Google
Prof. Google M. Rifqi Fauzi

Hak-hak Anak

|

Hak-hak Anak

Islam telah mengatur hak-hak anak dalam sekumpulan hukum yang mengatur kewajiban kedua orang tuanya, masyarakat di sekitarnya dan negara. Dengan demikian hak anak bukanlah hasil kesepakatan manusia yang lemah dan serba terbatas, namun hak anak merupakan kewajiban dari Allah kepada orang-orang yang harus memenuhinya. Karenanya pemenuhan hak anak adalah bagian dari ibadah atau bukti ketundukan mereka kepada Allah SWT, bukan sekedar aktivitas berdasarkan logika manusia semata atau sekedar aktivitas yang didorong oleh rasa kemanusiaan. Hak-hak anak yang harus dijamin pemenuhannya dalam Islam diantaranya:
1. Hak untuk hidup
Ketika Islam mengharamkan aborsi dan pembunuhan anak serta mengatur penangguhan pelaksanaan hukuman terhadap wanita hamil, pada saat itulah kita temukan pengaturan adanya hak untuk hidup bagi anak dalam Islam. Sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Isra’ ayat 31:
Artinya: " Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberikan rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar."
Aborsi hanya boleh dilakukan apabila kehamilan itu mengancam keselamatan nyawa ibu, sebab syara’ menetapkan bahwa keselamatan ibu harus diutamakan. Adapun alasan lain untuk aborsi tidak diperbolehkan sama sekali. Apabila ada yang melakukan aborsi, maka negara akan mengenakan sanksi berupa qishos atau diyat atas pembunuhan jiwa yang dilakukan. Sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Baqarah ayat 178:

Artinya:"Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu qishosh berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh, orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapatkan pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang dimaafkan) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik…"
Demikian juga untuk menjaga keselamatan janin, Islam telah mensyari’atkan agar pelaksanaan hukuman (had) terhadap wanita hamil ditangguhkan sampai ia melahirkan. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:
"Apabila ada seorang di antara wanita membunuh secara sengaja, ia tidak boleh dijatuhi hukuman mati sampai ia melahirkan anaknya, jika ia memang sedang hamil. Dan bilamana seorang wanita berzina, ia tidak boleh dirajam sampai ia melahirkan anaknya jika ia sedang hamil dan sampai ia selesai merawatnya." (HR Ibnu Majah).
Demi keselamatan janin Islam juga telah memberi keringanan bagi wanita hamil dalam menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Ia diperkenankan berbuka apabila ia tidak mampu atau apabila puasanya mengganggu pertumbuhan janin. Ia dapat mengganti puasanya di hari lain.
2. Hak mendapatkan nama yang baik
Abul Hasan meriwayatkan bahwa suatu hari seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad saw: "Ya Rasulullah, apakah hak anakkku dariku?" Nabi menjawab:"Engkau baguskan nama dan pendidikannya, kemudian engkau tempatkan ia di tampat yang baik."
Sabda Rasulullah saw yang lain: "Baguskanlah namamu, karena dengan nama itu kamu akan dipanggil pada hari kiamat nanti." (HR Abu Dawud dan Ibnu Hibban)
Nama anak adalah penting, karena nama dapat menunjukkan identitas keluarga, bangsa, bahkan aqidah. Ngatinem sudah pasti orang Jawa, Simorangkir jelas dari keluarga Batak, Cecep tentu dari keluarga Sunda dan Alhabsyi menunjukkan keluarga Arab. Islam menganjurkan agar orangtua memberikan nama anak yang menunjukkan identitas Islam, suatu identitas yang melintasi batas-batas rasial, geografis, etnis, dan kekerabatan. Selain itu nama juga akan berpengaruh pada konsep diri seseorang. Secara tak sadar orang akan didorong untuk memenuhi image (citra/gambaran) yang terkandung dalam namanya. Teori labelling (penamaan) menjelaskan kemungkinan seseorang menjadi jahat karena masyarakat menamainya sebagai penjahat. Memang boleh jadi orang akan berperilaku yang bertentangan dengan namanya. Seorang Fachry, apabila ia mengerti arti namanya, mungkin saja menjadi penjahat. Tetapi nama itu akan meresahkan batinnya, sehingga ia mengubah namanya atau ia mengubah perilakunya.

