teory Vygotsky menawarkan suatu potret perkembangan manusia sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dari kegiatan-kegiatan sosial dan budaya. Vygotsky menekankan bagaimana proses-proses perkembangan mental seperti ingatan, perhatian, dan penalaran yang melibatkan pembelajaran yang menggunakan temuan-temuan masyarakat seperti bahasa, system matematika dan alat-alat ingatan. Vygotsky lebih banyak menekankan bahasa dalam perkembangan kognitif dari pada Peaget. Bagi Peaget bahasa baru tampil ketika anak sudah mencapai tahap perkembangan yang cukup maju. pengalaman bahasa anak tergantung pada tahap perkembangan kognitif saat itu. Pada kenyatannya, Kebanyakan anak-anak diajari bahasa sejak usia yang sangat mudah. Bahkan saat anak mulai bisa melihat dunia. Kita perlu mengenalkan bahasa sejak dini untuk memperoleh keterampilan bahasa yang baik. Para pakar perilaku memandang bahasa sama dengan perilaku lainnya, misalnya duduk, berjalan atau berlari. Mereka berpendapat bahwa bahasa hanya urutan respon atau sebuah imitasi. Tetapi banyak diantara kalimat yang kita hasilkan adalah baru, kita tidak mendengar atau membicarakan sebelumnya. Kita tidak membicarakan bahasa didalam suatu ruang hampa sosial, kita memerlukan pengenalan bahasa yang lebih dini untuk memperoleh keterampilan bahasa yang baik.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt; Dewasa ini kebanyakan peneliti bahasa yakin bahwa anak-anak dari berbagai konteks social yang luas menguasai bahasa dari ibu mereka tanpa diajarkan secara khusus. Seperti halnya saat anak menangis, menangis merupakan bahasa anak saat meraka belum bisa berbicara, menangis dijadikan sebagai bahasa mereka saat mereka menginginkan sesuatu. Walaupun begitu proses pembelajaran bahasa biasanya memerlukan lebih banyak dukungan dan keterlibatan dari pengasuh dan guru. Karena dari lingkungan juga mereka akan dapat tambahan kosakata. Suatu lingkungan juga yang membangkitkan rasa ingin tahu dalam penguasaan bahasa pada anak. Perkembangan pemahaman bahasa pada anak bukan saja dipengaruhi oleh kondisi biologis anak, tetapi lngkungan bahasa disekitar anak sejak usia dini itu lebih penting. Karena bahasa berfungsi sebagai  komunikasi. Dan suatu komunikasih itu digunakan sebagai alat untuk menyelesaikan masalah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Vygotsky  juga menekankan bagaimana anak-anak dibantu berkembang dengan bimbingan dari orang-orang yang sudah terampil didalam bidang-bidang tersebut. Penekanan Vygotsky pada peran kebudayaan dan sosial didalam perkembangan kognitif berbeda dengan teori Peaget tentang anak sebagai ilmuwan kecil yang kesepian. Karena Peaget memandang anak-anak sebagai pembelajaran lewat penemuan individual. Sedangkan Vygotsky lebih banyak menekankan peranan orang dewasa dan anak anak lain dalam memuahkan perkembangan si anak..Menurut Vygotsky, anak-anak lahir dengan fungsi mental yang relative dasar seperti kemampuan untuk memahami dunia luar dan memusatkan perhatian. Namun,anak-anak tidak banyak meiliki fungsi mental yang lebih tinggi. Pengalaman dengan orang lain secara berangsur menjadi semakin mendalam dan membentuk  gambaran batin anak tentang dunia. Vygotsky juga menekankan baik levelkonteks sosial yang bersifat inter personal. Pada level institusional, sejarah kebudayaan menyediakan organisasi dan alat-alat yang berguna bagi aktivitas kognitif melalu instuisi seperti sekolah, penemuan seperti computer. Interaksi intuisional memberi kepada anak suatu norma-norma perilaku dan social yang luas untuk membimbing hidupnya.level interpersonal memiliki suatu pengaruh yang lebih langsung pada kefungsian mental anak. Menurut Vygotsky keterampilan-keterampilan dalam keberfungsian mental berkembang melalui interaksi social langsung. Melalui pengoranisasian pengalaman-pengalaman interaksi social yang berada dalam suatu latar belakang kebudayaan ini. Perkembangan anak menjadi matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Zone proximal Development Dan Konsep Scafolding&lt;br /&gt;1. Zone proximal Development&lt;br /&gt;Zona  proximal Development ( ZPD ) ialah istilah Vygotsky untuk tugas-tugas yang terlalu sulit untuk dikuasai sendiri