Google
Prof. Google M. Rifqi Fauzi

Contextual Teaching Learning (CTL)

|

By : M. Rifqi Fauzi
Di My Blog
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Akhir-akhir ini pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL) merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang banyak dibicarakan orang. Ada orang yang menganggap bahwa CTL adalah “mukanya” kurikulum berbasis kompetensi (KBK), artinya CTL merupakan salah satu pendekatan yang dapat diandalkan dalam mengembangkan dan mengimplementasikan KBK.
Contextual Teaching Learning (CTL) dalah salah satu pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
Contextual Teaching Learning (CTL) adalah system yang menyeluruh. CTL terdiri dari bagian-bagian yang saling terhubung. Jika bagian-bagian ini terjalin satu sama lain, maka akin dihasilkan pengaruh yang melebihi hasil yang diberikan bagian-bagiannya secara terpisah. Seperti halnya biola, cello, clarinet, dan alat music lain di dalam sebuah orchestra yang menghasilkan bunyi yang berbeda-beda secara bersama-sama menghasilkan music, demikian juga bagian-bagian CTL yang terpisah melibatkan proses-proses yang berbeda, yang ketika digunakan secara bersama-sama, memampukan para siswa membuat hubungan yang menghasilkan makna. Setiap bagian CTL yang berbeda-beda ini memberikan sumbangan dalam menolong siswa memahami tugas sekolah. Secara bersama-sama, mereka membentuk suatu system yang memungkinkan para siswa melihat makna didalamnya, dan mengingat materi akademik.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah definisi dari Contextual Teaching Learning?
2. Apakah lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan Contextual Teaching Learning?
3. Apakah perbedaan pokok antara pembelajaran Contextual Teaching Learning dengan pembelajaran konvensional jika dilihat dari konteks tertentu?
4. Apakah yang harus dilakukan oleh guru dalam menggunakan pendekatan Contextual Teaching Learning?
5. Bagaimanakah penjabaran dari asa-asas dalam pembelajaran Contextual Teaching Learning?
6. Apa sajakah yang harus ada dalam langkah penerapan Contextual Teaching Learning dalam kelas?

C. Tujuan
1. Guru dapat menerangkan materi-materi yang dianggap sulit dengan menggunakan pendekatan-pendekatan dalam pembelajaran Contextual Teaching Learning yang akin dijelaskan dalam dalam makalah ini.
2. Guru dapat menemukan solusi yang tepat dalam pemecahan masalah seputar proses pengajaran di kelas?
3. Setelah membaca makalah ini, siswa diharapkan dapat mengutarakan apa yang menjadi kendala dalam proses belajar mengajar di kelas.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Dan Karakteristik Contekstual Teaching Learning (CTL)
Contektual Teaching And Learning (CTL) adalah suatu pendidikan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkan dalam kehidupan mereka.dari konsep tersebut ada 3 hal yang harus kita pahami,pertama,CTL menekankan pada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi,artinya proses belajar diorentasikan pada proses pengalaman secara langsung,proses belajar dalam konteks CTL tidak mengharapkan agar siswa tidak hanya menerima pelajaran,akan tetapi proses mengari dan menemukan sendiri materi pelajaran, kedua,CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang akan dipelajari dengan situasi kehidupan nyata,artinya siswa dituntut untuk dapat menerapkan hubungan antara pengalaman belajar disekolah dengan kehidupan nyata.hal ini sangat penting,sebab dengan dapat mengerelasikan materi yang ditemukan,materi itu akan bermakana secara fungsional akan tetapi materi yang dipelajari akan tertanam erat dalam memori siswa swehingga tidak akan mudah dilupakan.ketiga, CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkan dalam kehidupan,artinya CTL bukan nhanya mengharapkan siswa dapat memahi materi yang dipelajari,akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilaku dalam kehidupan sehari-hari,materi pelajaran dalam kontek CTL bukan untuk di tumpuk di otak dan kemudian dilupakan akan tetapi sebagai bekal mereka dalam mengarungi kehidupan nyata.
Sehubungan dengan hal itu,terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang meggunakan pendekatan CTL.
1. Dalam CTL pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activity knowledge ),artinya apa yang akan di pelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah di pelajari ,dengan demikian pengetahuan yang akan di peroleh adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
2. Pembelajaran yang konstektual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan yang baru (acquiring knowledge) pengetahuan baru di peroleh sengan cara deduktif,artinya pembelajaran itu dimulai dengan mempelajari keseluruhan ,kemudian memerhatikan detailnya.
3. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge) ,artinya pengetahuan yng di peroleh bukan untuk di hafal tapi untuk dipahami dan di yakani ,misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang di perolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu di kembangkan.
4. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman yang di perolehnya harus diaplikasikan dalam kehidupan siswa,sehingga tampak perubahan perilaku siswa.
5. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan.Hal ini di lakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan dan penyempurnaaa strategi.