3. Hak penyusuan dan pengasuhan (hadlonah)
Anak berhak mendapat penyusuan dari ibunya sebagaimana firman Allah SWT:
Artinya:"Para ibu hendaknya menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (QS Al Baqoroh 233)
Dari ayat ini jelaslah bahwa anak berhak untuk mendapatkan penyususan selama dua tahun. Jika ibu tidak mampu memberi ASI maka Islam mensyari’atkan penyusuan oleh wanita lain. Sebagaimana firman Allah SWT:
Artinya:"Dan jika kamu menginginkan anak-anakmu disusukan oleh orang lain maka tidak ada dosa bagimu untuk memberikan pembayaran menurut yang patut."
Penelitian medis dan psikologis menyatakan bahwa masa dua tahun pertama sangat penting bagi pertumbuhan anak agar tumbuh sehat secara fisik dan psikis. Oleh karena itu penetapan kewajiban bagi ibu menyusui bayinya sampai dua tahun merupakan jaminan bagi anak agar tumbuh dan berkembang dengan baik. Selama masa penyusuan anak mendapatkan dua hal yang sangat berarti bagi pertumbuhan fisik dan nalurinya. Yang pertama: anak mendapatkan makanan berkualitas prima yang tiada bandingannya. ASI mengandung semua zat gizi yang diperlukan anak untuk pertumbuhannya, sekaligus mengandung antibodi yang membuat anak tahan terhadap serangan penyakit. Yang kedua : anak mendapatkan dekapan kehangatan, kasih sayang dan ketentraman yang kelak akan mempengaruhi suasana kejiwaannya di masa mendatang. Perasaan mesra, hangat, dan penuh cinta kasih yang dialami anak ketika menyusu pada ibunya akan menumbuhkan rasa kasih sayang yang tinggi kepada ibunya.
Islam juga mengatur masalah pengasuhan anak. Anak berhak mendapatkan pengasuhan yang baik sampai ia mampu mengurus dan menjaga diri sendiri. Pengasuhan merupakan jaminan keselamatan jiwa anak dari kehancuran. Seorang anak kecil tentunya bergantung kepada orang lain ketika ia harus makan, mandi , mengganti pakaiannya, dan lain-lain. Apabila pengasuhnya tidak bisa memberinya makan dengan baik, atau tidak bisa menjaga kebersihan dirinya, atau tidak bisa menjaga keselamatan fisiknya selama masa pengasuhan, tentu jiwanya terancam. Selain itu pengasuhan yang baik juga berpengaruh pada kondisi psikis anak. Pengasuhan yang memberinya rasa tenang dan aman akan menjamin kesehatan perkembangannya jiwanya .
Islam menetapkan bahwa persoalan pengasuhan merupakan kewajiban dan sekaligus hak orang-orang tertentu. Islam pun telah menetapkan bahwa orang yang lebih berhak terhadap pengasuhan ini adalah orang yang paling dekat kekerabatannya dan paling terampil (ahli) dalam pengasuhan.
Hadist yang diriwayatkan dari Amr bin Syu’aib dari kakeknya bahwa Rasulullah saw pernah ditemui seorang wanita, ia berkata:"Wahai Rasulullah, sesungguhnya anakku dulu dikandung dalam perutku, susuku sebagai pemberinya minum dan pangkuanku menjadi buaiannya. Sementara ayahnya telah menceraikanku, tetapi ia hendak mengambilnya dariku."Kemudian Rasulullah bersabda:"Engkau lebih berhak kepadanya selama engkau belum menikah"
Islam menetapkan bahwa pihak wanita (ibu) lebih utama dalam pengasuhan ini. Atas dasar ini fuqoha menetapkan urutan orang-orang yang bertanggung jawab terhadap pengasuhan adalah:
i. Ibu, nenek dari pihak ibu dan seterusnya jalur ke atas (jika masih hidup). Dalam hal ini didahulukan yang paling dekat hubungannya dengan anak.
i. Ayah, nenek dari ayah dan seterusnya jalur ke atas (jika masih hidup), kakek, ibunya kakek dan seterusnya jalur ke atas, kakeknya ayah dan para ibunya.
iii. Saudara perempuan, diutamakan yang seibu seayah, baru seayah, kemudian anak-anak mereka.
iv. Saudara laki-laki, diutamakan yang seibu seayah, baru seayah, kemudian anak-anak mereka.
v. Saudara perempuan ibu (kholah)
vi. Saudara perempuan ayah (‘ammah)
vii. Saudara laki-laki ayah (paman) yang seibu seayah, dan seayah saja.
viii. Saudara perempuan nenek dari ibu
ix. Saudara perempuan nenek dari ayah
x. Saudara perempuan kakek dari ayah
Apabila semua pihak dari kalangan ini tidak mampu, maka negara berkewajiban untuk memberikan pengasuhan anak ini ke pihak lainnya yang mampu dan dapat di percaya.