oleh anak-anak, tetapi yang dapat dikuasai dengan bimbingan dan bantuan dari orang-orang dewasa atau anak-anak yang yang lebih terampil. Batas ZPD yang lebih rendah ialah level pemecahan masalah yang di capai oleh seorang anak yang bekerja secara mandiri. Dan batas yang lebih tinggi ialah level tanggung jawab tambahan yang dapat di terima oleh anak dengan bantuan seorang instruktur yang mampu. Penekanan Vygotsky pada ZPD menegaskan keyakinannya tentang pentingnya pengaruh-pengaruh social terhadap perkembangan kognitif dan peran pengajaran dalam perkembangan social. ZPD dikonseptualisasikan sebagai suatu ukuran potensi pembelajaran,akan tetapi IQ menekankan bahwa intelegensi adalah milik anak. sedangkan ZPD menekankan bahwa pembelajaran adalah suatu peristiwa social yang bersifat interpersonal dan dinamis yang tergantung pada paling sedikit dua pikiran, dimana yang satu lebih berilmu atau lebih terlatih dari yang lain. Pembelajaran oleh anak-anak kecilyang baru berjalan memberi contoh bagaimana ZPD bekerja. Anak-anak kecil yang baru berjalan itu harus di motivasi dan harus dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan yang menuntut ketrampilan buat mereka. Guru harus harus memiliki pengetahuan untuk melatihkan ketrampilan yang menjadi target pada setiap tingkat yang di persyaratkan oleh aktifitasnya. Guru dan anak harus saling menyesuaikan persyaratan masing-masing.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam suatu penelitian tentang hubungan antara anak-anak yang baru belajar berjalan dengan ibunya,pasangan itu di tugaskan untuk menyelesaikan sejumlah masalah yang terdiri atas berbagai jumlah (sedikit obyek vs banyak obyek) dan berbagai kompleksitas (perhitungan sederhana vs reproduksi angka). Para ibu di minta mengerjakan tugas ini sebagai suatu peluang untik mendorong pembelajaran dan pemahaman akan anak mereka. Vygotsky mengatakan bahwa bahasa dan pemikiran pada mulanya berkembang sendiri-sendiri, tetapi pada akhirnya bersatu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt; Ada dua prinsip yang mempengaruhi penyatuan pemikiran dan bahasa. Pertama, semua fungsi mental memiliki asal usul  eksternal atau sosia. Anak-anak harus  menggunakan basa dan mengkomunikasikannya kepada orang lain sebelum mereka berfokus ke dalam proses-proses mental mereka sendiri. Kedua, anak-anak harus berkomunikasi secara eksternal dan menggunakan bahasa selama periode waktu yang lama sebelum transisi dari kemampuan bicara secara eksternal ke internal berlangsung. Periode transisi ini terjadi antara usia 3 hingga 7 tahun dan meliputi berbicara kepada dirinya sendiri. Setelah beberapa saat, berbicara sendiri itu menjadi hakekat kedua anak-anak dan mereka dapat bertindak tanpa menverbalisasikannya. Bila ini terjadi anak-anak telah menginternalisasikan pembicaraan mereka yang egosentris dalam bentuk berbicara sendiri, yang menjadi pemikiran anak.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Teori Vygotsky menentang gagasan-gagasan Piaget tentang bahasa dan pemikiran. Vygotsky menyatakan bahwa bahasa, bahkan dalam bentuknya yang paling awal, adalah berbasis sosial, sementara Piaget menekankan pada percakapan anak-anak yang bersifar egosentris dan berorientasi nonsosial. Anak-anak berbicara kepada diri mereka untuk mengatur perilakunya dan untuk mengarahkan diri mereka (Duncan, 1991). Sebaliknya, Piaget menekankan bahwa percakapan anak kecil yang egosentris mencerminkan ketidakmatangan sosial dan kognitif mereka. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Meskipun pada akhirnya anak-anak akan mempelajari sendiri bebrapa konsep melalui pengalaman. sehari-hari, Vygotsky percaya bahwa anak akan jauh lebih maju dan berkembang jika berinteraksi dengan orang lain. anak-anak tidak akan mengembangkan pemikiran operasional formal tanpa bantuan orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Vygotsky, zona perkembangan proksimal merupakan celah antara actual development dan potensial development, dimana antara seorang anak dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang dewasa dan apakah seorang anak dapat melakukan Sesuatu dengan arahan orang dewasa atau kerja sama dengan teman sebaya. Zona