B. Latar Belakang Filosofis Dan Psikologis Contextual teaching learning (CTL)
1. Latar Belakang Filosofis
CTL banyak dipengaruhi oleh filsafat konstruktivisme yang mulai digagas oleh Mark Baldwin. Dan selanjutnya dikembangkan oleh Jean Piaget. Aliran filsafat konstruktivisme berangkat dari pemikiran epistemology Glambatista Vico (suparno, 1997), Vico mengatakan:
“Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaannya ”
Mengetahui menurut Vico berarti mengetahui bagaimana membuat sesuatu. Artinya, seseorang dikatakan mengetahui manakala ia dapat menjelaskn unsur-unsur apa yang membangun sesuatu itu. Oleh karena itu menurut Vico, pengetahuan itu tidak lepas dari orang (subjek) yang tahu. Pengetahuan merupakan struktur konsep dari subjek yang mengamati. Selanjutnya, pandangan filsafat konstruktivisme tentang hakikat pengetahuan mengetahui konsep tentang proses belajar, bahwa belajar bukanlah bukanlah sekedar menghafal akan tetapi proses mengkonstruksi pengetahuan melalui pengalaman.
Piaget berpendapat bahwa sejak kecil setiap anak sudah memiliki struktur kognitif yang kemudian dinamakan skema. Skema terbentuk karena pengalaman. Misalnya anak senang bermain dengan kucing atau kelinciyang sama-sama berbulu putih berkat keseringannya, ia dapat menangkap perbedaan keduanya, yaitubahwa kucing berkaki dua. Pada akhirnya, berkat pengalaman itulah dalam struktur kognitif anak terbentuk skema tentang binatang berkaki 2 dan binatang berkaki 4. Senakan dewasa anak, maka semakan sempurnahlah skema yang dimilikinya. Proses penyempurnaan skema dilakukan melalui proses asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah proses penyempurnaan skema, sedangkan akomodasi adalah proses mengubah skema yang sudah ada hingga terbentuk skema baru.
Pada suatu hari, ada anak yang merasa sakit karena terpercik api, maka berdasarkan pengalamannya terbentuk skema pada struktur kognitif anak tentang “api”, bahwa api adalah sesuatu yang membahayakan. Oleh karena itu harus dihindari. Dengan demikian ketika ia melihat api, secara reflex ia akan menghindar. Semakan anak dewasa, pengalaman anak tentang api akan bertambah pula. Ketika ia melihat ibunya memasak pakai api, bapaknya merokok dengan menggunakan api, maka skema yang terbentuk itu disempurnakan, bahwa api bukan harus dihindari tetapi harus dimanfaatkan. Proses penyempurnaan skema tentang apiyang dilakukan oleh anak itu dinamakan asimilasi. Semakan anak dewasa, pengalaman itus emakan bertambah pula. Ketika anak itu melihat pabrik-pabrik dan kendaraan memerlukan apim maka terbentuklah skema baru tentang api, bahwa api bukan harus dihindari dan juga bukan hanya dimanfaatkan, akan tetapi sangat dibutuhkan pada kehidupan manusia. Proses penyempurnaan skema itu dinamakan akomodasi.
Sebelum anak mampu menyusun skema baru, ia akan dihadapkan pada posisi ketidakseimbangan (disequilibrium), yang akin mengganggu psikologis anak. Manakala skema telah disempurnakan atau anak telah berhasil membentuk skema baru, anak akan kembali pada posisi seimbang (equilibrium), untuk kemudian ia akan dihadapkan pada perolehan pengalaman baru.
2. Latar Belakang Psikologis
Sesuai dengan filsafat yang mendasarinya bahwa pengetahuan terbentuk karena peran akif subjek, maka dipandang dari sudut pandang psikologis, CTL brpijak pada psikologi kognitif. Menurut aliran ini, proses belajar terjadi karena pemahaman individu akan lingkungan. Belajar bukanlah peristiwa mekanis seperti keterkaitan stimulus dan respon, akan tetapi belajar melibatkan proses mental yang tidak tampak seperti emosi, minat, dan motivasi.
Dari asumsi dan latar belakang yang mendasarinya, maka ada beberapa hal yang harus dipahami tentang belajar dalam konteks CTL, yaitu :
 Belajar bukanlah menghafal, akan tetapi proses mengkonstruksi pengetahuan sesuai dengan pengalaman yang dimiliki.
 Belajar bukanlah sekedar mengumpulkan fakta yang lepas-lepas.
 Belajar adalah proses pemecahan masalah.
 Belajar adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang secara bertahap dari sederhana menuju yang kompleks.
 Belajar pada hakikatnya adalah menangkap pengetahuan dari kenyataan.