4. Hak mendapatkan kasih sayang
Rasulullah saw mengajarkan kepada kita untuk menyangi keluarga, termasuk anak di dalamnya. Ini berarti Beliau saw mengajarkan kepada kita untuk memenuhi hak anak terhadap kasih sayang. Sabda Rasulullah saw:"Orang yang paling baik di antara kamu adalah yang paling penyayang kepada keluarganya."
Rasulullah mengajarkan untuk mengungkapkan kasih sayang tidak hanya secara verbal, tetapi juga dengan perbuatan. Pada suatu hari Umar menemukan beliau saw merangkak di atas tanah, sementara dua orang anak kecil berada di atas punggungnya. Umar berkata:"Hai anak, alangkah baiknya rupa tungganganmu itu." Yang ditunggangi menjawab:"Alangkah baiknya rupa para penunggangnya". Betapa indah susasana penuh kasih sayang antara Rasul saw dengan cucu-cucu beliau.
Seorang ahli (Dorothy Law Nolte) berujar:"Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan." Bila orang tua gagal mengungkapkan rasa sayang pada anak-anaknya, anak-anak tersebut tak akan mampu menyatakan sayangnya kepada orang lain.
5. Hak mendapatkan perlindungan dan nafkah dalam keluarga
Ketika Islam memberikan kepemimpinan kepada seorang ayah di dalam keluarga, saat itulah anggota keluarga yang lain, termasuk anak di dalamnya, mendapatkan hak perlindungan dan nafkah dalam keluarga. Firman Allah dalam surah An-Nissa’ ayat 34:

Artinya:"Laki-laki adalah pemimpin (qowwam) bagi wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) menafkahkan sebagian dari harta mereka".
Firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 233:
Artinya;"… Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dangan cara yang ma’ruf…"
Kemudian firman Allah dalam surah Ath - Thalaq ayat 6:
Artinya:"Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu…"
Sebagai pemimpin dalam keluarga, seorang ayah tentu bertanggungjawab atas keselamatan anggota keluarganya, termasuk anaknya. Ia akan melindungi anaknya dari hal-hal yang membahayakan anaknya baik fisiknya maupun psikisnya. Demikian juga ia berkewajiban memberi nafkah berupa pangan, sandang, dan tempat tinggal kepada anaknya.
Apabila kepala keluarga tidak dapat mencukupi nafkah keluarganya, atau ayah telah meninggal dunia, maka wali dari anak (diantaranya paman dari ayah, saudara laki-laki, dan kakek) diberi kewajiban mencukupi nafkah keluarga tersebut. Apabila jalur kerabat tidak ada yang bisa mencukupi nafkah anak, maka negaralah yang berkewajiban memberi nafkah kepada anak. Negara menyalurkan zakat atau sumber keuangan lain yang hak kepada keluarga yang tidak mampu. Bagaimanapun keadaannya, tidak pernah seorang anak harus menafkahi dirinya sendiri.
6. Hak pendidikan dalam keluarga
Orang tua diberi kewajiban memenuhi hak anak akan pendidikan sehingga ia menjadi seorang muslim yang berkualitas. Sebagaimana firman Allah dalam QS At-Tahrim ayat 6:
Artinya:"Wahai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…"
Rasulullah juga mengajarkan betapa besarnya tanggung jawab orang tua dalam pendidikan anak. Sabdanya saw:"Tidaklah seorang anak yang lahir itu kecuali dalam keadaan fitrah. Kedua orangtuanya yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi."(HR Muslim).
Anak pertama kali mendapatkan hak pendidikannya di keluarga, sebelum ia mendapatkan pendidikan di sekolah. Mendidik anak adalah tanggung jawab bersama antara ibu dan ayah, sehingga diperlukan pasangan yang seaqidah, dan sepemahaman dalam pendidikan anak. Jika tidak demikian tentunya sulit mencapai tujuan pendidikan anak dalam keluarga.
Anak pertama kali mendapatkan pengajaran nilai-nilai tauhid dari kedua orang tuanya, demikian juga mengenai ajaran-ajaran Islam yang lain. Anak mendapatkan pendidikan yang lebih banyak berupa contoh (teladan) dari kedua orang tuanya, di samping pendidikan dalam bentuk lisan, pembiasaan dan pemberian sanksi.
7. Hak mendapatkan kebutuhan pokok sebagai warga negara
Sebagai warga negara, anak juga mendapatkan haknya akan kebutuhan pokok yang disediakan secara massal oleh negara kepada semua warga negara. Kebutuhan pokok yang disediakan secara massal oleh negara meliputi: pendidikan di sekolah, pelayanan kesehatan, dan keamanan.
Pelayanan massal ini merupakan pelaksanaan kewajiban negara terhadap penguasa kepada rakyatnya, seperti sabda Rasulullah saw:
"Seorang imam (pemimpin) adalah bagaikan penggembala, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya."(HR Ahmad, Syaikhan, Tirmidzi, Abu Dawud, dari Ibnu Umar)
Apabila hak-hak anak seperti yang disebutkan di atas dipenuhi maka anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang berkualitas: menjadi orang bertaqwa yang mampu mengendalikan hawa nafsunya sesuai perintah dan larangan Allah serta mampu mengelola kehidupan dunia dengan ilmu dan ketrampilannya. Kebutuhan fisiknya terpenuhi: kebutuhan gizinya terpenuhi, kebutuhan sandang dan perumahan yang memenuhi syarat kesehatan terpenuhi, dan apabila ia sakit tidak ada hambatan baginya untuk mendapatkan pengobatan. Demikian pula ia tumbuh dalam suasana penuh kasih sayang, tentram dan aman. Dalam kondisi fisik dan psikis yang baik ia bisa melewati proses pendidikan sesuai fase perkembangannya di dalam keluarga, juga pendidikannya di sekolah secara optimal. Dengan demikian ia bisa menguasai dengan baik tsaqofah Islam, ilmu pengetahuan dan teknologi serta ketrampilan yang diajarkan di sekolah untuk bekal kehidupannya kemudian hari.