perkembangan proximal menitik beratkan pada interaksi social akan dapat memudahkan perkembangan anak. Ketika seorang siswa mengerjakan pekerjaannya disekolah sendiri, perkembangan mereka akan lambat . jadi untuk memaksimalkan perkembangan siswa seharusnya bekerja dengan teman sebaya yang lebih terampil yang dapat memimpin secara sistematis dalam memecahkan masalah yang lebih kompleks. Melalui interaksi yang berturut-turut ini diharapkan dapat mengembangkan pengalaman berbicara, bersikap dan berdiskusi secara baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Konsep scafolding&lt;br /&gt;Selain teori Vygotsky diatas, Vygotsky juga mempuyai teori yang lain yaitu tentang “scaffolding”. Scaffolding adalah memberikan bantuan yang besar kepada seorang anak selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak tersebut untuk mengerjakan pekerjaannya sendiri dan mengambil alih tanggung jawab pekerjaan itu. Bantuan yang diberikan guru dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan menguraikan masalah kedalam bentuk lain yang memungkinkan siswa dapat mandiri.&lt;br /&gt;Vygotsky menjabarkan implikasi utama teori pembelajarannya yaitu: &lt;br /&gt;1. Menghendaki setting kelas kooperaif, sehingga siswa dapat saling berinteraksi dan saling memunculkan strategi-strategi  pemecahan masalah yang efekif dalam masng-masing zone of proximal development mereka.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;2. Pendekatan Vygotsky dalam pembelajaran dalam menekankan scaffolding. Jadi teori belajar vigotsky adalah salah satu teori belajar social sehingga sangat sesuai dengan model pembelajaran kooperatif karena dalam model pembelajaran kooperatif terjadi interaktif social yaitu interaksi antara siswa dengan siswa dan antara siswa dengan guru dalam usaha menemukan konsep-konsep danpemecahan masalah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt; Pengaruh  karya Vygotsky dan burner terhadap dunia pengajaran dijabarkan oleh smith &lt;br /&gt;1. Walaupun Vygotsky dan burner telah mengusulkan peranan yang lebih penting bagi orang dewasa dalam pembelajaran anak-anak dari pada peran yang diusulkan Peaget, keduanya tidak mendukung pengajaran diaktivis diganti sepenuhnya. Sebaliknya mereka malah menyatakan walaupun anak dilibatkan dalam pembelajaran aktif, guru harus aktif mendampingi setiap kegiatan anak-anak. Dalam istilah teoristis ini berarti anak-anak bekerja dalam zona perkembangan proksimal dan guru menyediakan scaffolding bagi anak.&lt;br /&gt;2. Secara khusus Vygotsky mengemukakan bahwa disamping guru, teman sebaya juga berpengaruh pada perkembangan kognitif anak. Berlawanan dengan pembelajaran lewat penemuan individu (individual discoveri learning) kerja kelompok secara kooperatif tampaknya mempercepat perkembangan anak.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;3. Gagasan tentang kelompok kerja kreatif ini diperluas menjadi pengajaran pribadi oleh teman sebaya, yaitu seorang anak mengajari anak lainnya yang agak tertinggal didalam pelajaran. Foot et al, menjelaskan pengajaran oleh teman sebaya ini dengan menggunakan teori vygotsky. Satu anak bisa lebih efektif membimbing anak lainnya melewati ZPD karena mereka sendiri baru saja melewati tahap itu sehingga bisa dengan mudah melihat kesulitan-kesulitan yang dihadapi anak lain dan menyediakan scaffolding yang sesuai.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Komputer juga dapat digunakan untuk meningkatkan pembelajaran dalam berbagai cara. Dalam prespektif pengikut vygotsky - bruner, perintah-perintah dilayar komputer merupakan scaffolding. Ketika anak menggunakan perangkat lunak atau software pendidikan, komputer menggunakan bantuan atau petunjuk scara detail seperti yang diisyaratkan sesuai kedudukan anak dalam ZPD. Tidak dipungkiri lagi beberapa anak dikelas lebih terampil dalam menggunakan computer sebagai tutor bagi teman sebayanya. Dengan murid-murid yang bekerja dengan komputer guru bisa bebas mencurahkan perhatiannya kepada individu-individu yang memerlukan bantuan dan menyiapkan scaffolding yang sesuai bagi masing-masing anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.  