C. Perbedaan CTL Dengan Pembelajaran Konvensional
Perbedaan pokok antara pembelajaran CTL dan pembelajaran konvensional jika dilihat dari konteks tertentu dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut:
1. Dalam pembelajaran CTL menempatkan siswa sebagai subjek belajar, sedangkan dalam pembelajaran konvensional,siswa ditempatkan sebagai objek belajar yang berperan sebagai penerima informasi secara pasif.
2. Dalam pembelajaran CTL, siswa belajar melalui kegiatan kelompok seperti kerja kelompok dan berdiskusi . sedangkan dalam pembelajaran konvensional, siswa lebih banyak belajar secara individual dengan menerima, mencatat, dan menghafal materi.
3. Dalam CTL, pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata, secara riil. Sedangkan dalam pembelajaran konvensional, bersifat teoritis dan abstrak.
4. Dalam pembelajaran CTL, kemampuan didasarkan pada pengalaman. Sedangkan dalam pembelajaran konvensional, kemampuan diperoleh dari latihan-latihan.
5. Dalam pembelajaran CTL, pembelajaran bisa terjadi dimana saja dalam konteks dan setting yang berbeda sesuai dengan kebutuhan. Sedangkan dalam pembelajaran konvensional, pembelajaran hanya terjadi di dalam kelas.
6. Tujuan akhir dari proses pembelajaan CTL adalah kepuasan diri. Sedangkan dalam pembelajaran konvensional, tujuan akhirnya adalah angka atau nilai siswa.
7. Oleh karena tujuan yang ingin dicapai adalah seluruh aspek perkembangan siswa,maka dalam CTL keberhasilan pembelajaran diukur dengan berbagai cara misalnya dengan evaluasi proses,observasi,hasil karya siswa,wawacara,dan lain sebagainya; sedangkan dalam pembelajaran konvensional keberhasilan pembelajaran biasanya hanya diukur dari test.

D. Peran Guru Dan Siswa Dalam Proses Pembelajaran
Setiap siswa memiliki gaya yang berbeda dalam belajar. Bobi Deporter (1992) menamakan perbedaan yang dimiliki siswa tersebut sebagai unsure modalitas belajar. Menurutnya ada tiga tipe gaya belajar siswa, yaitu tipe visual, auditorial, dan kinestetik. Tipe visual, adalah gaya belajar dengan cara melihat, artinya siswa akan lebih cepat belajar dengan cara menggunakan indra penglihatannya. Tipe auditorial, adalah tipe belajar dengan cara menggunakan alat pendengarannya, sedangkan tipe kinestetik, adalah tipe belajar dengan cara bergerak, bekerja, dan menyentuh.
Dalam proses pembelajaran kontekstual, setiap guru perlu memahami tipe belajar dalam dunia siswa, artinya guru perlu menyesuaikan gaya mengajar terhadap gay belajar siswa. Dalam proses pembelajaran konvensional hal ini sering terlupakan, sehingga proses pembelajaran tidak ubahnya sebagai proses pemaksaan kehendak, yang menurut Paulo Freire sebagai system penindasan.
Sehubungan dengan hal itu,terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan bagi setiap guru manakala menggunakan pendekatan CTL.
1. Siswa dalam pembelajaran kontekstual dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar akin sangat ditentukan oleh tingkat perkembangan dan pengalaman mereka. Dengan demikian peran guru bukanlah sebagai instruktur yang memaksakan kehendak, melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangan.
2. Setiap anak memiliki kecenderungan untuk belajar hal-hal yang baru dan penuh tantangan. Kegemaran anak adalah mencoba hal-hal yang dianggap aneh dan baru. Dengan demikian guru berperan dalam memilih bahan-bahan belajar yang dianggap penting untuk dipelajari oleh siswa.
3. Belajar bagi siswa adalah proses mencari keterkaitan hubungan antara hal-hal yang baru dengan hal-hal yang sudah diketahui. Dengan demikian peran guru adalah membantu agar setiap siswa mampu menemukan keterkaitan antara pengalaman baru dengan pengalaman sebelumnya.
4. Belajar bagi anak adalah proses menyempurnakan skema yang telah ada (asimilasi) atau proses pembentukan skema baru (akomodasi),dengan demikian tugas guru adalah memfasilitasi (mempermudah) agar anak mampu melakukan proses asimilasi dan proses akomodasi.