Pandangan Terhadap Anak
Cara pandang yang benar terhadap anak merupakan langkah awal menuju optimalnya usaha pemenuhan hak-hak anak. Islam mengajarkan untuk memandang anak sebagai: perhiasan di dunia, aset
pahala bagi orang tua di hari akhirat, dan aset generasi di masa depan.
Anak sebagai perhiasan dunia
Anak-anak merupakan perhiasan kehidupan dunia yang akan menyenangkan hati orang tua. Sebagaimana firmanNya:
Artinya:"Harta benda dan anak-anak itu sebagai perhiasan hidup di dunia" (QS Al Kahfi ayat 46) Dan firmanNya:
Artinya:"Wahai Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami (agar) istri kami dan anak cucu kami sebagai penyejuk pandangan mata"(QS Al-Furqon ayat 74)
Orangtua dapat merasakan kepuasan dan kesenangan atas kehadiran anak, bila pada dirinya masih eksis fitrah insaninya. Setiap manusia mempunyai fitrah untuk mempertahankan keturunannya. Manifestasi fitrah tersebut antara lain berupa rasa cinta kepada anak dan rasa sayang kepada orang tua. Fitrah ini memang tidak akan pernah hilang, tetapi bisa tertutupi oleh hal-hal lain yang bertentangan dengan fitrah tersebut. Misalnya tertutupi oleh pemikiran-pemikiran sesat yang bertolak belakang dengan fitrah kemanusiaan. Oleh karena itu keberadaan fitrah ini harus dijaga agar senantiasa eksis.
Keberadaan fitrah inisani merupakan ‘modal dasar’ terjaminnya perlindungan hak anak oleh keluarga. Eksisnya rasa sayang orangtua kepada anak dan keberadaan anak yang membawa kesenangan bagi orang tua akan membuat orang tua rela berkorban apa saja untuk memenuhi semua hak anak.
Anak sebagai jaminan bagi orangtua di hari kiamat
Orangtua yang telah bersusah payah membesarkan, memelihara dan mendidik anak-anaknya dengan sabar akan mendapat ganjaran yang sangat besar dari Allah SWT, yakni surga. Sebagaimana riwayat dari Auf bin Malik ra bahwa Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa memiliki tiga orang anak perempuan yang dinafkahinya dengan baik sampai mereka menikah atau meninggal dunia, maka anak-anak itu menjadi tabir baginya dari neraka." (HR Al-Baihaqi)
Juga riwayat dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda:"Ada seorang hamba yang ditinggikan derajatnya. Lalu ia bertanya: Wahai Rabbku, mengapa derajat ini diberikan kepadaku? Allah berfirman: Sebab permohonan ampun anakmu untukmu sesudah meninggalmu"(HR Ahmad, Ibnu majah, dan Al-Baihaqi)
Orangtua mana yang tidak termotivasi dengan janji Allah akan surga dan derajat yang tinggi di hadapan Allah ? Pastilah orang tua yang tidak mengharapkan keridloan Allah, atau yang lebih mengejar kenikmatan dunia dibanding kekekalan kebahagiaan di akhirat.
Anak sebagai aset masa depan umat
Islam mensyariatkan pernikahan bagi umatnya. Bahkan mencela orang-orang yang tidak mau menikah (tabattul). Islam juga menganjurkan agar laki-laki memilih calon istri dari kalangan yang wanita yang penyayang, subur, dan beragama. Sebab salah satu tujuan pernikahan adalah lahirnya anak-anak sebagai pewaris orangtuanya, baik pewaris harta maupun pewaris tanggung jawab dalam mengemban risalah Islam. Sebagaimana riwayat dari Anas ra, ia berkata:

"Rasulullah saw menganjurkan para pemuda untuk kawin dan melarang keras untuk tabattul. Dan beliau bersabda:’Kawinlah kalian dengan wanita-wanita yang penyayang dan subur. Sesungguhnya dengan kalian saya ingin memperbanyak ummat di antara para nabi pada hari kiamat nanti." (HR Imam Ahmad dan Abu Hakim)
"Perempuan itu dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah perempuan yang beragama, niscaya kamu akan beruntung"(HR Bukhari)

Islam juga mensyariatkan untuk memperhatikan kualitas generasi penerusnya. Sebagaimana QS An-Nissa’ ayat 9:
Artinya:"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka…"
Dari hadist dan ayat di atas dapat dipahami bahwa ada tuntutan bagi kaum muslimin untuk menjamin kelestarian generasi masa depan dan mewujudkan generasi yang berkualitas baik. Generasi tersebut adalah generasi yang diridhoi oleh Allah SWT dan mampu memimpin manusia dengan risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw.
Pihak-pihak Yang Bertanggung Jawab atas Pemenuhan Hak Anak
Kesadaran bahwa anak adalah aset masa depan umat mengharuskan semua pihak memberikan perhatian penuh kepada anak agar mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi generasi yang berkualitas prima. Keluarga, masyarakat dan negara bahu-membahu untuk memenuhi hak-hak anak.
Orangtua dan anggota keluarga yang lain berupaya bersungguh-sungguh memenuhi hak anak. Apabila ada keluarga yang mengabaikan kewajibannya memenuhi hak anak, masyarakat di sekitarnya menasehatinya. Dengan kekuasannya negara dapat memaksa seseorang untuk menjalankan kewajibannya. Apabila tetap menolak dapat dijatuhkan sanksi pidana. Negara membuat kebijakan-kebijakan dan peraturan-peraturan yang membuat keluarga mampu memenuhi hak-hak anak dalam keluarga. Misalnya agar seorang kepala keluarga mampu menafkahi anaknya, maka negara menyediakan lapangan pekerjaan yang layak baginya. Dalam kondisi sementara, bisa saja negara mengambil alih tanggung jawab keluarga memnuhi hak anak apabila keluarga itu tidak mampu melakukannya.
Masyarakat ikut menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pemenuhan hak-hak anak, bukan malah menjadi pihak yang merampas hak-hak anak. Dalam suasana amar ma’ruf nahi mungkar masyarakat ikut mengawasi pemenuhan hak anak oleh keluarga dan negara. Apabila ada yang tidak berjalan baik akan ada "tekanan dari masyarakat" agar keluarga atau negara memperbaiki hal yang tidak beres itu. Apabila ada bagian dari masyarakat yang membahayakan anak, misalnya adanya televisi swasta yang menyiarkan acara-acara yang merusak nilai-nilai yang didapatkan dari pendidikan dalam keluarga atu di sekolah, maka negara berwenang menghentikan acara tersebut, dan memberi sanksi pidana kepada pemimpin televisi tersebut.
Negara, selain menjadi pelaksana pemenuhan hak-hak juga sebagai pengontrol pemenuhan hak-hak anak oleh keluarga dan masyarakat. Bagaimana jika negara yang lemah ? Jika negara lemah maka keluarga atau masyarakatlah yang menasehati penguasa negara. Selama penguasa dan rakyat berpegang pada ajaran Islam dalam memecahkan masalah kehidupan maka pastilah masalah itu dapat terselesaikan. Sebagaimana firman Allah dalam surah An-Nahl ayat 89:
Artinya:"…Dan Kami turunkan kepadaMu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri."
Dengan catatan penguasa dan rakyat mau mengambil Islam secara menyeluruh, bukan mengambil sebagian dan membuang sebagian yang lain.
"Apa saja (semua) yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah ia. Dan apa saja (semua) yang dilarangnya bagimua maka tinggalkanlah." (QS Al Hasyr ayat 7)
Penutup
Islam memiliki rincian mengenai hak-hak anak dan bagaimana hak-hak tersebut dapat dipenuhi. Menghadapi kondisi buruk anak pada saat ini, seharusnyalah kita sebagai orang yang beraqidah Islam, sebagai bagian dari keluarga dan masyarakat, menyelesaikan masalah anak yang ada berdasarkan ajaran Islam. Pada saat kita menyadari begitu banyak hak anak yang tidak terpenuhi karena negara tidak memenuhinya, pada saat itulah seharusnya kita mulai berjuang untuk menegakkan kekuasaan Islam yang mengaplikasikan ajaran Islam dalam bentuk perundang-undangan negara secara menyeluruh. Wallahu a’lam bish-showab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

CINTA
“Cinta” adalah ketika kau menitikkan air mata,
Disaat kau masih peduli terhadapnya.
”Cinta” adalah ketika dia tidak mempedulikanmu,
Tetapi kau masih menunggunya dengan setia
”Cinta” adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan
Kau masih bisa tersenyum sambil berkata , " Aku turut berbahagia untukmu "
Apabila cintamu tidak berhasil, bebaskanlah dirimu
Biarkanlah hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas lagi
Ingatlah….!!!
kau mungkin menemukan cinta dan kehilangannya...
Tetapi saat cinta itu dimatikan, kamu tidak perlu mati bersamanya..
Orang yang terkuat bukanlah orang yang selalu menang dalam segala hal
Tetapi mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh
Entah bagaimana, dalam perjalanan kehidupanmu,
Kau akan belajar tentang dirimu sendiri dan suatu saat kau akan menyadari
Bahwa penyesalan tidak seharusnya ada di dalam hidupmu
Hanyalah penghargaan abadi atas pilihan pilihan kehidupan yang telah kau buat
Yang seharusnya ada di dalam hidupmu
Didalam urusan cinta, kita sangat jarang menang,
Tetapi ketika cinta itu tulus...
meskipun mungkin kelihatannya kau kalah,
Tetapi sebenarnya kau menang karena kau dapat berbahagia
sewaktu kau dapat mencintai seseorang
Lebih dari kau mencintai diri kau sendiri...
Akan tiba saatnya dimana kau harus berhenti mencintai seseorang
Bukan karena orang itu berhenti mencintai kita
Atau karena ia tidak mempedulikan kita
Melainkan saat kita menyadari bahwa orang itu
Akan lebih berbahagia apabila kita melepasnya
Tetapi apabila kamu benar benar mencintai seseorang,
Jangan dengan mudah kita melepaskannya
Berjuanglah demi cintamu... Fight for your dream
”””Itulah cinta yang sejati..””