Penerapan dalam pembelajaran&lt;br /&gt;Hoover, peneliti dari Texas University of Austin yang juga CEO pada southwest educational development labolatory menyatakan: constructivism’s central idea is that human learning is contructed, that learners buld new knowledge upon the foundation of previous learning. This view of learning sharply contrasts with one in which learning is the passive transmission of information fro individual to another, a view in which reception, not contruction, is key. Ada dua hal penting disini yang berkenaan dengan pengetahuan yang dikontruksi oleh pelajar. Pertama adalah pelajar membangun satu pengertian baru dengan menggunakan apa yang sudah mereka ketahui sebelumnya. Dalam hal ini tidak ada “tabularasa” dimana pengetahuan digoreskan. Pelajar akan memasuki suasana pembelajaran dimana pengetahuan yang diterima akan dihubungkan dengan pengalaman yang sudah ada sebelumnya dan pengetahuan yang sudah dimiliki saat ini akan mempengaruhi  penerimaan pengetahuan yang baru. Dalam hal ini, Ki Hajar Dewantara adalah salah satu tulisannya yang mengungkapkan bahwa yang terjadi dalam diri anak adalah sesuai dengan “convergentie theorie”. Teori ini mengajarkan bahwa seorang anak terlahir ibarat kertas yang sudah ada tulisannya, akan tetapi semua tulisan itu masih kabur atau suram. Tugas pembelajaran adalah membantu anak untuk mempertebal tulisan-tulisan yang bersifat baik sehingga kelak dapat berubah menjadi ilmu yang berguna dan budi pekerti yang baik. Sedangkan tuisan yang sifatnya jelek harus dibiarkan agar bertambah suram atau bahkan menghilang. Ki Hajar menentang teori tabula rasa yang menganggap anak terlahir bagaikan kertas putih  yang bisa ditulisi apa saja oleh pemelajar, atau teori aliran negative yang menganggap anak lahir bagaikan kertas yang sudah penuh dengan tulisan yang tidak dapat diubah isinya . Kedua adalah bahwa pembelajaran lebih bersifat aktif dan bukan pasif. Pelajar akan membandingkan apa yang baru dipelajarinya dengan apa yang diketahuinya. Jika terdapat perbedaan, maka pelajar akan mencoba mengakomodasikan apa yang baru dipelajarinya dengan memodifikasi pengetahuan yang sudah ada atau dimilkinya. Dalam proses ini akan terjadi proses pertimbangan oleh pelajar yang akan diakhiri  dengan proses modifikasi jika pengetahuan baru tersebut dapat diterima. Salah satu landasannya adalah teori tidak kesesuaian kognitiv dari festinger (cognitive dissonance theory). Teori ini dikemukakan oleh festinger dalam bukunya yang berjudul A Theory of Cognitife dissonance. Menurut teori ini, ada kecenderungan dalam diri seseorang untuk selalu melihat konsistensi antar kognisi yang dimilikinya misalnya kepercayaan dan opini. Jika terjadi tidak kekesuaian antara sikap dengan prilaku (attitude and behavior), maka salah satu harus berubah untuk mehilangkan disonansi (ketidak-sesuaian) tersebut. Dalam hal, ada perbedaan sikap dan perilaku, maka biasanya orang akan merubah sikap untuk mengakomodasi perilaku.  Ada dua faktor yang mempengaruhi tingkat ketidak sesuaian tersebut yaitu:&lt;br /&gt;1. jumlah disanonsi keyakinan&lt;br /&gt;2. kepentingan yang ada dalam masing-masing keyainan&lt;br /&gt;Untuk menghilangkan ketidak sesuaian tersebut, pada dasarnya ada tiga cara yang dapat dilakukan oleh seseorang, yaitu:&lt;br /&gt;1. mengurangi tingkat kepentingan dalam disonansi keyakinan&lt;br /&gt;2. menembah kesesuain keyakinan melebihi disonansi keyakinan&lt;br /&gt;3. merubah disonansi keyakinan untuk menghilangkan inkonsistensi&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Disonansi sering terjadi dalam keadaan dimana seseorang harus membuat pelihan antara dua tindakan atau keyakinan yang tidak saling bersesuaian. Disonansi terbesar terjadi jika kedua elternatif memiliki tingkat atraktif yang sama. Perubahan sikap biasanya terjadi dalam arah yang memilki insentif yang lebih sedikit karena hasilnya adalah disonansi yang lebi kecil. Disini teori ini memiliki pertentangan dengan teori prilaku umum yang menganggap perubahan perilaku terbesar akan kearah peningkatan insentif.