E. Asas-Asas Dalam Pembelajaran Contextual teaching learning (CTL)
Contextual teaching learning (CTL) sebagai suatu pendekatan pembelajaran memiliki 7 asas. Asas-asas ini yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL.
1. Konstruktivisme
Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Menurut konstruktivisme, pengetahuan berasal dari luar, akan tetapi dikonstruksi oleh dan dari dalam diri seseorang. Oleh sebab itu, pengetahuan terbentuk dari dua faktor penting, yaitu objek yang menjadi bahan pengamatan dan kemampuan subjek untuk menginterpretasi objek tersebut.
Pembelajaran melalui CTL pada dasarnya mendorong agar siswa dapat mengkonstruksi pengetahuannya melalui proses pengamatan dan pengalaman. Sebab pengetahuan hanya akan fungsional manakala dibangun oleh individu. Pengetahuan yang hanya diberikan tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna. Atas dasar asumsi inilah, maka penerapan asas konstruktivisme dalam pembelajaran melalui CTL, siswa didorong untuk mampu mengkonstruksi pengetahuan sendiri melalui pengalaman nyata.
2. Inkuiri
Asas kedua dalam pembelajaran CTL adalah inkuiri. Artinya, proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Dalam proses perencanaan, guru bukanlah mempersiapkan sejumlah materi yang harus dihafal, akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya.
Secara umum proses inkuiri dapat dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu:
 Merumuskan masalah.
 Mengajukan hipotesis.
 Mengumpulkan data.
 Menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan.
 Membuat kesimpulan.
Penerapan asas ini dalam proses pembelajaran CTL, dimulai dari adanya kesadaran siswa akan masalah yang jelas yang ingin dipecahkan. Dengan demikian siswa harus didorong untuk menemukan masalah. Apabila masalah telah dipahami dengan batasan-batasan yang jelas, selanjutnya siswa dapat mengajukan hipotesis atau jawaban sementara sesuai dengan rumusan masalah yang diajukan. Hipotesis itulah yang akan menuntun siswa untuk melakukan observasi dalam rangka mengumpulkan data. Manakal data telah terkumpul selanjutnya siswa dituntun untuk menguji hipotesis sebagai dasar dalam merumuskan kesimpulan. Asas menemukan seperti yang digambarkan diatas, merupakan asas yang penting dalam pembelajaran CTL.
3. Bertanya (Questioning)
Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu; sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir. Dalam proses pembelajaran melalui kontekstual teaching and learning, guru tidak menyampaikan informasi begitu saja, akan tetapi memancing agar siswa dapat menemukan sendiri.
Dalam suatu pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya akan sangat berguna untuk:
 Menggali informasi tentang kemampuan siswa dalam penguasaan materi pelajaran.
 Membangkitkan motivasi siswa untuk belajar.
 Merangsang keingintahuan siswa terhadap sesuatu.
 Memfokuskan siswa pada sesuatu yang diinginkan.
 Membimbing siswa untuk menemukan atau menyimpulkan sesuatu.
4. Masyarakat Belajar (Learning Community)
Leo Semenovich Vygotsky, seorang psikolog rusia menyatakan bahwa pengetahuan dan pemahaman anak ditopang banyak oleh komunikasi dengan orang lain. Suatu permasalahan tidak mungkin dapat dipecahkan sendiri, akan tetapi membutuhkan bantuan orang lain. Kerja sama saling member dan menerima sangat dibutuhkan untuk memecahkan suatu persoalan. Konsep masyarakat belajar (Learning Community) dalam pembelajaran CTL menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerja sama dengan orang lain.
Dalam kelas CTL, penerapan asas masyarakat belajar dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya bersifat heterogen, baik dilihat dari kemampuan dan kecepatan belajarnya, maupun dilihat dari bakat dan minatnya.
Dalam hal tertentu, guru dapat mengundang orang-orang yang diangap memiliki keahlian khusus untuk membelajarkan siswa. Misalnya, dokter untuk memberikan atau membahas masalah kesehatan. Demikianlah masyarakat belajar, setiap orang bisa saling terlibat, bisa saling membelajarkan, bertukar informasi, dan bertukar pengalaman.
5. Pemodelan (Modeling)
Yang dimaksud dengan asas modeling adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Misalnya guru memberikan contoh bagaimana cara mengoperasikan sebuah alat untuk percobaab di labolatorium. Proses modeling, tidak terbatas dari guru saja, akan tetapi dapat juga guru memanfaatkan siswa yang untuk memperagakan. Misalkan siswa yang pernah menjadi juara dalam membaca puisi dapat disuruh untuk menampilkan kebolehannya di depan kelas, dengan demikian siswa dapat dianggap sebagai model. Modeling merupakan asas yang cukup penting dalam pembelajaran kontekstual teaching leraning, sebab melalui modeling siswa dapat terhindar dari pembelajaran yang teoritis-abstrak yang dapat memungkinkan terjadinya verbalisme.
6. Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Melalui proses refleksi, pengalaman belajar itu akan dimasukkan dalam struktur kognitif siswa yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari pengetahuan yang dimilikinya. Bila terjadi melalui proses refleksi, siswa akan memperbarui pengetahuan yang etlah dibentuknya atau menambah pengetahuannya.
Dalam proses pembelajaran dengan menggunakan CTL, setiap berakhir proses pembelajaran, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk “merenung” atau mengingat kembali apa yang telah dipelajarinya.
7. Penilaian Nyata (Authentic Assessment)
Proses pembelajaran konvensional yang sering dilakukan guru pada saat ini, biasanya ditekankan kepada perkembangan aspek intelektual, sehingga alat evaluasi yang digunakan terbatas pada penggunaan tes. Dengan tes dapat diketahui seberapa jauh siswa telah menguasai materi pelajaran. Dalam kontekstual teaching leaning, keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh perkembangan kemampuan intelektual saja, akan tetapi perkembangan seluruh aspek. Oleh sebab itu, penilaian keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh aspek hasil belajar seperti hasil tes, akan tetapi juga proses belajar melalui penilaian nyata.
Penilaian nyata (Authentic Assessment) adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian ini diperlukan untuk mengetahui apakah siswa benar-benar belajar atau tidak, apakah pengalaman belajar siswa memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan baik intelektual maupun mental siswa.

F. Implementasi Pembelajaran Contextual teaching learning (CTL)
Pendekatan contextual teaching learning (CTL) memiliki 7 komponen (asas) utama, yaitu konstruktivisme (Constructivism), menemukan (inquiri), bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian nyata (authentic assessment). Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan konstekstual teaching learning jika menerapkan ketujuh komponen tersebut dalam pembelajarannya.
Secara garis besar, langkah penerapan kontekstual teaching learning dalam kelas adalah sebagai berikut :
 Kembangkan pemikiran bahwa anak belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri.
 Mengkonstruk sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
 Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
 Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok).
 Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri.
 Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
 Lakukan penilaian yag sebenarnya dengan berbagai cara.
G. Beberapa Hal Penting Dalam Pembelajaran Contextual teaching learning (CTL)
 Contextual teaching learning (CTL) adalah model pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa secara penuh, baik fisik maupun mental.
 Contextual teaching learning (CTL) memandang bahwa belajar bukan menghafal, akan tetapi proses pengalaman dalam kehidupan nyata.
 Kelas, dalam pembelajaran Contextual teaching learning (CTL) bukan sebagai tempat untuk memperoleh informasi, akan tetapi sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan mereka di lapangan.
 Materi pelajaran ditemukan oleh siswa sendiri, bukan hasil pemberian dari orang lain.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dari penjelasan di depan, dapat disimpulkan bahwasanya Contextual Teaching Learning (CTL) adalah suatu pendidikan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkan dalam kehidupan mereka. Terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan CTL, antara lain yaitu:
1. Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activity knowledge).
2. Pembelajaran yang konstektual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan yang baru (acquiring knowledge).
3. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge).
4. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan siswa.
5. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan.
Terdapat beberapa perbedaan antara pembelajaran CTL dan pembelajaran konvensional, antara lain yaitu:
1. Dalam pembelajaran CTL menempatkan siswa sebagai subjek belajar, sedangkan dalam pembelajaran konvensional,siswa ditempatkan sebagai objek belajar.
2. Dalam pembelajaran CTL, siswa belajar melalui kegiatan kelompok. sedangkan dalam pembelajaran konvensional, siswa lebih banyak belajar secara individual.
3. Dalam CTL, pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata, Sedangkan dalam pembelajaran konvensional, bersifat teoritis dan abstrak.
4. Dalam pembelajaran CTL, kemampuan didasarkan pada pengalaman. Sedangkan dalam pembelajaran konvensional, kemampuan diperoleh dari latihan-latihan.
Dalam pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL) terdapat 7 asas yaitu konstruktivisme, inquiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian nyata.
Hal-hal yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam menggunakan pendekatan CTL antara lain yaitu guru berperan dalam memilih bahan-bahan belajar yang dianggap penting untuk dipelajari oleh siswa, membantu agar setiap siswa mampu menemukan keterkaitan antara pengalaman baru dengan pengalaman sebelumnya, dan juga memfasilitasi (mempermudah) agar anak mampu melakukan proses asimilasi dan proses akomodasi.
Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan untuk menerapkan pendekatan kontekstual teaching learning dalam kelas adalah sebagai berikut :
 Kembangkan pemikiran bahwa anak belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri.
 Mengkonstruk sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
 Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
 Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok).
 Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri.
 Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
 Lakukan penilaian yag sebenarnya dengan berbagai cara