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Maddux, cleborne d Johnson, d lamont dalam tulisannya mengenai teori kontrutifis membagi paham kontruktivis kedalam dua aliran, yaitu paham kontruktivis kogitif dan paham kontruktivis social. Kontruktivis kognitif didasarkan pengembangan yang dibuat oleh ahli psikologi perkembangan Swiss dan Peaget. Teori Peaget ini mengandung dua unsur pokok yaitu, umur dan tahap perkembangan. Melalui kedua unsur ini bisa diprediksi apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh seorang anak berdasarkan umurnya, serta teori perkembangan yang menjelaskan bagaimana seorang anak membangun kemampuan kognitivnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan termasuk internalisasi atau penyerapan isyarat-isyarat sehingga anak-anak dapat berfikir dan memecahkan masalah tanpa bantuan orang lain. Internalisasi ini disebut pengaturan diri (self regulation). Langkah pertama dari pengaturan diri dan pemikiran mandiri adalah mempelajari bahwa segala sesuatu memiliki makna. Langkah kedua dalam pengembangan struktur-struktur internal dan pengaturan diri adalah latihan. Siswa berlatih gerak-gerak isyarat yang akan mendatangkan perhatian. Kemudian langkah terakhir termasuk penggunaan isyarat dan memecahkan masalah tanpa bantuan orang lain. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Vygotsky, dengan melibatkan anak berdiskusi dan berfikir (reasoning) dalam mempelajari segala kejadian, akan mendorong anak untuk merefleksikan apa yang telah dikatakan atau diperbuatnya. Hal ini dapat menjadi “inner speech” atau “inner dialogue”, dialog dengan dirinya sendiri. Ini proses awal bagi anak untuk mengetahui tentang dirinya sendiri. Selanjutnya, dikemudian hari ia akan mampu mengevaluasi diri, menganalisis kekurangan serta kekuatan yang dimilikinya. Dengan terbiasa melibatkan anak diskusi, akan membantu anak untuk bisa berfikir pada tahapan yang lebih tinggi atau meta-cognition. Proses seperti ini dapat membuatnya menjadi manusia spiritual, yaitu manusia yang tahu siapa dirinya, dan mempunyai kesadaran bahwa dirinya adalah bagian dari masyarakat, komunitas dan alam semesta. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Teori kontrukivis sosial dibangun berdasarkan pengembangan yang dibuat oleh Lev Vygotsky. Vygotsky menekankan pada lingkungan social yang ikut membantu perkembangan seorang anak. Bagi Vygotsky, budaya sangat berpengaruh sekali dalam membentuk strutur kognitif anak. Yang membantu perkembangan anak bukan hanya guru, tetapi jaga anak-anak yang lebih dewasa. Vygotsky mengemukakan konsep mengenai zone of proximal development. Dalam konsep ini seorang anak dapat memahami suatu konsep dengan bantuan orang lain yang lebih dewasa yang tidak bisa dilakukannya sendiri. Dengan begitu seorang anak akan lebih mengerti dan mempunyai banyak pengalaman dan wawasan serta dapat menyelesaiakan suatu permasalahan yang dianggapnya rumit dan memerlukan bantuan orang lain yang dianggapnya mampu membantu untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, suatu wawasan yang tidak hanya didapat didalam sekolah tapi diluar sekolah. Dan permasalahan tersebut yang ada hubungannya dengan sekolah. Disini para pendukung kontruktivisme yakin bahwa pengalaman melalui lingkungan, kita aka memperoleh informasi, dan dapat menggabungkan  pengalaman yang didapat sebelumnya dengan pengalaman yang baru. Dengan kata lain pada proses belajar masing-masing pelajar harus mengkreasikan pengetahuannya. Ada empat prinsip dasar dalam penerapan teori Vygotsky yaitu: &lt;br /&gt;1. Belajar dan berkembang adalah aktivitas social dan kolaboratif&lt;br /&gt;2. ZPD dapat menjadi pemandu dalam menyusun kurikulum dan pelajaran &lt;br /&gt;3. Pembelajaran disekolah harus dalam konteks yang bermakna, tidak boleh dipisahkan dari pengetahua anak-anak yang dibangun dalam dunia nyata mereka&lt;br /&gt;4. Pengalaman anak diluar sekolah harus dhubungkan dengan pengalaman mereka disekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAB III&lt;br /&gt;KESIMPULAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Teori Vgotsky menekankan pada pembelajaran sosiokultural. Inti dari teori Vygotsky yaitu penekanan pada interaksi pembelajaran antara aspek internal dan aspek eksternal pada lingkungan social. Menurut teori Vygotsky, fungsi kognitif berasal dari interaksi sosial masing-masing individu dalam konsep budaya.