DAFTAR PUSTAKA
Johnson, Elaine B . 2007. Contextual Teaching Learning. Jakarta : MLC
Sanjaya, Wina. 2005. Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta. Kencana
http://makalahkumakalahmu.wordpress.com/2008/09/15/pembelajaran-kontekstual/
http://s1pgsd.blogspot.com/2008/12/pendekatan-kontekstual-atau-contextual.html
http://mulin-unisma.blogspot.com/2008/02/ctl-matematika.html
http://72.14.235.132/search?q=cache:pRnhtuCbHqwJ:rbaryans.wordpress.com/2007/07/31/%E2%80%9Cgerakan%E2%80%9D-pendekatan-kontekstual-baca-ctldalam-matematika-sebuah-kemajuan-atau-jalan-di-tempat+contoh+pembelajaran+CTL+dalam+matematika&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id

1 komentar:

Devil may cry mengatakan...

assalamualaikum..berkunjung ni...

Poskan Komentar

CINTA
“Cinta” adalah ketika kau menitikkan air mata,
Disaat kau masih peduli terhadapnya.
”Cinta” adalah ketika dia tidak mempedulikanmu,
Tetapi kau masih menunggunya dengan setia
”Cinta” adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan
Kau masih bisa tersenyum sambil berkata , " Aku turut berbahagia untukmu "
Apabila cintamu tidak berhasil, bebaskanlah dirimu
Biarkanlah hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas lagi
Ingatlah….!!!
kau mungkin menemukan cinta dan kehilangannya...
Tetapi saat cinta itu dimatikan, kamu tidak perlu mati bersamanya..
Orang yang terkuat bukanlah orang yang selalu menang dalam segala hal
Tetapi mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh
Entah bagaimana, dalam perjalanan kehidupanmu,
Kau akan belajar tentang dirimu sendiri dan suatu saat kau akan menyadari
Bahwa penyesalan tidak seharusnya ada di dalam hidupmu
Hanyalah penghargaan abadi atas pilihan pilihan kehidupan yang telah kau buat
Yang seharusnya ada di dalam hidupmu
Didalam urusan cinta, kita sangat jarang menang,
Tetapi ketika cinta itu tulus...
meskipun mungkin kelihatannya kau kalah,
Tetapi sebenarnya kau menang karena kau dapat berbahagia
sewaktu kau dapat mencintai seseorang
Lebih dari kau mencintai diri kau sendiri...
Akan tiba saatnya dimana kau harus berhenti mencintai seseorang
Bukan karena orang itu berhenti mencintai kita
Atau karena ia tidak mempedulikan kita
Melainkan saat kita menyadari bahwa orang itu
Akan lebih berbahagia apabila kita melepasnya
Tetapi apabila kamu benar benar mencintai seseorang,
Jangan dengan mudah kita melepaskannya
Berjuanglah demi cintamu... Fight for your dream
”””Itulah cinta yang sejati..””