&lt;br /&gt;• Zona perkembangan proximal ( ZPD ) ialah istilah Vygotsky untuk tugas-tugas yang terlalu sulit untuk dikuasai sendiri oleh anak-anak, tetapi yang dapat dikuasai dengan bimbingan dan bantuan dari orang-orang dewasa atau anak-anak yang lebih terampil.&lt;br /&gt;• Teori kontrukivis social dibangun berdasarkan pengembangan yang dibuat oleh lev Vygotsky. Vygotsky menekankan pada lingkungan social yang ikut membantu perkembangan seorang anak. Bagi Vygotsky, budaya sangat berpengaruh sekali dalam membentuk strutur kognitif anak. Yang membantu perkembangan anak bukan hanya guru, tetapi jaga anak-anak yang lebih dewasa. Vygotsky mengemukakan konsep mengenai zone of proximal development. Ada empat prinsip dasar dalam penerapan teori Vygotsky yaitu:&lt;br /&gt;1. belajar dan berkembang adalah aktivitas social dan kolaboratif&lt;br /&gt;2. seorang yang lebih dewasa dapat menjadi pemandu dalam menyusun kurikulum dan pelajaran &lt;br /&gt;3. pembelajaran disekolah harus dalam konteks yang bermakna, tidak boleh dipisahkan dari pengetahuan anak-anak yang dibangun dalam dunia nyata mereka&lt;br /&gt;4. pengalaman anak diluar sekolah harus dihubungkan dengan pengalaman mereka di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewantara, Ki Hajar, Dasar-dasar Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, Jogjakarta; 1977.&lt;br /&gt;Http://Anwarholil.blogspot.com/2008/04/Teori-Vygotsky&lt;br /&gt;Http://ipotes.wordpress.com&lt;br /&gt;Http://rufmania.multiply.com/perkembangan-kognitif&lt;br /&gt;Http://valmband.multiply.com &lt;br /&gt;Http://viking.coe.uh.edu/ebook/et-it/social.hatm&lt;br /&gt;Http://wikipedia.org/wiki/teori-perkembangan-kognitif&lt;br /&gt;Http://www.al-azhar.ac.id/konsep-vygotsky&lt;br /&gt;Santrock, John W, 1995, Perkembangan masa hidup, edisi 5 jilid 1, Jakarta, Erlangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7890961627097092465-6158978811463683642?l=riefqie-yupss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/feeds/6158978811463683642/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/03/konsep-vygotsky-tentang-perkembangan.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/6158978811463683642'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/6158978811463683642'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/03/konsep-vygotsky-tentang-perkembangan.html' title='KONSEP VYGOTSKY'/><author><name>Muh. Rifqi Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16755920782633062813</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/TOfawZe8c2I/AAAAAAAAAIo/dDxA3VkKIpY/S220/riefqie.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7890961627097092465.post-5538931567802514247</id><published>2009-03-25T12:37:00.000-07:00</published><updated>2009-03-25T15:29:51.961-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='About This Blog'/><title type='text'>Welcome To My Blog</title><content type='html'>&lt;p&gt;Selamat Datang, Sobat...&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Silahkan nikmati sepuasnya, apapun yang tersaji di blog ini. Dijamin, semuanya free alias gratis bossssss.... tapi ingat boz.... jangan terlalu puas, koreksi dulu ok.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;by:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;riefqie_yupSs...&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7890961627097092465-5538931567802514247?l=riefqie-yupss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/feeds/5538931567802514247/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/03/welcome-to-my-blog_25.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/5538931567802514247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7890961627097092465/posts/default/5538931567802514247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://riefqie-yupss.blogspot.com/2009/03/welcome-to-my-blog_25.html' title='Welcome To My Blog'/><author><name>Muh. Rifqi Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16755920782633062813</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_H0nvdoLnWRA/TOfawZe8c2I/AAAAAAAAAIo/dDxA3VkKIpY/S220/riefqie.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
